Hari Ini, 105 Tahun Lalu, Junkers J1 Pesawat Pertama di Dunia yang Seluruhnya Terbuat dari Logam Terbang Perdana

0
(hugojunkers.bplaced.net)

Pada hari ini, 105 tahun lalu, bertepatan dengan 12 Desember 1915, 12 tahun setelah Wright Brothers pertama kali menerbangkan biplane “Flyer I” pada bulan Desember 1903, pesawat pertama di dunia yang seluruhnya terbuat dari logam (all-metal), Junkers J1, berhasil terbang perdana. Tak hanya itu, pesawat karya Insinyur Jerman, Hugo Junkers, tersebut dinilai sedikit lebih baik dari pesawat manapun di zamannya.

Baca juga: Hari Ini, 81 Tahun Lalu, Heinkel He 178 Nazi Jerman Pelopori Era Penerbangan Turbojet di Dunia

Dikutip dari Military Factory, gagasan membuat pesawat full logam dimaksudkan untuk mengurangi kebutuhan penyangga eksternal yang rumit dan memicu drag, desain yang cukup aneh di masa Perang Dunia 1 (1914-1918).

Meski demikian, gagasan tersebut tak lantas terkubur hidup-hidup. Malah, dengan menggunakan teknik memotong lembaran baja bergelombang melalui struktur bawah baja, prospek pembuatan pesawat serba logam pertama di dunia, Junkers J1, jadi semakin cerah. Sekalipun sempat dilirik untuk dijadikan pesawat andalan Jerman di PD I pada musim panas 1914, namun karena satu dan lain hal, rencana itu batal.

Di tengah tensi tinggi akibat peperangan, proyek pengembangan Junkers J1 terus berlangsung. Pada bulan Juli 1915, Junkers diizinkan untuk mengembangkan pesawat yang seluruhnya terbuat dari logam dengan kapasitas dua tempat duduk, berkembang dari konsep sebelumnya yang hanya berupa kursi tunggal; termasuk di dalamnya peningkatan kecepatan maksimum menjadi lebih dari 80 mil per jam.

Dengan spesifikasi tersebut, Junkers J1 mengalami beberapa perubahan dengan menggabungkan elemen pesawat tradisional, seperti mesin serta baling-baling dua bilah di bagian hidung pesawat (biplane), kokpit terbuka, serta sepasang sayap kembar tanpa penyangga.

Pesawat dengan lebar sayap sekitar 13 meter, panjang 8,5 meter, dan tinggi 3 meter, ini memiliki berat kosong mencapai 920 kg serta MTOW sebesar 1 ton lebih. Pesawat ini ditenagai oleh Mercedes D.II mesin piston segaris enam silinder berpendingin air berkekuatan 120 tenaga kuda.

Setelah persiapan dirasa cukup, pada tanggal 12 Desember 1915, Leutnant Theodor Mallinckrodt dari tim penguji ditugaskan untuk taxiing, meluncur, dan sukses terbang setinggi hampir 3 m. Saat berada di udara, pesawat tiba-tiba pesawat dihempas angin hingga menyebabkan konstruksi sayap kanan berubah dan membuat pesawat tak stabil. Akibatnya, proses uji coba pun dihentikan.

Pada 18 Januari 1916, uji coba kedua sukses dilakukan. Pesawat mampu terbang lebih tinggi hingga 80 meter sejauh 200 meter. Hanya saja, pada titik ini, pesawat masih mengalami kegagalan desain pada bagian vertikal stabilizer.

Usai desain diperbaiki, pesawat mampu terbang lebih tinggi mencapai 900 m. Di sini, penerbangan dilaporkan stabil dan bisa dibilang berhasil. Bahkan, pada pengujian keesokan harinya, Junkers J1 mampu terbang lebih tinggi dan melaju hingga kecepatan 170 km per jam. Karenanya, Junkers mendapat lampu hijau untuk mengembangkan konsep Junkers J2.

Baca juga: Kisah Douglas A-20 Havoc, Petarung Malam Terbaik Amerika Sekaligus Pesawat Pertama yang Berhasil Tembus Badai

Namun, seiring bobot beratnya akibat material logam pada akhirnya dinilai menjadi penyebab pesawat terlalu lambat dibanding pesawat lainnya yang terbuat dari kayu. Pada akhirnya pesawat dihina sedemikian rupa oleh publik Jerman.

Meski dihina habis-habisan di Jerman, Junkers J1 mendapat apresiasi tinggi dari perintis penerbangan Belanda, Anthony Fokker. Tetapi, pujian dari Fokker tak mampu mendorong Junkers melanjutkan pengembangan Junkers J1 dan J2. Januari 1916 dipercaya menjadi penerbangan terakhir J1. Walau sempat terhindar dari bom sekutu di PD I, Junkers J1 akhirnya hancur berkeping saat Jerman dibombardir saat PD II dan tak menyisakan bekas J1 apapun untuk dikenang saat ini.

Leave a Reply