Vandalisme dan Pencopetan Terjadi di Fasilitas TransJakarta

Rasanya aksi vandalisme sering kali terjadi dan sasarannya lebih banyak pada sarana dan pra sarana moda transportasi di Jakarta. Belum lama ini tepatnya pada 31 Juli kemarin salah satu pra sarana yang menjadi aksi vandalisme adalah papan petunjuk atau signage totem milik TransJakarta di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Baca juga: Panic Button di Bus TransJakarta, Jadi Pengganti “Kiri Bang….”

Dalam foto di akun Instagram milik @jktinfo, seorang PPSU kelurahan Bangka, Jakarta Selatan terlihat membersihkan coretan liar di papan petunjuk TransJakarta. Karena hal ini, Kepala Divisi Sekper dan Humas PT TransJakarta Angelina Betris menyayangkan aksi vandalisme tersebut.

Pihaknya juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas upayang yang dilakukan oleh PPSU kelurahan Bangka untuk membersihakn coretan di signage totem tersebut.

“Kami mengajak semua masyarakat untuk terus menjaga setiap fasilitas publik dan bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya untuk kenyamanan masyarakat,” ujar Betris ketika dihibungi KabarPenumpang.com, Kamis (5/8/2021).

Selain vandalisme terhadap signage totem, pada tanggal 2 Agustus kemarin, seorang penumpang bus TransJakarta terkena copet ketika akan turun di Halte GOR Sumantri, Jakarta Selatan. Pencopetan tersebut terkam kamera CCTV bus dan pihak TransJakarta sudah melihat video viral di media sosial itu dan tengah melakukan penyelidikan yang terjadi di dalam armada mereka.

“Kami tengah menyelidiki peristiwa pencopetan di salah satu bus TransJakarta yang viral di media sosial itu. Tntunya kami juga bekerja sama dengan pihak berwenang,” ujar Betris.

Baca juga: Mulai Hari ini, Penumpang TransJakarta dan MRT Jakarta Wajib Tunjukkan STRP Sebelum Melakukan Perjalanan

Dalam video tersebut, akun @warungjurnalis menuliskan caption “Terekam Aksi Pencurian di Busway.” Dalam body teks juga tertulis, bahwa penumpang yang dicopet mengharapkan KTP, Sim, ATM hingga kartu vaksin kembali dalam 3×24 jam atau akan dilaporkan kepada pihak berwajib.






















DHL Express Pesan 12 Pesawat Kargo Listrik Alice Eviation, Bisa Terbang Tanpa Pilot!

DHL Express mengumumkan pemasanan 12 pesawat all-electric Alice eCargo buatan Eviation. Bila tak ada badai menghadang, perusahaan jasa pengiriman kargo itu bisa mulai mengoperasikan pesawat listrik tanpa nirawak atau tanpa pilot ini pada tahun 2024 mendatang.

Baca juga: Mampukah Pesawat Bertenaga Listrik Geser Kedigdayaan Pesawat Komersial?

Travis Cobb, Executive Vice President (EVP) Global Network Operations and Aviation DHL Express, mengatakan, dipilihnya Alice sebagai langkah konkret maskapai meningkatkan dekarbonisasi atau mengurangi karbon dioksida di setiap penerbangan, setidaknya didasari oleh dua hal; jangkauan dan kapasitas (baterai).

“Pujian saya untuk Eviation atas pengembangan inovatif pesawat Alice yang sepenuhnya elektrik. Dengan jangkauan dan kapasitas Alice, ini adalah solusi berkelanjutan yang fantastis untuk jaringan global kami,” jelasnya, seperti dikutip dari greencarcongress.com.

“Aspirasi kami adalah untuk memberikan kontribusi substansial dalam mengurangi jejak karbon kami, dan kemajuan dalam armada dan teknologi ini akan sangat membantu dalam mencapai pengurangan karbon lebih lanjut. Bagi kami dan pelanggan kami, ini adalah langkah yang sangat penting dalam perjalanan dekarbonisasi kami dan langkah maju untuk industri penerbangan secara keseluruhan,” tambahnya.

Tak seperti start-up teknologi lainnya yang mengembangkan wahana, drone, taksi udara, atau pesawat listrik hanya untuk penerbangan berpenumpang, Eviation juga mendesain Alice e-Cargo sebagai pesawat listrik ramah lingkungan untuk pangsa pasar kargo; bahkan Extended-Range (ER) Executive Aircraft yang rencananya akan dirilis pada tahun 2023.

Bila dalam konfigurasi penumpang Alice bisa mengangkut sampai sembilan penumpang dengan kecepatan 444 km per jam sejauh 1.046 km, Alice e-Cargo disebut mampu mengangkut beban 1,2 ton sejauh 815 kilometer per sekali pengisian daya.

Alice hanya membutuhkan sekitar 30 menit untuk sekali pengisian daya. Dengan begitu, proses bongkar muat dan pengisian baterai bisa selesai bersamaan untuk efektivitas waktu.

Pesawat listrik Alice ini juga digadang mampu beroperasi di seluruh kondisi, layaknya pesawat konvensional yang ada saat ini.

Yang paling menarik tentu datang dari dua propeller atau motor canggih Alice. Disebutkan, motor listrik pesawat buatan perusahaan teknologi asal Israel ini mampu membuat penerbangan jadi sangat hemat. Itu berkat dukungan operating software yang selalu memantau penerbangan untuk memastikan efisiensi optimal.

Efisiensi tersebut mampu menekan biaya penumpang per-mil setidaknya hingga empat kali lebih rendah ketimbang pesawat listrik lainnya.

Alice sebetulnya bisa dioperasikan tanpa satupun pilot alias pilotless, terutama pada penerbangan kargo. Tetapi, 12 unit Alice yang dipesan DHL didesain tetap ada pilot sekalipun satu (single pilot).

Baca juga: Perkenalkan Alice, Pesawat Nirawak Bertenaga Listrik Mahakarya Eviation!

Pesawat listrik Alice rencananya akan mulai terbang perdana pada akhir tahun 2021 mendatang. Perusahaan mengkategorikan ini sebagai taksi udara. Dengan begitu, bisa dibilang, Alice menjadi taksi udara listrik terbesar di dunia.

Demikian juga jika Alice dikategorikan sebagai drone, ia akan jadi drone penumpang terbesar dengan jangkauan terjauh dan tercepat di dunia. Letak perbedaan dengan drone atau taksi udara lain mungkin pada teknik penerbangannya saja. Bila pada umumnya menggunakan teknik VTOL atau vertical take-off and landing, Alice justru sebaliknya.

Gara-gara Karantina, Pilot Frustasi Tak Bisa Bantu Cari Ayah Mertua

Rasa sedih belum hilang setelah meninggal ibu mertuanya, pilot ini harus frustasi karena ayah mertuanya hilang. Ini membuat pilot bernama Ryan Harris harus frustasi karena hal tersebut. Apalagi saat dia tiba di Inggris pria asal Worcester tersebut dipaksa untuk tinggal di karantina.

Baca juga: Alert! Cathay Pacific Lakukan ‘Tsunami’ PHK Pilot di Seluruh Dunia

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman bbc.com (31/7/2021), saat itu Harris kembali ke Inggris dari Qatar setelah ibu mertuanya meninggal. Dia harus menjalani karantina di sebuah hotel ketika tiba dan mendapat kabar ayah mertuanya hilang dari Victoria sang istri.

Dia menghubungi Departemen Kesehatan dan Perawatan Sosial untuk mengajukan banding atas dasar belas kasih dan diberitahu oleh staf hotel di hotel bahwa dia dapat mengharapkan tanggapan dalam waktu 24 jam. Meskipun upaya berulang kali untuk menghubungi departemen, dia tidak mendengar informasi lebih lanjut sampai tujuh jam sebelum masa isolasi sepuluh hari berakhir, ketika permintaannya ditolak.

“Semua permintaan keadaan luar biasa dipertimbangkan dengan cermat dan tim selalu berusah menyeimbangkan kebutuhan orang yang melamar dengan prioritas utama mereka untuk melindungi publik,” ujar juru bicara Departemen Kesehatan dan Perawatan Sosial.

Harris mengatakan dia memanjat tembok karena tidak dapat membantu keluarganya dan penjaga pantai mencari Bob Cuthbertson. Kemudian dalam pencarian tersebut mobil Cuthbertsin ditemukan di sebelah tambang bekas di gunung Holyhead beberapa hari setelah dia menghilang. Dia mengatakan, keluarga percaya, pria 82 tahun itu, “bingung dengan kesedihan”, mengambil nyawanya sendiri. Harris mengatakan, dia “merasa benar-benar putus asa” di kamar hotelnya.

“Istri saya putus asa, dia hanya membutuhkan saya di sana. Dia baru saja menguburkan ibunya dua minggu sebelumnya dan sekarang dia baru saja kehilangan ayahnya,” katanya.

Baca juga: Kasihan, Gegara Karantina Kejam di Hong Kong, Jumlah Penumpang Cathay Pacific Turun 94 Persen

Ibu mertuanya Anne Cuthbertson, yang tinggal di Holyhead, Anglesey, meninggal pada bulan Juni setelah didiagnosis menderita kanker. Kapten Harris kembali ke Inggris dari daftar merah Qatar, tempat dia bekerja di akademi terbang, mendarat di London Heathrow pada 17 Juli.






















Seberapa Jauh Pesawat Bisa Terbang Saat Mesin Rusak-Kehabisan Bahan Bakar di Udara?

Penumpang pada umumnya khawatir terhadap turbulensi saat pesawat di udara. Tetapi, sedikit dari mereka yang khawatir bahan bakar pesawat habis atau seluruh mesin rusak di tengah penerbangan. Memang, khawatir terhadap hal itu terdengar aneh.

Baca juga: Mengenang Kisah Gimli Glider, Pendaratan Darurat Pasca Pesawat Kehabisan Bahan Bakar di Ketinggian 41 Ribu Kaki

Namun, ketika itu sungguh terjadi, bagaimana dengan pesawat, apakah tetap bisa terbang sejauh puluhan atau ratusan kilometer atau seketika jatuh bak batu dari ketinggian?

Sejak era penerbangan modern dimulai pada abad ke-20, berbagai insiden atau peristiwa di dunia penerbangan kerap terjadi; termasuk mesin rusak dan bahan bakar habis saat pesawat berada di ketinggian.

Pada 22 Juli 1983, pesawat Air Canada Boeing 767 dalam penerbangan dari Montreal ke Edmonton via Ottawa, Kanada, mengalami masalah.

Kapten Robert Pearson, 48 tahun, dengan pengalaman 15.000 jam terbang, dan kopilot Maurice Quintal, 36 tahun, dengan waktu terbang 7.000 jam, mendapati bahwa alarm tekanan bahan bakar rendah pesawat yang dikemudikannya tiba-tiba berbunyi dan kehabisan bahan bakar di ketinggian 41 ribu kaki atau 12 kilometer dari permukaan tanah.

Parahnya lagi, habisnya bahan bakar membuat semua mesin serta panel instrumen kokpit elektronik mati. Saat itu, Boeing 767-200 memang jadi salah pesawat jet pertama yang mengadopsi sistem instrumen penerbangan elektronik yang didukung oleh mesin. Praktis, ketika mesin mati, panel juga ikut mati.

Untungnya, turbin udara ram (RAT) cukup untuk memberi daya pada instrumen penerbangan darurat dalam mendukung proses pendaratan. Hanya saja, itu tidak termasuk vertical speed indicator yang menunjukkan kecepatan pesawat dan lokasi dimana pesawat harus mendarat.

Tak hanya itu, lokasi pendaratan di Gimli, Pangkalan Angkatan Udara bekas perang dunia yang sudah beralih fungsi jadi lokasi balapan mobil, berjarak 20 mil lebih dekat daripada Winnipeg, tengah diadakan balapan drag dan dipadati oleh banyak orang.

Minimnya informasi pendaratan -akibat panel instrumen kokpit mati- tak membuat Kapten Robert Pearson menyerah. Dengan pengalamannya menerbangkan glider (pesawat tanpa mesin) saat mengikuti pelatihan di angkatan bersenjata AS, Kapten Robert Pearson, mampu menerbangkan pesawat Air Canada di udara tanpa mesin.

Kapten Robert Pearseon, mampu mendaratkan pesawatnya di bekas markas angkatan udara Kanada di Gimli, Manitoba. Seluruh penumpang pesawat Air Canada yang berjumlah 69 orang berhasil selamat. Hanya sedikit dari mereka mengalami luka-luka ringan.

Dari peristiwa Gimli Glider, yang berarti pesawat terbang glider (tanpa dorongan mesin) dan mendarat di Gimli, pertanyaan di awal sudah terjawab, setidaknya pesawat mampu terbang sejauh beberapa mil tanpa daya dorong dari mesin.

Dalam kondisi seluruh mesin mati, baik karena kehabisan bahan bakar atau mesin rusak, pesawat tetap terbang bak meluncurnya mobil menuruni sebuah turunan dalam keadaan mati mesin dan tanpa rem tangan. Hanya saja, sejauh mana pesawat meluncur bergantung banyak faktor.

Setiap pesawat tentu memiliki rasio terbang yang berbeda, artinya mereka akan kehilangan ketinggiannya dalam tingkat yang berbeda-beda. Hal ini mempengaruhi seberapa jauh pesawat bisa terbang tanpa dorongan mesin.

Contohnya, jika sebuah pesawat memiliki rasio angkat dan tarikan 10:1, maka untuk setiap 10 mil (16 kilometer) pesawat kehilangan ketinggian satu mil (1,6 kilometer).

Baca juga: Apa Jadinya Kalau Semua Mesin Mati Saat Pesawat di Udara?

Pesawat biasanya terbang di ketinggian 36 ribu kaki atau sekitar 10 kilometer, jadi pesawat yang kehilangan kedua mesinnya masih bisa terbang sejauh sekitar 112 kilometer sebelum sampai ke permukaan tanah.

Pilot veteran John Cox punya pandangan berbeda terkait ini. Dalam sebuah tulisan di USA Today, pesawat kehabisan bahan bakar atau seluruh mesinnya mati saat di ketinggian 30.000 kaki (9.144 meter) disebutnya mampu terbang sejauh 161 kilometer, lebih dari cukup untuk terbang ke bandara terdekat dan mendarat darurat.

Jelang Terbang Perdana 8 Agustus, Super Air Jet Beberkan Filosofi Seragam Super Crew

Super Air Jet siap terbang perdana pada 8 Agustus mendatang. Menjelang inaugural flight-nya tersebut, Direktur Utama Super Air Jet, Ari Azhari, membeberkan filosofi mengapa maskapai menggunakan warna khaki sebagai warna utama seragam kru, mulai dari pramugari sampai pilot.

Baca juga: Bersiap Terbang Perdana, Enam Rute Super Air Jet Fokus Wilayah Indonesia Barat

“Identitas paling unik ialah penggunaan warna ‘khaki’ pada setiap motif besutan seragam. Filosofi ini berasal dari warna tanah dan turunan warna kulit orang Asia yang mayoritas dijumpai di Indonesia dan beberapa negara lain,” jelasnya dalam keterangan rismi perusahaan yang diterima KabarPenumpang.com.

Selain itu, ia menilai, penggunaan warna bumi (gradasi antara warna cokelat dan putih) oleh kru Super Air Jet juga memberikan berbagai kesan positif, seperti natural (kalem), hangat, menenangkan, bersahabat, energik, dan penuh ceria.

Penentuan warna seragam, lanjutnya, juga melibatkan kategori turunan warna emas, yang melambangkan kesuksesan atau pencapaian prestasi, kemuliaan, dan kemakmuran.

Ini pada akhirnya mendorong setiap Super Crew (sebutan kru Super Air Jet) senantiasa terdorong untuk terus maju dan berwawasan luas seiring melayani sepenuh hati (totalitas).

Itu dari segi warna, dari pemilihan corak casual pada seragam pramugari dan pramugara juga memiliki makna tersendiri.

Disebutkan, seragam casual oleh kru Super Air Jet merupakan adaptasi dari pakaian millenial sehari-hari, di samping itu memang nyaman digunakan untuk beraktivitas, sambil tetap menarik perhatian.

Dengan kombinasi seragam casual Super Crew dan warna khaki, warna bumi, dan warna emas, ditambah bahan berkontur tebal yang dibuat mengenakan resleting (tanpa kancing), pengembangan semi model jaket lengan panjang berkerah pendek dan digulung hingga pergelangan tangan, pada akhirnya itu melambangkan tren pakaian masa kini (fashionable).

Lanjut ke bawah, celana panjang model lurus namun digulung hingga di atas mata kaki, dilengkapi karet elastis pada ban pinggangnya, dihiasi pelengkap sejumlah kantong di bagian samping, juga memiliki muatan makna tertentu.

Pemakaiannya mirip dengan backpack hanya saja bagian pinggang menggunakan tali serut (tanpa ikat pinggang).

Dengan demikian ini mencerminkan potongan makin muda, santai, dinamis. Warna yang lembut (soft) dari warna cokelat ini juga membuat penampilan Super Crew terlihat keren, elegan, simple, serta jadi salah satu cara Super Air Jet melestarikan kain.

Semua itu kemudian dilengkapi dengan sepatu dan tas selempang (khusus pramugari) yang digunakan Super Crew. Pramugari dan pramugara Super Air Jet diketahui memakai sepatu sneakers, salah satu jenis sepatu paling populer di kalangan anak muda, berwarna putih.

Baca juga: Wow, Harga Tiket Super Air Jet Lebih Murah dari Lion Air dan AirAsia! Ini Detailnya

Bagi pramugari, itu dipadukan dengan tas selempang (half moon bag) yang juga berwarna putih, sehingga nampak terang dan terkesan smart-casual.

Semua itu, pemilihan warna dan seragam, dari atasan sampai sepatu, tentu sesuai dengan target pasar Super Air Jet yang lebih fokus pada millenial, baik itu traveler maupun pebisnis muda.

Pramugari SkyUp Bergaya Kasual dengan Celana Panjang dan Sepatu Kets

Biasanya seorang awak kabin perempuan atau yang biasa disebut pramugari menggunakan rok panjang atau selutut dengan sepatu atau sendal berhak. Ini adalah seragam konvensional dan tradisional yang digunakan hampir disemua maskapai penerbangan dunia.

Baca juga: Bedah Maskapai Baru “Super Air Jet,” Seragam Pramugari Tak Biasa dan Milenial Banget

Namun, maskapai berbiaya hemat SkyUp milik Ukraina mengubah semua standar itu dan lebih membuat pramugari nyaman dengan apa yang mereka gunakan. Bukan dengan rok, pramugari SkyUp menggunakan setelan dengan celana panjang berwarna oranye cerah dan sepatu kets putih dari Nike Air.

KabarPenumpang.com melansir moroccoworldnews.com (3/8/2021), seragam baru pramugari ini merupakan hasil kolaborasi dengan merek fashion Ukraina GUDU. Sedangkan awak kabin pria menggunakan seragam yang sama alias tidak ada penggantian.

Selain sepatu kets dan celana dua potong tangerine yang longgar, pramugari akan diberikan pilihan untuk mengenakan mantel parit tipis atau saputangan sutra. Sementara make-up masih wajib, pramugari juga akan memiliki lebih banyak pilihan gaya rambut untuk dikenakan dengan seragam mereka.

Konsep seragam ‘Champions’ SkyUp mengilhami gagasan kenyamanan dan gerakan, melepaskan diri dari norma konvensional dalam industri penerbangan. SkyUp menyatakan bahwa perubahan seragam bertujuan untuk mewujudkan gagasan gerakan. Bentuknya dibuat untuk aktif, berani dan cerah.

Bagi mereka yang tidak menyukai pejabat yang berlebihan, tetapi menghargai gaya, akan bereaksi dengan cepat, bertindak secara seimbang, menerima tantangan dan menemukan jalan keluar dari situasi apa pun. SkyUp lebih lanjut menambahkan, “Ini adalah pakaian untuk mereka yang terbuka terhadap hal-hal baru, mereka yang menyukai perjalanan dan kehidupan.”

Dengan standar baru SkyUp ini, pandangan seksis pada pramugari bisa lebih sedikit berkurang. Selain itu SkyUp juga memberikan pramugari kebebasan untuk merasa nyaman saat mempraktikkan pekerjaan mereka yang sangat menegangkan menjadi awal yang baik.

Untuk diketahui, ketika penerbangan komersial dimulai pada 1930-an, pramugari memainkan peran penting di AS, ketika perawat termasuk di antara kru untuk menginspirasi kepercayaan diri dalam keadaan darurat. Namun, pramugari segera berkembang menjadi alat pemasaran. Maskapai mulai membutuhkan profil yang sangat spesifik untuk posisi ini setelah mereka menyadari bahwa wanita adalah daya tarik bagi pelanggan.

Baca juga: Tebak Maskapai Lewat Seragam Pramugari, Mana yang Paling Sulit?

Beberapa perusahaan penerbangan bahkan memuat slogan-slogan seksis seperti “jika seorang wanita bisa terbang, Anda juga bisa.” Bahkan kebijakan kode berpakaian yang regresif dan seksis terbentuk dengan sendirinya di industri ini, karena rok pramugari semakin pendek.






















Bepergian ke Singapura Saat PPKM Level 4-Pembatasan Sosial (Di Singapura), Ini Tahapannya

Meski Indonesia masih menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 1-4, tetapi, masyarakat masih dimungkinkan untuk bepergian ke luar negeri. Hanya saja, negara yang dituju tak semuanya menerima wisatawan dan pekerja dari Indonesia masuk.

Baca juga: Apes! Keluar Hanya Beli Masker, Pilot AS Kena Penjara 4 Minggu Gegara Langgar Perintah Lockdown di Singapura

Meski dikenal super ketat, Singapura tidak termasuk negara yang melarang WNI masuk ke negaranya. Namun demikian, bukan perkara mudah masuk ke negara tersebut. Selain butuh entry approval dari otoritas Singapura, berbagai syarat lainnya juga wajib dilengkapi dan diperiksa secara ketat.

Dari pengalaman salah satu kontributor KabarPenumpang.com saat melakukan perjalanan kerja ke Singapura baru-baru ini, sejak check-in di Bandara Soekarno Hatta pun aura ketatnya masuk ke negara tersebut sudah terasa.

Mula-mula, hasil tes Covid-19 PCR akan dikonfirmasi langsung ke Rumah Sakit (RS) yang mengeluarkan hasil tersebut, dalam hal ini, pengalaman kami kemarin, dikonfirmasi ke RS Mayapada.

Setelah itu, calon penumpang pesawat diperiksa berbagai kelengkapan persyaratan, seperti entry approval dari otoritas Singapura, sertifikat vaksinasi Covid-19, reservasi hotel tempat karantina mandiri Stay Home Notice atau SHN-Dedicated Facilities (SDF) selama 14 hari, serta tentu saja tiket pesawat.

SDF harus dibayar sebelum check-in di hotel yang sudah ditunjuk. Bila terjadi keterlambatan pembayaran, maka, akan dikenakan denda atau bunga atas keterlambatan tersebut.

Biaya SDF sendiri, seperti tertera di safetravel.ica.gov.sg, single dewasa sebesar S$2,000 per orang untuk akomodasi dan konsumsi. Adapun untuk dua orang dewasa, biayanya S$1,300 per orang untuk akomodasi dan konsumsi. Itupun belum termasuk biaya tes swab kit yang harus dilakukan secara mandiri di hari 3, 5, dan 7.

Setelah semuanya selesai diperiksa, penumpang bisa boarding dan terbang ke Singapura. Sebelum itu, jangan lupa, penumpang diwajibkan mengunggah hasil tes COVID-19 PCR pra-keberangkatan saat check-in dengan maskapai penerbangan ke aplikasi IATA Travel Pass, sejenis kartu kesehatan digital, serta saat kedatangan di pos pemeriksaan imigrasi di Bandara Internasional Changi.

Dalam lawatan kontributor kami lusa menggunakan Singapore Airlines, di kabin hanya ada empat penumpang dan kami satu-satunya penumpang yang duduk di c-class atau business class maskapai. Kami juga sempat bertanya ke pramugari bagaimana cara maskapai bertahan dengan hanya empat orang penumpang dan dengan santai ia menjawab bisnis kargo maskapai sebagai penyelamatnya.

Setelah sampai di Bandara Internasional Changi dan lolos dari pemeriksaan imigrasi, penumpang akan digiring ke hotel tempat karantina mandiri selama 14 hari. Biaya untuk akomodasinya sudah termasuk ke dalam biaya karantina mandiri yang sudah dibayar sebelumnya.

Baca juga: 1 Mei 2021, Singapura Resmi Gunakan IATA Travel Pass untuk Data Covid-19 Pelancong 

Di hari ke-3, 5, dan 7, penumpang wajib melakukan tes swab sendiri dan mengirimkan hasilnya ke otoritas lewat aplikasi yang sudah ditentukan.

Selama menjalani karantina mandiri, jangan coba-coba melanggar aturan karena semuanya terpantau 24 jam lewat aplikasi.

Singapura Siapkan Vending Machine yang Hadirkan Masker Gratis

Masa pandemi ini, membuat orang belum bisa bernapas dengan bebas tanpa menggunakan masker. Sehingga masker medis menjadi salah satu kebutuhan pokok manusia saat ini dan wajib digunakan ketika seseorang bepergian keluar rumah.

Baca juga: Masker Puricare Wearable Air Purifier LG Dilengkapi Mikrofon dan Speaker

Hal ini kemudian membuat berbagai teknologi menghampiri masker. Beberapa diantaranya masker diberikan alat untuk mendeteksi virus corona yang menempel, masker dengan penyaring udara yang terkoneksi dengan ponsel hingga berbagai teknologi lainnya.

Masker yang digunakan sekali pakai ini juga wajib dibawa penggantinya jika masker yang dikenakan terkena keringat atau kotor. Meski begitu banyak orang yang kerap kali lupa membawa masker cadangan untuk mengganti dan sulit mencari penjual atau mini market untuk membeli yang baru.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman kioskmarketplace.com (19/7/2021), belum lama ini pabrikan Singapura pembuat mouse komputer dan laptop, akan membangun vending machine untuk menyediakan jutaan masker wajah gratis kepada penduduk. Mesin ini dibuat karena perusahaan yang berbasis di Singapura dan Amerika Serikat tersebut kebanjiran perminataan mesin masker wajah.

Nantinya Razer Singapore akan memasang mesin penjual otomatis sendiri. Pemasangan mesin penjual otomatis tersebut akan dimulai dengan 20 mesin yang diletakkan di mall dan ruang kerja bersama.

Baca juga: Mesin Penjual Otomatis, Jual 48 Jenis Produk dari Buah Hingga Suvenir

Para pengguna bisa mendapatkan masker pada mesin penjual otomatis, harus mengunduh aplikasi dompet digital I dan memindai kode QR di mesin penjual otomatis tersebut. Nantinya perusahaan berencana untuk memberikan satu masker bedah gratis kepada semua penduduk dewasa Singapura.






















Gara-gara Pakaian, TikToker Diteriaki Awak Kabin Sebelum Masuk Pesawat

Terkadang menggunakan pakaian atau alas kaki yang kurang pantas kerap kali membuat seorang penumpang pesawat tertekan bahkan disuruh turun oleh awak kabin. Hal ini pun terjadi pada seorang TikToker Sierra Steadman. Saat itu dirinya menggunakan pakaian kasual yakni celana pendek dengan tanktop yang ditutupin sebuah hoodie.

Baca juga: Pakaian Apa yang Selazimnya Dikenakan Penumpang Pesawat?

Dia naik pesawat milik Alaska Airlines dan seorang awak kabin menyuruhnya turun karena pakaian yang digunakannya. Dilansir KabarPenumpang.com dari nypost.com (3/8/2021), Sierra kemudian memposting sebuah video ke akun TikToknya @sierrasteadman, di mana dia menangis di atas pesawat dan membuat judul pada video tersebut, ”Saya tidak pernah merasa lebih terdegradasi, malu, malu, marah atau sedih. F ALASKA AIRLINES!!!!!!!”

@sierrasteadman

Reply to @emma.el15 #greenscreen

♬ romanticize that jealousy jealousy life – cynthia 🌟🦋

Dalam video, dia terlihat mengenakan hoodie dan masker saat air mata mengalir di wajahnya. Dia menulis dalam klip itu, “Ketika pramugari [pelacur] mempermalukan Anda di depan seluruh pesawat dan mengancam akan menendang Anda keluar karena apa yang [Anda] kenakan.”

Pada komentar dia menjelaskan bahwa awak kabin itu berteriak dan menarik lengannya ketika Sierra mencoba pergi. Dalam video lanjutannya Sierra mengungkapkan dengan tepat apa yang dia kenakan saat bepergian. Dia berbagi foto di TikTok yang menunjukkan dirinya mengenakan celana pendek putih, hoodie hitam dan kaus abu-abu.

“Apropriasi pakaian dikesampingkan, tidak ada alasan untuk menyerang saya secara fisik dan verbal dan mempermalukan saya terutama ketika saya memenuhi permintaannya,” komentarnya di samping videonya.

Sierra kemudian menguraikan situasi di video lainnya dan mengatakan dirinya dihentikan begitu naik pesawat. Awak kabin diduga menyuruhnya untuk membuka ritsleting hoodie dan dia melakukannya. Awak kabin itu kemudian meneriakinya di depan penumpang lain.

“Di situlah masalahnya,” ungkap Sierra menambahkan bahwa dia tidak punya masalah dengan disuruh menutup kausnya, namun, kejadian berikutnya tidak dapat diterima.

Alaska Airlines dilaporkan menanggapi Sierra dan ibunya Shannon, yang menghubungi maskapai tersebut.

Baca juga: Tak Pandang Bulu, Langgar Tata Cara Berpakaian Bisa Depak Penumpang dari Penerbangan

“Alaska berusaha untuk memberikan layanan yang luar biasa kepada pelanggan kami. Dari apa yang Anda bagikan, jelas bahwa kami telah gagal. Anda dan putri Anda harus mengharapkan tidak kurang dari diperlakukan dengan hormat, kasih sayang dan perhatian. Sungguh mengecewakan mendengar bahwa Anda berdua tidak merasa seperti itu selama naik pesawat dan selama interaksi dengan Pramugari kami,” bunyi pernyataan itu.






















Lilium Pamer Penjualan 220 Unit Taksi Udara eVTOL Terbesar di Dunia Bernilai Rp12,5 Triliun

Lilium dengan bangga mengumumkan penjualan taksi udara eVTOL terbesar di dunia buatannya sebanyak 220 unit ke maskapai regional terbesar ketiga di Brasil, Azul. Kesepakatan penjualan ini disebut-sebut bernilai fantastits, mencapai US$880 atau sekitar Rp12,5 triliun (kurs 14.318).

Baca juga: Gelontorkan Miliaran Rupiah, Target Taksi Udara Listrik Lilium Mengular di 2025 di Semakin Dekat

Meski menjadi maskapai terbesar ketiga, tetapi, Azul melayani lebih banyak kota dan terbang lebih sering ketimbang para kompetitornya.

Brasil sendiri dikenal sebagai pasar helikopter terbesar kedua di dunia. Itu mungkin dilandasi berbagai faktor, seperti infrastruktur yang buruk, geografi, serta tingginya tingkat kejahatan di jalan seperti pembajakan, penodongan, pencurian, dan sejenisnya.

Dengan kondisi tersebut, tidak heran bila Azul percaya diri untuk merogoh kocek besar mendatangkan 220 unit taksi udara eVTOL Lilium. Taksi udara eVTOL Lilium dinilai mampu menghadirkan kenyamanan, kecepatan, dan keamanan lebih baik dibanding helikopter serta mampu menjangkau wilayah lebih luas. Yang paling penting tentu adalah harga per perjalanannya sangat murah.

“Sangat mudah bagi kami untuk dengan cepat mengidentifikasi pasar di mana kami dapat menempatkan 250 pesawat ini, dan kami pikir jumlah itu bahkan bisa mencapai 1.000 atau lebih,” kata David Neeleman, pendiri Azul, Westjet, dan Jetblue.

“Dengan memiliki pesawat terbang seperti yang dimiliki Lilium, dengan harga yang jauh lebih murah daripada helikopter, dengan keamanan yang jauh lebih tinggi, kami pikir kami dapat memperluas pasar ini. Kami pikir pasarnya bisa 10, atau 20, atau 30 kali lebih besar dari sebelumnya. hari ini, atau bahkan lebih,” tambahnya, seperti dikutip dari New Atlas.

Akan tetapi, sebagaimana penjualan taksi udara eVTOL dari Archer, Embraer Eve, Vertical Aerospace, dan lainnya, penjualan taksi udara eVTOL Lilium ke Azul tentu masih bersifat sementara. Semuanya bergantung pada proses sertifikasi.

Bila segalanya lancar, Lilium memperkirakan Azul bisa menikmati servis dari setiap unit taksi udara eVTOL terbesar di dunia buatannya pada 2025 mendatang.

Lebih lanjut, Lilium berharap, seluruh unit taksi udara eVTOL berkapasitas tujuh penumpang tersebut bisa terbang sampai 25 kali sehari, menempuh jarak rata-rata 60 mil atau 96 km atau 10 jam penerbangan per hari.

Lifespan atau umur operasional taksi udara eVTOL Lilium ditaksir mampu bertahan sampai delapan tahun. Tetapi, paket baterainya hanya bertahan empat bulan.

Kendati begitu, David Neeleman mengaku optimis bergabungnya taksi udara eVTOL Lilium bisa mendatangkan keuntungan sekitar US$5 juta dari setiap unitnya setelah dua tahun.

Baca juga: Bisa Angkut 7 Penumpang, Inilah Taksi “Minibus” Udara eVTOL Terbesar di Dunia

Skemanya, ia mengasumsikan rata-rata 4,5 dari enam-tujuh kursi penumpang terisi di setiap 25 penerbangan per hari.

Dengan harga US$2,25 per mil penumpang akan menghasilkan pendapatan sekitar US$15,000 per hari atau $5 juta per tahun atau margin keuntungan 25 persen. Alhasil, dalam dua tahun, investasi sebesar Rp12,5 triliun akan balik modal dan di enam tahun sisanya (dengan asumsi lifespan delapan tahun) taksi udara eVTOL bakal mendatangkan keuntungan US$5 juta.