Hasilkan Banyak Keuntungan, Namun GoJek dan Grab Justru PHK Karyawan

0

Masa pandemi Covid-19 membuat pemerintah DKI Jakarta dan beberapa kota lainnya mengambil sikap untuk melakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Hal ini membuat para pengemudi ojek online (ojol) dari dua perusahaan ride hailing GoJek dan Grab tak lagi mengangkut penumpang selama hampir tiga bulan.

Baca juga: PSBB Berlaku di Jakarta, Inilah Kebijakan GoJek dan Grab untuk Mudahkan Mitra Pengemudi

Meski begitu dua perusahaan besar ride hailing ini menghasilkan untung dari beberapa fiturnya seperti makanan dan pengantaran barang. Namun ternyata dua perusahaan decacorn ini melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada ratusan karyawan mereka. CEO dan Co-Founder Grab Anthony Tan melalui pesan kepada karyawannya, mengatakan langkah ini terpaksa diambil sebagai langkah menavigasi bisnis Grab dalam menghadapi krisis kesehatan global.

“Kami mengerti berita ini akan menimbulkan kecemasan pada diri Anda tetapi perlu diketahui bahwa keputusan ini bukan merupakan keputusan yang mudah. Kami telah mencoba segala kemungkinan untuk menghindari hal ini terjadi tetapi kami harus menerima kenyataan bahwa keputusan hari ini kami ambil demi jutaan mata pencaharian orang yang bergantung pada kita di masa ‘new normal’,” tulis Anthony dalam pesannya, Selasa (16/06/2020) yang dikutip KabarPenumpang.com dari kompas.com.

Kemudian GoJek mengikuti jejak Grab yang melakukan PHK pada 430 karyawan atau sembilan persen dari total karyawannya. Para pekerja yang di PHK sebagian besar merupakan karyawan di divisi GoLife dan GoFood Festival.

Karena dua layanan tersebut distop lantaran dinilai tak relevan dengan kebiasaan baru masyarakat. Aplikasi GoLife sendiri akan mulai berhenti beroperasi pada 27 Juli dan GoFood Festival belum jelas kapan akan dihentikan.

“Perjalanan menjadi semakin sulit karena kami harus berpisah dengan 430 karyawan. Lalu juga adanya penutupan GoLife dan GoFood Festival, bisnis yang memiliki peran penting dalam sejarah GoJek,” kata Co-CEO Gojek Andre Soelistyo dan Kevin Aluwi dalam pernyataan resminya.

Selain karyawan GoJek, yang terdampak keputusan ini adalah para mitra GoLife, yang mencakup mitra GoMassage dan GoClean. Para mitra merchant di GoFood Festival juga akan terdampak langsung keputusan ini.

Sementara mitra driver ojek online (ojol) Gojek tidak terdampak secara langsung akibat keputusan ini. Sebab, GojJk masih akan fokus pada tiga bisnis inti, yakni transportasi (GoRide), layanan pesan antar makanan (GoFood), dan uang elektronik (GoPay).

“Di samping juga layanan yang menunjukkan hasil pertumbuhan yang menjanjikan di tengah pandemi seperti bisnis logistik, yang tumbuh 80 persen sejak awal pandemi atau layanan belanja kebutuhan sehari-hari (grocery) yang telah naik dua kali lipat,” kata pihak Gojek.

Bagi mitra GoClean dan GoMassage yang terdampak langsung keputusan ini, GoJek telah menyiapkan program khusus, yakni Program Solidaritas Mitra Covid-19. Program tersebut adalah peningkatan ketrampilan melalui pelatihan online dengan tujuan bisa menjadi bekal para mitra terdampak.

Sementara bagi karyawan GoJek yang di-PHK, Gojek menyiapkan beberapa benefit, mulai dari pesangon yang disebut di atas standar yang ditetapkan pemerintah dan perpanjangan asuransi kesehatan hingga 31 Desember 2020. Karyawan juga diperkenankan memiliki laptop yang diberikan perusahaan saat masuk bekerja untuk mencari peluang baru.

“Kami tahu bahwa apa pun yang kami lakukan mungkin tidak cukup untuk mengurangi kekecewaan kalian, namun kami berupaya yang terbaik untuk dapat mendukung kalian,” kata Andre.

Baca juga: Meski Jauh dari Kesepakatan, GoJek dan Grab Diskusikan Potensi Merger

Hal senada juga diucapkan Kevin kepada karyawan dan mitra yang terdampak keputusan ini.

“Secara pribadi, saya ingin meminta maaf untuk keputusan yang harus kita ambil. Kami sangat berterima kasih bahwa kalian telah memberikan kontribusi berarti bagi kesuksesan GoJek selama bertahun-tahun,” ucapnya.

Leave a Reply