Hari ini, 76 Tahun Lalu, Tiga Kru Douglas A-20 Havoc Berhasil Tembus Badai untuk Pertama Kalinya di Dunia

0
Douglas A-20 Havoc. Foto: The Aviation History Online Museum

Hari ini, 76 tahun yang lalu, bertepatan dengan 14 September 1944, tiga kru pesawat Douglas A-20 Havoc, Kolonel Floyd B. Wood, Mayor Harry Wexler, and Letnan Frank Reckord, dikisahkan berhasil menembus badai untuk pertama kalinya sepanjang sejarah penerbangan global.

Baca juga: Jangan Lagi Takut Turbulensi, Teknologi ini Bisa Buat Pesawat Nyaris Terbang Mulus

Keberhasilan tiga kru yang juga anggota Angkatan Darat AS (tahun itu belum terbentuk AU AS/USAF) itu menembus badai bersama Douglas A-20 Havoc, bukan serta merta jadi yang pertama di dunia, tetapi juga berperan penting dalam perkembangan pesawat di masa mendatang.

Dilansir airforcemag.com, ketiganya berhasil mengumpulkan data-data ilmiah berkenaan dengan kemampuan pesawat terbang dalam menembus badai. Diketahui, pesawat sengaja melakukan itu untuk mempelajari teori tentang cuaca. Hasil dari data-data itu beserta cara pesawat menembus badai sampai saat ini masih terus disadur.

Dalam buku Hurricanes and the Middle Atlantic States, karya Rick Schwartz, kala itu, sebelum terjadinya badai, tiga orang kru tersebut beserta Douglas A-20 Havoc sudah sengaja menunggu. Tiga orang tersebut akhirnya baru benar-benar bisa bertemu dengan badai itu di Teluk Chesapeake.

Badai di Atlantik Tengah itu digambarkan oleh Wexler, yang juga menspesialisasikan diri di bidang cuaca weather or meteorologi Massachusetts Institute of Technology (MIT), cukup besar dan dahsyat seperti “sharp black wall of rain slopping westward with height,”atau bisa diartikan mirip dinding jurang curam yang dari ketinggian tampak miring ke arah Barat. Pesawat disebut masuk ke badai dalam sudut yang tepat sekalipun langsung disambut dengan hantaman agak keras oleh badai.

Douglas A-20 Havoc. Foto: Pinterest

Dari ketinggian sekitar 914 meter, Kolonel Floyd B. Wood melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana badai menyapu sebuah kapal dalam sekejap entah kemana. Di tengah badai itu pula, ia berfirasat kelak jika pesawat jatuh, perangkat keselamatan yang sudah disiapkan tak akan mampu menyelamatkan nyawa mereka.

Masih di tengah badai, Wood yang dikisahkan sebagai pilot Douglas A-20 Havoc mengaku bahwa badai cenderung agak stabil. Hal itu dapat dilihat dari lemahnya angin di bagian atas pesawat. Tetapi, saat pesawat sedang berjuang mempertahankan ketinggian di level 914 meter, tak lama kemudian, angin dari bagian bawah pesawat mendorong cukup kuat pesawat hingga termpental ke ketinggian 1.524 atau 5 ribu kaki. Dorongan tersebut sekaligus pertanda bahwa pesawat sedang berada di inti badai. Tak lama kemudian, Wood mematikan mesin dan membiarkan pesawat melayang di udara.

Beberapa saat kemudian, badai mulai menipis diikuti kabut dan setitik cahaya matahari mulai terlihat di balilk itu. Disitulah ia merasa bahwa pesawat sudah melewati inti badai dan tengah berada di pinggiran badai yang sudah lumrah terjadi di Atlantik Tengah ini.

Baca juga: Mendarat di Tengah Terjangan Badai 150 Km Per Jam, Pilot Airbus A380 Dimarahi Pihak Maskapai

Usai penelitian, dalam sebuah konferensi pers, Wood menceritakan bahwa turbulensi di tengah badai berkecepatan 230 km per jam, di depan matanya, mirip seperti lift yang bergerak naik. Angin di atas pesawat lebih ringan dari yang dipikirkan. Ia juga menceritakan bahwa visibilitas di tengah badai tak terlalu buruk, begitu juga dengan petir dan hujan yang menyertai. Jadi, tak ada alasan untuk menganggap badai terlalu sebagai neraka.

Di kesempatan tersebut pula, ia meyakinkan bahwa pesawat yang dirancang dengan begitu teliti bagian per bagiannya oleh para ahli sudah sangat mumpuni untuk menghadapi badai yang dahsyat sekalipun. “Saya tidak ragu lagi untuk keluar (terbang),” tegasnya dihadapan wartawan, sebagaimana laporan War Times yang dikutip Rick Schwartz dalam bukunya.

Leave a Reply