Sejarah Panjang Sabuk Pengaman di Pesawat, Ternyata Karena “Iri” Pada Mobil

Bicara moda transportasi, pesawat terbang sudah pasti datang lebih akhir dibanding kapal laut dan mobil. Banyak hal yang membuktikan terkait itu. Salah satunya dari serapan istilah-istilah dalam penerbangan; kokpit.

Baca juga: Mengapa Kokpit Disebut Kokpit? Inilah Jawaban dari 3 Teori Termasyhur

Di artikel sebelumnya, redaksi sudah pernah membahas bahwa kokpit dalam istilah penerbangan, menurut para ahli, besar kemungkinan diserap dari kompartemen kemudi kapal yang juga disebut kokpit.

Selain menyerap istilah-istilah dari moda transportasi lain, industri pesawat terbang, di beberapa kondisi, juga terinspirasi dari dua moda itu. Dalam urusan safety belt atau sabuk pengaman, misalnya, pesawat terbang diketahui terinspirasi dari mobil.

Kita tahu, sabuk pengaman awalnya ditemukan oleh George Cayley pada 1800-an akhir. Tetapi, sabuk pengaman yang pertama kali mendapat paten ditemukan oleh Edward J Clanghorn pada 10 Februari 1885.

Ketika itu, Edward J Clanghorn membuat dan mengembangkan sabuk pengaman untuk membuat penumpang taksi di Kota New York, Amerika Serikat (AS), aman. Seiring berjalannya waktu, sabuk pengaman juga tersedia untuk pengemudi.

Perkembangan serta manfaat sabuk pengaman pada mobil ternyata menginspirasi Charles N. Monteith, chief engineer di Boeing Airplane Company, untuk menghadirkannya di pesawat. Ia bahkan sangat berapi-api ketika mempresentasikan terkait ini pada pertemuan aeronautika American Society of Mechanical Engineers, Mei 1929.

Dalam pemaparannya, sabuk pengaman di pesawat tak hanya penting dalam kondisi genting, tetapi ketika terjadi gejolak di udara (turbulensi). Sayang beribu sayang, saat itu, usulan Boeing (mewakili AS) ditolak mentah-mentah oleh Eropa, dalam hal ini Inggris dan Belanda.

Jalan panjang hadirnya sabuk pengaman di pesawat bahkan mendapat citra buruk sebelum tahun 1947. Ketika itu, beredar rumor di seantero Eropa dan AS, bahwa mengenakan sabuk pengaman justru membuat kecelakaan makin parah. Tetapi, itu segera dibantah oleh para ahli dari Crash Injury Research (CIR).

Sabuk pengaman bahkan benar-benar mendapat stigma buruk di masyarakat pada tanggal 31 Oktober 1950. Ketika itu, Vickers VC-1 -yang dijuluki Lord St. Vincent- British European Airways mendarat dan touchdown dengan kecepatan tinggi, memantul beberapa kali, sebelum akhirnya oleng ke kanan, tergelincir, dan terbakar di Bandara London Heathrow, Inggris.

Dr. Donald Teare, yang ahli mengotopsi mayat tokoh dan selebriti dunia serta kecelakaan transportasi mematikan, kemudian ditugaskan untuk mengotopsi mayat dari 28 korban tewas dalam kecelakaan tersebut.

Hasilnya pun mencengangkan publik, dimana Teare menyebut lebih dari separuh korban tewas karena luka akibat menggunakan sabuk pengaman. Pasca temuan Teare, banyak masyarakat di AS bahkan tak berani mengenakan sabuk pengaman lagi.

Yakin temuan Teare keliru, ahli dari CIR pun ikut melakukan investigasi. DuBois, mantan ketua Committee on Aviation Medicine yang saat itu menjabat sebagai profesor fisiologi di Cornell Medical College mengatakan bahwa sabuk pengaman tidak berbahaya dan tidak menyebabkan langsung kematian pada korban tewas kecelakaan Vickers VC-1. Justru sabuk pengaman berhasil mencegah penumpang terpental saat pesawat memantul di runway.

Setelah memantul dan oleng ke kanan itulah, korban tewas membentur benda keras di sekitar kursi, seperti armrest dan lainnya. Itu yang menyebabkan luka berujung kematian. Pendapat itu pun diamini oleh Dr. Milton Helpern kepala medical examiner Kota New York.

Baca juga: Kecelakaan Pesawat Terburuk Sepanjang Masa Lahirkan Warisan Penting di Dunia Penerbangan

Usai berbagai proses politik dan adu argumen oleh para ahli, pada tahun 1966 AS mendirikan Biro Keamanan Nasional. Pada 1 Januari 1968, Kongres AS mengesahkan UU Federal tentang Standar Keselamatan Kendaraan Bermotor. UU itu mewajibkan seluruh kendaraan bermotor, kecuali bus, agar dilengkapi safety belt dan penumpang maupun pengemudi wajib mengenakannya.

Pada tahun 1972, menindaklanjuti Undang-Undang Penerbangan Federal tahun 1958, sabuk pengaman di pesawat pun resmi menjadi bagian dari keamanan dan keselamatan penerabangan, seperti dikutip dari airspacemag.com.

50 Tahun Singapore Airlines Rute Singapura-London, Pernah Operasikan Concorde!

Singapore Airlines belum lama ini merayakan 50 tahun penerbangannya ke London Heathrow pada Juni 1971. Ketika itu, layanan yang dioperasikan pesawat Boeing 707 dengan livery hitam-kuning Malaysia-Singapore Airlines ini seketika langsung menjadi rute andalan dalam jaringan internasional Singapura.

Baca juga: Singapore Airlines Teken MoU dengan Malaysia Airlines, Warganet Mencak-Mencak di Media Sosial

Menariknya, dalam sejarah panjang itu, tak banyak yang tahu bahwa Singapore Airlines pernah menerbangkan pesawat supersonik Concorde, dalam kemitraan dengan British Airways, untuk layanan Singapura-London.

Dari semula 18 jam dengan empat kali transit, penerbangan Singapore Airlines-British Airways rute London-Singapura menggunakan pesawat supersonik Concorde, dipangkas menjadi hanya sekitar sembilan jam non-stop. Pesawat ini menggunakan livery unik, sebelah kanan livery British Airways dan sebelah kiri livery Singapore Airlines.

Sayangnya, setelah beberapa tahun, joint venture Singapore Airlines-Biritsh Airways di rute London-Singapura menggunakan pesawat supersonik Concore dihentikan. Penyebab pastinya tak pernah diungkap ke publik.

Dilansir Simple Flying, Malaysia-Singapore Airlines mulai terbang ke London dari Singapura lima kali dalam sepekan. Rutenya cukup panjang dan itu tidak dimulai dari Singapura melainkan dari Melbourne, Australia.

Dari Melbourne, Selasa atau Sabtu pagi, pesawat Boeing 707-320 Malaysia-Singapore Airlines akan melintasi Nullarbor ke Perth (PER) sebelum melanjutkan ke Singapura. Pesawat kemudian terbang ke Kolombo, stopover selama 45 menit, untuk melanjutkan perjalanan ke Bahrain.

Dari sana, pesawat terbang ke Athena, lanjut ke Zurich untuk sarapan sebelum akhirnya mendarat di London (LHR) tengah hari berikutnya.

Pada Rabu, Jumat, dan Minggu, Malaysia-Singapore Airlines melalui rute berbeda untuk sampai ke London. Hari Rabu, maskapai menerbangkan rute Sydney – Jakarta (CGK) – Singapura – Bombay (BOM) – Bahrain – Roma (FCO) – Frankfurt – London.

Hari Jumat, menerbangkan rute yang sama dengan menghilangkan Jakarta. Di hari Minggu, maskapai menerbangkan rute yang sama dengan Jakarta digantikan oleh Denpasar, Bali.

Malaysia-Singapore Airlines menawarkan dua kelas kabin, first class dan kelas ekonomi pada rute London.

Sayangnya, pada tahun 1972, pemerintah Malaysia dan Singapura memutuskan mendirikan maskapai masing-masing, yaitu Malaysia Airlines dan Singapore Airlines, dan meninggalkan program maskapai Malaysia-Singapore Airlines.

Tetapi, Singapore Airlines tetap konsisten menerbangkan rute ke London. Ketika itu, maskapai tersebut bahkan mulai memperkenalkan santapan khusus untuk penumpang kelas ekonomi, sampanye dan rokok di penerbangan, serta silver service untuk sembilan penumpang first class. Pamor maskapai pun meningkat karenanya.

Enam tahun setelah penerbangan perdana ke London, Singapore Airlines mulai menjalin kemitraan dengan British Airways untuk menerbangkan rute menggunakan pesawat supersonik Concorde. Waktu tempuh pun dipangkas jadi setengahnya dari semula 18 jam.

Pada tahun 2012 silam, Singapore Airlines makin rutin terbang ke London menjadi empat kali sehari. Selain itu, SQ juga mulai membuka rute ke Manchester.

Baca juga: Ternyata! Singapore Airlines ‘Sempat’ Menjadi Pengguna Condorde

Pesawatnya pun beragam. Sejak tahun 1984, Boeing 747 SQ terbang non-stop ke London dari Singapura. Pada 2008, Singapore Airlines terbang dua hari sekali ke London menggunakan Airbus A380.

Karena kedua pesawat ikonik tersebut tak lagi efisien menerbangkan rute itu, Singapore Airlines mulai mengerahkan armada Boeing 777-300ER dan Airbus A350-900 untuk rute London.

Parking Near Airports Luncurkan Aplikasi Mudahkan Parkir di Dekat Bandara, Ini Keuntungannya

Bagi traveler atau siapapun yang hendak bepergian menggunakan pesawat, khususnya bagi yang membawa kendaraan sendiri, parkir di bandara belum tentu jadi pilihan terbaik. Banyak alasan yang melatarbelakangi hal itu.

Baca juga: Parkir Dua Bulan di Bandara Ngurah Rai, WNA ini Bayar Parkir Rp9,6 Juta

Biaya parkir di bandara jauh lebih mahal di kantong atau tempat-tempat parkir lainnya itu sudah pasti. Masih ingat bule viral yang memposting struk parkir mencapai Rp9,6 juta karena parkir selama kurang lebih dua bulan di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali? Itu adalah bukti kecil betapa mahalnya parkir di bandara.

Selain itu, parkir di bandara, dalam kondisi normal, bukan perkara mudah untuk menemukan slot kosong. Sudah begitu, minimnya fitur atau inovasi yang memudahkan pelanggan menemukan titik parkir yang kosong juga semakin memperparah kondisi. Saat menuju bandara dan memasuki terminal pun, tak jarang terjadi kemacetan panjang.

Tak cukup sampai di situ, terkadang, perjalanan dari tempat parkir di bandara ke terminal juga tak senyaman yang dibayangkan.

Sederet persoalan terkait parkir bandara itulah yang pada akhirnya mendorong ParkingNearAirports.io untuk menyediakan platform layanan pencarian tempat parkir di luar bandara. Pengguna atau penumpang pesawat juga bisa memilih seberapa jauh atau dekat tempat parkir dari bandara.

Dilansir aithority.com, pengguna akan disuguhi banyak kantong parkir di sekitar bandara. Tarifnya juga beragam, sesuai jarak. Jadi pengguna bisa menyesuaikan budget yang dimiliki.

Mungkin pertanyaan lanjutan dari adanya layanan ini adalah, setelah pelanggan memarkirkan mobil atau kendaraannya, bagaimana cara mereka menuju bandara?

Sudah pasti hal itu ada dalam benak manajemen perusahaan tersebut. Disebutkan, Parking Near Airports melayani jasa antar jemput, layanan bagasi, keamanan, dan sejenisnya 24 jam, gratis.

Sebelum mencapai tempat parkir yang dituju, pengguna diwajibkan untuk melakukan reservasi online terlebih dahulu. Setelah itu, mereka dapat memilih kantong-kantong parkir yang diinginkan di sekitar bandara dan bayar. Mudah, bukan? Pembatalan juga gratis alias tak dikenai potongan sepeserpun.

Dengan berbagai kemudahan dari layanan di atas, Parking Near Airports mengklaim, penumpang pesawat atau pelanggannya bisa menghemat biaya parkir di bandara hingga 70 persen.

“Sebagian besar tempat parkir di seluruh negeri mahal. Biasanya biayanya sekitar US$30 per hari, dan terkadang bisa lebih mahal. Sama seperti Chicago O’Hare Airport, yang mengenakan biaya minimal US$60 per hari kepada penumpang yang ingin menggunakan jasa parkirnya,” ujar juru bicara ParkingNearAirports.io.

Baca juga: Imbas Covid-19 , Bandara Roswell Raih Untung dari Jasa Parkir Pesawat

“Tetapi saat ini, Anda dapat menemukan berbagai pilihan parkir yang terjangkau di luar bandara. Layanan parkir di luar bandara ini sangat nyaman, biasanya terletak beberapa mil jauhnya dari terminal,” lanjutnya.

Sayangnya, untuk saat ini, layanan dari Parking Near Airports baru mencakup banyak wilayah di Amerika Serikat dan beberapa wilayah di Kanada.

Airbus ‘Tunduk’ ke Rusia Gegara Titanium, Seberapa Penting Buat Pesawat?

Meski hubungan antara Eropa dan Rusia masih fluktuatif, tetapi, bagaimanapun juga salah satu entitas bisnis raksasa Eropa, Airbus, sangat butuh Rusia. Itu karena Rusia masih dan mungkin akan terus menjadi produsen titanium terbesar Airbus.

Baca juga: Inilah Daftar Pesawat Buatan Uni Soviet dan Rusia Terlaris

Tak ayal, dengan kondisi tersebut, Airbus rela membangun Airbus Engineering Center, atau lebih dikenal sebagai ECAR, di Moskow sejak tahun 2003 lalu. Tak sedikit dana yang dikeluarkan Airbus untuk membangun itu. Tapi itu tak ada nilainya jika dibandingkan kemudahan mendapat titanium dari Rusia.

Lagi pula, usaha patungan Airbus dan beberapa perusahaan Rusia itu, juga turut membantu memproduksi pesawat. Sejauh ini, fasilitas tersebut sudah terlibat di 120 proyek pengerjaan pesawat, meliputi program A330neo, A350-1000, A321XLR, dan A330neo.

Terlepas dari intrik politik di balik titanium yang didapat Airbus dari Rusia, sebetulnya, seberapa penting titanium untuk memproduksi pesawat?

Dilansir Simple Flying, pesawat dibuat dengan komposisi 60 persen alumunium, 15 persen baja, 10 persen logam berharga mahal seperti titanium. Kendati persentasenya tak lebih besar dibanding alumunium dan baja, tetapi, hampir di seluruh komponen pesawat mengandung titanium.

Itu mengapa, ketika purna tugas, pesawat didaur ulang, alilh-alih mangkrak di Gurun Mojave, untuk diambil berbagai barang-barang yang mengandung logam mahal dan dibuat menjadi barang berharga.

Jejak titanium Airbus dari Rusia sebetulnya sudah lama. Setidaknya itu bisa dilihat dari tahun dimana maskapai Rusia menggunakan pesawat Airbus.

Pada 1990an silam, Aeroflot resmi menggunakan pesawat Airbus pertama, A310, dalam barisan armadanya. Tentu saja, sebelum dioperasikan, pesawat juga harus mendapat sertifikasi dari regulator penerbangan sipil Rusia, menjadikannya sebagai pesawat barat pertama yang melakoni hal ini.

Sejak saat itu, sampai saat ini, sekitar 340 pesawat Airbus, seperti keluarga A350, A330, dan A320, digunakan oleh maskapai seantero Rusia.

Head of Region & Sales Eropa, Wouter Van Wersch, dalam sebuah presentasi di gelaran MAKS-2021 Airshow di Moskow, beberapa waktu lalu, blak-blakan mengatakan bahwa setengah dari titanium yang didapat Airbus untuk memproduksi pesawat datang dari Rusia. Itu setara dengan 40.000 metrik ton spons titanium per tahun.

“Dalam mesin penerbangan, paduan titanium tahan panas digunakan untuk membuat bilah, cakram, dan bagian lain untuk kipas dan kompresor mesin tingkat rendah,” kata raksasa dirgantara Rusia, Rostec.

“Sementara penggunaan komposit secara ekstensif dalam rekayasa pesawat dapat dilihat sebagai ancaman bagi bahan lain, untuk titanium, itu adalah keuntungan pasti yang berfungsi untuk mempromosikan penggunaannya di industri pesawat,” lanjutnya.

Baca juga: Maskapai dan Produsen Pesawat Rugi Besar, Produsen Cat Pesawat Justru Untung Besar

Titanium asal Rusia yang dipasok ke Airbus datang dari VSMPO-Avisma, produsen titanium terbesar di dunia.

Selain Airbus, hampir seluruh produsen pesawat ataupun perusahaan lain di industri dirgantara internasional juga mendapat kiriman titanium dari perusahaan tersebut, seperti Boeing, Embraer, Rolls-Royce, Pratt & Whitney, sampai Safran.

Paspor Perjalanan Digital, Cara Pastikan Data Penumpang Tetap Aman

Pada bulan Maret lalu, sekitar 20 maskapai mulai menguji coba paspor perjalanan baru dari Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA). Dengan begitu penumpang lebih mudah menunjukkan kartu vaksin Covid-19 dan surat tes PCR untuk perjalanan internasional.

Baca juga: Terbukti Mudahkan Penumpang, Paspor Kesehatan Digital IBM Kini Digunakan 450 Maskapai Lebih

Selain memudahkan penumpang dan petugas dalam mengotentikasi (autentikasi) kartu vaksinasi dan hasil tes PCR serta berbagai syarat perjalanan internasional lainnya, travel pass ataupun paspor kesehatan atau perjalanan digital dinilai membuat perlindungan data privasi atau data pribadi penumpang jadi lebih aman.

Sebab, petugas tak pernah memilikinya secara langsung, sesuatu yang tentu saja berbeda dengan metode yang digunakan sebelum pandemi.

“Kami sedang memeriksa hal-hal seperti; apakah itu jenis tes yang tepat? Apakah tes dilakukan dengan cara yang benar? Apakah periode waktu yang benar ketika diambil? Kemudian jika sudah oke, barulah penumpang tersebut dapat membagikannya kepada pihak maskapai,” kata Alan Murray Hayden, kepala produk keamanan dan penumpang bandara IATA.

“Semua data penumpang berada di ponsel mereka. Kami tidak memilikinya secara terpusat, kami tidak pernah melihatnya, kami tidak pernah memiliki akses ke sana. Kami memiliki perangkat lunak di aplikasi telepon yang menganalisis rencana perjalanan mereka dan mengatakan bahwa Anda terbang dengan British Airways, apakah Anda ingin membagikan detail Anda dengan British Airways?” jelasnya.

“Pada saat itu, penumpang dapat memilih untuk membagikannya, tetapi poin utamanya adalah, penumpang yang memilih untuk membagikannya. Jika mereka memilih untuk membagikannya, itu akan dikirim langsung ke maskapai. Itu tidak pernah melewati sistem lain; kami tidak menyimpannya,” tambahnya, seperti dikutip dari airport-technology.com.

Selain IATA Travel Pass, ada juga paspor kesehatan digital lainnya, seperti IBM Digital Health Pass dan CommonPass.

Paspor kesehatan digital IBM bahkan saat ini sudah digunakan oleh 474 maskapai penerbangan di seluruh dunia, termasuk Air Europa, Air Corsica, French Bee, Air Caraibes, Air Canada, dan Norwegian Air Shuttle, di bawah kontrol Amadeus sebagai penyedia jasa sistem reservasi.

Menurut Christian Warneck, oversees travel safety Amadeus, paspor kesehatan digital ini sangat membantu untuk mengurangi antrean dan memangkas waktu tunggu penumpang selama pengecekan.

“Ini menghindari pemeriksaan yang rumit dan memakan waktu saat bepergian, dan menambah jaminan lebih lanjut kepada maskapai dan penumpang mereka,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Greg Land, pakar perjalanan dan transportasi IBM, paspor kesehatan digital akan mendorong digitalisasi seluruh dokumen yang ada, seperti paspor, kartu identitas, dan lain sebagainya, sesuatu yang langkah sebelum adanya pandemi virus Corona.

Baca juga: Qatar Airways Uji Coba IATA Travel Pass, Klaim Jadi yang Pertama di Dunia! Benarkah?

“Bahkan sebelum pandemi, kami mulai melihat antrean panjang di bandara dan tempat-tempat lain dan itu membuat kami berpikir bahwa kami hanya perlu menemukan cara untuk membawa transformasi digital itu ke tingkat berikutnya,” tandasnya, seperti dikutip dari qz.com.

“Sungguh menyedihkan bahwa dibutuhkan pandemi untuk mendapatkan kemajuan dalam membangun standar-standar ini seputar kredensial digital. Tapi saya pikir apa yang kita alami saat ini, terutama dengan maskapai penerbangan dan perusahaan perjalanan lainnya, membantu kita menyadari manfaat beralih ke ID digital seperti paspor atau SIM,” tutupnya.

Susul AirAsia, Cathay Pacific Ekspansi Bisnis Non Penerbangan

Tak puas dengan bisnis penerbangan, baik penerbangan kargo maupun penumpang, Cathay Pacific mulai merambah bisnis non penerbangan, usai meluncurkan “Cathay” sebagai “new premium travel lifestyle brand”. Dengan begitu, maskapai asal Hong Kong ini menyusul maskapai Air Asia yang sudah lebih dahulu merambah bisnis di luar penerbangan.

Baca juga: GoJek Fokus di Singapura dan Vietnam, Pasar Thailand Diakuisisi AirAsia

Lewat brand baru “Cathay”, Cathay Pacific, dalam beberapa bulan mendatang, akan meluncurkan berbagai penawaran menarik kepada masyarakat Hong Kong dalam berbelanja makanan, minuman, pakaian, hotel, kesehatan, dan lain sebagainya.

Agar memaksimalkan bisnisnya, Cathay juga akan disokong langsung Cathay Pacific, Marco Polo Club, dan Asia Miles.

“Pada saat yang sama, ‘Cathay’ juga membuat proposisi kami lebih menarik. Dengan mengintegrasikan penawaran kami dan melalui kemitraan yang lebih baik, kami akan menghadirkan lebih banyak produk dan layanan untuk kepentingan pelanggan kami,” kata maskapai dalam sebuah pernyataan yang dikutip Asian Aviation.

Terdekat, Cathay akan meluncurkan kartu kredit co-branded sebagai bagian dari program customer relationship di paruh pertama 2022.

Cathay Pacific menekankan, untuk di awal, jangkauan bisnis Cathay hanya akan tersedia di Hong Kong. Tetapi, di masa mendatang tak menutup kemungkinan itu bisa ekspansi ke negara lain ataupun bisnis lain yang lebih luas.

“Kemampuan kami untuk memasuki ruang travel lifestyle dan keberhasilan strategi ini dibangun di atas kekuatan, kepercayaan, dan rasa hormat yang langgeng yang telah dicapai Cathay Pacific selama lebih dari 75 tahun, serta kerja keras dan dedikasi orang-orang kami di seluruh dunia,” kata CEO Cathay Pacific, Augustus Tang.

“Inti dari merek ‘Cathay’ adalah perayaan semua hal terbaik yang kami sukai – dan lewatkan – tentang perjalanan. Kami sangat bangga telah menghubungkan pelanggan kami dengan orang, tempat, dan pengalaman di seluruh dunia melalui perjalanan yang menyenangkan,” tambahnya.

Baca juga: Tingkatkan ‘Ketenangan’ pada Penumpang, Cathay Pacific Tawarkan Asuransi Gratis untuk Diagnosis Covid-19

“ ‘Cathay’ memperkuat komitmen kami untuk terlibat dengan pelanggan kami dalam kehidupan sehari-hari mereka dengan layanan kelas dunia. Dengan menambahkan lebih banyak nilai dan kesederhanaan, kami membantu memajukan mereka dalam kehidupan sesuai tujuan ‘Move Beyond’ kami,” jelasnya.

Sebelum Cathay Pacific, Air Asia diketahui sudah jauh lebih dahulu merambah bisnis di luar penerbangan. Air Asia bahkan belum lama ini juga masuk ke pasar ride hailing, setelah mulai sukses di pasar bisnis belanja makanan, minuman, pakaian, dan lain sebagainya secara online lewat Asean Super App.

(Video) Pilot Buka Jendela Kokpit Saat Pesawat di Udara! Seketika, Ini yang Terjadi

Di artikel sebelumnya, redaksi sudah pernah menulis tentang sederet insiden dimana penumpang pesawat komersial coba membuka pintu saat pesawat tengah di ketinggian. Meskipun itu tak pernah terjadi, tetapi, secara teori seharusnya itu mustahil, dengan syarat berada di ketinggian 30-40 ribu kaki. Di bawah itu, segalanya masih mungkin. Seperti pada video yang satu ini.

Baca juga: Penumpang Gigit Pramugari dan Coba Buka Pintu Pesawat di Udara, Mustahil!

Dlihat KabarPenumpang.com di channel YouTube Papa Kilo, seorang pilot uji Boeing tampak dengan sengaja membuka jendela kokpit pesawat dan membuat kokpit tanpa tekanan. Itu dilakukan bukan dalam penerbangan komersial bepernumpang, melainkan saat uji terbang pesawat Boeing 777 di ketinggian 6.000 kaki (1.829 m) di kecepatan 250 knot atau 463 km per jam.

Dari caption di Instagram Cessnateur yang juga memuat video yang sama dengan YouTube Papa Kilo, pilot yang tak disebutkan namanya itu mengungkapkan bahwa membuka jendela kokpit merupakan salah satu momen paling mengasyikkan. Lebih-lebih saat kepala keluar jendela dan melihat lurus ke depan tanpa terhalang apapun.

Selanjutnya, ia juga mengungkapkan bahwa membuka jendela kokpit saat pesawat mengudara merupakan pengalaman berharga bagi pilot. Hanya saja memang noise atau gangguan yang dihasilkan cukup tinggi sehingga membuat kokpit menjadi sangat bising.

Dalam video tersebut, baik video di Instagram maupun di YouTube Papa Kilo, tampak pilot dengan sengaja membuka jendela kokpit saat pesawat mengudara. Alih-alih tersedot dan terlempar keluar pesawat akibat dekompresi eksplosif, sang pilot tampak dengan enjoy menikmati penerbangan.

Tentu, karena ini sudah menjadi bagian dari skenario, dua pilot dan satu flight engineer yang ada sudah menggunakan pelindung mata atau sejenis kacamata untuk menghindari hembus angin kencang serta alat komunikasi berupa speaker dan headphone untuk saat kokpit menjadi sangat bising usai jendela kokpit dibuka.

Perlu dicatat, video ini ada, dimana pilot dengan sengaja membuka jendela kokpit saat pesawat di udara, bisa terjadi lantaran berada di ketinggian yang relatif rendah. Karenanya, ketika jendela kokpit dibuka, pesawat tetap terbang dengan kondisi kokpit tak bertekanan atau tanpa tekanan.

Itu pula mengapa pilot, kopilot, dan flight engineer tidak terhisap keluar lantaran tidak terjadi dekompresi eksplosif.

Baca juga: Bedah Jendela Pesawat, Inilah Bagian-bagian Beserta Fungsinya

Di video lain yang dimuat Papa Kilo, tampak pula pesawat Boeing 737 lepas landas dengan posisi salah satu cockpit windshield atau cockpit windownya terbuka.

Tetapi, di video ini, pilot tidak dengan sengaja membuka jendela pesawat, melainkan itu tiba-tiba terbuka saat pesawat mulai meninggalkan landasan. Jadi, dalam video ini insiden ini membuktikan pesawat dipastikan bisa lepas landas dengan jendela kokpit terbuka.

Kacaukan Jadwal Perjalanan Kereta di Iran, Peretas Tampilkan Pesan Perjalanan Kereta “Tertunda”

Sebuah pesan palsu terkait penundaan atau pembatalan perjalanan kereta api terpajang di papan pemberitahuan di stasiun di seluruh negeri. Insiden ini terjadi di Iran yang nyatanya sistem mereka diretas oleh serangan siber pada Jumat (23/7/2021) lalu.

Baca juga: Perang Siber Iran Vs Israel! Kereta Bawah Tanah Israel Jadi Korban, Iran: Ini Baru Permulaan

Tak hanya itu, para peretas juga memposting pesan seperti lama tertunda karena serangan siber atau dibatalkan di papan. Bahkan mereka juga mendesak penumpang untuk meminta informasi dan mencantumkan nomor telepon kantor pemimpin tertinggi negara itu, Ayatollah Ali Khamenei.

Dilansir KabarPenumpang.com dari voanews.com (28/7/2021), kantor berita resmi Iran, Fars, melaporkan bahwa insiden peretasan menyebabkan kekacauan yang belum pernah terjadi sebelumnya di stasiun kereta api. Sejauh ini belum diketahui pihak yang telah mekakukan peretasan.

Sebelum peretasan terjadi, kantor berita resmi Iran tersebut mengatakan kereta api di seluruh Iran telah kehilangan sistem pelacakan elektronik mereka. Tapi itu belum jelas apakah hal tersebut merupakan bagian dari serangan siber.

Juru bicara kereta api negara, Sadegh Sekri mengatakan, gangguan itu tidak menyebabkan masalah bagi layanan kereta api. Pada tahun 2019, kesalahan pada server komputer perusahaan kereta api menyebabkan beberapa penundaan dalam layanan kereta api.

Pada Desember 2019, Kementerian Telekomunikasi Iran mengatakan negara itu telah mampu meredam serangan siber besar-besaran pada “infrastruktur elektronik” yang tidak ditentukan, tetapi tidak memberikan rincian tentang serangan yang diklaim. Tidak jelas apakah serangan yang dilaporkan itu menyebabkan kerusakan atau gangguan pada komputer dan sistem internet Iran, dan apakah itu merupakan babak terbaru dalam operasi siber yang dilancarkan AS atau Israel.

Baca juga: Tingkatkan Keamanan Siber, Airbus Luncurkan Program Pendekatan Human-Centric

Iran memutuskan sebagian besar infrastrukturnya dari internet setelah virus komputer Stuxnet yang secara luas diyakini sebagai ciptaan bersama AS-Israel mengganggu ribuan sentrifugal di situs nuklir negara itu pada akhir 2000-an.






















Panic Button di Bus TransJakarta, Jadi Pengganti “Kiri Bang….”

Bila di kereta ada tuas rem darurat untuk keadaan penting, di bus rapid transit atau BRT ternyata juga memilikinya. Meski begitu namanya berbeda yakni panic button atau tombol darurat. Yang mana di beberapa bus pun penggunaannya berbeda seperti untuk langsung membuka semua pintu ketika dalam keadaan darurat.

Baca juga: Tuas Rem Darurat, Instrumen Keselamatan di Kereta Yang Bisa Datangkan Masalah Baru. Kok Bisa?

Namun bila di bus milik TransJakarta, humas PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) mengatakan, panic button hanya ada di bus jenis low deck . Di mana penggunaannya hanya berguna sebagai kode berhenti untuk pelanggan yang akan turun.

Juru bicara TransJakarta mengatakan hal tersebut bila di bus biasa seperti “kiri bang”. Selain itu panic button juga digunakan untuk hal darurat jika tidak ada petugas selain pengemudi di dalam bus.

Nantinya pengemudi akan berhenti di tempat yang ada petugas atau bus stop untuk melakukan pengecekan bila terjadi hal darurat. Juru bicara TransJakarta menambahkan, bahwa panci button ini tidak lain hanya memberitahu pengemudi untuk berhenti atau masalah darurat.

Export Manager karoseri Laksana Werry Yulianto mengatakan, untuk beberapa BRT, ada yang memiliki spesifikasi untuk dibuatkan satu tombol yang bisa membuka seluruh pintu.

“Jadi tergantung dari spesifikasi yang diminta. Misalnya ada keharusan tombol tersebut dipasang di armada TransJakarta dan Suroboyo Bus,” ucap Werry yang dikutip KabarPenumpang.com dari kompas.com, Selasa (27/7/2021).

Werry menjelaskan, tombol darurat tersebut ditambahkan oleh karoseri. Jadi fungsinya untuk membuka jalur angin untuk pintu tersebut. Tombol ini bisa digunakan dalam kondisi mesin mati maupun menyala.

Baca juga: Marak Pelecehan Terhadap Wanita, Otoritas Panchkula Pasang Panic Button di Halte Bus

“Jadi fungsinya membuka jalur angin sehingga bisa dibuka secara manual, baik didorong atau ditarik,” kata Werry. Selain bus TransJakarta dan Suroboyo Bus, pada pintu otomatis juga disematkan emergency valve yang fungsinya sama, yaitu membuka pintu secara manual dalam kondisi darurat. Posisi tombolnya biasanya ada di bagian atas pintu.






















Maskapai dan Produsen Pesawat Rugi Besar, Produsen Cat Pesawat Justru Untung Besar

Di saat berbagai perusahaan di industri dirgantara dunia tengah terpuruk, perusahaan produsen cat pesawat justru meraup untung besar. Bagaimana bisa?

Baca juga: Melawan Lupa! Hanggar Narrow Body Terbesar di Dunia Ada di Indonesia

Sepanjang tahun lalu, utamanya di awal-awal sampai puncak pandemi virus Corona sekitar kuartal I-3 2020, Cirium, sebuah perusahaan riset terkait industri di dunia penerbangan, mencatat lebih dari 17 ribu pesawat nganggur atau digrounded di seluruh dunia, terendah sejak 26 tahun.

Setelah industri penerbangan penumpang dan kargo mulai membaik di kuartal IV tahun lalu sampai sekarang, sekalipun masih agak fluktuatif di beberapa negara, banyak pesawat mulai keluar dari peraduannya. Tetapi, hampir semua pesawat kondisinya berdebu dan warnanya tak lagi sesuai dengan yang diharapkan.

Dengan kondisi itu, sudah pasti seluruh armada dicat ulang agar lebih sedap dipandang mata sebelum mulai kembali menghiasi langit.

Di saat yang bersamaan, produsen pesawat dunia, semisal Boeing dan Airbus, juga terus menggenjot produksi mereka sekalipun kenyataannya tetaplah menurun. Sampai di sini, sudah pasti seluruh pesawat bakal dicat.

Selain dua kondisi itu, ada pula banyak maskapai start-up yang coba memanfaatkan peluang dimana harga pesawat sedang jatuh-sejatuh-jatuhnya.

Mereka membeli pesawat dengan harga murah untuk persiapan manakala kondisi industri penerbangan global sudah merangkak pulih. Perpindahan pesawat dari pemilik lama ke pemilik baru sudah pasti membutuhkan cat pesawat untuk livery baru.

Demikian juga dengan semakin dinamisnya penyewaan pesawat oleh lessor. Setiap mendapat klien baru untuk menyewa pesawat, sudah pasti pesawat bakal dicat sesuai livery yang diinginkan perusahaan.

Andaipun tak mendapat klien baru, lessor biasanya tetap mengecat pesawat lama dengan cat putih. Berbagai kondisi itulah yang pada akhirnya mendorong produsen cat pesawat dan perusahaan jasa pengecatan pesawat meraup untung besar di tengah pandemi Covid-19.

Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg, CEO Akzo Nobel NZ, Thierry Vanlancker, berhasil mencapai penjualan di tingkat pra pandemi pada kuartal II 2021. Perusahaan cat pesawat terbesar di dunia itu sebelum memperkirakan ini baru akan terjadi pada 2023 mendatang.

“Ini adalah kejutan bagi kami. Kami pikir ini hanya akan terjadi pada tahun 2023,” jelasnya.

Baca juga: OMG! Salah Penulisan Livery Pesawat, Nama Cathay Pacific Menjadi ‘Cathay Paciic’

Akzo Nobel NZ, yang juga melayani jasa pengecatan pesawat, tentu bukan satu-satunya perusahaan cat yang meraup untung besar. PPG Industries, yang juga masuk dalam daftar perusahaan Fortune 500, juga berhasil mengalami lonjakan penjualan di kuratal II tahun ini.

Biaya pengecatan pesawat bisa dibilang agak mahal. Angka rincianya memang tak pernah diungkap ke publik. Tetapi, biasanya bisa mencapai US$175.000. Itu bisa lebih tinggi untuk pesawat widebody. Adapun untuk pesawat narrowbody, biaya jasa pengecetan pesawat hanya seharga US$50.000.