BMW Hadirkan Dynamic Cargo E-trike yang Tak Perlu Dilipat Ketika Naik Eskalator

Desainer BMW Group Research telah kembali ke papan gambar mikromobilitas untuk dua konsep baru yaitu Dynamic Cargo e-trike dan kickscooter listrik Clever Commute. BMW juga di masa lalu beberapa kali memiliki konsep mikromobilitas tetapi sebagian besar tak jauh dari tahap konsep.

Baca juga: Uready, Skuter Roda Tiga yang Bisa Dibelokkan

Namun, X2City dan Concept Link telah berhasil diproduksi, BMW jelas tidak akan membuat Dynamic Cargo atau Clever Commute, tetapi sedang dalam pembicaraan dengan produsen lain untuk melisensikan desain sehingga mereka mungkin belum melihatnya di beberapa titik di masa depan.

“Tujuan kami adalah mengembangkan konsep yang mempertahankan kelincahan dan nuansa berkendara dari sepeda biasa sambil menambahkan pilihan transportasi yang inovatif dan aman,” kata Jochen Karg, Kepala Konsep Kendaraan di divisi Teknologi Baru  BMW China.

Dia mengatakan, ‘Concept Dynamic Cargo’ adalah sepeda kargo ‘pick-up’ dinamis pertama yang menggabungkan kesenangan berkendara dengan penggunaan yang fleksibel dan peningkatan kesesuaian sepanjang tahun. Nantinya sepeda tersebut memiliki rangka e-trike kargo dan menyatu dengan bagian belakang.

Di mana poros memungkinkan pengendara untuk bersandar ke sudut, sementara bagian belakang tetap tegak. BMW Mengatakan, pengaturan ini akan menawarkan stabilitas berekendara yang lebih besar di semua kondisi cuaca dibandingkan dengan desain kendaraan roda dua.

KabarPenumpang.com melansir newatlas.com (26/7/2021), area kargo tidak miring ke belokan, sejumlah modul ruang kargo dapat dibuat dengan contoh BMW termasuk mengamankan kursi anak di atas kotak kargo. Selain itu memasang platform tempat tidur datar, melipat kursi malas untuk istirahat berhenti di taman lokal, atau bahkan mengikat papan selancar dan menuju ke pantai.

Konsep Dynamic Cargo memiliki roda depan berjari-jari dan roda belakang kokoh, yang terakhir digerakkan oleh powertrain listrik yang secara otomatis memberikan bantuan segera setelah pengendara mulai mengayuh. Mengingat status desain awal, tidak ada rincian spesifik tentang penggerak listrik tetapi jika hal ini dibuat untuk pasar Eropa, maka Anda dapat mengharapkannya untuk memberikan bantuan hingga 25 km (15,5 mph).

BMW memang menyebutkan bahwa paket baterai yang dapat dilepas harus baik untuk lebih dari 20 km per pengisian daya. Render yang disediakan juga menunjukkan rem cakram di bagian depan, spatbor di setiap roda dan kursi sepeda yang dapat disesuaikan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tidak adanya sabuk atau rantai yang menghubungkan engkol ke roda belakang.

Kickscooter listrik Clever Commute telah dirancang sebagai pendamping jarak jauh, dengan BMW mengajukan konsep ini untuk model kepemilikan pribadi dan mobilitas bersama. Ini terlipat ke proporsi yang kompak untuk transportasi antar wahana, dan meskipun dimensi sebenarnya belum dibagikan, BMW menganggap bahwa itu akan muat memanjang di bagasi Seri 3 dan kendaraan di atas tanpa perlu melipat tempat duduk belakang.

Baca juga: Triggo EV – Sepeda Listrik dengan Empat Roda, Bisa Ditarik Bila Parkir

Perancang BMW juga telah menyarankan mode transportasi umum baru di mana dek muncul dan roda belakang berputar pindah ke celah yang dibuat untuk memperpendek panjang keseluruhan. Sehingga pengguna pintar dapat naik eskalator tanpa harus dilipat, atau mungkin terjepit di celah sempit di kereta yang penuh sesak.






















(Eksklusif) Inside Tupolev Tu-144: Pesawat Supersonik Pertama di Dunia Sebelum Concorde

Lahir dua bulan lebih dahulu (dibanding Concorde) sebagai pesawat penumpang supersonik pertama, tak menjadi jaminan kesuksesan Tupolev Tu-144. Setelah serangkaian kecelakaan, Kamis, 1 Juni 1978, menjadi akhir dari cerita heroik pesawat dengan kecepatan maksimum 2.430 km/jam tersebut. Uniknya, bila pesawat Concorde hasil dari gabungan teknologi dua negara, Perancis dan Inggris, Tupolev Tu-144 murni sebagai mahakarya tunggal Uni Soviet kala itu.

Baca juga: Tupolev “Concordski” T-114 – Jiplakan Concorde Yang Kalah Digdaya

Pesawat supersonik Tupolev Tu-144 yang tersisa, interiornya sedikit diubah menjadi semacam museum mini yang menunjukkan awal mula program sampai akhir dari perjalanan pesawat ini. Foto: Sumit Singh | Simple Flying

Tupolev Tu-144 berhasil terbang perdana pada 31 Desember 1968. Tercatat dua bulan lebih awal dari Concorde. Keberhasilan penerbangan ini menjadi kado tahun baru bagi Uni Soviet ketika itu.

Dengan menjadi yang pertama dalam persaingan menciptakan penerbangan supercepat di samping dengan teknologi sendiri alias tidak berbagi terkonologi dengan negara lain, patutlah Uni Soviet berbesar kepala. Terlebih, kala itu, terdapat geliat bahwa Concorde akan tak sesuai ekspektasi, baik dari segi waktu penciptaan maupun performanya.

Kabin dan kursi penumpang Tupolev Tu-144. Leg room tanpak sangat lega bukan? Foto: Sumit Singh | Simple Flying

Selain itu, Tupolev Tu-144 bukan hanya menjadi yang pertama sebagai pesawat supersonik yang berhasil terbang, melainkan juga sebagai penyandang untuk pertama kalinya yang dapat mencapai kecepatan supersonik atau empat bulan lebih awal dari Concorde pada Juni 1969. Kejumawaan Soviet pun semakin menjadi.

Seperti dilansir Britannica, pesawat ini mulai diperkenalkan ke Moscow pada Mei 1970. Dalam produksinya, Tu-144 memiliki panjang 65,7 meter dan lebar sayap 28,8 meter. Kecepatannya hampir sama dengan Concorde buatan Inggris dan Perancis.

Penerbangan penumpang terjadwal dimulai pada 1977. Pesawat ini mengangkut surat antara Moskwa dan ibu kota Kazakhtan, Alma-Ata (sekarang Almaty).

Dapur pramugari pesawat supersonik Tupolev Tu-144. Foto: Sumit Singh | Simple Flying

Dua tahun kemudian ia mengangkut penumpang pertamanya di rute yang sama. Penerbangan 3.200 kilometer hanya memakan waktu sekitar dua jam, dua kali lebih cepat dari yang biasa.

Kala itu, pembuat Tu-144 punya rencana besar untuk dalam pengembangan teknologi supersoniknya. Namun, pesawat ini kalah pamornya ketimbang Concorde. Jalur udara pesawat ini terhubung dari Moskwa ke seluruh dunia termasuk Eropa, Jepang, dan Kuba.

Pada 1977, beberapa sumber menyatakan bahwa Uni Soviet meminta bantuan negara Barat untuk membantu mereka dengan sistem manajemen mesin dan BAC-Aerospatiale untuk bantuan dalam mendesain pipa udara udara pada Tupolev Tu-144.

Sekalipun leg room penumpang lega, namun tidak demikian dengan leg room kursi pramugari. Foto: Sumit Singh | Simple Flying

Kemudian, pada 1978, mereka meminta lebih banyak lagi informasi mengenai teknologi Concorde seperti peralatan pemadam kebakaran hingga berbagai peralatan canggih.

Akan tetapi, Pemerintah Inggris justru memveto permintaan ini, karena teknologi itu dapat digunakan dalam pesawat militer dan dianggap berbahaya.

Toilet pesawat supersonik Tupolev Tu-144. Sulit membayangkan penumpang menggunakan toilet saat pesawat tengah ngebut di kecepatan Mach 2. Foto: Sumit Singh | Simple Flying

Selanjutnya, karena keterbatasan teknologi, mengingat bantuan teknologi Concorde yang diajukan oleh Uni Soviet ditolak mentah-mentah, pesawat yang dijuluki Konkordski atau Concordski (Concorde dari Rusia) tersebut kemudian dalam perjalannya mengalami beberapa masalah serius yang tak terpecahkan.

Perlahan tapi pasti, ketakutan terhadap pesawat fenomenal tersebut mulai membesar hingga dunia internasional mulai kehilangan kepercayaan kepada pesawat mahakarya Uni Soviet tersebut.

Kokpit pesawat supersonik Tupolev Tu-144. Foto: Sumit Singh | Simple Flying

Karena masalah yang teramat besar dan beberapa kali berujung pada kecelakaan, terutama kecelakaan di ajang Paris Air Show 1973, menewaskan enam orang di pesawat dan delapan orang penonton, Tupolev Tu-144 pun harus mengakhiri karir mengangkut penumpang setelah hanya beberapa tahun mengudara (1978).

Baca juga: Eksklusif: Foto Kabin Penumpang Concorde Saat Ngebut Secepat Kilat Menuju New York
Pesawat supersonik pertama di dunia yang berhasil diproduksi 16 unit (dimiliki oleh Aeroflot dan masing-masing satu oleh Kemenhub Rusia dan NASA) itu akhirnya benar-benar resmi masuk ingatan dunia penerbangan internasional dengan resmi pensiun pada 1990 setelah membawa kargo. Karirnya yang lebih cepat dua bulan harus dibalas dengan tragis, lebih cepat empat tahun untuk pensiun ketimbang Concorde.

Saat ini, United Aircraft Corporation (UAC) Rusia sedang menggarap proyek pembuatan pesawat supersonik penggati Tupolev. Kita tunggu saja, kapan itu akan terwujud, mengingat perusahaan AS beberapa di antaranya juga sedang mengembangkan pesawat supersonik, salah satunya Boom Supersonic.

Industri Penerbangan Loyo, ‘Warren Buffet-Nya’ India Malah Dirikan Maskapai Ultra LCC Baru

Miliarder India, Rakesh Jhunjhunwala, dikabarkan tuntas mendirikan maskapai baru di segmen ultra LCC, Akasa Airlines. Tak tanggung-tanggung, miliarder yang dijuluki ‘Warren Buffet-nya’ India tersebut sampai menggandeng mantan CEO IndiGo dan Jet Airways, Aditya Ghosh, serta mantan petinggi maskapai Delta Airlines, Vinay Dube, untuk mensukseskannya.

Baca juga: SpiceJet, Maskapai LCC dengan Reputasi Buruk Pada Pemeliharaan Rute

Kepada Bloomberg, Rakesh berencana mengguyur maskapai baru tersebut sebesar Rp503 miliar untuk kepemilikan saham sebesar 40 persen. Bila tak ada aral melintang, ia berharap segera mendapat no-objection certificate dari Kementerian Perhubungan India dalam 15 hari ke depan.

Maskapai ultra LCC baru Akasa Airlines selama empat tahun ke depan didesain mengoperasikan sekitar 70 pesawat berkapasitas 180 penumpang. Tetapi, tak disebutkan pesawat apa yang dimaksud.

Teka-teki pesawat apa yang bakal digunakan Akasa Airlines pun disebut oleh beberapa pakar sebagai ajang pertarungan antara dua produsen pesawat terbesar di dunia, siapa lagi kalau bukan Boeing dan Airbus.

“Akan ada pertarungan besar antara Airbus dan Boeing,” kata Nitin Sarin, Managing Partner firma hukum Sarin & Co, yang menasihati lessor dan maskapai penerbangan.

“Bagi Boeing, ini adalah kesempatan besar untuk masuk dan meningkatkan jangkauan mereka, mengingat mereka tidak memiliki operator besar lain untuk pesawat 737 mereka di India selain SpiceJet,” lanjutnya.

Menurut berbagai kabar yang beredar, Boeing disebut bakal mendapat pesanan dari maskapai dan menjadi salah satu kesepakatan pembelian pesawat terbesar tahun ini di luar Amerika Serikat.

Boeing sendiri menolak berkomentar. Tetapi, mereka menegaskan bahwa pihaknya selalu mencari peluang kapanpun dan dimanapun, bertemu operator, memberi beberapa masukan, dan menawarkan pesawat untuk kebutuhan operasionalnya.

Setelah bangkrutnya Jet Airways dua tahun lalu, maskapai LCC di India praktis menyisakan empat pemain; IndiGo, SpiceJet, GoFirst, dan AirAsia India. Dari keempat maskapai itu, mayoritas menggunakan pesawat-pesawat Airbus.

Adapun Boeing hanya mengambil ceruk 18 persen (sebelumnya 35 persen atau 570 pesawat saat Jet Airways masih beroperasi) dari keempatnya.

Baca juga: Wow, Harga Tiket Super Air Jet Lebih Murah dari Lion Air dan AirAsia! Ini Detailnya

Saat ini, seluruh maskapai India tercatat memiliki 900 pesanan pesawat. Dari jumlah tersebut, 185 di antaranya adalah pesawat Boeing 737 dan 710 sisanya adalah beragam tipe pesawat-pesawat Airbus.

Kendati India memiliki prospek tinggi di industri penerbangan, tetapi, Sarin mengingatkan, sulit berbisnis di kondisi seperti sekarang ini, ditambah ruwetnya regulasi dan berbagai hal negatif lainnya.

Karantina 14 Hari di Singapura, Pasangan YouTuber Mantap Bikin Konten Begini

Masih dalam serial trip ke Singapura, mulai dari keberangkatan di Bandara Soekarno-Hatta sampai jalani karantina mandiri 14 hari, kali ini redaksi akan mengulas seputar aktivitas yang dilakukan selama karantina. Apa saja?

Baca juga: Bukti Ketatnya Karantina Mandiri di Singapura, Swab Antigen Sendiri dan Ditelepon Petugas Tiap Hari

Belum lama ini, seorang pria Singapura bernama Vicky dikabarkan rela merogoh kocek sebesar S$10.000 atau sekitar Rp 106 juta (kurs Rp10.583) untuk menghadirkan PC gaming ke kamar hotel tempatnya karantina mandiri.

Aftershock PC, selaku seller menyebut, PC gaming tersebut sebetulnya sudah dibeli Vicky sebelum menjalani karantina. Jadi, PC gaming dengan liquid cooling, monitor ultra wide layar melengkung, mouse nirkabel, keyboard mekanik, dan headphone tersebut tidak betul-betul dibeli untuk persiapan karantina mandiri.

Setelah PC gamingnya hadir di kamar, pasti sudah ketebak bukan aktivitas hari-hari Vicky selama karantina. Yup, main games.

Selain Vicky, kontributor kami yang saat ini masih menjalani masa karantina mandiri 14 hari di Singapura, mengaku beraktivitas seperti biasa. Tidur, makan, mandi, streching, kerja, dan sebagainya. Satu mungkin yang spesial, yaitu mendekorasi ruangan.

14 hari berada di dalam kamar atau ruangan yang tak disenangi bukan waktu yang sebentar, bukan? Itulah yang menjadi dasar mengapa kamar sampai didekor sedemikian rupa hingga membuatnya nyaman.

Lain lagi dengan YouTubers ci Titan dan ko Gaius. Pasangan suami-istri yang tinggal di Indonesia dan Singapura itu nampak sangat enjoy menjalani karantina sambil membuat konten-konten menarik.

Sejauh ini, keduanya sudah membuat beberapa konten tentang daily activity selama karantina di sana, mulai dari bangun tidur, sarapan, make up, mencicipi makanan ringan dari Indonesia, review barang-barang bawaan, yoga, dan banyak lagi.

Selain itu, keduanya juga mereview proses melakukan tes swab antigen mandiri selama karantina, sesuatu yang tak ditemui di Indonesia. Sebagai informasi, self test swab tersebut wajib digunakan pada hari ke-3, 7, dan 11.

Setiap WN Singapura ataupun WNA yang menjalani karantina mandiri 14 hari di Singapura dibekali dengan box swab masing-masing berisi dua atau total empat alat tes. Sebetulnya hanya butuh tiga, namun dilebihkan satu untuk jaga-jaga.

Dalam reviewnya, Gaius, yang mengajari cara penggunaan self tes swab antigen ke Titan, menyebut, alat tersebut harus dimasukkan ke setiap lubang hidung sedalam 2 cm.

Di setiap lubang putar sebanyak 4 kali. Setelahnya, masukan alat tersebut ke dalam botol kecil yang telah disediakan, aduk 4 kali, letakkan botol ke tempat semula, diamkan alat tes swab antigennya di sana selama 1 menit, kemudian keluarkan dan masukkan alat tes lainnya (sejenis alat tes kehamilan) ke dalam botol tadi, diamkan selama 10 menit, dan hasilnya pun keluar.

Baca juga: Penumpang dari Indonesia Tiba di Changi ‘Tak Lagi’ Dilayani dengan Garbarata, Ini Sebabnya!

Guna memastikan prosesnya benar, petugas dari MoH beberapa kali juga akan melakukan panggilan video untuk melihat kondisi wisatawan serta cara menggunakan alat tes swab secara langsung. Petugas hotel atau tempat pelancong menjalani karantina mandiri juga menelepon setiap hari untuk menanyakan kondisi terkini pasien.

Sesudah melakukan tes swab antigen sendiri, hasilnya kemudian diunggah di web yang bisa diakses dengan mengklik link yang dibagikan petugas.

Tangkis Bosan Selama Karantina Mandiri, Pria Singapura Beli PC Gaming Rp100 Juta Lebih

Singapura, sejak pandemi mewabah tahun lalu, mewajibkan karantina mandiri (Stay at Home Notice, SHN) selama 14 hari kepada siapapun yang datang. Tak hanya itu, negara kecil tetapi kaya raya ini juga tak segan menindak sesuai hukum yang berlaku manakala terdapat pelanggaran selama menjalani proses karantina mandiri.

Baca juga: Bukti Ketatnya Karantina Mandiri di Singapura, Swab Antigen Sendiri dan Ditelepon Petugas Tiap Hari

Masih segar dalam ingatan ketika seorang pilot komersial asal Amerika Serikat (AS) dijatuhi hukuman penjara empat pekan dan denda S$10 ribu atau setara Rp104 juta oleh otoritas Singapura pada 13 Mei 2020 silam.

Ketika itu, Brian Dugan Yeargan, terbukti telah melanggar peraturan Infectious Diseases (Covid-19 – Stay Orders) Regulations atau kebijakan untuk tetap di rumah saja (karantina mandiri).

Saat itu, 5 April sekitar pukul 11.15 waktu setempat, ia terdeteksi melanggar peraturan lockdown atau karantina mandiri dengan meninggalkan hotel Crowne Plaza Changi Airport tempatnya menginap.

Menindaklanjuti dugaan tersebut, seorang petugas ICA pun mengecek ke hotel tersebut sekitar 15 menit setelah Yeargan pergi dan menemukan ia tidak berada di tempat.

Insiden itu pun ramai diperbincangkan dan diberitakan oleh media dalam maupun luar negeri. Tentu, itu menjadi warning bagi siapapun agar tetap mengikuti aturan yang ada.

Tetapi, menjalani karantina mandiri selama 14 hari memang bukan perkara mudah dan butuh inisiatif lebih untuk melaluinya, seperti yang baru-baru ini terjadi.

Dikutip dari Mothership.sg, seorang pria Singapura bernama Vicky dikabarkan rela merogoh kocek sebesar S$10.000 atau sekitar Rp106 juta (kurs Rp10.583) untuk menghadirkan PC gaming ke kamar hotel tempatnya karantina mandiri.

Aftershock PC, selaku seller menyebut, PC gaming tersebut sebetulnya sudah dibeli Vicky sebelum menjalani karantina. Jadi, PC gaming dengan liquid cooling, monitor ultra wide layar melengkung, mouse nirkabel, keyboard mekanik, dan headphone tersebut tidak betul-betul dibeli untuk persiapan karantina mandiri.

Ketika hendak dikirim oleh perusahaan, Vicky sedang berada di luar negeri dan pengiriman pun tertunda.

“Berdasarkan permintaan, kami membantu mempertemukan kembali Vicky dengan PC Ultracore berpendingin air, lengkap dengan periferal gaming,” tulis Aftershock dalam unggahannya.

Baca juga: Apes! Keluar Hanya Beli Masker, Pilot AS Kena Penjara 4 Minggu Gegara Langgar Perintah Lockdown di Singapura

Vicky pun akhirnya meminta Aftershock PC agar mengirimkan PC gaming seharga ratusan juga tersebut ke kamar hotelnya dan nampaknya ia sangat senang sekali.

“Terima kasih banyak untuk Aftershock dan khususnya Mark untuk koordinasinya dengan seluruh proses demi membawa PC ke kamar saya,” tulis akun dengan handle @vickygoesnuts.

Penumpang dari Indonesia Tiba di Changi ‘Tak Lagi’ Dilayani dengan Garbarata, Ini Sebabnya!

Apapun maskapai yang Anda tumpangi, baik full service maupun low cost carrier (LCC), saat tiba di Bandara Changi pastinya akan merasakan pelayanan yang elegan khas Singapura. Keluar dari kabin pesawat, Anda akan dilayani menggunakan akses aero bridge (garbarata) menuju terminal kedatangan, seolah Singapura tak rela tamu asingnya kepanasan atau letih.

Baca juga: Bepergian ke Singapura Saat PPKM Level 4-Pembatasan Sosial (Di Singapura), Ini Tahapannya

Namun, kondisi di atas berbalik 180 derajat, di masa pandemi Covid-19 yang belum memperlihatkan perlambatan, penumpang pesawat dari Indonesia untuk sementara harus rela mendapatkan perlakuan yang tidak biasa saat tiba di Changi. Setiap penumpang dari Indonesia, menggunakan jenis maskapai apa saja dan dari kelas apa pun, kini harus menggunakan tangga manual untuk turun dari pesawat.

Seperti dikisahkan kontributor KabarPenumpang.com yang saat ini sedang menjalani masa karantina 14 hari. Saat tiba di Changi menggunakan Boeing 777 Singapore Airlines dari Soekarno-Hatta, ia bersama empat penumpang lain harus turun menggunakan tangga manual. Sesuatu hal yang menurutnya mengagetkan, pasalnya ia merupakan penumpang yang duduk di kelas bisnis, tapi harus turun menggunakan tangga.

Sebagai catatan, turun dengan tangga untuk kemudian dijemput shuttle bus lazim terjadi, umumnya karena gate/terminal penuh, ada kerusakan teknis atau memang bandaranya tak mempunyai garbarata. Tapi setelah dicermati, keluar pesawat menggunakan tangga manual di Changi ternyata sudah menjadi SOP di masa pandemi, khususnya bagi penumpang yang berasal dari high risk country penyebaran Covid-19.

Dengan turun menggunakan tangga di apron, sudah barang tentu penumpang harus menerima suara bisingnya mesin pesawat. Belum lagi bila cuaca buruk, mulai dari angin kencang hingga kehujanan kerap kali menjadi satu permasalahan yang serius.

Untungnya di malam kedatangan, shuttle bus posisinya tidak jauh dari titik turun tangga. Dan jangan salah kira, shuttle untuk penumpang dari high risk country tidak dibawa ke terminal konvensional yang identik dengan penyejuk ruangan dan pernak-pernik kelontong khas Changi.

Justru bus yang membawa penumpang dari Indonesia masuk ke sisi pelataran parkir Terminal 4, yang memang dikhususkan untuk melayani penumpang dari negara-negara dengan risiko tunggi penularan Covid-19. Dan di area semi outdoor inilah penumpang harus duduk antre dalam jarak aman untuk menuju konter imigrasi. Pemandangan seperti apa suasana di area imigrasi Changi dapat dilihat pada postingan foto-foto dan video di Instagram di bawah ini.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang)

Sekilas ada lima tahapan yang harus dilalui sebelum Anda bisa meninggalkan bandara untuk menuju lokasi karantina mandiri. Pertama, Anda harus menutaskan tahapan immigration clearance seperti biasa. Kedua, payment confirmation, disini Anda harus melakukan pembayaran untuk test PCR dan antigen, biayanya dipatok S$220. Tahap berikutnya dilanjutkan dengan registasi dan melaksanakan swab PCR test di bilik yang telah ditentukan. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk mengetahui hasilnya.

Baca juga: Bukti Ketatnya Karantina Mandiri di Singapura, Swab Antigen Sendiri dan Ditelepon Petugas Tiap Hari

Dan bila semuanya beres dan Anda dinyatakan negatif Covid-19, perjalanan berlanjut untuk menuju bus khusus yang disediakan untuk membawa ke masa karantina 14 hari di hotel yang telah ditentukan oleh otoritas setempat. Jadi singkat cerita, memang bukan perkara mudah dan murah untuk bertandang ke Singapura saat ini.






















Ini Livery Lokomotif dan Kereta Sambut HUT RI Ke-76

Hari Ulang Tahun ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2021, PT Kereta Api Indonesia (KAI) memasang livery khusus pada lokomotif dan kereta. Selain itu juga menghadirkan ornamen HUT RI di stasiun-stasiun mulai Minggu (1/8/2021).

Baca juga: Meriahkan HUT RI Ke-74, KA Parahyangan Tampil dengan Livery Khusus “Merah Putih”

Pemasangan livery khusus HUT RI tersebut ditujukan untuk mengobarkan semangat Merah Putih dan cinta tanah air kepada masyarakat pada perjalanan kereta api.

Kereta dengan livery HUT RI ke-76. Foto: Humas KAI

“Pemasangan livery khusus peringatan HUT ke-76 Kemerdekaan RI pada Kereta Api ini sebagai wujud nasionalisme KAI dalam menyediakan konektivitas bagi masyarakat Indonesia,” ujar VP Public Relations KAI Joni Martinus yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers.

KAI memasang livery khusus peringatan HUT ke-76 Kemerdekaan RI pada empat unit Lokomotif dan 37 unit Kereta yang dirangkaikan pada satu rangkaian KA Argo Bromo Anggrek (Gambir-Surabaya Pasar Turi pp) dan satu rangkaian KA Argo Parahyangan (Gambir-Bandung pp). Selain itu pada satu rangkaian KA Argo Wilis (Bandung-Surabaya Gubeng pp) dan Satu rangkaian KA Gajayana (Gambir-Malang pp).

Pada livery khusus di Lokomotif dan Kereta tersebut terdapat gambar Bendera Merah Putih, Peta Indonesia, landmark berbagai kota di Indonesia, Logo Kemerdekaan RI ke-76 dengan tema ‘Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh’, serta tulisan #KAIUNTUKINDONESIA dengan latar berwarna merah.

“Unsur-unsur yang terkandung dalam livery ini bermakna kesatuan dan persatuan Indonesia dari Sabang hingga Merauke untuk mewujudkan tema HUT RI tahun ini yaitu Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh,” kata Joni.

Adapun tulisan #KAIUNTUKINDONESIA pada livery tersebut bermakna KAI berupaya terus maju dan melayani rakyat Indonesia melalui transportasi kereta api. KAI senantiasa menyediakan transportasi yang aman, nyaman, dan selamat kepada masyarakat dengan disiplin protokol kesehatan yang ketat.

KAI juga terus memberikan dukungan penanggulangan Covid-19 di antaranya dengan menggratiskan angkutan oksigen serta menghadirkan vaksinasi Covid-19 gratis bagi pelanggan dan masyarakat di berbagai Stasiun. Tak hanya livery Kereta Api, untuk menyemarakkan HUT RI, KAI juga menghadirkan ornamen HUT RI pada 22 stasiun seperti Stasiun Gambir, Bandung, Surabaya Gubeng, dan lainnya di berbagai kota.

Baca juga: Uji Coba Lintasan Sukses, Kereta dari Bandara Internasional Yogyakarta Beroperasi 17 Agustus 2021

“Diharapkan dengan hadirnya livery khusus di KA dan ornamen di stasiun dalam rangka memperingati HUT RI ini, pelanggan dapat ikut merasakan semangat nasionalisme melalui transportasi kereta api,” tutup Joni.






















Leo Couple, eVTOL Tiga Kursi yang Bisa Diparkir di Garasi Mobil

Perusahaan baru, Urban eVTOL, telah merilis render pesawat pertamanya yakni Leo Coupe dengan desain angkat dan jelajah tiga kursi yang menjalankan 16 kipas saluran listrik Bitar untuk pengangkatan vertikal, dan beberapa lagi di bagian belakang untuk dorongan horizontal. Pete Bitar mengatakan, gambar yang mereka dapatkan adalah karya seni terbaik tetapi tidak mencerminkan konfigurasi dorong saat ini.

Baca juga: Lilium Pamer Penjualan 220 Unit Taksi Udara eVTOL Terbesar di Dunia Bernilai Rp12,5 Triliun

“Leo akan berjalan 16 10- Pendorong vertikal kW, masing-masing berdiameter sekitar 16 inci (40 cm), menghasilkan daya dorong 120 pon, jauh lebih besar daripada yang Anda lihat di sana. Akan ada tiga di setiap tepi depan dan lima di tepi belakang, dan susunan pendorong maju akan menggunakan enam jet 11-inci dengan bilah turbin daripada bilah baling-baling,” ujar Biter yang dikutip KabarPenumpang.com dari newatlas.com (5/8/2021).

Urban eVTOL berencana untuk memulai dengan versi Leo yang dimiliki secara pribadi dan berpotensi, tetapi tertarik untuk memperluas ke wilayah taksi udara begitu konsepnya terbukti. Urban eVTOL

eVTOL ini akan memiliki desain sayap kotak ganda yang melengkung di bawah di depan dan di ata di belakang untuk eksteriornya. Biter menuturkan, ini akan mendukung penuh Leo dalam penerbangan horizontal setelah melaju dengan kecepatan 185 km per jam. Kisi-kisi atau penutup kemungkinan akan menutup saluran pengangkat vertikal dengan kecepatan tinggi, untuk mengurangi hambatan.

Sayap kecil mungkin memerlukan kecepatan udara yang lebih tinggi untuk penerbangan yang efisien, tetapi mereka berkontribusi pada keuntungan besar di darat dan benda ini tidak hanya terlihat seperti hypercar terbang, tetapi juga cukup kecil untuk muat dalam satu ruang mobil. Itu berarti pemilik pribadi dapat menyimpannya dengan mudah di garasi, dan akan dapat mendarat di bantalan yang jauh lebih kecil daripada yang dibutuhkan oleh kebanyakan desain taksi udara yang lebih besar.

“Kita bisa mendaratkan delapan Leo dalam jejak satu Joby. Bahaya terbesar dengan UAM adalah tidak memiliki ribuan pesawat di langit,” kata Bitar.

Dia menambahkan vertiport di atas garasi parkir dengan cepat akan kehabisan ruang jika empat atau lima mobil terbang dicolokkan sekaligus untuk mengisi daya sebelum penerbangan.

“Itulah yang Anda lakukan ketika mereka berada di dekat tanah. Maksud saya, apa yang terjadi ketika Anda memiliki 20 pesawat yang mencoba mendarat di vertiport, dan Anda hanya punya 10 slot? Ruang darat akan menjadi premium saat ini. Pasar benar-benar mulai masuk, jadi jejak yang rendah akan menjadi penting,” jelasnya

Mobil terbang Leo akan menggunakan baterai 60 kWh yang dibagi secara fisik menjadi beberapa unit. Leo dilengkapi dengan tiga bangku dengan dua diantaranya di belakang untuk penumpang dan satu di depan untuk pengemudi. Pada bagian belakang juga ada paket baterai.

Dalam konfigurasi taksi udara, paket depan akan diperlakukan terutama sebagai cadangan, dan paket belakang akan dapat ditukar di tanah untuk perputaran cepat. Bitar mengatakan bobot Leo yang relatif ringan, ditambah efisiensi kipas yang disalurkan dan kecepatan jelajah maju yang tinggi, akan memberikan jangkauan yang sangat besar.

Kabin menempatkan pilot di depan, di kursi yang digantung di atap. Ini memberi penumpang kesempatan untuk menikmati pemandangan melalui lantai transparan, yang sebagian ada untuk pengalaman, dan sebagian di sana sehingga pilot benar-benar dapat melihat dengan tepat di mana mereka mendarat saat mereka turun. Urban eVTOL sedang mengembangkan solusi landing gear menarik yang disebut Cat’s Paws bersama dengan perusahaan ban besar.

Baca juga: Bisa Angkut 7 Penumpang, Inilah Taksi “Minibus” Udara eVTOL Terbesar di Dunia

Ini akan menjadi “sistem pendaratan tiup geometri variabel” yang mampu menahan pendaratan seperti satu set kantung udara, dan bahkan menjaga ketinggian pesawat pada kemiringan. Leo akan menjalankan parasut balistik untuk keselamatan.






















Turkish Airlines Akhirnya Punya Cabin Training Simulator Buatan Dalam Negeri

Turkish Airlines dipastikan bakal menggunakan cabin training simulator atau simulator pelatihan kabin buatan dalam negeri. Itu terjadi setelah Turkish Cabin Interior (TCI), anak perusahaan dari MRO Turkish Technic dan Turkish Aerospace Industries, yang berfokus pada pembuatan aircraft galleys atau sejenis mockup pesawat, sukses membangun Cabin Service Training Simulator project untuk Turkish Airlines Flight Training Center.

Baca juga: Gokil, Spesial Hari Anak, Turkish Airlines Jalankan Penerbangan yang Seluruh Krunya Anak-anak!

TCI diketahui mulai mengerjakan proyek simulator pelatihan kabin Turkish Airlines pada tahun 2018 lalu. Ketika itu, perusahaan yang berbasis di Istanbul, Turki, ini merancang dan memproduksi empat model atau mockup pesawat; Airbus A320, A330, Boeing 737, dan 777, untuk mendukung proses pelatihan pramugari di Flight Training Center maskapai.

Selain untuk mendukung pelatihan awak kabin Turkish Airlines, ini juga bisa digunakan untuk pelatihan pra-penerbangan maskapai lain.

Dilansir Runway Girl Network, Gokhan Mertay, senior business development specialist TCI, mengatakan bahwa seluruh fitur-fitur pada cabin training simulator ini diproduksi oleh perusahaan atau buatan dalam negeri.

Agar membuatnya jadi sangat mirip dengan aslinya, TCI memastikan telah berinovasi meningkatkan berbagai fitur tertentu, seperti handset IFE, auditory and visual warnings, cabin noise, announcements and IFE simulations.

Sejak didirikan pada 2010 lalu, TCI baru berhasil masuk katalog Boeing pada akhir tahun 2015. Keberhasilan itu membuat perusahaan kebanjiran job, mencakup 79 pesawat Boeing 737 MAX di Jet Airways dan 155 pesawat MAX di SpiceJet.

Setelahnya, TCI terus memenangkan tender simulator pelatihan kabin seperti pembuatan simulator pesawat Boeing 737 MAX untuk Azerbaijan Airlines dan SunExpress, serta berhasil menembus pasar Cina untuk pertama kalinya juga dalam pembuatan Boeing 737 MAX.

Dalam beberapa tahun terakhir, TCI mulai memproduksi mockup front row pesawat berbadan lebar Turkish Airlines, seperti Boeing 787 dan Airbus A350, serta menyelesaikan prototipe toilet “pureLav” yang katanya menawarkan desain unik dan berbagai fitur inovatif.

Baca juga: Tak Puas dengan Layanan Singapore Airlines, Desain Interior Pesawat Bebas Covid-19 Ini Pun Lahir

Ke depan, TCI menargetkan bakal memperluas jangkauan produknya, seperti pembuatan mockup atau simulator toilet, kontainer kargo dan palet, troli, overhead bins, sidewall panels, dan membuat berbagai barang ekspor dalam penerbangan bersama subkontraktor lokalnya.

Outputnya, TCI ingin menjadi perusahaan atau produsen utama di industri interior pesawat. Tentu saja itu tidak mudah, mengingat produsen interior pesawat di Eropa dan Amerika Serikat tidak akan rela pangsa pasarnya direbut begitu saja.

Awak Kabin Bagikan Lima Hal yang Tak Disarankan dalam Penerbangan, Termasuk Jangan Gunakan Celana Pendek

Belum lama ini seorang TikToker diteriaki awak kabin karena pakaian yang digunakannya. Nah, seorang awak kabin, Tommy Cimato juga baru-baru ini membagikan lima hal yang tidak boleh dilakukan oleh seorang penumpang pesawat.

Baca juga: Gara-gara Pakaian, TikToker Diteriaki Awak Kabin Sebelum Masuk Pesawat

Sebab bukan rahasia lagi meski ada peningkatan sanitasi pandemi dan pembersihan, pesawat terkendal bukan ruang terbersih saat penumpang berada di dalamnya. Apalagi di dalam pesawat banyak penumpang lainnya dan akan bepergian dalam jangka waktu yang lama bisa meningkatkan risiko tertular kuman.

KabarPenumpang.com melansir entrepreneur.com (3/8/2021), memiliki lebih dari 108 ribu pengikuti di TikTok, Tommy membagikan salah satu dari lima hal yang paing tidak disarankan dilakukan dalam penerbangan yakni mengenakan celana pendek. Dalam video yang sudah dilihat lebih dari 3,3 juta kali, membahas daftar lima perilaku yang harus dipraktikkan di pesawat, termasuk minum 16 ons air per penerbangan, tidak menyentuh tombol flush di kamar mandi dengan tangan kosong dan tidak tidur di jendela.

Semua ini tampaknya relatif masuk akal ketika memikirkan risiko kuman, tetapi Cimato menjelaskan bahwa mengenakan celana pendek dan membiarkan kaki Anda terkena kursi sama berisikonya.

“Jangan atau cobalah untuk tidak memakai celana pendek saat berada di pesawat. Sama halnya dengan jendela, Anda tidak pernah tahu seberapa bersih nantinya. Jadi jika gunakan celana lain selain celana pendek untuk menghindari lebih sedikit kuman,” katanya dalam video.

Postingan tersebut telah mengumpulkan lebih dari 462 ribu komentar dengan banyak yang mempertanyakan apakah tips Tommy berarti bahwa pesawat tidak selalu dibersihkan dengan benar.

“Jadi kalian tidak membersihkannya setelah setiap penerbangan,” pengguna Criss Carrillo bertanya.

“Jadi pada dasarnya Anda mengatakan bahwa Anda tidak membersihkan/mensanitasi pesawat setelah setiap penerbangan,” tulis pengguna lain.

Tommy memang menanggapi satu pengguna yang memposting pertanyaan “Apakah mereka tidak membersihkan setiap penerbangan?”

“Crew darat melakukan semua pembersihan pesawat, mereka mencoba yang terbaik untuk menjaganya tetap bersih. Tapi ini untuk berjaga-jaga jika terlewatkan!,” tulis Tommy.

Baca juga: Gandeng TikTok, Penumpang American Airlines Kini Bisa TikTok-an Saat Pesawat di Udara

Sebuah laporan oleh badan transportasi udara Perserikatan Bangsa-Bangsa (Organisasi Penerbangan Sipil Internasional) menunjukkan bahwa industri penerbangan secara keseluruhan kehilangan sekitar $370 miliar pada tahun 2020 berkat pandemi, dengan jumlah penumpang anjlok hampir 60 persen dari tahun sebelumnya. Dalam videonya, Tommy tidak mengungkapkan di maskapai apa dia bekerja.