Hari ini, 31 Tahun Lalu, Pilot British Airways Selamat Setelah 22 Menit Berjuang Melawan Dekompresi

0
Rekonstruksi oleh petugas. Foto: Shutterstock

10 Juni 1990 atau tepat 31 tahun lalu, mungkin menjadi hari yang tak akan terlupakan bagi kapten pilot British Airways, Tim Lancaster. Betapa tidak, saat penerbangan tampak aman dan berjalan mulus, tiba-tiba kaca depan pesawat (cockpit windshield atau biasa juga disebut aircraft windshield) pecah dan menarik Tim keluar. Ketika ia berpikir bakal menemui ajal, seorang pramugara pun datang bak pahlawan dan memberikannya kesempatan hidup lebih lama.

Baca juga: Pernah Dengar Seberapa Tebal Kaca Pesawat? Simak Di Sini Jika Belum

Insiden menegangkan ini kembali hangat diperbincangkan ketika gambar rekonstruksi untuk film dokumenter berjudul Air Crash Investigation – Blow Out di National Geographic Channel beredar luas 2005 silam. Berdasarkan laporan akhir (Aircraft Accident Report 1/92) oleh Aircraft Accident Investigation Branch (AAIB) tentang kecelakaan, diketahui pesawat BAC 1-11 British Airways berhasil mendarat dengan mulus. Proses lepas landas ini dikendalikan penuh oleh co-pilot, Alastair Atchison.

Dikutip dari dailymail.co.uk, saat tiba di ketinggian tertentu, tak lama setelah lepas landas, Tim mengambil alih pesawat. Di sini, keduanya sudah mulai melepas shoulder harness tetapi masih menggunakan buckle. Adapun buckle atau sejenis seat belt di kursi penumpang milik Tim, sudah sedikit direnggangkan dan tidak demikian untuk co-pilot.

Ketika pesawat mencapai ketinggian sekitar 17.300 kaki, tepat di langit Didcot, Oxfordshire, Inggris, tiba-tiba terjadi ledakan kerasa dan pesawat dipenuhi dengan kabut kondensasi. Beberapa detik sebelum itu, seorang pramugara, Nigel Ogden, yang hendak masuk ke kokpit untuk menawarkan minuman hangat, coba mengecek keadaan pilot dan co-pilot.

Kapten Timothy Lancaster (tengah), didampingi rekan-rekannya (kiri ke kanan) Alistair Atchison, John Howard, Nigel Ogden, Susan Prince, dan Simon Rogers setelah kecelakaan terjadi. Foto: Shutterstock

Ia pun terkejut saat melihat kepala dan leher sang pilot sudah berada di luar jendela. Beruntung, buckle yang sudah dilonggarkan sedikit memperlambat pilot terlempar keluar akibat dekompresi eksposif. Sudah begitu, kaki Tim juga tersangkut di throttle pesawat.

Dengan sigap, Ogden pun meraih kaki dan memegangi celana Tim. Beberapa saat kemudian, pramugara lainnya, Simon Rogers, pun turut membantu. Selama 22 menit, kondisi tersebut terus berlangsung sebelum akhirnya sang co-pilot berhasil mendaratkan pesawat rute Birmingham (Inggris)-Malaga (Spanyol) itu dengan selamat di Southampton, Inggris, tanpa adanya korban jiwa.

“Yang bisa saya ingat adalah melihat Alastair Atchinson, co-pilot, berjuang untuk mengendalikan pesawat dan berteriak “Mayday! Mayday!” ke radio,” kata Ogden.

Ketika itu, disebutkan, Tim sudah dalam keadaan pingsan akibat kekurangan oksigen saat terjadi dekompresi eksplosif. Di samping itu, ia juga tak mengenakan emergency oxygen. Ia pun dilarikan ke rumah sakit dengan kondisi tangan patah, radang dingin, dan memar parah.

Baca juga: Kaca Depan Kokpit Retak, Pilot Boeing 737 Hainan Airlines Terpaksa Return to Base

Hasil investigasi menemukan bahwa kaca depan pesawat itu baru saja diganti sebelum penerbangan berlangsung. Tetapi, sekrup yang digunakan tak cocok karena terlalu kecil. Akibatnya, ketika terjadi getaran, 87 sekrup tersebut lepas dan terjadilah apa yang terjadi.

Usai kejadian itu, sang co-pilot, Alastair Atchinson, menerima Polaris Award atas aksi heroiknya mendaratkan pesawat seorang diri dalam keadaan darurat. Sedangkan Ogden, yang juga mengalami luka-luka dan radang dingin, menerima penghargaan Queen’s Commendation for Valuable Service in the Air.

Leave a Reply