Hong Kong ‘Lockdown’ Warganya dengan Gelang Canggih

0
Declan Chan harus memakai gelang sepulangnya dari Zurich, Swiss, ke Hong Kong agar otoritas dapat memantau pergerakannya saat sedang menjalani masa karantina mandiri selama 14 hari. Foto: Declan Chan via CNBC International

Otoritas Hong Kong tengah berupaya melakukan berbagai tindakan untuk mencegah meluasnya wabah virus Cina, salah satunya melalui teknologi gelang elektronik canggih. Nantinya, gelang tersebut akan diberikan kepada turis maupun masyarakat yang baru pulang bepergian dari luar negeri untuk memantau mereka selama fase karantina mandiri. Guna mendukung kesuksesan kebijakan tersebut, pemerintah Hong Kong mengklaim pihaknya telah memiliki lebih dari 60.000 gelang siap guna.

Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

Dikutip dari laman CNBC Internasional, pemimpin eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, mengatakan keputusan tersebut diambil akibat dari temuan maraknya kasus ‘impor’ corona. Data menunjukkan, setidaknya dari 57 kasus baru (Covid-19) dalam beberapa pekan terakhir, 50 di antaranya adalah berasal dari wisatawan asing.

Declan Chan, seorang stylist yang juga salah satu penduduk Hong Kong, baru saja kembali dari Zurich, Swiss, beberapa waktu lalu. Begitu sampai di bandara, ia pun terkejut ketika diberitahu bahwa ada langkah-langkah baru dari pemerintah dalam pencegahan meluasnya Covid-19 yang harus dipatuhi oleh siapapun ketika masuk ke Hong Kong, tak terkecuali dirinya.

“Saya kira hanya sebatas mengisi formulir saja. Saya tidak menduga akan ada gelang seperti ini,” katanya kepada wartawan melalui sambungan telepon dari rumahnya di Hong Kong, saat tengah menjalani karantina mandiri.

Saat itu, lanjut Chan, ketika dirinya sampai di bandara, ia disodorkan formulir kesehatan, lengkap dengan opsi agar ia berbagi lokasi ke pemerintah melalui berbagai platform, mulai dari WeChat dan WhatsApp atau sebatas menggunakan gelang elektronik. Namun, opsi tersebut rupanya semu. Nyatanya, ia dan wisawatan atau warga lokal lainnya yang baru tiba di bandara Hong Kong wajib menggunakan gelang elektronik. Alhasil, ia pun menyaksikan dengan jelas saat beberapa wisawatan menolak menggunakan gelang tersebut dan memilih kembali memesan tiket untuk hengkang dari Hong Kong.

Akan tetapi, gelang tersebut tidak serta merta langsung berfungsi bergitu saja. Teknisnya, mula-mula seluruh pengguna, termasuk Chan, harus terlebih dahulu berjalan di sudut-sudut rumahnya untuk memastikan teknologinya dapat dengan tepat melacak koordinat selama masa karantina. Namun, sebelum itu, pengguna terlebih dahulu harus terlebih dahulu mendownload aplikasi tertentu agar gelang tersebut dapat terhubung ke smartphone.

Baca juga: Dari Amerika, Inggris, Thailand Hingga Lebanon, Ini Cara Unik Masyarakat Terapkan Social Distancing

Berdasarkan koordinat tersebut, pemerintah akan membuat pemodelan ruang lingkup pengguna. Jadi, bila selangkah saja pengguna keluar dari rumah, maka pemerintah akan segera mengetahuinya. Oleh karena itu, selama karantina, Chan tak punya pilihan lain untuk memenuhi isi perutnya kecuali menggunakan aplikasi berbasins daring untuk memesan makanan dan bahan makanan.

“Seseorang yang melanggar atau secara sengaja memberikan informasi palsu kepada Departemen Kesehatan akan dikenakan hukuman denda $5.000 HKD ($644) dan penjara selama 6 bulan,” menurut selebaran yang diberikan kepada penumpang yang baru tiba di Hong Kong.

Leave a Reply