Penumpang Kaget, Masker Oksigen Airbus A350 Aeroflot Tiba-tiba Turun di Tengah Penerbangan

Masker oksigen pesawat Airbus A350-900 Aeroflot mendadak turun dalam penerbangan dari Bandara International Antalya, Turki, ke Bandara Moksow Sheremetyevo, Rusia. Insiden itu sontak membuat seluruh penumpang kaget dan beberapa di antaranya panik.

Baca juga: Aeroflot Registrasi Pesawat Airbus A350 Baru di Bermuda, Gegara Lari dari Pajak?

Laporan Aviation Herald menyebut, ketika itu, pesawat dengan nomor penerbangan SU2143 sedang dalam perjalanan di FL430, sekitar 314 selatan ibu kota Rusia, Moskow. Tiba-tiba masker oksigen turun dan in-flight entertainment (IFE) pun mati.

Usai insiden itu, pesawat widebody tersebut kemudian turun ke FL200 atau Flight Level Two Zero Zero atau bisa juga diartikan sebagai penerbangan di ketinggian dua ribu kaki, 18 menit setelah masker oksigen mendadak keluar dari sarangnya.

Meski begitu, beruntung pesawat masih bisa melanjutkan penerbangan dengan mulus dan mendarat dengan selamat di runway 24C Bandara Sheremetyevo.

Dari kesaksian penumpang, hasil pengecekan pramugari menunjukkan tidak adanya masalah pada tekanan kabin. Sebaliknya, besar kemungkinan turunnya masker oksigen penumpang secara tiba-tiba disebabkan oleh sistem deteksi gagal.

Padahal, dari data ch-aviation, pesawat dengan nomor registrasi VP-BXP tersebut adalah pesawat terbaru dari enam barisan armada maskapai nasional Rusia. Aeroflot diketahui menerima pesawat itu pada 29 Juni lalu, setelah melakukan penerbangan perdana pada 27 Mei.

Baca juga: Saat Masker Oksigen Turun, Ini yang Penumpang Wajib Tahu!

Sebelum insiden itu, tak ada masalah pada pesawat selama penerbangan internasional, seperti Miami, Tokyo, Varadero, dan Pulau Mahe. Setelah mendarat pada Kamis kemarin, pesawat ini tetap digrounded sampai saat ini. Belum diketahui secara pasti penanganan pada pesawat terkait kejadian ini.

Airbus A350 belakangan memang tengah mendapat sorotan tajam. Di awal Agustus lalu, Qatar Airways mengkonfimasi telah meng-grounded seluruh atau 13 unit armada A350.

Keputusan itu datang setelah ditemukan masalah pada badan pesawat di bawah permukaan cat, saat salah satu armada menjalani proses pengecatan livery World Cup 2022 (Piala Dunia 2022) di Irlandia, awal tahun ini.

“Dengan perkembangan terakhir ini, kami sangat berharap bahwa Airbus menangani masalah ini dengan penuh perhatian,” kata Akbar Al Baker, CEO Qatar Airways dalam keterangan resminya kepada KabarPenumpang.com.

Baca juga: Bermasalah, Qatar Airways Kandangkan 13 Unit Airbus A350, Al Baker Murka!

“Qatar Airways tidak akan menerima apa pun selain pesawat yang terus beroperasi. menawarkan kepada pelanggannya standar keselamatan setinggi mungkin dan pengalaman perjalanan terbaik yang layak mereka dapatkan,” tambahnya.

“Qatar Airways mengharapkan Airbus telah menetapkan akar permasalahan dan secara permanen memperbaiki kondisi yang mendasarinya demi kepuasan Qatar Airways dan regulator kami sebelum kami melakukan pengiriman lebih lanjut Pesawat A350,” lanjutnya.

Wolf’s Fang Camp – Penginapan di Lingkungan Ekstrem Kutub Selatan

Kutub Selatan atau Benua Antartika masih bisa ditinggali oleh manusia dan menjadi salah satu destinasi yang merupakan tempat terdingin di muka bumi ini karena sebagian besar tertutup es sepanjang waktu. Meski begitu, banyak juga pelancong yang datang ke wilayah ekstrem tersebut.

Baca juga: Antartika Punya Penerbangan Domestik, Siapa Penumpangnya?

Saat ini, Wolf’s Fang Camp adalah penginapan eksklusif di pedalaman Antartika dan dalam langkah pertama pembangunannya akan memiliki tenda dengan kapasitas 12 orang. Penginapan ini rencananya akan dibuka pada bulan November mendatang.

Kemudian pada langkah selanjutnya adalah membangun stasiun pengisian bahan bakar dan ruang kargo untuk menyimpan kayu dan bahan bangunan yang masuk. Ini dilakukan sembari mencari lokasi dekat danau glasial untuk pasokan air, terlindungi oleh bebatuan dan pemandangan untuk menghirup udara dingin.

KabarPenumpang.com melansir theprint.in (29/7/2021), nantinya setelah itu Anda dapat mulai menavigasi logistik dari saluran listrik dan pipa ledeng ke tempat yang sepenuhnya mengalami musim dingin dan tidak terlihat matahari di siang hari. Kemudian melatih staf dalam membangun peti es untuk penyimpanan makanan atau mengemudi di atas tundra beku untuk membawa pelancong ke Kutub Selatan.

Pembangunan Wolf’s Fang sendiri adalah cerita yang berlangsung sekitar 17 tahun, dipelopori oleh Patrick Woodhead, seorang penjelajah kutub pemegang rekor dunia yang juga merupakan chief executive officer dan pendiri perusahaan induk White Desert. Properti adalah kamp kedua di benua itu, dan memanfaatkan bandara dan bangunan pendukung yang baru dibuat pertama kali.

Lantaran berlokasi sangat jauh dan terpencil, dampak ekonomi menjadi mengejutkan dan tentunya menjadi serba mahal, seperti mengambil Coca-Cola dibandrol $38,62 per kaleng. Itu sebagian besar berkaitan dengan fakta bahwa setiap pesawat yang mampu membawa kaleng soda itu harus menempuh jarak 8.000 mil atau sekitar 12874,75 km dan waktu tempuh sepuluh jam dari Cape Town di Afrika Selatan ke Antartika dan kembali tanpa mengisi bahan bakar.

Baca juga: Teka-Teki Pesawat Dilarang Terbang di Atas Antartika, Ternyata Gegara Hal Ini

“Ini kaleng Coke paling mahal di seluruh dunia dan itu baru permulaan,” kata Woodhead.






















Banyak Rahasia, Ini Makna Tanda di Dua Lokasi Stasiun Tokyo

Banyak keunikan dan rahasia, menjadi salah satu yang membuat penasaran di Jepang. Bukan hanya tempat tersembunyi, bahkan sebuah tanda yang tidak pernah diperhatikan orang pun bisa memiliki satu rahasia. Stasiun Tokyo salah satunya, meski menjadi tempat yang ramai dengan pelancong dan penumpang yang akan bepergian naik kereta api, nyatanya ada hal lain yang tidak terlihat dan memiliki makna.

Baca juga: Terpecahkan! Misteri Platform No.3 di Stasiun Tokyo

Apakah itu? Mungkin Anda akan bertanya dan di mana letak tanda itu. KabarPenumpang.com melansir soranews24.com (9/8/2021), seperti di depan mesin penjual tiket tepat di luar gerbang pintu masuk selatan Marunouchi ada tanda yang terlihat di atas lantai. Meski terlihat seperti titik ornamen lantai, nyatanya ini hal yang tidak biasa.

Tanda dengan makna mendalam di lantai Stasiun Tokyo. Foto: Sora News 24

Pada lantai di depan mesin tersebut terlihat adanya tanda sebuah segi enam kecil berwarna putih di dalam lingkaran hitam. Banyak yang tidak sadara dan menganggap semacam tanda bagi pekerja pemeliharaan. Ternyata tanda itu adalah makna yang menandai tempat yang tepat di mana salah satu pembunuhan politik terjadi dan paling mengejutkan di Jepang.

Ketika Perdana Menteri Hara Takashi, yang menjabat pada tahun 1918 berada di Stasiun Tokyo pada tanggal 4 November 1921 untuk naik kereta api ke Kyoto, seorang pekerja kereta api dengan afiliasi politik sayap kanan memilih untuk mengungkapkan ketidaksetujuannya atas perilaku Hara, yang menjabat pada tahun 1918. Dia memilih untuk mengomunikasikan ketidaksenangannya dengan menusuk Hara dengan pisau di sisi kanan dadanya, membunuhnya hampir seketika. Selain itu ada tanda di dalam gerbang tiket reguler Stasiun Tokyo.

Jika Anda menuju gerbang Shinkansen menggunakan Central Passage gedung, Anda akan menemukan tangga pendek. Ketika melihat ke bawah, Anda akan melihat tanda di lantai. Yang ini lebih besar, membuatnya terlihat lebih seperti semacam palka pemeliharaan, mungkin yang dirancang oleh ninja yang mengambil halaman dari buku pedoman penutup lubang got Pokémon dengan menghiasnya dengan pola bintang lempar. Sebenarnya, ini adalah tempat lain di Stasiun Tokyo di mana seseorang ingin membunuh perdana menteri Jepang.

Kali ini sasarannya adalah Hamaguchi Osachi, yang memulai masa jabatannya pada tahun 1929. Hamaguchi juga diserang oleh seorang pembunuh sayap kanan, menyusul kemarahan dari faksi politik atas kebijakan ekonominya yang gagal dan upayanya untuk membatasi ekspansionisme militer. Terlepas dari motif seperti senjata rahasia di tanda lantai, si pembunuh menggunakan pistol, menembak Hamaguchi pada 14 November 1930, ketika dia berada di Stasiun Tokyo untuk naik kereta menuju Prefektur Okayama.

Kedua penanda peringatan itu disertai dengan plakat berbahasa Jepang di dinding yang menjelaskan artinya, tetapi penampilannya yang tidak mencolok berarti bahwa hanya sedikit dari orang-orang yang bergegas ke kereta mereka mendaftar bahwa tanda-tanda itu ada di sana, apalagi berhenti untuk membacanya. Namun, bagi mereka yang memahami signifikansinya, mereka adalah pengingat betapa banyak sejarah yang dimiliki Stasiun Tokyo.

Baca juga: Stasiun Tokyo, Merangkap Jadi Museum dan Saksi Bisu Pembunuhan Dua PM Jepang

Bisa dikatakan, saat ini betapa beruntungnya warga Tokyo hidup dalam masyarakat yang jauh lebih stabil daripada rekan-rekan mereka dari kurang dari seratus tahun yang lalu. Sementara itu, jika Anda menyukai rahasia kereta api Jepang yang tidak terlalu berlumuran darah, selalu ada stasiun kereta Tokyo dengan kucing-kucing yang tersembunyi.

Pilot KLM Ngaku Lihat UFO di Kanada: Warnanya Hijau Terang

Pilot KLM dalam penerbangan dari Boston ke Amsterdam mengaku melihat UFO (Unidentified Flying Object) saat di Newfoundland, Kanada. Dalam laporannya, ia melihat UFO terbang berwarna hijau terang. Pengakuannya itu pun diperkuat dengan pengelihatan yang sama oleh pilot pesawat militer C-15 Kanada yang berada tak jauh di lokasi.

Baca juga: Viral! UFO Mendarat di Laut, Menyelam, dan Hilang Tanpa Jejak Bak Hantu

Dikutip dari Live and Let’s Fly, pilot pesawat Airbus A330-300 KLM melihat penampakan UFO pada 30 Juli lalu. Ketika itu, UFO berwarna hijau terang terlihat terbang, masuk ke dalam awan, dan menghilang bak hantu. Padahal, di jalur dan ketinggian penerbangan 618 KLM tidak ada penerbangan lain.

Setelah melihat UFO tersebut di atas Teluk St. Lawrence, beberapa kilometer sebelum Newfoundland, sekitar pukul 01:55 pagi waktu setempat, pilot langsung melapor ke Gander Area Control Center.

Menariknya, di hari yang sama, laporan adaya UFO berwarna hijau terang juga datang dari pilot pesawat lain; C-17 Globemaster pemerintah Kanada, yang terbang dari Trenton, Ontario, ke Cologne, Jerman, pada waktu dan lokasi yang nyaris sama.

Tetapi, pesawat C-17 Globemaster mengambil tindakan untuk meningkatkan ketinggian 1.000 kaki dan mengubah arah guna menghindari kontak.

“Para kru melihat sesuatu di udara, dan melaporkannya ke NAV Canada sesuai prosedur standar, sebelum melanjutkan misi mereka tanpa insiden lebih lanjut,” kata juru bicara Royal Canadian Air Force kepada Daily Mail.

“Meskipun tidak diketahui apa yang mereka lihat, tidak ada indikasi bahwa itu menimbulkan semacam masalah keamanan atau menimbulkan risiko keselamatan bagi pesawat,” tambahnya.

Penampakan UFO di siang bolong ataupun malam hari kerap terjadi di seluruh dunia, salah satunya di Amerika Serikat (AS). Negeri Paman Sam menjadi salah satu negara yang bisa dibilang paling sering terlihat penampakan UFO.

Itu sebab, AS diduga sedang mengembangkan pesawat atau senjata canggih secara diam-diam. UFO itu pula yang kerap dilihat oleh pilot pesawat di seluruh dunia. Tetapi, ini memang sekedar rumor tanpa adanya bukti-bukti ilmiah.

Pada Mei lalu, sebuah video terbaru soal UFO bocor ke publik viral di media sosial Instagram. Video tersebut menunjukkan UFO seperti melakukan approach untuk mendarat di laut, menyelam, dan hilang entah kemana.

Pentagon sendiri memastikan keaslian itu. Melalui juru bicara Susan Gough, Pentagon mengkonfirmasi bahwa video tersebut diambil dari personel Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) dan sudah sempat dibahas pada briefing Office of Naval Intelligence (ONI) pada 1 Mei 2020.

Setelahnya, tim Gugus Tugas Unidentified Aerial Phenomena (UAP) -sebutan UFO oleh Pentagon- sedang bekerja untuk menyelidiki video itu, termasuk video dan laporan lainnya terkait UFO.

Baca juga: Ada Penampakan UFO di Dekat Kereta, Laporan Wanita ini Disangsikan

Video UFO berbentuk bulat seperti piring terbang viral tersebut diketahui diambil pada tahun 2019 silam, di lepas pantai San Diego, California, AS, dari monitor di Pusat Informasi Tempur USS Omaha.

Dalam video yang diviralkan oleh kreator film dokumenter, Jeremy Corbell, bersama jurnalis UFO George Knapp, tersebut, personel USS Omaha juga turut berkomentar terkait penampakan UFO yang sudah kesekian kalinya di AS itu. Salah satu dari mereka berpendapat bahwa UFO tersebut mendarat, bukannya jatuh ke air.

Inilah Ariana Afghan Airlines, Maskapai Nasional Afghanistan yang Viral Gegara Taliban

Baru-baru ini video viral menunjukkan kerumunan masyarakat terjadi di Bandara Kabul dalam upaya menjadi bagian dari penumpang pesawat dari maskapai nasional Afghanistan, Ariana Afghan Airlines.

Baca juga: Kabul Dikuasai Taliban, Warga dan WNA Tak Bisa Kabur Lewat Bandara Kabul?

Saat ini, warga negara itu memang sedang berujuang untuk melarikan diri usai Taliban kembali berkuasa dan menduduki istana kepresidenan Afghanistan. Adapun presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, melarikan diri ke luar negeri. Ia melarikan diri ke luar negeri karena tak lagi didukung Amerika Serikat (AS).

Terkait AS, sebagaimana Taliban dan presiden Ashraf Ghaini, Ariana Afghan Airlines juga pernah ikut dicampuri. Meski demikian, hubungan AS dan maskapai tersebut lebih ke arah positif.

Dilansir dari laman resmi maskapai, Ariana Afghan Airlines didirikan pada Januari 1955. Sejarahnya dimulai dari seorang pilot komersial AS. Ketika itu, ia memindahkan beberapa pesawat Douglas DC-3 atau Dakota ke negara tersebut usai selama beberapa tahun beroperasi di India pasca Perang Dunia II.

Sebelum kedatangan pilot dan pesawat itu, tidak ada layanan transportasi udara di Afghanistan meskipun Angkatan Udara Kerajaan Afghanistan telah ada selama beberapa tahun.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by CAPTAIN FLYING (@captainflying)

Setelah pilot dan pesawat itu melayani transportasi udara di sana selama beberapa waktu, barulah Pemerintah Afghanistan mengakui melirik dan menjadikannya lebih formal dengan pendirian perusahaan dan maskapai bernama Ariana Afghan Airlines.

Logo Ariana Afghan Airlines berupa burung walet didesain langsung oleh Shah Afghanistan. Biru sebagai warna kebesarannya terinspirasi dari batu mulia lapis lazuli, yang banyak ditemukan di pegunungan-pegunungan tinggi Afghanistan.

Pada tahun 1957, pemerintah Afghanistan sepakat dengan AS untuk bekerjasama memperkuat maskapai nasionalnya, dengan cara negara tersebut, melalui maskapai legendaris Pan American World Airways (Pan Am), mengakuisisi saham Ariana Afghan Airlines sebesar 49 persen.

Di awal berdiri, hampir seluruh pekerjanya berasal dari AS. Setelah kerjasama tersebut, perlahan tapi pasti para pekerja asli Afghanistan mulai tampil di berbagai posisi di udara dan darat, seperti pilot, pramugari, teknisi, insinyur, mekanik, dan staf darat.

Pada tahun 1965, Ariana Afghan Airlines resmi memindahkan homebase ataupun hubnya ke Bandara Internasional Kabul setelah resmi berdiri atas bantuan Uni Soviet, dari sebelumnya di Bandara Kandahar.

Di dekade 70-80an, Ariana Afghan Airlines mulai benar-benar berdikari. Selain jangkauan internasionalnya jauh lebih luas dari sebelumnya, dimana maskapai terbang dua kali dalam sepekan ke Istanbul, Frankfurt, London, Paris, dan Amsterdam, serta tiga kali sepekan ke New Delhi, Lahore, dan Amritsar, seluruh penerbangan itu juga sudah dioperasikan oleh pilot berkewarganegaraan Afghanistan.

Begitupun juga dengan posisi lainnya. Ketika itu, dari 650 orang karyawan, lebih dari 630 di antaranya adalah orang Afghanistan.

Baca juga: Maskapai Legendaris Pan Am Ternyata Sudah Terbang ke Jakarta Sejak 1960

Setelah melambung tinggi, maskapai mulai meredup usai peristiwa 11 September 2001. Saat itu, AS dan sekutu memborbardir Afghanistan dan maskapai kehilangan banyak pesawat hingga menyisakan dua armada. Di tahun 2002, maskapai mulai menatap masa depan berkat hibah pesawat dari India.

Sepanjang maskapai berdiri, berbagai tipe pesawat telah bergabung dalam barisan armada, seperti Dakota, DC-4, DC-6, dan Convair 340/440, Boeing 727-100, DC-10, Tupolev Tu-154, Boeing 727-200, dan Antonov An-24.

Kabul Dikuasai Taliban, Warga dan WNA Tak Bisa Kabur Lewat Bandara Kabul?

Sebagai negara yang tak mempunyai laut, Afghanistan praktis hanya bisa mengandalkan jalur darat dan udara sebagai gerbang utama, baik lalu lintas pertukaran orang maupun barang. Tetapi, baru-baru ini, Taliban sudah mengusai ibu kota negara tersebut, yang di dalamnya ada bandara internasional terpenting di negara itu.

Baca juga: Ingin ‘Kuasai’ Bandara Kabul Afghanistan, Erdogan Minta Restu AS

Celakanya, Bandara Internasional Kabul atau biasa juga disebut Bandara Internasional Hamid Karzai, penyebutan baru bandara setelah penggulingan Taliban oleh presiden pertama Afghanistan yang didukung oleh AS pada 2001 silam, merupakan satu-satunya akses keluar-masuk Afghanistan via udara.

Meski begitu, laporan Associated Press, bandara yang juga disebut sebagai Bandara Khwaja Rawash itu tidak dikuasai Taliban dan betul-betul jadi satu-satunya akses keluar Afghanistan.

Laporan tersebut juga menyebut belakangan semakin banyak arus orang yang ke bandara untuk menyelamatkan diri. Mereka bahkan rela membayar mahal mulai dari perjalanan darat lewat jalan tikus untuk menghindari pos pemeriksaan Taliban sampai harga tiket maskapai.

Rata-rata dari mereka yakin, Taliban akan kembali berkuasa usai didukung AS, situasi yang sama sekali terbalik dimana pada 2001 silam Taliban justru digulingkan oleh opisisi atas dukungan Amerika Serikat.

Dilansir Airport Technology, bandara yang terletak 16 km dari pusat kota Kabul ini diketahui hanya memiliki satu runway sejauh 3.500 m dan lebar 50 m. Cukup panjang dan besar untuk pesawat militer mendarat, mengingat bandara ini juga berfungsi sebagai pangkalan militer. Bandara ini juga cukup besar untuk menampung 100 pesawat.

Bandara Kabul memiliki dua terminal, satu terminal lama untuk penerbangan domestik dan lainnya terminal baru yang didanai pemerintah Jepang sebesar US$35 juta pada tahun 2005-2009 untuk penerbangan internasional.

Di rentang waktu tersebut, sistem penanganan bagasi di terminal lama bandara juga diganti dengan yang baru.

Bandara yang pertama kali dibangun oleh insinyur berkebangsaan Uni Soviet pada tahun 1960 tersebut, setelahnya, juga masih bergantung pada Jepang. Pemerintah Negeri Sakura, pada tahun 2012, mengucurkan dana sebesar US$20 untuk perluasan terminal dan renovasi ATC. Ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas penanganan bandara sebesar tujuh persen.

Sselain itu, dana itu juga digunakan untuk perluasan apron parkir pesawat dan rehabilitasi perkerasan runway, menjadi 14 taxiway dan 19 apron, untuk meningkatkan kapasitas parkir pesawat sebesar 20 persen.

Kendati pernah digempur dua roket Taliban dan menyebabkan satu helikopter presiden dan dua helikopter milik Kementerian Dalam Negeri rusak parah pada tahun 2014 silam, di tahun yang sama, sistem keamanan bandara juga diperkuat atas saran dari Kementerian Luar Negeri.

Itu meliputi peningkatan sistem keamanan di terminal internasional dengan pemasangan mesin X-ray baru dan pendeteksi logam.

Baca juga: Dua Batang Emas Senilai Rp897 Juta Diselundupkan di Sol Sandal Penumpang Pesawat

Proyek ini termasuk menyediakan bus dan memfasilitasi pemeriksaan keamanan untuk menguragi antrean. Sebagaimana sebelumnya, proyek ini juga didanai oleh pemerintah Jepang sebesar US$43 juta.

Bandara ini menjadi basis bagi beberapa maskapai Afghanistan, seperti national flag carrier Ariana Afghan Airlines, Kam Airlines, Safi Airways, dan Pamir Airways. Selain itu, bandara ini juga menyediakan penerbangan dari maskapai Air India, East Horizon Airlines, Emirates, Silk Way Airlines, Turkish Airlines, dan Spicejet

Sejarah Pulau Onrust, Tempat Karantina Jemaah Haji hingga Bendung Semangat Nasionalisme

Ibadah ke Tanah Suci Mekkah memang bukan perkara mudah. Perlu kekuatan harta dan tenaga agar dapat sampai ke sana. Di masa lalu, jemaah haji tempo dulu, seperti yang sudah dibahas sebelumnya, berangkat menggunakan kapal laut, bukan dengan pesawat.

Baca juga: Tak Hanya Kasus ABK WNI, Larung Jenazah Sudah Dilakukan Sejak Perjalanan Haji di Masa Lalu

Di beberapa literatur dan cerita turun-temurun, durasi jemaah haji tempo dulu mulai dari berangkat sampai pulang kembali ke rumah cukup bervariasi, mulai dari sebulan hingga total 10 bulan. Luar biasa bukan? Bahkan, di banyak kasus, keluarga sama sekali tidak mengetahui dimana jenazah anggota keluarganya. Sebab, baik saat perjalanan ataupun pulang, jemaah haji yang meninggal di lautan memang dilarung ke laut, tidak menunggu sampai ke daratan.

Terlepas dari perdebatan soal waktu ataupun proses pemakaman jemaah haji dengan cara dilarung ke laut, satu hal yang pasti, sebelum mulai mengarungi lautan menuju Mekkah-Madinah atau kembali ke kediaman masing-masing, jemaah haji tempo dulu harus menjalani karantina di salah satu pulau di Kepulauan Seribu; Pulau Onrust.

Pulau Onrust (berasal dari bahasa Belanda yang berarti tak pernah istirahat) ini sejak tahun 1911-1933 ditunjuk oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk menjadi pusat karantina jemaah haji akibat wabah pes. Tindakan itu diambil setelah wabah yang menewaskan hampir 200 ribu korban di Hindia Belanda ini, mulai dari Jawa Timur sebagai episenter wabah, Jawa Barat, dan Jawa Tengah, terdeteksi dibawa oleh para penumpang kapal laut yang baru pulang dari ibadah haji.

Wabah pes itu ditulari dari tikus yang ikut masuk ke dalam kapal saat bersandar di Rangin (kini Yangon), Birma (kini Myanmar) saat kapal mengangkut beras. Alhasil, pulau seluas 7,6 hektar (sebelum abrasi seluas 12 hekter) ini pun kemudian dibangun mess-mess sebagai fasilitas penunjang karantina jemaah.

Tercatat, 35 barak dengan kapasitas 3.500 jemaah haji, rumah dokter, hingga sanitasi pun didirikan di pulau yang mulai diduduki sejak 1619 oleh Belanda tersebut dengan biaya sebesar 607 ribu gulden atau sekitar Rp4 miliar. Dana sebesar itu juga termasuk membangun tembok anti tikus untuk memperkokoh status karantina agar benar-benar steril sebelum kembali ke rumah.

Berbeda dengan masa karantina pandemi corona, ketika itu, jemaah haji normalnya dikarantina selama lima hari saja. Namun, realisasinya, bergantung pada kesehatan masing-masing jemaah itu sendiri. Tak heran, bila durasi jemaah haji mulai dari meninggalkan rumah sampai kembali ke rumah, menurut cerita turun-temurun, cenderung berbeda-beda.

Bahkan, saking lamanya meninggalkan rumah, berbagai sebutan pun muncul mengiringi tinta emas sejarah haji tempo dulu, mulai dari sebutan Haji Singapura, selamatan orang mau mati, hingga tradisi wasiat bagi para jemaah haji sebelum mulai meninggalkan kediaman.

Akan tetapi, sebelum dikarantina di Pulau Onrust, para jamaah haji diturunkan di Pulau Cipir yang bersebelahan dengan Onrust. Mereka dicek kesehatan dan diminta mandi, lalu menanggalkan seluruh pakaian dan diganti dengan pakaian karantina setelahnya diperiksa seorang dokter. Bila dinyatakan sehat, mereka akan digelandang ke Pulau Onrust. Sampai di Pulau Onrust, mereka akan disambut oleh tim dokter dari Belanda untuk kemudian dicek kembali kesehatannya, sebelum menuju barak.

Sebaliknya, bila terindikasi ‘positif’ wabah, mereka akan di karatina di Pulau Cipir, yang fasilitas karatinanya dibangun bersamaan dengan fasilitas karantina di Pulau Onrust. Bila jemaah haji meninggal, baik di Pulau Onrust maupun di Pulau Cipir, maka mereka akan diangkut ke Pulau Kelor untuk dimakamkan secara sederhana tanpa memperhatikan arah kiblat, layaknya melarung jemaah haji di lautan saja.

Jadi, dengan segitiga emas yang saling berkaitan antara sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor di masa lalu, maka, sangat tak etis bila banyak pihak menyebut bahwa hanya Pulau Onrust saja yang bersejarah. Sebab, tanpa Pulau Cipir dan Kelor, mungkin, fasilitas karantina di Pulau Onrust akan tidak maksimal.

Baca juga: Khusus Layani Jamaah Haji Tradisional, Garuda Indonesia Andalkan Awak Kabin (Lokal)

Namun, Onrust bukan hanya soal karantina jemaah haji akibat wabah. Di pulau ini juga, ketika itu, jemaah haji di karantina sebelum pulang ke rumah. Bukan karena penyakit, namun VOC atau pemerintah Hindia Belanda tak ingin para jemaah yang jumlahnya mencapai puluhan ribu orang menyebarkan semangat melawan kolonial di Tanah Air.

Setelah Indonesia merdeka, mulai tahun 1968, Pulau Onrust akhirnya dapat beristirahat dengan tenang. Berbagai peninggalan masih akan tetap menjadi saksi bisu di sana, rumah sakit, aula, dan penjara. Rumah sakit saat ini dijadikan museum, gereja dijadikan aula, sementara ruang tahanan masih utuh yang masih utuh dibiarkan tak berpenghuni.

Ferrari Jual 300 Mobil Anak-anak dalam Skala 3/4 Testa Rossa

Ferrari berencana untuk menjual 299 replika skala dari supercar Ferrari 250 Testa Rossa tahun 1950-an yang legendaris  dengan harga €93 ribu (US$109 ribu). Masing-masing dibuat sesuai standar Ferrari dengan bodywork aluminium, suspensi spesifikasi tinggi, rem dan roda, drivetrain listrik yang canggih dan geometri kemudi dimodelkan pada aslinya, memberikan roadholding otentik agar sesuai dengan penampilannya.

Baca juga: Desainer Ferrari Rancang Halte Bus Canggih dengan Konsep Alami

Ferrari Testa Rossa J dengan cermat mereproduksi garis 250 Testa Rossa dalam versi barchetta rancangan Scaglietti asli, yang dijuluki “pontoon fender.” Seperti semua mobil jalan Ferrari, perhatian terhadap detail sangat indah. Hidung hiu dan bodywork montok semuanya terbuat dari aluminium yang dipukul dengan tangan, menggunakan proses yang persis sama yang digunakan untuk membangun model sejarah asli yang direplikasi.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari newatlas.com (11/8/2021), kereta penggerak replika sepenuhnya listrik, dan tiga baterai menyediakan jarak mengemudi lebih dari 50 mil. Baterai dapat diakses di bawah kap depan dan juga dapat diisi daya di tempat tutup bahan bakar sebelumnya berada.

Testa Rossa J Ferrari adalah replika skala 75 persen dari salah satu mobil vintage yang paling didambakan di planet ini. Hanya 34 Ferrari 250 Testa Rossas skala penuh yang dibuat, mereka memenangkan 24 Hours of Le Mans tiga kali, menjadikan mobil itu bukan hanya salah satu yang terindah di dunia, tetapi juga mobil jalanan tercepat di dunia saat itu.

Produksi mobil pertama akan dimulai menjelang akhir 2021, dan klien sekarang diminta untuk mengamankan slot pembuatan mereka dengan deposit $20 ribu, dengan berbagai opsi yang belum ditentukan yang dapat diharapkan untuk meningkatkan €93 ribu (US $ 109 ribu) label harga jauh lebih tinggi. Sama seperti mainan anak laki-laki besar Ferrari, klien akan dapat mempersonalisasi mobil mereka secara ekstensif, hingga dapat menentukan warna yang tepat dari eksterior, interior dan trim, dan bahkan warna jahitan di jok kulit.

Ferrari Classiche melihat semua livery yang telah menghiasi 250 Testa Rossa asli sepanjang karir balapnya dan konfigurator mobil online memungkinkan klien untuk memilih dari 14 livery historis, 53 warna bodywork dan livery balap pribadi tambahan, semuanya secara otentik sesuai dengan gaya Ferrari. Cat dan lencana yang akan digunakan dalam membangun replika skala sama dengan yang diterapkan pada supercar Ferrari produksi.

Ferrari Testa Rossa J adalah proyek khusus yang dibangun oleh Ferrari bekerja sama dengan The Little Car Company, perusahaan yang sama yang membuat Bugatti Baby II untuk Bugatti dan Aston Martin DB5 Junior untuk Aston Martin. Pusat Styling Ferrari di Maranello mengawasi proporsi dan corak, sementara sasis dan komponen lainnya dibuat menggunakan gambar desain asli yang dipegang oleh departemen Classiche Ferrari.

Baca juga: Tiang Bus Stop Modern Bakal Dilengkapi Teknologi Informasi Tingkat Tinggi

Produksi Ferrari Testa Rossa J akan dibatasi hingga 299 kendaraan, masing-masing bernomor dan dengan sertifikat keaslian yang dikeluarkan atas nama pemiliknya. Sangat tidak mungkin bahwa nilai salah satu mobil ini akan turun di bawah harga beli, karena mereka akan segera menjadi barang koleksi edisi terbatas.

Ford Hadirkan Driver Robot untuk Uji Coba Mengemudi di Lingkungan Ekstrem

Uji coba lingkungan dengan cuaca yang cukup ekstrem bila dilakukan oleh manusia bisa saja, tetapi ada risiko kesehatan yang besar nantinya. Sehingga Ford Eropa mengambil selangkah lebih maju dengan memperkenalkan driver robot.

Baca juga: Baidu Luncurkan Apollo RoboTaxi, Taksi Otonom Berbayar Pertama di Cina

Kehadiran robot tersebut bukan untuk menghemat paket pembayaran, namun sebagai cara menguji mobil di bawah kondisi lingkungan yang ekstremm tanpa mempertaruhkan kesehatan pengemudi manusia. Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (12/8/2021), pengujian dengan robot ini lebih dari sekedar memastikan bahwa mekanik sesuai dengan spesifikasi.

Pengemudi robot mengoperasikan pedal. Foto: Ford

Di mana ini juga hadir untuk memastikan bahwa kendaraan dapat beroperasi di bawah panas, dingin, angin dan ketinggian yang ekstrem. Uji coba robot juga untuk memastikan mobil yang dibnagun dengan baik dapat beroperasi di daerah tropis, gurun, Artik dan melewati gunung dengan sedikit keggalan jika dirawat dan digunakan dengan benar.

Masalahnya adalah bahwa tes semacam itu adalah tes manusia seperti halnya mesin. Ketika sebuah mobil ditempatkan di dalam terowongan angin lingkungan dan mengalami panas yang membakar, dingin yang membekukan, dan tekanan ketinggian yang tinggi, begitu juga pengemudinya.

Ini bisa menjadi masalah yang serius karena pengemudi bisa menjadi lelah atau bahkan sakit setelah beberapa saat. Sehingga berarti bahwa pengujian hanya dapat dilakukan pada saat-saat ketika pengemudi bugar dan beristirahat. Meski begitu, orang tersebut harus dilengkapi dengan biosensor, botol oksigen, dan peralatan medis serta paramedis harus berjaga-jaga jika terjadi kecelakaan.

Semua itu berarti membutuhkan waktu dan biaya. Jadi untuk menghindari waktu dan biaya lebih, Ford telah membawa dua robot ke fasilitas pengujian Weather Factory di Cologne, Jerman. Disebut Shelby dan Miles, mereka tidak terlihat seperti pengemudi manusia, tetapi mereka mampu mengoperasikan kontrol dan meniru apa yang mereka lakukan berkali-kali.

Mereka dapat beroperasi pada suhu dari -40 °C hingga 80 °C (-40 °F hingga 176 °F), pada ketinggian alpine, dan dapat diprogram untuk melakukan gaya mengemudi yang berbeda. Dalam stand uji statis, kaki robot dapat mencapai pedal akselerator, rem dan kopling, sementara satu lengan dapat menggeser tuas persneling dan yang lainnya dapat menghidupkan dan mematikan mesin.

Baca juga: Robotaxi Ford Ditunda Peluncurannya Hingga 2022

“Kedua pembalap baru ini adalah tambahan yang fantastis bagi tim, karena mereka dapat mengikuti tes ketahanan yang menantang di ketinggian dan suhu panas. Begitu robot berada di kursi pengemudi, kami dapat menjalankan tes sepanjang malam tanpa harus khawatir pengemudi akan membutuhkan sandwich atau istirahat di kamar mandi,” kata Frank Seelig, Supervisor, Wind Tunnel Testing, Ford Eropa.

CDC Rekomendasikan Warga AS untuk Kembali Gunakan Masker di Ruang Publik

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) sekali lagi merombak pedoman masker minggu ini, meminta semua warga Amerika Serikat untuk kembali mengenakan masker di ruang publik dalam ruangan dan di area luar ruangan yang ramai, terlepas dari status vaksinasi. Rekomendasi masker baru badan itu datang ketika virus Delta jenis Covid-19 terus menyebar, yang mengarah ke peningkatan kasus virus corona baru di seluruh Amerika Serikat.

Baca juga: CDC dan WHO: Pelindung Leher (Masker Buff) Tidak Bisa Mencegah Penyebaran Virus Corona

Apa lagi vaksin masih diamati dalam uji coba untuk anak di bawah 12 tahun, pejabat CDC juga memperbarui pedoman yang meminta semua siswa di kelas K-12 untuk mengenakan masker saat di sekolah musim gugur ini. Sementara vaksin mencegah sebagian besar dari semua gejala mematikan yang terkait dengan penyakit Covid-19. Bahkan pejabat CDC baru-baru ini juga mengakui bahwa orang yang divaksinasi memang dapat menyebarkan penyakit itu kepada orang lain di sekitar mereka.

“Rekomendasi terbaik adalah, terlepas dari status vaksinasi, untuk terus mengenakan masker untuk melindungi orang yang Anda cintai dan diri Anda sendiri dari Covid sebagai lapisan perlindungan tambahan,” jelas Vivek Cherian, MD, seorang dokter penyakit dalam yang berafiliasi dengan University of Maryland.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari goodhousekeeping.com (31/7/2021), masker kain yang dibuat pada paruh pertama tahun 2020 tidak dirancang seketat sekarang, dan baru pada akhir 2020 dan awal 2021 pejabat CDC mulai membuat rekomendasi masker yang lebih ketat kepada orang Amerika. Sementara masker kain tentu lebih baik daripada tidak menggunakan masker sama sekali dalam hal mencegah penyebaran Covid-19.

Sehingga kesesuaian dan konstruksi masker wajah bedah tingkat medis biasanya lebih komprehensif dan saat ini, masker tersebut sudah tersedia untuk konsumen. Direktur Tekstil Good Housekeeping Institute Lexie Sachs mengatakan bahwa masker bedah biasanya dibuat oleh produsen APD yang mematuhi standar kualitas ketat yang telah berlaku jauh sebelum pandemi dimulai.

Ada juga masker N95 dan KN95, atau dikenal sebagai respirator, yang dikenal lebih protektif daripada masker bedah. Ini karena mereka direkayasa dengan hati-hati untuk mencegah partikel udara besar dan kecil secara khusus menembus bagian depan topeng. Faktanya, Scott Gottlieb, mantan komisaris FDA, baru-baru ini menyarankan orang Amerika untuk mempertimbangkan mengenakan masker N95 atau KN95, yang bersumber dari Cina, untuk melindungi diri mereka dari paparan Covid-19 di depan umum.

Karena kecocokannya yang menyeluruh, Charles CJ Bailey, MD, spesialis penyakit menular di Rumah Sakit Misi Providence di California dan para ahli lainnya berhati-hati terhadap anak-anak yang menggunakan N95 atau KN95. Respirator bisa jauh lebih sulit untuk dihirup daripada masker medis atau masker kain, yang sangat menantang bagi anak-anak dalam lingkungan aktif atau selama aktivitas fisik.

Masker bedah lebih cocok untuk anak-anak, terutama mereka yang memiliki masalah pernapasan atau yang sangat aktif, daripada masker N95 atau KN95 yang tidak pas. Bailey menambahkan bahwa mengenakan N95 atau KN95 yang pas pada anak akan menjadi tantangan yang tidak praktis, dan mengenakan respirator yang tidak pas tidak akan memberikan perlindungan ekstra dibandingkan pilihan masker lainnya.

Baca juga: Lebih Jelas Tentang KN95, Masker Standar Cina yang Laris Manis

Jika Anda masih menggunakan masker kain yang sama dengan yang Anda beli pada tahun 2020, mungkin sudah saatnya mempertimbangkan untuk menggantinya dengan respirator atau masker bedah atau, paling tidak, masker berbasis kain yang lebih baru. Standar ASTM Internasional baru disebut sebagai ASTM F3502, yang akan ditampilkan oleh produsen yang merekayasa dan menguji produk mereka untuk memenuhi tolok ukur kualitas ini.