Hari Ini, 8 Tahun Lalu, Lion Air Flight 904 ‘Berenang’ di Laut Bali Gegara Pilot Indonesia Remehkan Pilot India

0
Pesawat Boeing 737-800 Lion Air, dengan nomor penerbangan 904 ini tergelincir akibat human error dan cuaca buruk. Foto: @AirCrashMayday

Pada hari ini, delapan tahun lalu, bertepatan dengan 13 April 2013, pesawat Boeing 737-800 PK-LKS Lion Air mengalami overrun dan terjun bebas ke laut Bali sebelah barat runway Bandara Internasional Ngurah Rai. Hasil penyelidikan menunjukkan kecelakaan ini terjadi akibat human error. Meski badan pesawat sampai terbelah dua, namun kecelakaan ini tak sampai menimbulkan korban jiwa.

Baca juga:Hari Ini, MD-90 Lion Air Tergelincir Gegara Pilot ‘Berburu’ Bonus dan Paksakan Pendaratan

Dari laporan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), pesawat dengan nomor penerbangan 904 itu diketahui berangkat dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat dengan tujuan akhir Denpasar, Bali. Selama perjalanan pesawat relatif aman dan tanpa kendala.

Barulah saat mendekati bandara, hujan deras dan kabut tebal melanda wilayah-wilayah di sekitaran bandara. Awalnya, pesawat dikendalikan oleh kopilot, lalu ketika dalam posisi akan mendarat pilot mengambil alih kendali. Pada saat itulah, persoalan dimulai hingga akhirnya pesawat tergelincir ke laut.

Usai tergelincir, pesawat akhirnya terbelah dua. Foto: @AirCrashMayday

Dalam laporan akhir KNKT disebutkan pilot gagal melihat secara akurat apa yang ada di depan. Hal itu disebabkan hujan deras dan kabut tebal. “Pilot tidak menyadari karakteristik badai, terutama jenis cumulonimbus. Kondisi ini dapat disimpulkan sebagai ketidakmapuan untuk menyadari situasi,” demikian isi laporan tersebut.

Di tengah situasi genting, pilot sudah berusaha keras untuk membawa pesawat go around dan menjauh dari runway. Namun, karena sudah kadung dekat dengan runway 9 Bandara Internasional Ngurah Rai, pesawat akhirnya terpaksa mendarat dengan kecepatan di atas rata-rata hingga mengalami overrun dan terjun ke lautan.

Tak lupa, laporan itu juga menyebutkan adanya faktor lain di samping faktor SDM penerbang. “Pilot tidak diberi perkembangan secara terus menerus mengenai perubahan kondisi cuaca,” tulisnya.

Untuk memudahkan proses evakuasi, pesawat yang sudah tak lagi bisa diperbaiki itu akhirnya dipotong-potong. Foto: @AirCrashMayday

Banyak kalangan menyebut, sebetulnya, keputusan kapten pilot untuk mengambil alih pesawat dari kopilot untuk proses pendaratan sebetulnya tidak salah. Justru memang harus dilakukan bilamana kondisinya jauh berbeda dibanding kondisi normal.

Baca juga: Penumpang Lion Air JT-797 Melahirkan di Kabin, Penerbangan Sempat Dialihkan ke Bandara Terdekat

Hanya saja, mengapa ketika diambil alih oleh pilot pesawat justru tak mampu menghindar dari kesulitan dan pada akhirnya terlibat kecelakaan? Banyak pengamat pun yang pada akhirnya sampai berandai-andai.

Andai Kapten Pilot Mahlup Ghazali (WNI) tidak berlaku angkuh dan menganggap kopilot Chirag Kalra (warga negara India) cukup berpengalaman untuk melakukan itu, bukan tak mungkin kecelakaan dapat terhindar.