Human Error Duduki Peringkat Teratas Penyebab Kecelakaan Kereta

0
ilustrasi kecelakaan kereta api. Sumber: kompas.com

Kecelakaan, satu kata yang selalu menjadi momok menakutkan apabila Anda sedang berkendara, entah menggunakan moda darat, laut, maupun udara. Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan, tidak terkecuali kesalahan dari orang yang turut serta campur tangan dalam sebuah moda. Ambil contoh kereta, tidak jarang kita mendengar kabar kereta anjlok, tabrakan dengan kendaraan lain, hingga mesin kereta yang sudah tidak layak jalan. Seperti yang dilansir dari wieandlaw.com, ada 6 faktor penyebab kereta mengalami kecelakaan sepanjang rentan waktu dari Januari hingga Juli 2016 di Amerika.

Pertama adalah human error, sebanyak 322 (33,5%) kasus kecelakaan terjadi selama rentan waktu ini. Kedua adalah rel yang cacat mencatat ada 268 (27,9%) kasus kecelakaan. Lalu faktor lain-lain menduduki posisi ketiga penyebab kecelakaan kereta dengan 144 (15%) kasus. Keempat ada peralatan yang rusak dengan catatan 128 (13,3%) kasus. Faktor tabrakan kereta dengan kendaraan lain menduduki peringkat kelima dengan catatan 80 (8,3%) kasus, dan yang terakhir adalah sinyal error dengan catatan 18 (1,9%) kasus kecelakaan kereta.

Dari hasil survei di atas, tercatat human error menduduki peringkat pertama penyebab kecelakaan kereta. Setelah The Federal Railroad Administration (FRA) menelusurinya, ternyata ketidak-tepatan dalam mengubah switch yang menyebabkan kereta pindah jalur. Hal seperti inilah yang paling sering terjadi dan mengakibatkan kecelakaan kereta. Kesalahan semacam ini menyebabkan 39 kecelakaan, dan lebih dari 4% terjadi selama masa survei.

Selain memindahkan switch yang tidak tepat, ada beberapa faktor lain yang menyebabkan kecelakaan kereta yang diakibatkan oleh kesalahan manusia, yaitu tidak mematuhi peraturan, kegagalan untuk melepas rem tangan, memberikan instruksi yang tidak tepat kepada awak kereta api, petugas kereta api yang tertidur, dan penggunaan rem yang tidak tepat.

Jalur kereta yang tidak dalam kondisi yang benar juga turut menyumbang porsi yang cukup signifikan dalam survei ini. Dalam kasus ini, terdapat beberapa poin penunjang yang mengakibatkan keselamatan penumpang kereta menjadi terancam, seperti las-an yang rusak, switch yang rusak, retak di sekitaran lubang baut, rel yang rusak karena hujan dan kondisi lain, dan kondisi rel yang aus.

Berdasarkan catatan terpisah yang dibuat oleh FRA, hampir 71.500 inspeksi dilakukan dari Oktober 2013 hingga September 2014 dan tercatat ada 7.684 pelanggaran selama rentan waktu itu. Sementara FRA mencatat bahwa kecelakaan disebabkan beberapa faktor, turun drastis dari tahun 2005. Faktor human error turun 45%, faktor peralatan turun 36%, dan faktor jalur yang rusak turun 52%. Berdasarkan laporan itu, membuktikan bahwa pihak kereta api melakukan pembenahan dan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada konsumennya.

Sebuah pelajaran yang patut dicontoh bukan hanya oleh PT KAI yang menaungi perkereta-apian di Indonesia, namun semua perusahaan penyedia jasa transportasi lainnya, dimana peningkatan layanan dan pembenahan dari dalam merupakan modal penting untuk perusahaan itu berkembang menjadi lebih baik.

Leave a Reply