Viral! Usai Tewas dalam Kecelakaan Pesawat 45 Tahun Lalu, Kakek ini Pulang ke Rumah

Terkadang, kecelakaan pesawat nahas menimbulkan pilu mendalam. Bukan hanya karena keluarga yang dikasihi turut menjadi salah satu korban, tetapi juga tubuhnya sudah rusak dan tak lagi bisa dikenali. Dalam kondisi ini, keluarga tak punya pilihan lain kecuali sabar dan ikhlas menerimanya. Namun, itu kadang kala bisa saja membuat kaget banyak orang, seperti yang terjadi baru-baru ini.

Baca juga: Cek Fakta Dibalik Kemunculan Flight 513 Pasca 35 Tahun Hilang!

Dilansir The Sun, Sajjad Thangal, kakek berusia 70 tahun, secara mengejutkan pulang ke rumah setelah dikira tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat Indian Airlines di Mumbai pada tahun 1976 atau 45 tahun yang lalu.

Sajid Thungal diketahui meninggalkan kota kelahirannya di Kottayam, India, pada tahun 1974 untuk bekerja di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Di sana, ia bekerja sebagai event organizer yang fokus mendatangkan penari dan penyanyi dari India.

Namun nahas, dua tahun berselang, tepatnya pada bulan Oktober 1976, Thungal bersama beberapa orang talent yang didatangkannya dilaporkan termasuk di antara 95 korban tewas dalam kecelakaan pesawat Indian Airlines.

Faktanya, garis tangan masih menuntunnya untuk terus hidup. Sebelum ikut dalam penerbangan tersebut, tiba-tiba acara yang telah disepakati batal dan ia tak jadi ikut dalam penerbangan nahas pada 12 Oktober 1976 itu.

“Dia berencana terbang ke Abu Dhabi pada 12 Oktober 1976. Tetapi karena beberapa halangan di menit-menit terakhir dengan panitia penyelenggara, dia membatalkan rencananya dan selamat dari kecelakaan itu,” kata Pastor KM Philip, pendiri Social and Asosiasi Injili untuk Cinta, sebuah LSM di Navi Mumbai.

Setelah kecelakaan itu, ia sangat takut, khawatir, dan merasa bersalah karena beberapa orang korban adalah teman-teman yang sedang bekerja dengannya. Ia pun memutuskan kembali ke India dan menetap di Mumbai pada tahun 1982.

“Saat itu asuransi tidak populer, dan saya kehilangan banyak uang. Saya juga takut polisi akan memburu saya,” ungkap Thangal.

“Hampir semua orang mengira saya tewas dalam kecelakaan itu. Saya mulai tinggal di Mumbai dan bekerja sambilan,” sambungnya.

Selama di Mumbai, ia berharap bakal segera sukses dan mulai menghubungi seluruh teman dan keluarganya. Tetapi, setelah 45 tahun itu tak kunjung terjadi.

Dua tahun lalu, seseorang menemukan Thungal dalam kondisi sakit luar dalam. Bahkan ia hampir tidak bisa berjalan karenanya dan dibawa ke tempat penumpang. Di sinilah ia pertama kali bertemu dengan pastor Philip. Ia kemudian diizinkan tinggal di rumah penampungan dan menjalani perawatan. Ia kemudian mengungkapkan sangat ingin pulang ke rumah.

Philip kemudian mulai meminta rekannya yang seorang imam masjid di Kottayam untuk mencari keluarga Thangal dan itu berhasil. Ibunya yang berusia 91 tahun, Fathima Beevi, dilaporkan masih hidup. Sedangka ayahnya sudah lama meninggal.

“Mereka sangat terkejut mendengar dia masih hidup. Ayahnya sudah lama meninggal, tetapi ibunya berusia 91 tahun,” kata Philip.

Baca juga: Dikira Tewas Kecelakaan Pesawat, Pilot Brasil Selamat Usai 38 Hari Terjebak di Hutan Amazon

Thangal kemudian melakukan panggilan video dengan ibunya dan sang ibu hampir tidak bisa bicara saking kaget karena anaknya masih hidup.

Pada Sabtu (31/7), Thangal diantar pulang ke rumah ibunya yang terletak di Sathamkotta dan warga pun menyambutnya dengan meriah.

Keren, Seragam Baru Pramugari EasyJet Dibuat dari Botol Plastik Daur Ulang

EasyJet belum lama ini meluncurkan seragam baru pramugari mereka. Tak seperti maskapai lain yang hanya fokus pada desain mewah, baik bertema modern maupun vintage, maskapai LCC asal Inggris itu justru membuatnya lebih ramah lingkungan, dimana seragam terbuat dari botol plastik daur ulang.

Baca juga: Pilot Tak Datang, Penumpang EasyJet Akhirnya Terbangkan Pesawat

Kendati begitu, seragam tetap didesain semenarik mungkin dan berkualitas tinggi oleh perusahaan tekstil kenamaan, Tyrone.

Perusahaan keluarga Tailored Image of Moygashel diketahui menggunakan setidaknya 45 botol daur ulang untuk membuat bahan berteknologi tinggi di setiap seragam.

Bagaimana tidak berteknologi tinggi, walau terbuat dari botol plastik daur ulang, bahan untuk seragam pramugari EasyJet ini diklaim memiliki jejak karbon 75 persen lebih rendah daripada poliester. Tak hanya itu, bahan tersebut juga memberikan lebih banyak elastisitas dan kenyamanan bagi pemakainya.

Maskapai penerbangan yang berbasis di Bandara London Luton, Inggris, tersebut penggunaan seragam pramugari atau kru kabin dari botol plastik daur ulang bisa mencegah hampir setengah juta botol plastik baru setiap tahunnya.

“Kami sangat senang untuk meluncurkan seragam pilot dan awak kabin baru yang terbuat dari botol plastik daur ulang dan untuk memperkenalkannya kepada pilot dan rekan awak kabin kami,” ujar direktur cabin service EasyJet, Tina Milton.

“Kami tahu bahwa keberlanjutan adalah masalah penting bagi mereka dan juga bagi pelanggan kami,” tambahnya, seperti dikutip dari belfasttelegraph.co.uk.

Sementara itu, managing director Tailored Image, Bernard Birt, mengungkapkan, “Peran kami sebagai penyedia pakaian dan seragam perusahaan adalah untuk memberikan solusi inovatif bagi klien kami, dibangun berdasarkan kenyamanan dan kepraktisan bagi pemakainya”.

“Tantangan tambahan dalam proyek EasyJet adalah untuk memenuhi standar mereka yang sangat tinggi dalam mengurangi dampak lingkungan,” jelasnya.

“Dengan menggabungkan keahlian tim desain dan teknologi garmen kami, kami mengembangkan pendekatan kolaboratif dengan cara terbaik dalam pengembangan kain berkelanjutan,” lanjutnya.

“Kami sangat senang sejak awal untuk terlibat dalam proyek ini dan senang bahwa keberhasilan demonstrasi seragam baru EasyJet menunjukkan hasil dari pendekatan kami yang berfokus pada pelanggan pemenang penghargaan dan kemampuan kami untuk memenuhi bahkan brief yang paling menuntut,” tutupnya.

Baca juga: Bedah Maskapai Baru “Super Air Jet,” Seragam Pramugari Tak Biasa dan Milenial Banget

EasyJet memang telah lama fokus di bidang lingkungan. Sejak pertama kali didirikan, maskapai disebut telah berkontribusi dalam mengurangi karbon dioksida dengan penggunaan pesawat canggih dan efisien, serta cara pengoperasiannya yang efektif.

Pada tahun 2019, EasyJet menjadi maskapai besar pertama di dunia yang mengoperasikan penerbangan netral karbon di seluruh jaringannya dengan mengimbangi emisi dari bahan bakar yang digunakan di setiap rutenya.

Jembatan Kereta Cina-Rusia Mulai Diuji Coba, Diharapkan Beroperasi Tahun 2022

Dalam upaya meningkatkan perdagangan antar negara, jembatan kereta api pertama antara Cina dan Rusia mulai diuji coba untuk pertama kali. Jembatan sepanjang 2,2 km tersebut akan menghubungkan dua negara tetangga tersebut di seberang Sungai Heilong yang dikenal sebagai Amur di Rusia. Manajer proyek Lin Yonghan mengatakan, uji coba tersebut akan berlangsung dari 26 hingga 28 Agustus mendatang.

Baca juga: Kuartal Pertama 2022, Rusia dan Cina Terhubung via Jembatan Kereta Api

“Itu akan melibatkan kereta Rusia yang datang ke sisi Cina sebagai ujian untuk melihat apakah semuanya baik-baik saja,” kata Lin yang dikutip KabarPenumpang.com dari scmp.com (12/8/2021).

Wakil manajer umum Kereta Api Rusia Alexei Shilo mengatakan, jembatan kereta api diharapkan akan beroperasi penuh tahun depan. Dia mengatakan, nantinya jalur tersebut akan digunakan oleh kereta yang mengangkut batu bara dan bijih besi.

“Jika kita berbicara tentang bahan yang diekspor, jumlahnya sekitar delapan juta ton, angka impor akan sekitar 400 ribu ton,” kata Shilo.

Jembatan kereta api dengan kapasitas kargo tahunan yang dirancang sebesar 21 juta ton dan kemungkinan besar akan meningkatkan perdagangan lintas batas secara signifikan. Ini berarti bijih besi dapat diangkut dari Timur Jauh Rusia yang kaya sumber daya ke pabrik baja di sabuk karat timur laut Cina dalam waktu yang jauh lebih singkat yakni perjalanan itu akan kurang dari 240 km, bukan lebih dari 1.000 km.

Jembatan ini menghabiskan biaya sekitar US$355 juta selama pembangunan yang pembiayaannya dibagi antara kedua belah pihak setelah diusulkan tahun 2007 lalu. Jembatan tersebut kemudian mulai dikerjakan tahun 2014 di Tongjiang, di provinsi Heilongjiang timur laut Cina, dan setelah penundaan selesai bulan lalu. Itu membentang di atas sungai ke Nizhneleninskoye di Timur Jauh Rusia.

Cina dan Rusia berbagi perbatasan sepanjang 4.000 km dan salah satu yang terpanjang di dunia. Namun mereka hanya memiliki dua perlintasan kereta api utama. Meningkatkan infrastruktur lintas batas telah menjadi agenda utama Presiden Cina Xi Jinping dan mitranya dari Rusia Vladimir Putin, telah berulang kali menyerukan hubungan perdagangan yang lebih kuat sebagai bagian dari upaya untuk melawan tekanan ekonomi dari Barat.

Beberapa kemajuan telah dibuat, yakni pada bulan Mei, Vasily Orlov, gubernur wilayah Oblast Amur Rusia, mengkonfirmasi bahwa jembatan jalan raya dua jalur antara kota Blagoveshchensk di Timur Jauh Rusia dan Heihe di Heilongjiang, yang pertama kali diusulkan pada tahun 1988, telah siap dibuka, meskipun peluncuran resminya telah dilakukan.

Jembatan itu, juga melintasi Sungai Heilong, sepanjang 19,4 km dan dibangun antara 2016 dan 2019. Jembatan itu dirancang untuk menangani 300 ribu kendaraan kargo dan penumpang per tahun, termasuk empat juta ton barang, menurut pemerintah Rusia.

Artyom Lukin, seorang profesor di Universitas Federal Timur Jauh di Vladivostok, mengatakan kemajuan pada dua proyek jembatan setelah bertahun-tahun dapat dilihat sebagai terobosan setelah penundaan berulang, sebagian besar dari Rusia.

“Saat itu ketika proyek diusulkan Rusia tidak melihat Cina sebagai mitra ekonomi prioritas utama. Juga, ada kekhawatiran yang diwarnai Sinofobia bahwa jaringan transportasi tambahan dapat memfasilitasi invasi perdagangan dan demografis ke Timur Jauh Rusia oleh orang Cina,” kata Lukin.

Namun dia mengatakan meningkatnya ketegangan dengan Barat dan pasar Cina yang berkembang telah mengubah suasana. Cina telah muncul sebagai pasar terbesar Rusia sementara ketakutan akan ekspansionisme Cina, meskipun tidak sepenuhnya hilang, telah mengesampingkan kebutuhan untuk memperkuat hubungan ekonomi dengan Beijing, terutama mengingat konfrontasi Rusia dengan Barat.

Dia berharap kerja sama di kawasan perbatasan terus berlanjut karena kepentingan kedua negara untuk meningkatkan perdagangan. Menurut data resmi Cina, perdagangan bilateral dengan Rusia mencapai US$107,77 miliar pada 2020 jauh di bawah target bersama mereka sebesar US$200 miliar pada 2024.

Baca juga: Hubungkan Cina, Rusia, Kanada dan AS, Bagaimana Nasib Proyek Terowongan Kereta Bawah Laut Sepanjang 200 Km?

“Saham Beijing dalam perdagangan dengan Rusia tumbuh karena hubungan Cina dengan AS dan sekutu AS terus menurun. Secara khusus, jaringan transportasi darat Cina-Rusia yang baru akan berguna bagi Beijing karena mengurangi ketergantungannya pada sumber daya dari Australia,” kata Lukin.

Burung Merpati Masuk Kabin, Bikin Delay Penerbangan United Airlines Tujuan Athena

Tertunda satu jam karena seekor burung dalam kabin pesawat yang akan lepas landas? Kejadian ini mungkin tidak hanya sekali dua kali. Namun yang menyebabkan penundaan penerbangan karena masalah burung dalam kabin pun tak terlalu banyak.

Baca juga: Dianggap Lumrah, Burung Elang Masuk di Kabin Pesawat Maskapai Timur Tengah

Seperti baru-baru ini pada penerbangan Boeing 777-200 United Airlines UA124 yang kedatangan tamu tak diundang, yakni seekor burung merpati. Awak kabin bernama Ariana Bloom memposting hal tersebut ke TikTok miliknya dan menjelaskan penerbangan yang dia kerjakan tertunda satu jam.

https://www.tiktok.com/@arina.bloom/video/6993889070900317446?referer_url=https%3A%2F%2Fwww.travelweekly.com.au%2F&referer_video_id=6993889070900317446&refer=embed&is_copy_url=0&is_from_webapp=v1&sender_device=pc&sender_web_id=6924511466763093506

“Jika Anda bertanya-tanya mengapa penebangan dari Newark, New Jersey ke Athena, Yunani tertunda satu jam. Halo inilah penyebabnya,” tulis Bloom di akun TikToknya.

KabarPenumpang.com melansir travelwrekly.com.au (13/8/2021), dalam video tersebut, memperlihatkan seekor merpati yang berkeliaran di sekitar kabin pesawat. Merpati itu berkeliling di sekitar pantry sebelum menuju ke lorong dan di antara kursi penumpang.

Diketahui, para awak kabin dapat terlihat mengawasi merpati itu setelah mereka selesai menyiapkan kabin. Beberapa diantaranya mengejar burung hingga merangkak di belakangnya untuk menangkap.

“Semua orang melihat,” tulis Bloom.

“Pintu terbuka, mungki dia akan terbang. Kami kehilangan dia. Kami terbang ke Yunani dengan seekor burung,” tulisnya lagi

Menurut awak kabin, mereka tidak dapat menemukan penumpang gelap itu setelah penerbangan tiba di tujuan. Bahkan Bloom menuliskan komentar bahwa awak kabin telah memberi tahu penumpang ada burung yang lepas di pesawat.

United Airlines dalam sebuah pernyataan menginformasi penerbangan tersebut tertunda karena burung ‘petualang’.

Baca juga: Jadi “Penumpang Gelap,” Burung Myna Masuk Kabin A380 Singapore Airlines dan Ikut Terbang 12 Jam

“Sebelum keberangkatan united penerbangan 125 dari Newark ke Athena pada hari Sabtu, kami meluangkan waktu untuk memastikan teman berbulu kami tidak melakukan perjalanan ke Yunani karena dia tidak dapat memberikan paspor terbaru dari rencana perjalanan yang terkonfirmasi,” kata pernyataan tersebut. UA124 terbang dari Newark pada pukul 18.05 dan tiba keesokan harinya di Athena pada pukul 10.30 waktu setempat.






















Bangkit dari ‘Kuburan’ Pesawat di Spanyol, Boeing 747-400 Lufthansa Siap Beroperasi

Boeing 747-400 Lufthansa akhirnya kembali ke homebase-nya di Frankfurt, Jerman, setelah lama di-grounded di Gurun Teruel, Spanyol. Ini adalah bagian dari komitmen maskapai untuk terus mengoperasikan delapan armada Queen of the Skies sebelum dipensiunkan pada 2023 mendatang, tahun dimana maskapai Negeri Bavaria itu dijadwalkan kedatangan Boeing 777X.

Baca juga: “Bangkit dari Kubur”, Singapore Airlines Aktifkan Airbus A380 yang Disimpan di Gurun

Bila segalanya mendukung, seperti kasus virus Corona menurun, negara-negara di dunia mulai menerima setiap wisatawan (tidak lockdown), serta dunia penerbangan global mulai kembali bergairah, laporan Cirium, Boeing 747-400 Lufthansa akan mulai beroperasi pada Oktober mendatang.

Tetapi, itu tidak sepenuhnya pasti. Dua pekan lalu, maskapai tercatat memiliki 247 jadwal penerbangan Boeing 747-400 di bulan September. Pekan lalu, semua jadwal penerbangan tersebut sirna dan 105 di antaranya digeser ke bulan Oktober. Itupun juga bisa saja berubah kembali mengikuti kondisi.

Dilansir Simple Flying, Boeing 747-400 yang teregistrasi sebagai D-ABTK merupakan pesawat kedua yang ditarik Lufthansa dari fasilitas penyimpanan di Eropa (Teruel), setelah D-ABVX (digrounded di Belanda).

Data dari RadarBox.com menunjukkan, pesawat lepas landas dari Teruel pada pukul 16:30, melakoni penerbangan hampir tiga jam, menempuh perjalanan sejauh 1.313 km di ketinggian 40.000 kaki, dan tiba di Frankfurt pada pukul 19:16.

Sebelum dikirim ke Spanyol, pesawat tersebut sebetulnya ingin dikirim ke Belanda, menyusul armada Boeng 747-400 lainnya. Tetapi, karena berbagai pertimbangan, pesawat akhirnya dikirim ke Teruel pada April lalu meski sempat mampir ke Frankfurt terlebih dahulu.

Menurut data dari ch-aviation.com, D-ABTK pertama kali terbang pada 11 Desember 2001 dan diterima Lufthansa pada 19 Desember 2001, setelah memesan pada Desember 1997. Itu berarti, usia pesawat sudah menginjak 19,68 tahun.

“Delapan pesawat Lufthansa B747-400 kami akan diaktifkan kembali dan dikeluarkan dari penyimpanan selangkah demi selangkah dan dioperasikan kembali untuk tahun-tahun mendatang. Ini hanya sampai mereka akan digantikan oleh Boeing 777-9, juga selangkah demi selangkah,” ujar juru bicara Lufthansa.

Baca juga: Air India Tegas Pertahankan Boeing 747 Walau Banyak Maskapai Pilih Pensiunkan Pesawat

“Namun, tidak ada jadwal tetap untuk pertukaran ini. Selanjutnya B747-400 akan menjalani pemeriksaan rutin, juga beberapa yang lebih besar,” tambahnya.

Mengembalikan pesawat ke dalam layanan tentu bukan perkara mudah. Selain harus menjalani maintenance serius selama digrounded, pesawat juga dicek lagi sebelum mulai kembali ke Frankfurt. Setelah tiba di sana pun, pesawat akan dicek kembali oleh tim teknik, dalam hal ini Lufthansa Technik sebelum di simpan di hanggar sampai dibutuhkan.

Naik Ojol di Masa Pandemi? Perhatikan Dulu Tips Berikut ini

Angkutan umum menjadi salah satu moda transportasi pilihan banyak masyarakat. Namun d masa pandemi Covid-19 saat ini, angkutan umum justru menjadi ‘terbatas’ bagi semua orang.

Baca juga: Sekat Partisi Digunakan Pengemudi Ojol, Efektifkah untuk New Normal?

Meski begitu, masih ada moda transportasi lainnya yakni ojek, khususnya ojek online (ojol). Di mana angkutan roda dua ini diperbolehkan beroperasi. KabarPenumpang.com melansir topgear.com.ph (4/8/2021), untuk membantu penumpang ada beberapa tips keselamatan selama pandemi untuk memudahkan menggunakan jasa ojol dengan aman dan dapat mengurangi efek terpapar virus Covid-19.

1. Bawa helm sendiri
Di masa pandemi Covid-19, penumpang lebih baik membawa helm sendiri. Ini dilakukan agar mengurangi kontak dan menghindari penularan virus Corona lebih lanjut.

2. Gunakan akun pribadi
Banyak pengguna akun ojek online memesan untuk orang lain dan bukan dirinya sendiri seperti teman atau keluarga. Untuk saat ini usahakan memesan untuk diri sendiri. Karena nantinya bila ada sesuatu yang terjadi di masa pandemi ini, pihak ojek bisa melacak dan menghubungi secara langsung

3. Bayar tanpa uang tunai
Di masa ini, cashless atau tanpa tunai menjadi hal yang paling efisien dalam mengurangi penularan virus. Ketika aplikasi ride hailing Anda nemiliki dompet elektronik sendiri, akan lebih memudahkan karena menggunakan satu platform tanpa harus banyak membuka aplikasi lainnya dalam hal pembayaran ongkos. Yang terpenting tak perlu memberikan uang tunai kepada pengemudi.

4. Hujan
Ini mungkin menjadi salah satu risiko penumpang ojek. Hal tersebut dikarenakan, ojek tidak memiliki atap. Sehingga penumpang bisa membawa mantel hujan sendiri dan bisa menggunakannya bila hujan turun.

5. Sanitasi diri
Anda boleh membawa satu set pakaian ekstra sehingga dapat diganti ketika tiba di tujuan.

Baca juga: Tanggapi Respon Pandemi, Pemerintah Jepang Izinkan Operator Taksi Antar Pesanan Makanan

6. Jangan keluar rumah saat menunjukkan gejala Covid-19
Hindari bepergian jika Anda memiliki gejala terinfeksi Covid-19. Lakukan isolasi dan konsultasi. Namun jika Anda tanpa gejala dan masih naik ojek, maka risiko penularan pada pengemudi dan penumpang selanjutnya akan terjadi.






















Yo-Kai Express Hadirkan Makanan Panas via Vending Machine

Mesin penjual otomatis belakangan berisi beragam macam barang dari hal sepele seperti permen hingga beras. Bahkan belum lama ini pun menghadirkan makanan matang yang masih panas. Yo-Kai Express memasarkan produk mereka dengan nama restoran robotik 24 jam yang menggunakan mesin penjual otomatis (vending machine).

Baca juga: Bandara Zurich Hadirkan Mesin Penjual Masker Otomatis Anti Covid-19

Di mana akan ada makanan panas segar termasuk ramen, pho, nasi dalam mangkuk dan mie dalam waktu 45 detik. Untuk itu Yo-Kai akan menghadirkan empat mesin yang akan segera dipasang di Bandara Internasional Ontario, California Selatan. Juru bicara Bandara Ontario Steve Lambert mengatakan, mesin penjual makanan panas telah berevolusi secara signifikan berkaitan dengan kualitas produk, nilai, uang dan pengalaman pelanggan secara keseluruhan.

“Yo-Kai Express memenuhi semua kriteria ini,” ujar Lambert yang dikutip KabarPenumpang.com dari apex.aero.

Nantinya mesin-mesin otomatis milik Yo-Kai tidak akan menggunakan uang tunai sebagai pembayaran. Sebab mereka menerima pembayaran melalui seluler, kartu kredit hingga mata uang kripto. Bahkan mesin penjual otomatis ini juga dirancang untuk menerima voucher makanan maskapai yang diterima oleh penumpang untuk mengkompensasi penerbangan yang tertunda.

Ini terbukti sangat berguna bagi mereka yang singgah semalaman dan tidak direncanakan. Makanan panas adalah sesuatu yang tidak selalu tersedia dengan mudah bagi pelancong yang berada di terminal bandara ketika semua konsesi tutup.

Di luar kenyamanan, solusi ini juga dapat berkembang dengan cepat untuk menawarkan layanan nirsentuh yang sangat diinginkan mengingat pandemi Covid-19. Untuk diketahui, Kulkas Petani mengoperasikan mesin penjual otomatis yang menyajikan salad segar, sandwich, dan makanan ringan yang sehat di beberapa bandara AS.

“Pelanggan sekarang dapat memesan di muka makanan mereka melalui aplikasi Kulkas Petani. Dan begitu mereka siap untuk mengambilnya, mereka memasukkan kode di ponsel mereka dan Kulkas menjual makanan mereka,” kata Luke Saunders, CEO dan pendiri, Kulkas Petani.

Yo-Kai Express sedang mempersiapkan untuk mengizinkan hal yang sama. Amanda Tsung, chief operating officer perusahaan, mengatakan pemesanan tanpa kontak dan opsi pembayaran baru akan ditambahkan ke aplikasi perusahaan pada bulan Februari atau Maret.

“Dengan ini, pelanggan dapat memesan hingga empat mangkuk sekaligus dan kemudian menjauh dari mesin saat sedang memasak untuk memberikan jarak sosial yang lebih banyak kepada pelanggan berikutnya,” ujar Tsung.

Baca juga: Mesin Penjual Otomatis, Jual 48 Jenis Produk dari Buah Hingga Suvenir

Sementara itu, Tsung menjelaskan bahwa Yo-Kai Express telah “meningkatkan waktu sanitasi siklus pembersihan kami untuk setiap mangkuk.” Dia menambahkan bahwa layar sentuh tap and order juga dilengkapi dengan film antimikroba.






















Lengserkan Changi, Bandara Hamad Jadi Nomor Satu Versi Skytrax

Bandara Internasional Hamad di Qatar baru saja dinobatkan menjadi nomor satu di Skytrax World Airport Awards 2021. Penobatan ini membuat Bandara Internasional Changi Singapura yang bertahan selama delapan tahun harus lengser ke posisi ke-3 dari posisi teratasnya.

Baca juga: Yang Pertama, Bandara Leonardo da Vinci-Fiumicino Raih Peringkat “Bintang Lima Covid-19” dari Skytrax

Yang mana Changi dikalahkan oleh Hamad dan Haneda Tokyo di urutan pertama dan kedua. Dilansir KabarPenumpang.com dilansir dari independent.co.uk (11/8/2021), pemungutan suara publik berlangsung antara Agustus 2020 dan Juli 2021 dengan beberapa pelancong memilih favorit mereka berdasarkan pengalaman sebelum pandemi dan beberapa perjalanan yang lebih baru menurut Skytrax.

Edward Plaisted dari Skytrax mengatakan, pusat perjalanan di seluruh dunia telah terkena dampak pandemi. Tetapi Bandara Internasional Hamad justru tidak terpengaruh oleh perjalanan global dan melanjutkan rencana ekspansi sambil memperkenalkan standar kesehatan dan meselamatan bandara tambahan.

“Sebagai mitra bandara resmi untuk Piala Dunia FIFA Qatar 2022, kami berharap Bandara Internasional Hamad sukses dalam membantu menjadi tuan rumah acara besar seperti itu,” ujar Plaisted.

Dia menambahkan, pencapaian ini merupakan upaya tim dan pihaknya memberikan ucapan selamat kepada manajemen, staf dan pemangku kepentingan di Bandara Internasional Hamad yang membantu mewujudkan ini.

Tak hanya itu, Bandara Internasional Hamad juga memenangkan Bandara Terbaik di Timur Tengah, Bandara Terbaik Dunia dalam kategori 25 hingga 35 juta penumpang dan Staf Bandara Terbaik di Timur Tengah. Skytrax juga mengumumkan penghargaan lainnya untuk tahun 2021 yakni Bandara Istanbul dinobatkan sebagai Bandara Paling Berkembang di Dunia, Changi di Singapura memenangkan penghargaan Staf Bandara Terbaik Dunia .

Bandara Internasional Guangzhou Baiyun menjadi BandaraTerbaik di Cina dan Bandara Munich adalah Bandara Terbaik di Eropa. Selain itu ada sau kategori khusus pada penghargaan kali ini untuk mengakui perbaikan yang dilakukan oleh bandara seluruh dunia untuk meningkatkan standar kesehatan, kebersihan dan keselamatan pandemi.

Baca juga: Bandara Internasional Hong Kong Sabet Predikat “Bintang Lima” dari Skytrax

Tak hanya itu Heathrow menjadi satu-satunya di Inggris yang menerima penghargaan dari 39 lainnya. Berikut sepuluh Bandara Terbaik di Dunia, Bandara Internasional Hamad, Bandara Haneda Tokyo, Bandara Changi Singapura, Bandara Internasional Incheon, Bandara Internasional Narita, Bandara Munich, Bandara Zurich, Bandara Heathrow London, Bandara Internasional Kansai dan Hong Kong.






















Deretan Aksi-aksi Berbahaya Maskapai Semata Demi Momentum

Belum lama ini, Emirates mempertontonkan aksi berbahaya, dimana ‘pramugari’ maskapai berdiri di puncak gedung pencakar langit tertinggi di dunia, Burj Khalifa. Bila berkaca agak ke belakang, sebetulnya maskapai raksasa asal Dubai, Uni Emirat Arab itu sudah beberapa kali melakukan aksi berbahaya. Tak hanya Emirates, maskapai lain juga demikian.

Baca juga: Pramugari Emirates Berdiri di Puncak Burj Khalifa, Apa Tujuannya?

Baik Emirates maupun maskapai lain, pada umumnya momentum tertentu dan prestisius menjadi alasan mengapa maskapai melakukan aksi-aksi berbaya bersama pesawat ikoniknya.

Sebelum pembuatan iklan berbahaya bersama ‘pramugari’ stuntwoman AS, Nicole Smith-Ludvik, di tahun 2015 silam, Emirates pernah melakukan penerbangan formasi paling tidak biasa dan tentu saja berbahaya.

Ketika itu, pesawat superjumbo maskapai, Airbus A380, terbang formasi dalam jarak cukup dengan dengan dua orang pilot jetpack. Ini dilakukan untuk merayakan seratus tahun kolaborasi antara mesin dan manusia sehingga era pesawat terbang dimulai.

“Pameran antara manusia dan mesin ini merayakan keajaiban dan keindahan penerbangan, suatu prestasi yang lebih dari seratus tahun yang lalu akan tampak seperti mimpi yang mustahil. Ini juga menunjukkan seberapa jauh visi dan ambisi manusia telah [mendorong], dan dapat terus mendorong, batas-batas penerbangan,” Executive Vice President and Chief Operations Officer, Adel Al Redha.

Emirates juga pernah melakoni aksi berbahaya ketika melakukan formasi terbang rendah di acara Dubai Airshow tahun 2019 silam. Pada saat itu, pesawat hanya terbang 1.000 kaki atau 304 meter. Sangat rendah untuk ukuran jet superjumbo dengan empat mesin.

Masih dari Timur Tengah, balapan Formula 1 di Bahrain juga didahului aksi berbahaya oleh maskapai nasional negara tersebut, Gulf Air. Selama beberapa tahun menggelar balapan jet darat itu, Boeing 787-9 Dreamliner terlebih dahulu terbang rendah di atas lintasan sebelum balapan dimulai.

Aksi tersebut bukan sekedar gagah-gagahan atau pamer kemampuan, melainkan untuk mengkampanyekan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan yang dimuat pesawat.

“Neste MY Sustainable Aviation Fuel™ memberikan solusi langsung untuk mengurangi emisi karbon dari penerbangan. Dalam bentuk yang rapi dan selama siklus hidup, penggunaannya menghasilkan emisi gas rumah kaca hingga 80 persen lebih rendah dibandingkan dengan bahan bakar jet fosil,” kata maskapai dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari Simple Flying.

Baca juga: Airbus Tiru Formasi Angsa dalam Uji Coba “Fello’Fly” untuk Menghemat Bahan Bakar

Geser sedikit ke Barat Timur Tengah (Afrika), maskapai nasional Afrika Selatan, South African Airways, juga pernah melakukan aksi berbahaya pada tahun 2019 silam. Saat itu, dua Airbus A340 maskapai, bersama Angkatan Udara Afrika Selatan, melakukan flypast atau penerbangan formasi untuk merayakan pelantikan presiden baru negara itu.

Lain lagi dengan British Airways. Maskapai mengirim Boeing 747 untuk melakoni flypast -penerbangan seremonial atau kehormatan oleh sekelompok pesawat udara atau pesawat tunggal- bersama Royal Air Force Aerobatic Team, Red Arrows, di Royal International Air Tattoo (RIAT) pada tahun 2019 lalu, untuk merayakan 100 tahun beroperasinya maskapai.

Siemens Luncurkan Teknologi Penanganan Bagasi Terbaru Baggage 360, Ini Keunggulannya

Siemens Logostics belum lama ini resmi meluncurkan software (perangkat lunak) penanganan bagasi dan operasi bandara terbaru, Baggage 360. Software ini diklaim membawa sederet manfaat, termasuk baggage delay hingga 22 persen dan penghematan biaya repatriasi.

Baca juga: Tekan Delayed Baggage Rate, Siemens Pasok Sistem Penanganan Bagasi di Bandara Incheon

“Peluncuran Baggage 360 adalah langkah penting menuju digital twin untuk proses penanganan bagasi (bandara),” kata CEO Siemens Logistics, Michael Reichle, seperti dikutip dari Airport Technology.

“Representasi virtual dari operasi real-time membantu bandara untuk memantau dan mengelola proses dari jarak jauh dan intuitif. Pelanggan proyek percontohan kami terkesan dengan bagaimana fungsionalitas tambahan meningkatkan efisiensi operasional mereka,” tambahnya.

Disebutkan, Baggage 360 menawarkan berbagai kelebihan, seperti estimasi aliran bagasi real-time, peta interaktif semua pergerakan di bandara serta alat perencanaan dan simulasi kebutuhan sumber daya (petugas) untuk bandara, maskapai penerbangan, dan ground handler.

Dengan begitu, pengelola bandara bisa merencanakan dan mengoptimalkan penempatan atau ketersediaan petugas di lapangan sesuai dengan kebutuhan.

Berbagai fitur yang ditawarkan Baggage 360 dimungkinkan berkat kecerdasan buatan (AI) dan algoritma canggih serta kompleks, yang dipadukan dengan teknologi cloud serta fungsionalitas dan prediksi Internet of Things (IoT). Selain itu, tentu saja Baggage 360 bisa bekerja maksimal berkat berbagai sensor yang disebar di sudut-sudut bandara.

Software Baggage 360 bisa dibilang adalah pengembangan dari MindSphere, sistem operasi IoT terbuka Siemens.

Baggage 360 menampilkan antarmuka terbuka, memungkinkannya dipasang di bandara mana pun terlepas dari ukurannya atau sistem operasi yang digunakan. Berbagai kebutuhan lainnya terkait penanganan bagasi dan operasi bandara juga bisa disesuaikan bilamana dibutuhkan fitur tambahan.

Disebutkan, Baggage 360 merupakan bagian dari ikhtiar Siemens menyediakan serangkaian aplikasi demi terciptanya sistem penanganan bagasi dan operasi bandara berkelanjutan.

Dalam sebuah pernyataan, Siemens Logistics menyebut, “Bandara, maskapai penerbangan, dan ground handler mendapat manfaat dari kolaborasi proaktif, prediksi yang andal, dan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti untuk membuat proses mereka seefisien mungkin.”

“Misalnya, alat perencanaan sumber daya dapat digunakan untuk mengubah tata letak penerbangan atau penugasan lateral untuk mempersingkat waktu perjalanan bagasi.”

Selama fase uji coba, software Baggage 360 terbukti berhasil meningkatkan perjalanan end-to-end rata-rata sembilan menit.

Baca juga: Bandara Toulouse-Blagnac Uji Coba Truk Otonom Pengangkut Bagasi Penumpang

Selain itu, Baggage 360 juga berkontribusi mengurangi bagasi tertinggal sampai 22 persen, memberikan pengalaman lebih baik ke penumpang, dan menghemat biaya repatriasi.

Pada bulan Juni lalu, masih dalam rangkaian aplikasi Siemens untuk penanganan bagasi dan operasi bandara, Siemens Logistics mengembangkan belt conveyor baru, VarioBelt TilterPlus. Ini dinilai membuat penanganan bagasi lebih efektif dibanding sebelumnya.