IATA: Maskapai Kehilangan Revenue dari Penumpang Sebesar 55 Persen

0
IATA. Foto: Logistics Middle East

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) belum lama ini telah merilis analisis terbaru. Analisis tersebut menunjukkan, lesunya penerbangan akibat pandemi corona akan menyebabkan maskapai kehilangan sekitar US$314 miliar pada tahun 2020, atau turun hingga 55 persen jika dibandingkan dengan tahun 2019.

Baca juga: IATA: Penumpang di Eropa Turun 38 Persen dan Maskapai Bakal Kehilangan US$76 Miliar

Seperti diberitakan internationalairportreview.com, angka tersebut merupakan sebuah revisi dari perkiraan sebelumnya, dimana IATA memperkirakan akan adanya profit loss $252 miliar atau 44 persen (bila dibandingkan tahun lalu) imbas virus Cina. IATA mengatakan, bahwa pihaknya telah senantiasa mengikuti perkembangan terkini terkait pembatasan perjalanan yang diberlakukan di banyak negara selama tiga bulan belakangan.

Selain itu, menurut IATA, munculnya angka penurunan hingga 55 persen juga disumbang dari perkembangan ekonomi global. Dalam amatannya, PDB dunia diperkirakan akan menyusut hingga enam persen. Padahal, PDB selama ini kerap menjadi acuan. Singkatnya, pergerakan penumpang sangat tergantung dari pergerakan PDB. Bila turun, maka pergerakan penumpang juga akan ikut turun, begitupun juga sebaliknya.

Saat ini, dunia memang sedang menuju jurang resesi terburuk sejak hampir 90 tahun yang lalu dan salah satunya juga disebabkan dengan maraknya pembatasan perjalanan di seluruh dunia. Diperkirakan, dampak terburuk baru akan terasa pada kuartal II 2020, yakni pada April-Juni mendatang. Terbukti, pada awal April kemarin, frekuensi penerbangan secara global turun hingga 80 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019. Sebagian besar karena pembatasan perjalanan yang ketat yang diberlakukan oleh pemerintah dunia untuk membatasi penyebaran virus.

“Prospek industri semakin gelap dari hari ke hari. Skala krisis membuat pemulihan berbentuk V yang tajam hampir tidak mungkin. Secara realistis, ini akan menjadi pemulihan berbentuk U dengan perjalanan domestik kembali lebih cepat daripada pasar internasional. Kita bisa melihat lebih dari setengah pendapatan dari penumpang hilang mencapai $314 miliar,” kata CEO IATA, Alexandre de Juniac.

Baca juga: Selamatkan Industri Penerbangan, APEX Serukan Pemerintahan Global Kucurkan ‘Bantuan’ Rp3.805 Triliun!

“Beberapa pemerintah di dunia sebetulnya telah memberikan paket stimulus ekonomi ke maskapai di negara masing-masing, namun hal itu belum cukup untuk mengeluarkan maskapai dari jurang krisis. Maskapai penerbangan pada umumnya hanya bisa bertahan dengan cadangan kas perusahaan hingga akhir kuartal II atau Juni. Hal itu menyebabkan sekitar 25 juta pekerja terancam PHK. Bila tak ada langkah konkret, maskapai akan bangkrut,” lanjutnya.

Oleh karenanya, IATA mengusulkan beberapa langkah untuk melindungi maskapai-maskapai di dunia, mulai dari kompensasi berupa potongan pajak dengan segera oleh pemerintah global atas pajak industri penerbangan, akses pinjaman jangka menengah dan jangka panjang tanpa bunga untuk menyediakan likuiditas atau kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban (utang) jangka menengah dan panjang, hingga tuntutan kepada bank dunia dan bank sentral agar menyediakan likuiditas yang dibutuhkan dalam bentuk dana pendamping dan pinjaman yang cukup untuk pemerintah yang membutuhkan.

Leave a Reply