Imbas Penerbangan Sepi, Bagaimana dengan Gaya Hidup Glamor Pramugari?

0
Ilustrasi gaya hidup 'wah' pramugari. Foto: Instagram @intanbong via Pramugari_Indonesia

Industri penerbangan global saat ini tengah memasuki periode kritis akibat imbas wabah virus corona. Beberapa maskapai bahkan terpaksa harus menawarkan sejumlah karyawannya untuk mengambil cuti secara sukarela atau tanpa dibayar, mulai dari pegawai darat hingga awak kabin. Khusus untuk awak kabin, sepinya penerbangan bukan saja berdampak pada pendapatan atau take home pay mereka, melainkan juga berpengaruh dengan gaya hidup.

Baca juga: Sederet Bintang K-Pop Ini ‘Banting Setir’ jadi Pramugari dan Pramugara

Menurut pengamat penerbangan Indra Setiawan, dengan iklim penerbangan seperti sekarang ini, hal tersebut tentu bukanlah keinginan semua pihak, termasuk airlines. Untuk di Indonesia sendiri, terkait pramugari, sepinya penerbangan memang tak mempunyai pilihan lain kecuali standby di rumah.

“Ya sama saja dengan bisnis lainnya yang sepi akibat sedikitnya tamu yang datang. Dengan sepinya penerbangan, ya mau gimana, itu juga bukan keinginannya airlines. Mau tidak mau mereka di rumah atau terserah mereka-lah selama penerbangan sepi mau ngapain,” katanya, kepada KabarPenumpang.com, Rabu, (4/3).

Senada dengan Indra, salah satu narasumber yang tak mau disebutkan namanya, mengatakan, sebetulnya dengan sepinya penerbangan, pramugari atau pramugara menjadi serba salah. Pasalnya, setiap dua pekan sekali, biasanya, bagian operational maskapai akan membuatkan schedule untuk pramugari dengan skema pengaturan by sistem.

Saat dahulu ia masih aktif bekerja, salah satunya mengatur schedule awak kabin dan kru kokpit, sistem yang dibuat berdasarkan kesepakatan dari pembuat program dan pengguna program, dimana di dalam aplikasi tersebut akan mengakomodir semua keinginan dari para pembuat kebijakan schedule crew. Dengan begitu, diharapkan, pembagian tugas awak kabin dapat mencapai tujuan berupa rata destinasi, rata jam terbang, dan rata pendapatan dimana aplikasi akan memproses CROPA mengikuti kaidah tersebut.

Pramugari Malaysia Airlines

Efek Penerbangan Sepi
Masalah pun muncul ketika penerbangan sepi. Bagi mereka yang telah memilih rute, dalam hal ini internasional, tak ada pilihan lain kecuali di rumah. Selain itu, bila pun ada penerbangan, hal tersebut bukan pula menjadi sebuah berkah buatnya. Justru sebaliknya, bisa jadi menjadi petaka, dalam artian, tunjangan atau away from base yang mereka dapatkan dari airlines untuk penerbangan internasional tersebut bisa saja habis tak tersisa, bahkan tak jarang bisa saja harus merogoh kocek pribadi untuk bertahan hidup selama menunggu untuk sampai ke penerbangan berikutnya, tergantung pada pola hidup mereka selama di sana. Kalau terlalu boros, hal itu mungkin bisa saja terjadi.

“Jangan salah, pramugari itu keliatannya doang loh (mewah gaya hidupnya). Loh iya, mereka kan memang harus terlihat ‘wah’ gitu ya. Masa pramugari hidupnya ya begitu (ala kadarnya), kan tidak enak juga. Seumpama, mereka terbang ke luar negeri, mereka ya enak dapat tunjangan berupa travel allowance dan away from base. Tapi, kalau penerbangannya hanya sekali atau dua kali dalam sepekan, ya mereka tidak bisa membawa uang yang banyak ketika kembali. Kan mereka hanya mendapatkan fasilitas berupa penginapan saja tidak untuk biaya hidup selama di sana,” jelasnya.

Baca juga: Inilah 20 Syarat ‘Tak Resmi’ untuk Jadi Pramugari, Nomor Dua Agak Aneh

Selama di sana, lanjutnya, itulah momen mereka (awak kabin) untuk jalan-jalan serta menelusuri berbagai destinasi wisata favorit di negara tujuan. Saat itulah pramugari tampak glamor dengan gaya hidup mewah bak anak sultan. Namun, di balik semua itu, sebetulnya ia bisa saja tengah menjerit. Salah satu faktornya, itu tadi, penerbangan internasional dalam sepekan hanya satu atau dua kali. Paling tidak, untuk rute internasional, awak kabin minimal bertugas tiga kali dalam sepekan. Jika hal itu terjadi, barulah mereka pulang ke tanah air dengan membawa sejumlah uang yang tak sedikit.

Akan tetapi, ketika ditanya besaran travel allowance dan away from base untuk awak kabin yang bertugas, ia pun urung menyebutkannya. Ia mengatakan, bahwa besarannya bisa saja sudah berubah. Kemudian, ia mengakui, bahwa minimal take home pay atau uang yang dibawa pulang setiap bulannya berada dikisaran UMR atau lebih. Namun, ia juga tak menampik bahwa awak kabin (dalam kondisi normal) bisa membawa pulang uang yang cukup banyak.

Leave a Reply