Selain Batas Waktu 20 Menit, Berikut Tips Aman Santap Makan di Restoran

Selama masa PPKM Darurat, Pemerintah telah melarang menyantap makanan langsung di  restoran (dine in). Kebijakan untuk menekan angka penyebaran Covid-19 tentu punya tujuan positif, namun harus diakui, banyak konsumen yang rindu berat untuk bisa kembali menyambangi untuk makan di restoran favorit.

Baca juga: Setelah 20 Tahun Lebih, Lansia Kembar Palestina Sukses Sulap Boeing 707 Jadi Restoran

Tentu ada cita rasa yang berbeda jika harus makan dengan cara take away atau memesan lewat delivery. Guna merespon ‘jeritan’ konsumen dan pastinya para pengusaha kuliner, Pemerintah di masa perpanjangan PPKM (Level 4) telah memberi kelonggaran, yakni dipersilahkan untuk dine in, tapi waktu makan dibatasi hanya 20 menit saja, yaitu dihitung sejak makanan siap (tiba) untuk dimakan, plus tidak dianjurkan untuk ngobrol.

Idealkah waktu yang diberikan? Lepas dari kontroversi 20 menit. Masih ada beberapa poin penting yang layak Anda  perhatikan ketika ‘harus’ makan di restoran. Dirangkum dari irishtime.com, ada beberapa cara makan aman di restoran di masa pandemi dan pembatasan.

Lakukan Perencanaan
Sebelum memtuskan untuk keluar dari rumah, sebaiknya Anda bisa mencari referensi. Saat ini restoran yang luas, dan berlangit-langit tinggi serta yang memiliki ruangan luar lebih disukai. Bila referensi cocok, Anda bisa menghubungi restoran untuk reservasi dan sekaligus bertanya masalah ventilasinya.

Kunjungi restoran yang dikenal
Lebih baik pergi ke restoran yang Anda sudah kenal seluk beluknya, sehingga bisa mencari posisi yang tepat saat makan di tempat tersebut.

Ikut aturan
Di masa pandemi cukup banyak aturan untuk makan di restoran. Seperti di Eropa Barat, setiap orang yang berusia 18 tahun ke atas akan diminta untuk menunjukkan sertifikat digital Covid-19 Uni Eropa di pintu. Sebelum memasuki restoran, serta formulir identitas berfoto, seperti SIM. Anda juga akan diminta untuk memberikan nama dan nomor telepon salah satu anggota dewasa dari pesta untuk pelacakan kontak.

Tiba tepat waktu
Ketika sudah melakukan reservasi, datang tepat waktu menjadi penting dilakukan, dengan demikian pihak pengelola restoran dapat membuat pengaturan jarak yang ideal. Dengan datang terlambat, maka ada kemungkinan untuk menciptakan kerumunan di area tunggu.

Baca juga: Tanggapi Respon Pandemi, Pemerintah Jepang Izinkan Operator Taksi Antar Pesanan Makanan

Minimalkan waktu ke Toilet
Jika Anda ingin ekstra hati-hati, hindari area kecil dan tertutup seperti toilet, yang kemungkinan memiliki ventilasi lebih sedikit. Jika terpaksa harus ke toilet, kenakan masker double dan tetap pakai sampai Anda kembali ke meja Anda.






















Apa Perbedaan Antara Homebase dan Hub Maskapai?

Maskapai berbiaya hemat (LCC), Wizz Air, dikabarkan sedang membangun homebase atau airline base di seluruh Eropa, mulai dari Cardiff, Inggris, terus ke tenggara sampai ke Italia dan beberapa negara Balkan. Tetapi di homebase, Wizz Air hanya menempatkan satu pesawat, jauh berbeda dibanding hub maskapai (yang juga berfungsi sebagai homebase). Jadi, apa bedanya homebase dan hub maskapai?

Baca juga: Ini Perbedaan Penerbangan Jarak Jauh dan Jarak Pendek dari Kacamata Pramugari

Homebase atau “base” secara terminologi atau istilah berarti fasilitas yang sangat besar dan luas. Biasanya kata “base” juga digunakan dalam militer dan pada umumnya sangat besar dan luas, sebagaimana.

Tetapi, dalam penerbangan sipil atau komersial, itu tidak berarti demikian atau bisa dibilang sangat sederhana. Pada umumnya, base dalam penerbangan sipil hanya berupa satu pesawat dan beberapa kru.

CAPA (Centre for Asia-Pacific Aviation), lembaga konsultasi dan analisis penerbangan yang berbasis di Sydney, Australia, sendiri mendefinisikan “base” sebagai bandara tempat dimana maskapai menempatkan pesawat dan kru secara permanen untuk mengoperasikan sebuah rute.

Lebih lanjut, CAPA menyebut, “Baik pesawat maupun kru yang kembali di malam hari, semuanya tak harus selalu sama (dengan pesawat dan kru di pagi hari), tetapi maskapai biasanya akan selalu konsisten menjaga kelengkapan armada dan kru di base”.

Dalam konsep homebase, pramugari dan pilot datang dari mess atau asrama ke airline base dan mulai bekerja dengan menjadikan homebase sebagai home address. Konsep ini berlawanan dengan outstation, dimana maskapai penerbangan menjadikan bandara sebagai tempat menjemput dan mengantarkan penumpang.

Di outstation, pesawat hanya menghabiskan waktu untuk turnaround daripada parkir di sana untuk downtime (penyimpanan) atau pemeliharaan jangka pendek.

Perlu dicatat, homebase tak selalu berada di negara asal maskapai, bisa jadi ada di luar negeri atau bandara-bandara yang disinggahi maskapai pada penerbangan jarak jauh atau ultra jarak jauh (12 jam penerbangan atau lebih).

Kru yang selesai bertugas dari bandara asal ke bandara tujuan biasanya diberi istirahat selama beberapa hari atau biasanya disebut layover di homebase yang berada di luar negeri.

Momen ini biasanya menjadi saat-saat paling favorit para kru karena bisa eksplore, traveling, shopping, dan lain sebagainya di negara asing, plus mendapat berbagai tunjangan.

Berbeda dengan homebase, hub lebih ke skema operasional maskapai. Homebase atau pangkalan tak selalu menjadi hub dan hub hampir selalu menjadi pangkalan maskapai. Tetapi, seperti dikutip dari Simple Flying, pada maskapai LCC dengan konsep point-to-point (biasanya di Eropa), homebase belum tentu hub.

Bandara hub dalam konsep ‘hub and spoke’ adalah bandara yang dipilih untuk menghubungkan penumpang ke banyak bandara lain. Singkatnya, bandara hub merupakan titik B di antara titik A dan C.

Baca juga: Begini Prosedur Pemeriksaan Pesawat untuk Capai Tingkat Keselamatan Tertinggi

Di negara-negara kecil dengan satu bandara, seperti Hong Kong-Cathay Pacific dan Singapura-Singapore Airlines, sudah pasti menjadikan bandara tersebut sebagai hub. Adapun di negara-negara besar, hub maskapai bisa lebih dari satu, seperti Air Canada yang memiliki hub di Vancouver, Calgary, Toronto, dan Montreal.

Fasilitas di bandara hub juga lebih lengkap dibanding pangkalan. Jumlah pilot dan pramugari yang ditempatkan juga lebih banyak. Selain itu, pesawat juga dimungkinkan untuk mendapat perawatan kecil atau line maintenance selama downtime.

Di Shibuya Tokyo, Toilet Bentuk Jamur Hiasi Jalur ke Kuil Yoyogu Hacimangu

Bagi pelancong yang mengunjungi Jepang, rasanya tak perlu heran dengan berbagai hal baik teknologi atau bangunan yang ada. Bahkan adanya hal baru tersebut bisa menambah keunikan perjalanan tersendiri bagi para pelancong di Negeri Sakura itu.

Baca juga: Unik, Bangunan Beton Diapit Jalan Layang dan Pintu Stasiun ini Ternyata Toilet

Seperti toilet berbentuk jamur yang diciptakan oleh Toyo Ito sebagai konstribusi pada proyek toilet Tokyo. Toilet khas Ito ini, dibangun untuk menggantikan toilet sebelumnya di bagian bawah tangga yang mengarah ke kuil Yoyogu Hachimangu di distrik Shibuya Tokyo.

Toiletnya berada di dekat hutan kecil yang berisi kuil Yoyogi Hachimangu (dezeen.com)

KabarPenumpang.com melansir dezeen.com (21/7/2021), arsitek Jepang itu membangun tiga blok silinder yang atapnya berbentuk kubah dan mengingatkan pada jamur yang tumbuh di hutan yang mengelilingi kuil tersebut. Toyo Ito menghadirkan model toilet seperti ini untuk memberikan ketenangan serta keramahan yang akan mendorong pelancong menggunakan toilet.

“Saya tidak ingin menggunakan toilet umum sebanyak yang saya bisa, bahkan sebagai laki-laki. Oleh karena itu, kali ini saya ingin mencoba desain kasual yang bisa digunakan dengan tenang dan pikiran yang tenang,” kata Ito.

Jamur pusat terbesar menempel di dinding belakang situs dan berisi toilet yang dapat diakses. Bangunan toilet ini berdiri bebas di kedua sisi yang mana di toilet wanita, disabilitas dan pria. Ketiganya dilapisi dengan warna merah, merah muda dan putih.

Bentuk atapnya pun sedikit naik dengan ada ruang antara bangunan dengan atap yang memungkinkan cahaya alami dan udara masuk ke toilet. Dengan membagi blok menjadi tiga, Ito yakin toilet akan menjadi ruang yang aman bagi semua pengguna.

“Saya berharap Toilet Umum Yoyogi-Hachiman yang dipasang kali ini akan menjadi ‘toilet yang memberikan rasa aman bagi wanita yang dapat digunakan bahkan di malam hari’ dan ‘toilet yang memiliki desain tidak mencolok dan dapat digunakan dengan santai’,” ujarnya.

Blok toilet adalah yang keempat yang direalisasikan oleh pemenang Penghargaan Arsitektur Pritzker sebagai bagian dari proyek Nippon Foundation nirlaba untuk meningkatkan fasilitas di distrik pusat kota Shibuya Tokyo. Fasilitasnya bergabung dengan toilet melingkar sesama pemenang Pritzker Tadao Ando, ​​blok Fumihiko Maki dengan “atap ceria” dan sepasang toilet umum transparan Shigeru Ban.

Baca juga: Wow, Toilet Umum di Jepang Dibuat Transparan

Sebanyak 17 toilet akan dibangun sebagai bagian dari proyek tersebut. Bangunan lain yang baru saja selesai dibuat sebagai bagian dari proyek termasuk toilet berbentuk rumah “ramah” yang dirancang oleh perancang busana Jepang Nigo dan balok kayu cedar yang dirancang oleh Kengo Kuma.






















Ruwet, Ternyata Ini Alasan Uni Emirat Arab Punya Banyak Bandara Internasional

Di dunia, kebijakan sebuah negara terkait bandara internasional sangat beragam. Indonesia, misalnya, mempunyai kurang lebih 30 bandara internasional. Tetapi, Indonesia memiliki wilayah yang cukup luas.

Baca juga: Ngeri, di Bandara Dubai, Mata Jadi Paspor Wisatawan!

Kendati begitu, tak selamanya negara besar memiliki banyak bandara internasional, ada juga negara kecil yang juga punya banyak bandara internasional. Latar belakangnya tentu berbeda-beda. Namun yang paling menarik tentu Uni Emirat Arab (UEA).

Negara yang terletak di barat daya Asia dan dikelilingi Teluk Oman dan Teluk Persia di antara Oman dan Arab Saudi ini diketahui mempunyai 12 bandara internasional. Padahal, luas wilayahnya hanya 83.600 km² atau seluas gabungan Jawa Barat dan Jawa Timur, yang notabene hanya mempunyai tiga bandara internasional.

Dilansir Simple Flying, dari 12 bandara internasional di UEA, tentu yang paling masyhur adalah Bandara Internasional Abu Dhabi (AUH) dan Bandara Internasional Dubai (DXB). AUH, atau bandara terbesar kedua di UEA, adalah homebase maskapai Etihad. Adapun DXB, bandara terbesar di UEA yang juga maskapai tersibuk keempat di dunia, merupakan homebase maskapai Emirates.

Selain dua itu, ada 10 bandara lainnya yang sebetulnya juga memiliki fasilitas tak kalah mentereng. 10 bandara tersebut yaitu:

Bandara Eksekutif Al Bateen (AZI). Bandara eksekutif dekat Abu Dhabi. Ini adalah bandara utama sebelum AUH dibangun pada 1980an.

Bandara Internasional Al Ain (AAN). Terletak di Timur Laut Abu Dhabi, melayani beberapa penerbangan regional.

Bandara Internasional Dubai World Central atau Al Maktoum (DWC). Bandara dibuka pada tahun 2010 dan saat ini melayani beberapa maskapai penerbangan regional. Renovasi besar-besar sudah dimulai dan diperkirakan akan selesai pada tahun 2027.

Bandara Internasional Fujairah (FJR). Saat ini hanya mengoperasikan penerbangan kargo.

Bandara Internasional Sharjah (SHJ). Bandara penumpang dan di utara UEA. Ini adalah main homebase untuk maskapai LCC Air Arabia dan juga melayani beberapa maskapai India dan Asia lainnya.

Bandara Internasional Ras Al Khaimah (RKT). Terletak di ujung utara UEA, melayani beberapa penerbangan regional, termasuk SpiceJet dan Air Arabia.

Bandara Sir Bani Yas (XSB). Bandara kecil yang melayani Pulau Sir Bai Yas di selatan UEA. Dulunya memiliki layanan domestik ke Abu Dhabi, tetapi ini dihentikan pada tahun 2017.

Terlepas dari berbagai perbedaan atau fungsi masing-masing bandara internasional di UEA, yang pasti, hanya ada satu alasan spesifik mengapa Negara Teluk tersebut memiliki banyak bandara internasional.

Alasannya lebih ke bentuk pemerintahan. UEA diketahui memiliki tujuh Emirat, yaitu Abu Dhabi (sumber minyak UEA), Ajman, Dubai (kota terbesar di UEA), Fujairah, Ras Al Khaimah, Sharjah, dan Umm Al Quwain.

Masing-masing Emirat memiliki wilayah, pemerintahan, dan penguasa sendiri. Mereka berhak untuk mengontrol, membuat kebijakan, dan mengatur keuangan sendiri; termasuk membangun dan mengelola bandara sendiri.

Baca juga: Etihad Kerja Sama dengan Bandara Abu Dhabi Hadirkan Kursi Roda Otomatis

Maka dari itu, tak heran bila lima dari tujuh Emirates (Abu Dhabi, Dubai, Fujairah, Ras Al Khaimah, dan Sharjah) memutuskan membangun dan mengelola bandara internasional sendiri, alih-alih terpusat di satu bandara besar.

Selain itu, sistem pemerintahan UEA juga tak mengherankan dua emirat di antaranya memiliki dua maskapai yang saling sikut sekalipun berada di satu negara yang sama, Emirates, yang jadi andalan Emirat Dubai, dan Etihad, maskapai dari Emirat Abu Dhabi.

Bosan Menggunakan Masker? Tips ini Mungkin Bisa Membantu

Masker kini menjadi kebutuhan sehari-hari yang digunakan ketika keluar rumah untuk mencegah terpapar dari virus corona. Bahkan sudah lebih dari setahun penggunaan masker sejak pandemi dimulai dan membuat banyak orang mulai bosan serta tidak nyaman menggunakan masker wajah saat keluar.

Baca juga: Masker Puricare Wearable Air Purifier LG Dilengkapi Mikrofon dan Speaker

Selain sesak ketika bernapas karena penggunaan masker dalam jangka waktu yang lama, keringat pun menjadi salah satu alasan utama. KabarPenumpang.com melansir dari laman yahoo.com (1/7/2021), ada beberapa tips yang membantu seseorang nyaman dan tenang saat menggunakan masker.

Pilih pagi atau malam hari untuk melakukan tugas dan hindari keluar di siang hari. Ini karena di waktu tersebut membuat pengguna masker nyaman. Jika menggunakan masker di siang hari cuaca terik akan membuat orang kelelahan dan membuat keringat.

Selain itu, setiap orang harus menyiapkan masker cadangan. Sebab ketika masker terkena keringat tidak hanya kurang nyaman digunakan, tetapi efektivitasnya juga terganggu. Anda juga harus membuang masker bekas pakai dengan benar.

Menggunakan masker juga bisa membuat orang cenderung lupa minum sepanjang hari. Ini bisa menyebabkan dehidrasi dan konsekuensi yang lebih paraha karena laposan perlintungan tambahan pada hidung dan mulut.

Sehingga ketika haus baiknya Anda membuka masker untuk minum. Tetapi diharapkan ketika berada di keramaian menjauh sebelum melepas masker untuk minum. Gunakan juga pakaian yang bisa menyerap keringat agar tubuh tetap sejuk.

Dengan memilih pakaian yang ringan dan longgar, adalah salah satu cara efektif untuk menjaga tibuh tetap sejuk saat menggunakan masker. Menahan diri menggunakan pakaian gelap adalah untuk menghindari menyerap lebih banyak panas.

Baca juga: Lebih Jelas Tentang KN95, Masker Standar Cina yang Laris Manis

Saat ini menggunakan masker berlapis yakni medis dan kain atau satu masker N-95 menjadi kebutuhan sehari-hari. Sehingga saat Anda mulai merasa lelah menggunakan masker dan ingin melepasnya sesaat untuk bernapas dengan baik dan benar, jauhi keramaian.






















Pesawat Airbus Sumbang 600 Juta Ton Emisi CO2, Boeing Hanya 158 Juta Ton Emisi CO2

Dalam laporan Scope 3 emissions, Boeing mengumumkan bahwa masing-masing pesawat yang dikirim perusahaan sepanjang tahun 2020 lalu berkontribusi rata-rata 1 juta ton emisi CO2 selama 20 tahun lebih masa pakai pesawat.

Baca juga: Airbus Mulai Kerjakan Tangki Bahan Bakar Hidrogen Pesawat, Boeing Panas-Dingin

Bila dikalkulasi, seluruh pesawat yang dikirim sepanjang tahun 2020 lalu, Boeing memperkirakan akan ada 158 juta ton emisi CO2 yang dihasilkan selama masa pakai pesawat.

Bila dirinci, 136 juta ton emisi CO2 yang dihasilkan terkait langsung dengan penerbangan. Adapun sisanya 22 juta ton emisi CO2 dihasilkan dari produksi perusahaan energi atau bahan bakar untuk keperluan pesawat terbang, Reuters melaporkan.

Angka tersebut tentu jauh lebih rendah dibanding Airbus. Manufaktur Eropa yang sudah lebih dahulu melaporkan Scope 3 emissions pada Februari lalu tersebut, mengaku, seluruh pesawat-pesawatnya diprediksi menghasilkan 600 juta ton emisi karbon dioksida (CO2) sepanjang masa pakai pesawat.

Meski begitu, emisi CO2 yang dihasilkan pesawat-pesawat Boeing lebih sedikit dibanding pesawat-pesawat Airbus, bukan berarti itu lebih efisien. Kuncinya ada pada jumlah pengiriman pesawat serta umur pesawat yang pada akhirnya mempengaruhi jumlah total emisi CO2.

Airbus menyebut telah melakukan 566 pengiriman pesawat sepanjang 2020. Sedangkan Boeing hanya mengirim 157 pesawat sepanjang tahun itu. Dengan begitu, terang saja jumlah emisi karbon dioksida yang dihasilkan pesawat-pesawat Airbus lebih besar daripada Boeing.

Umur pesawat Boeing juga diketahui lebih panjang dibanding umur atau masa pakai pesawat Airbus. Airbus berasumsi rata-rata masa pakai pesawatnya selama 22 tahun. Sedangkan Boeing mengasumsikan masa pakai pesawat single aisle selama 22,8 tahun, pesawat twin aisle selama 21,5 tahun, dan pesawat kargo selama 29,6 tahun.

Justru, bila dihitung berdasarkan emisi CO2 per pesawat, pesawat-pesawat Airbus lebih efisien atau menghasilkan lebih sedikit CO2 dibanding pesawat-pesawat Boeing. Setiap pesawat Airbus diketahui hanya mengeluarkan rata-rata 636.000 ton metrik CO2 dari penerbangan dan 777.000 ton metrik CO2 bila ditambah emisi dari produksi Avtur.

Baca juga: Uni Eropa Kenakan Pajak Tambahan untuk Bahan Bakar Penerbangan, Tiket Bakal Jadi Lebih Mahal?

Boeing sendiri, melalui CEO Dave Calhoun, berjanji pada 2030 tahun mendatang, seluruh pesawat-pesawatnya 100 persen menggunakan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF). Saat ini, seluruh mesin pesawat sedang disertifikasi untuk beroperasi menggunakan campuran bahan bakar fosil dan SAF masing-masing 50 persen.

Sedangkan Airbus, memang lebih lambat lima tahun dalam mengoperasikan penerbangan ramah lingkungan. Tetapi, di tahun 2035, Airbus berkomitmen untuk membuat pesawat lebih hijau atau tanpa emisi atau ramah lingkungan.

Hari Ini, 72 Tahun Lalu, De Havilland Comet, Pesawat Jet Komersial Pertama di Dunia Terbang Perdana

Pada hari ini, 72 tahun lalu, bertepatan dengan 27 Juli 1949, pesawat jet komersial pertama di dunia, De Havilland Comet, berhasil terbang perdana. Ini bukan hanya menandai keberhasilan manufaktur dalam pengembangan pesawat jet melainkan menjadi pembuka tirai dimulainya era penerbangan jet.

Baca juga: De Havilland Comet, Inilah Pesawat Jet Komersial Pertama di Dunia

Dilansir history.com, De Havilland Comet merupakan mahakarya dari desainer pesawat sekaligus pelopor penerbangan Inggris, Sir Geoffrey de Havilland (1882-1965). Sebagaimana Wright Bersaudara yang menjadi pelopor penerbangan dunia, de Havilland juga memulai sepak terjang dirgantaranya dengan merancang sepeda motor serta bus.

Setelah melihat Wright Bersaudara berhasil melakukan penerbangan pertama dengan pesawat bertenaga yang bisa dikendalikan pada 1908, ia terpacu untuk membuat pesawat sendiri. De Havilland berhasil merancang dan mengemudikan pesawat pertamanya pada tahun 1910. Ia kemudian bekerja di pabrikan pesawat Inggris dan membuka perusahannya sendiri, De Havilland Aircraft, pada tahun 1920.

Kemunculan pabrikan pesawat De Havilland Aircraft, ketika itu, bukan hanya mengejutkan industri dirgantara Inggris, melainkan juga dunia. Betapa tidak, di awal kemunculannya, pabrikan tersebut sudah berhasil mengembangkan mesin yang lebih ringan serta pesawat yang lebih cepat dan ramping.

Pada tahun 1939, pesawat tempur Heinkel He 178 buatan Jerman, pesawat jet pertama di dunia, berhasil terbang perdana. Tak tinggal diam, De Havilland juga turut merancang pesawat tempur bertenaga jet selama periode Perang Dunia II. Atas kontribusinya ini, ia bahkan sampai dianugerahi gelar kebangsawanan dan berhak menyandang “Sir” sebagai nama depannya.

Setelah Perang Dunia II selesai, De Havilland Aircraft mulai fokus ke pesawat jet komersial dan mengembangkan De Havilland Comet yang menggunakan mesin Ghost 50 Mk1 hasil pengembangan sendiri.

27 Juli 1949, De Havilland Comet berhasil terbang perdana dan resmi menjadi pesawat jet komersial pertama di dunia. Sebelum masuk ke tahun layanan, De Havilland Comet masih harus menjalani tiga kali uji terbang dan berhasil lolos sertifikasi serta uji kelaikan.

Pada 2 Mei 1952, British Overseas Aircraft Corporation (BOAC) memulai layanan penerbangan jet komersial pertama di dunia dengan De Havilland Comet 1A berkapasitas 44 kursi, dari London ke Johannesburg. Ketika itu, pesawat berhasil melesat dikecepatan 480 mil per jam, rekor tertinggi di dunia.

Tetapi sayang, serangkaian kecelakaan pada tahun 1953 dan 1954 membuat regulator Inggris dan Eropa melarang penerbangan De Havilland Comet. Dari dua kecelakaan tersebut, penyidik menemukan sumber masalahnya berasal dari metal fatigue. Selain itu, jendela pesawat berbentuk kotak dan cukup besar juga menjadi penyebab utama kecelakaan De Havilland Comet.

Empat tahun setelah kecelakaan terakhir, De Havilland Comet yang ditingkatkan dan disertifikasi ulang memulai debut baru.

Baca juga: Hari Ini, 55 Tahun Lalu, Presiden Irak Tewas dalam Kecelakaan Pesawat de Havilland Dove

Tetapi, di saat yang bersamaan, manufaktur pesawat asal AS, Boeing dan Douglas, juga memperkenalkan pesawat jet yang lebih cepat dan lebih efisien. Alhasil, De Havilland Comet, yang notabene sebagai pelopor pesawat jet komersial di dunia, justru ditinggalkan maskapai.

Pada awal 1980an, sebagian besar De Havilland Comet dipensiunkan maskapai dan menjadi lembar penutup perjalanan pesawat di industri dirgantara internasional.

Sejarah Bandara Charles De Gaulle Paris, ‘Saudara Kembar’ Bandara Soekarno-Hatta

Muda bukan berarti tak berprestasi. Kira-kira itulah yang mungkin agak tepat menggambarkan Bandara Charles De Gaulle Paris. Kendati tak lebih tua dibanding bandara lainnya di Eropa bahkan dunia, seperti London Heathrow, Schiphol Amsterdam, dan Bandara John F. Kennedy New York, namun dari segi kunjungan penumpang, Bandara Charles De Gaulle tak kalah dengan bandara-bandara tersebut.

Baca juga: Antara Bandara Soekarno-Hatta dan Charles de Gaulle, Dirancang oleh Arsitek yang Sama

Kemunculan Bandara Charles De Gaulle tak lepas dari dua bandara lainnya di Paris, Bandara Le Bourget (mulai beroperasi tahun 1919) dan Bandara Orly atau Orly-Villeneuve (mulai beroperasi tahun 1932).

Dilansir dari Simple Flying, selama tahun 1950-an dan 1960-an, lalu lintas di kedua bandara tersebut meningkat signifikan. Sayangnya, kedua bandara tersebut tak bisa mengikuti peningkatan traffic penumpang lantaran berada di tengah kota. Hanya pesawat-pesawat dengan ukuran kecil dan sedang saja yang bisa mendarat di sini.

Tentu, bila dibandingkan antar kedua bandara tersebut, Bandara Orly mencatat traffic lebih tinggi dibanding Bandara Le Bourget yang lebih tua.

Sadar dua bandara yang ada di pusat kota Paris tersebut tak lagi mampu menampung peningkatan lalu lintas penumpang, otoritas Perancis pun mulai bergerak mencari lokasi bandara baru pada tahun 1957. Setelah melalui berbagai proses, daerah di dekat Kota Roissy pun dipilih sebagai lokasi bandara.

Wilayah ini menjadi lokasi favorit bandara ketiga di Kota Paris lantaran masih agak tertinggal, dimana mayoritas wilayahnya berupa lahan pertanian. Selain itu, belum banyak atau bisa dibilang hampir tak ada bangunan tinggi di sini. Jadi, sangat memudahkan dalam proses pembangunan.

Pembangunan bandara baru yang awalnya dikenal sebagai Paris-Nord Aiport tersebut dimulai pada tahun 1964. Dalam proses pembangunan, nama bandara kemudian diubah menjadi Charles de Gaulle, diambil dari mantan presiden Perancis yang wafat pada tahun 1970.

Sejak awal, Bandara Charles De Gaulle Paris memang didesain untuk menjadi bandara besar di masa mendatang. Karenanya, disiapkan lahan seluas 12,5 mil persegi untuk bandara ini, sangat besar dibanding Bandara London Heathrow yang berdiri di atas lahan seluas 4,7 mil persegi.

Terbukti, ketika kemunculan pesawat besar seperti Boeing 747 dan Airbus A380, Bandara Charles de Gaulle jadi salah satu yang paling siap menerimanya dibanding Bandara London Heathrow.

Bandara Charles De Gaulle resmi beroperasi pada tahun 1974 dengan satu terminal. Bandara yang dirancang oleh arsitek Perancis, Paul Andreu, (arsitek yang juga merancang Bandara Soekarno-Hatta), tersebut berhasil menjalankan fungsinya dengan baik sebagai pengganti dua bandara pendahulunya.

Di tahun pertama beroperasi pada 1970-an, 2,5 juta penumpang hilir-mudik di bandara ini. Pada tahun 1976, jumlahnya meningkat menjadi 7,5 juta penumpang. Di tahun yang sama, pesawat supersonik Concorde hadir dan Bandara Charles De Gaulle jadi yang pertama mengoperasikan penerbangan komersial Concorde bersama Bandara London Heathrow.

Baca juga: Mulai 1 Agustus, Bandara Charles de Gaulle Paris Wajibkan Pelancong dari 16 Negara Tes Swab

Semakin banyak penumpang, terminal 2 pun resmi dibuka pada tahun 1981. Tetapi, desainnya berbeda dengan terminal 1 yang bergaya gurita. Setahun berikutnya sampai tahun 2003 terminal 2B-2E resmi beroperasi. Pada periode itu juga dibangun terminal 3.

Di tahun 2020 lalu, terminal 4 berencana segera dibangun dengan biaya US$10,5 miliar. Tetapi, rencana ini masih tertahan mengingat anjloknya pertumbuhan penumpang udara selama pandemi virus Corona sampai dengan saat ini.

Ini Dia Wally Funk, Orang Tertua dalam Sejarah Pergi ke Luar Angkasa

Usia 82 tahun dan menjadi orang tertua dalam sejarah yang pergi ke luar angkasa pekan ini. Dia Adalah Wally Funk yang bergabung dengan Jeff Bezos, Mark Bezos dan Oliver Daemen dalam penerbangan luar angkasa Blue Origin New Shepard.

Baca juga: FAA Ubah Definisi Astronot, Blue Origin Jeff Bezos ‘Keok’ dari Virgin Galactic Richard Branson

Wally ternyata sebelum pergi ke luar angkasa, memiliki hubungan yang kuat dengan eksplorasi ruang angkasa selama karirinya. KabarPenumpang.com merangkum simpleflying.com (25/7/2021), Mary Wallace Funk yang dikenal dengan Wally sudah tertarik dengan pesawat sejak usia muda.

Dia terpesona saat mendekati Douglas DC-3 ketika orang tuanya membawanya ke bandara terdekat. Kecintaan pada pesawat ini akan memacu Funk untuk membuat beberapa rekor dalam penerbangan. Setelah lulus dari Stephens College di Columbia, Missouri dengan lisensi pilot dan gelar Associate of Arts pada tahun 1958, ia melanjutkan studinya di Oklahoma State University dan memperoleh banyak sertifikat pilot serta gelar Bachelor of Science dalam pendidikan menengah.

Wally kemudian menjadi instruktur penerbangan wanita pertama di pangkalan militer Amerika Serikat setelah dia mengambil pekerjaan sebagai Instruktur Penerbangan Sipil untuk perwira militer yang tidak ditugaskan dan ditugaskan di Fort Sill, Oklahoma. Yang paling mengesankan adalah saat Wally mengejar karir di bidang penerbangan, dia juga membuat gelombang di industri luar angkasa.

Pada pergantian tahun 1960-an, dia mendengar tentang program pengujian kebugaran astronot wanita yang didanai secara pribadi yang dijalankan oleh ahli bedah penerbangan tidak resmi NASA, W. Randolph Lovelace II. Menariknya, 13 wanita dalam program tersebut sebagian besar menjalani pengujian sendiri, hampir tidak bertemu satu sama lain.Wally adalah salah satu dari tiga wanita dalam kelompok yang berhasil mencapai fase pengujian kedua.

Saat itu Wally berusia 20-an dan sudah membuktikan bahwa dia memiliki apa yang diperlukan. Sayangnya, program tersebut akhirnya akan dibatalkan.

“Bahkan tanpa persahabatan untuk memberikan dukungan moral, Wally berhasil dengan baik dalam berbagai tes yang telah dibangun Yayasan Lovelace untuk mendeteksi kemungkinan kerentanan fisik pada calon penjelajah ruang angkasa. Dia adalah satu dari hanya tiga wanita yang menjalani pengujian tahap kedua: pemeriksaan psikologis di rumah sakit VA di Oklahoma City, yang termasuk waktu di tangki deprivasi sensorik,” kata Smithsonian Air and Space Museum.

Tetapi pada tahun 1961, ketika para wanita bersiap untuk berkumpul sebagai sebuah kelompok di Pensacola, Florida, untuk tes aeromedis lanjutan yang akan mencakup waktu di pesawat jet, mereka menerima telegram yang mengumumkan bahwa proyek pribadi Lovelace tiba-tiba dibatalkan. Karena NASA tidak memiliki program astronot wanita resmi, Angkatan Laut mencabut izinnya untuk menggunakan fasilitasnya.

Meski tak mencapai tujuan, dia terus melakukan terobosan di sektor penerbangan dengan menjadi inspektur penerbangan untuk Administrasi Penerbangan Federal (FAA). Wally telah mencapai karir yang kuat dalam penerbangan, bekerja di beberapa pos terpenting di Amerika Serikat. Namun, keinginannya untuk pergi ke luar angkasa tidak pudar.

“Saya tahu apa yang ingin saya lakukan dan saya ingin pergi ke luar angkasa. Dan saya masih akan pergi ke luar angkasa. Dan jika saya berusia seratus [tahun], saya masih akan pergi ke luar angkasa. Bagaimanapun,” kata Wally.

Baca juga: Cina Sukses Kirim Astronot ke Stasiun Luar Angkasa, AS Panik

Jadi, enam dekade setelah rutenya ke luar angkasa awalnya ditutup, Wally akhirnya berhasil di tengah program Blue Origin. Dia adalah contoh utama tentang bagaimana tidak ada kata terlambat untuk menyerah pada impian Anda. Wally tidak hanya duduk-duduk dan menunggu kesempatan, aktivitasnya selama bertahun-tahun menjaga momentum selama beberapa dekade. Meskipun demikian, dia tidak berhenti percaya dan mengakui bahwa dia tahu pada akhirnya dia akan berhasil.

Intip Detail Interior-Eksterior Lego Airbus A380 yang Dibuat Selama 10 Bulan

Lego, sejenis alat permainan bongkah plastik kecil yang terkenal di dunia, sejak pertama kali ditemukan oleh Ole Kirk Chiristiansen asal Denmark pada 1930an sampai sekarang, berhasil disusun sedemikian rupa oleh tangan-tangan kreatif sampai membentuk replika banyak objek, seperti mobil, kereta api, gedung, patung, robot, hingga pesawat.

Baca juga: (Video) Pertama Kalinya, Pesawat Ulang-Alik Buran Meluncur dari ‘Punggung’ Replika Antonov An-225 Mriya

Terkait pesawat, YouTuber BigPlanes mungkin jadi salah satu yang familiar. Lewat channel tersebut, kreator konsisten menampilkan berbagai replika pesawat yang dibangun dari Lego. Terbaru, BigPlanes mengunggah Lego dari pesawat komersial terbesar di dunia, Airbus A380 Emirates.

Dilihat KabarPenumpang.com dari kanal YouTube BigPlanes, lego Airbus A380 Emirates buatannya bukan hanya fokus pada eksterior belaka melainkan juga mencakup interior. Selain itu, detail-detail sebagaimana umumnya pesawat, seperti mesin, landing gear system, ban, flap and slat, pintu, kokpit, sampai konfigurasi kelas ekonomi, bisnis, dan first class pun juga dihadirkan BigPlanes.

Replika pesawat berukuran lebar sayap tujuh kaki, panjang enam kaki, dan tinggi tiga kaki tersebut diketahui berhasil dibangun menggunakan 40 ribu bata Lego. Tak ayal, dengan banyaknya bata Lego dan detail-detail lengkap replika pesawat, sang kreator membutuhkan waktu setidaknya 10 bulan untuk menyelesaikannya.

Dari segi eksterior, seluruhnya nyaris sempurna menyerupai pesawat asli Airbus A380 Emirates. Livery-nya bisa dibilang sempurna mirip dengan aslinya. Kelap-kelip lampu di pesawat juga tak luput dari sang kreator.

Meski tak selengkap lampu yang terpasang di body luar pesawat asli, tetapi kehadiran beacon light berwarna merah di bagian atas badan pesawat, rasanya sudah cukup mewakili lampu eksterior lainnya di pesawat, yaitu navigation light dan strobe light.

Masih di ranah eksterior, Lego pesawat Airbus A380 Emirates karya BigPlanes juga dilengkapi dengan landing gear, pintu kompartemen kargo, vertical dan horizontal stabilizer, flap and slat, sampai mesin Rolls Royce.

Hanya saja, berbeda dengan flap and slat dan mesin yang bisa digerakkan melalui aplikasi di ponsel, landing gear system, pintu kompartemen kargo, vertical dan horizontal stabilizer tidak bisa digerakkan otomatis, melainkan secara manual oleh kreator. Kendati demikian, itu tidak mengurangi kesempurnaan dari Lego Airbus A380 ini.

Baca juga: Lego Hadirkan Replika Stasiun Kereta Disneyland dan Bisa Digerakkan

Berlanjut ke bagian interior, tampak sangat lengkap dengan kehadiran kru, penumpang, dan pilot, di kabin dua lantai dan kokpit. Konfigurasinya juga detail sekali perbedaannya antara kelas ekonomi, bisnis, dan first class.

Kreator juga menghadirkan beberapa representatif dari masing-masing kelas, seperti first-class bars dan luxury suites, lengkap dengan hidangan berupa ayam panggang dan lainnya. Ada juga sleeping quarter dan pantry untuk kru. Sangat lengkap, bukan?