HEPA, Teknologi yang Mampu Bersihkan Radioaktif hingga Virus Corona di Dalam Kabin Pesawat

0
Ilustrasi pesawat Airbus A330-300 yang dilengkapi HEPA Cabin Air Filter. Foto: Bangkok Post

Sebanyak 238 warga negara Indonesia yang dibawa dari Bandara Internasional Tianhe Wuhan menggunakan pesawat Batik Air dengan nomor penerbangan 8618, berhasil mendarat dengan selamat di Bandara Hang Nadim, Batam, Minggu (2/2) waktu setempat.

Baca juga: Evakuasi WNI di Wuhan Bakal Gunakan Pesawat Widebody Airbus A330

Misi kemanusiaan yang juga melibatkan sejumlah instansti terkait, di antaranya ialah Kementerian Perhubungan, TNI-Polri, Kantor Kesehatan Pelabuhan Batam, Pemerintah Kabupaten Natuna, Kementerian Luar Negeri, Otoritas Bandara Hang Nadim Batam, hingga Kementerian Kesehatan, tersebut juga didukung oleh teknologi HEPA (pada pesawat Airbus A330-300), yang diklaim mampu membersihkan udara di dalam kabin.

Seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman airpurifiers.com, Senin, (3/2), teknologi High Efficiency Particulate Arresting (HEPA) dinilai mampu menyerap dan mengubah udara kotor (bahkan ukuran lebih kecil dari dari 2,5 mikrometer sekalipun) menjadi udara yang bisa diterima dengan baik oleh tubuh. Udara kotor di sini bisa diartikan semacam bakteri, bau tak sedap, hingga virus. Tak terkecuali virus corona yang tengah menjadi sorotan dunia, khususnya dalam misi penyelamatan WNI dari Wuhan kemarin.

Penggunaan teknologi HEPA dalam misi kemanusiaan tersebut memang sangat tepat, mengingat, partikel yang bila diibaratkan hanya 3 persen dari diameter rambut manusia tersebut (virus corona yang serta virus dan bakteri lainnya yang tak kasat mata) tak mudah dicegah dengan hanya menggunakan masker. Terlebih, masker yang digunakan ialah masker harian yang biasa dikenakan banyak orang. Adapun masker N95 sekalipun (umumnya berwarna putih dengan penyaring di depannya) persentase pencegahannya juga tak terlalu besar, bisa sewaktu-waktu menembus sistem saringan pada masker tersebut dan terhirup oleh manusia.

Bila hal itu terjadi, partikel udara yang dinilai paling mematikan secara perlahan tanpa disadari tersebut lama-kelamaan akan menumpuk di paru-paru dan organ lain hingga bisa menyebabkan munculnya penyakit pernapasan, asma, hingga penyakit jantung. PM 2,5 juga ampuh untuk membuat penyakit-penyakit tersebut makin parah hingga bisa memicu kematian dini. Tak heran, bila PM 2, yang di dalamnya termasuk virus corona, membuat banyak pengidapnya, sebagaimana video viral di media sosial Twitter, jatuh bergelimpangan bak daun-daun pohon yang berguguran.

HEPA sendiri mulai dikembangkan oleh ilmuan pada 1950. Kala itu, Komisi Energi Atom AS membutuhkan sesuatu untuk menghilangkan partikel radioaktif kecil, sehingga dikembangkanlah filter HEPA ini. Sejak itu, filtrasi HEPA telah digunakan dalam pembersih udara untuk membersihkan dalam ruangan di berbagai tempat, seperti ruang medis dan salon kecantikan. Teknologi HEPA juga merupakan bagian dari perawatan yang digunakan oleh dokter untuk membantu meringankan gejala alergi dan asma.

Cara kerja dari teknologi HEPA sendiri, dalam hal ini pada sistem HEPA Cabin Air Filter, ialah sebagian udara yang berasal dari dalam dibuang ke luar kabin. Sementara itu, sisanya dipompa melalui filter udara HEPA dan diklaim 99 persen bakteriologis di dalamnya menghilang.

Baca juga: Tak Diberitahu Pihak Maskapai, Sejumlah Penumpang Scoot Frustasi Telah Terbang Bersama 110 Orang Wuhan

Perputaran sirkulasi udara dalam pesawat yang dilengkapi HEPA Cabin Air Filter juga tergolong cepat. Berkisar diangka 15 hingga 30 kali per jam atau satu hingga dua kali per menit untuk mengubah partikel udara kecil yang berbahaya menjadi aman untuk tubuh.

Pada umumnya, sistem kerja teknologi HEPA menggunakan tiga lapis sistem. Mula-mula udara diserap oleh sistem filter pertama. Saat proses penyaringan tersebut, virus, bakteri dan lainnya masih belum terserap. Kemudian, pada saringan yang kedua, virus, bakteri, dan partikel udara tak sehat lainnya sudah bisa terserap, namun bau tak sedap dan sejenisnya belum. Barulah pada sistem penyaringan ketiga, semua bau dapat terserap, sehingga menghasilkan udara yang sehat dan tak berbau.

Leave a Reply