Hari Ini, 137 Tahun Lalu, Letusan Gunung Krakatau Berkekuatan 13 Ribu Kali Bom Hiroshima Terjadi

0
Letusan Gunung Krakatau pada 26-27 Agustus 1883. Foto: YouTube HappyMario64

26 Agustus 1883, disebut-sebut sebagai salah satu peristiwa terkelam di dunia. Betapa tidak, dari semula roda kehidupan berjalan normal, tiba-tiba, letusan Gunung Krakatau mengejutkan dunia dengan ledakan besar yang kekuatannya setara dengan 100 megaton bom nuklir, atau setara 13.000 kali kekuatan bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki.

Baca juga: Letusan Gunung Eyjafjallajökull Jadi Tolok Ukur Penetapan Tingkat Toleransi Abu Vulkanik

Bukan hanya itu, dahsyatnya ledakan Gunung Krakatau juga membuat siapapun yang berada di radius 10 kilometer menjadi tuli. Kerasnya empat ledakan Gunung Krakatau juga terdengar hingga Perth, Australia berjarak 4.500 kilometer atau bahkan sampai ke Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika yang berjarak 4.653 kilometer. The Guiness Book of Records mencatat bunyi ledakan Gunung Krakatau sebagai bunyi paling hebat yang terekam dalam sejarah.

Abu vulkanik letusan Gunung Krakatau juga tak kalah dahsyat. LiveScience mengungkap, dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanik yang menutupi atmosfer, khususnya wilayah yang berada di radius 442 km dari Krakatau.

Debu vulkanik ditaksir oleh kapal perang Jerman yang tengah melintas mencapai ketinggian 9,6 km. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya akibat debu vulkanik dan aerosol sulfat di lapisan stratosfer menghalangi masuknya sinar matahari. Suhu global juga jadi turun dan jadi lebih dingin sebesar 1.2 oC selama lima tahun setelah erupsi terjadi. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.

Selama 13 hari, lapisan sulfur dioksida dan gas lainnya mulai menyaring jumlah sinar matahari yang bisa mencapai Bumi. Efek atmosfer yang diakibatkan membuat pemandangan matahari terbenam yang spektakuler di seluruh Eropa dan Amerika Serikat.

Reruntuhan Gunung Krakatau ke lautan, yang terdiri dari puncak Gunung Berapi Perboewatan, Danan, dan Rakata, setelah empat letusan dahsyat, juga membuat tsunami dengan ketinggian 30 meter di atas permukaan laut Selat Sunda.

Sementara di pantai selatan Sumatera ketinggian gelombang mencapai 4 meter, di pantai utara dan selatan Jawa 2-2,5 meter. Selain itu, gelombang tsunami juga disebut terjadi di Samudera Pasifik hingga ke Amerika Selatan -yang notabene berjarak 17.318 km- dengan ketinggian 1,5 – 1 meter.

Kesaksian Kapten Lindemann dari kapal Belanda yang tengah melintas, Gouverneur Generaal Loudon, tsunami akibat letusan Gunung Krakatau membuat apapun yang ada di belakangnya lenyap. Diketahui, kapal tersebut terlempar cukup jauh ke pedalaman Sumatera dan berhasil selamat menghadapi gelombang.

Akibat letusan dahsyat Gunung Krakatau selama dua hari pada 26-27 Agustus 1883 dalam tempo kurang lebih 20 jam, sedikitnya 36.400 orang tewas.

Pasca erupsi dahsyat, Krakatau hancur sama sekali. Mulai pada 1927 atau kurang lebih 40 tahun setelahnya, muncul gunung api yang dikenal sebagai Anak Krakatau. Dia terus meletus secara sporadis sejak saat itu. Ia sedang bertumbuh, terus mendekati ukuran induknya yang hancur berkeping.

Baca juga: Foto Citra Satelit “Before-After” Kawah Bekas Ledakan Besar di Beirut Lebanon

Meskipun sangat dahsyat, letusan Gunung Krakatau ini sebetulnya masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung berapi Taupo di Selandia Baru dan Gunung Katmai di Alaska. Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh pada masa ketika populasi manusia masih sangat sedikit.

Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.

Leave a Reply