Profil Jeff Bezos, ‘Keturunan’ Imigran Kuba yang Sukses di AS Bersama Amazon.com

Jeff Bezos belum lama ini menjadi sorotan usai berhasil berkelana ke luar angkasa melalui perusahaan Blue Origin yang didirikannya sejak 2000 lalu. Terlepas dari itu, pria yang menyandang nama “Bezos” dari ayah angkatnya yang seorang imigran asal Kuba ini memang selalu menjadi sorotan publik. Hal itu tak lepas dari statusnya sebagai orang terkaya di dunia.

Baca juga: Wow, Naik Balon Udara Sekarang Bisa Sampai Luar Angkasa, Tarifnya Cuma Rp1,7 Miliar

Perjalanan Jeff Bezos sebagai orang terkaya di dunia memang tidak instan. Sebagaimana kisah sukses tokoh dunia lain, Jeff Bezos juga memulai karirnya dari bawah, bukan mewarisi kekayaan keluarga.

Dilansir biography.com, Jeff Bezos berasal dari keluarga sederhana. Ibunya Jacklyn Gise Jorgensen dan Ted Jorgensen merupakan pekerja kantoran biasa. Sejak kecil, Jeff Bezos muda bahkan mendapat kehidupan pahit karena seringnya menyaksikan pertengkaran antara kedua orang tuanya.

Pria kelahiran 12 Januari 1964 ini baru bisa lepas dari bayang-bayang pertengkaran kedua orang tuanya saat umur 4 tahun. Ketika itu, ibunya memutuskan cerai dengan ayah kandung Jeff Bezos yang disebut egois dan tukang mabuk. Jackie, panggilan ibunda Jeff Bezos, kemudian menikah lagi dengan imigran asal Kuba, Mike Bezos.

Setelahnya, Jeff berganti nama, dari sebelumnya menyandang nama keluarga Jorgensen menjadi menyandang nama “Bezos” dari ayah tirinya. Mike Bezos juga bukan orang sembarangan. Ia merupakan pekerja sukses sebagai insinyur perminyakan di ExxonMobil.

Kesuksesan Jeff Bezos juga tak lepas dari ayah tirinya itu. Ketika merintis bisnis Amazon.com, Jeff Bezos mendapat suntikan dana besar US$300 ribu dari ayah tiri dan ibunya.

Terlepas dari itu, Jeff Bezos muda sebetulnya memang sudah potensial dengan kekayaan. Sejak SMA, Jeff Bezos bahkan sudah merintis bisnis Dream Istitute, sejenis bisnis event organizer, yang mengadakan event tahunan untuk anak kelas 4, 5, dan 6 SD.

Tetapi sayang, ide bisnisnya tak muncul selama kuliah. Nyaris tak ada gebrakan bisnis selama ia mengenyam pendidikan sarjana di Universitas Princeton sampai berhasil lulus di bidang ilmu komputer dan teknik elektro. dengan predikat summa cumlaude pada tahun 1986.

Setelah lulus, Jeff Bezos sempat bekerja di beberapa perusahaan besar di AS, seperti Wall Street, termasuk Fitel, Bankers Trust, dan perusahaan investasi DE Shaw. Pada tahun 1990, Bezos menjadi vice presiden termuda DE Shaw.

Di puncak karirnya, Jeff Bezos justru banting setir bisnis e-commerce untuk membuka toko buku online. Di awal, perusahaan toko buku online yang didirikan Jeff Bezos dinamakan Cadabra. Tetapi pada 16 Juli 1995, itu diubah menjadi sungai ternama di AS, Amazon.

Awal merintis Amazon.com, Jeff Bezos memanfaatkan garasi rumahnya sebagai laboratorium bisnisnya sekaligus kantor. Beberapa pekerja direkrutnya untuk membantu mengembangkan platform Amazon.com.

Ketika itu, tak ada yang menyangka bahwa bisnis Amazon.com berhasil melesat dengan sangat cepat. Tahun 1997, Amazon.com go public dan memperluas bisnisnya. Pendapatan bisnis melonjak puluhan kali lipat dari hanya US$510.000 pada tahun 1995 menjadi lebih dari US$17 miliar pada tahun 2011.

Setelah sukses bersama Amazon.com, Jeff Bezos mulai mendirikan dan mengakuisisi beberapa perusahaan seperti Amazon Instant Video & Amazon Studios, Amazon Drones, Blue Origin, The Washington Post, Whole Foods, Fire Phone, Kindle E-Reader, Alexa, sampai perusahaan kesehatan.

Selain itu, sebagaimana Bill Gates, Jeff Bezos juga mendirikan beberapa LSM, seperti Bezos Day One Fund dan Earth Fund.

Baca juga: Richard Branson – Sosok Pengidap Disleksia di Balik Nama Besar Virgin Ltd

Kendati sudah sukses, namun kehidupan rumah tangganya berantakan. Setelah menikah pada 1993 dan dikarunia dikaruniai empat orang anak, tiga laki-laki dan satu perempuan (anak angkat dari Cina), Jeff Bezos memutuskan cerai dengan istrinya, Mackenzie Tuttle Bezos, yang sangat berjasa menemani kesuksesannya di awal-awal Amazon.com berdiri. Ia kemudian mundur sebagai CEO Amazon pada Februari 2021.

Terminal 4 Changi Disiapkan untuk Tangani Penumpang dari Negara dengan Risiko Covid-19 Tinggi

Otoritas Singapura mempersiapkan Terminal 4 Bandara Internasional Changi untuk pendatang dari negara dengan tingkat infeksi Covid-19 yang sangat tinggi. Opsi ini dipertimbangkan karena T4 memiliki kapasitas lebih besar dari Terminal 2.

Baca juga: Otentikasi Penumpang Negatif Covid-19, Bandara Changi Hadirka Universal Verifier Affinidi

Menteri perhubungan Singapura, S Iswaran mengatakan, Terminal 2 saat ini juga tengah dalam renovasi sejak Mei tahun lalu dan ditutup untuk semua pengunjung. Meski begitu ada sebagian yang dibuka kembali untuk menangani penumpang dari tempat yang dianggap memiliki “risiko sangat tinggi” infeksi, setelah pecahnya klaster Covid-19 di bandara yang melibatkan 43 pekerja pada Mei tahun ini.

“Jika kita dapat menggunakan Terminal 4, maka itu meningkatkan kemampuan kita untuk menangani arus dari negara-negara yang sangat berisiko tinggi,” ujar Iswaran yang dikutip KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (7/7/2021).

Dia mengatakan bahwa berbagai lembaga yang terlibat sekarang sedang mengerjakan opsi ini, tetapi tidak memberikan batas waktu kapan itu bisa diterapkan. Sebab ini sulit untuk menentukan apakah pengaturan untuk repurpose di Terminal 2 dan Terminal 4  akan permanen.

“Saya akan mengatakan bahwa pola pikir yang kami adopsi adalah satunya bersiap untuk yang terburuk, berharap yang terbaik dan beradaptasi sebaik mungkin, dan merespons dengan cepat situasi yang berkembang,” katanya.

Iswaran memaparkan beberapa langkah yang telah dilakukan sejak klaster Bandara Changi, yakni bandara sekarang dipisahkan menjadi zona fisik. Dermaga penurunan, toilet, ruang imigrasi kedatangan dan sabuk pengambilan bagasi sekarang terpisah untuk penumpang dari tempat-tempat dengan tingkat risiko yang berbeda.

Dia mengakui bahwa perubahan alur kerja akan mengakibatkan stres lebih lanjut bagi pekerja. Kementerian Perhubungan bekerja sama dengan para pemimpin serikat pekerja dan pelaku industri untuk membantu para pekerja beradaptasi. Iswaran juga menguraikan tentang tindakan pencegahan yang dipraktikkan di bus sewaan pribadi yang mengangkut pelancong dari tempat-tempat berisiko tinggi ke fasilitas pemberitahuan tinggal di rumah mereka.

Dia mengatakan kepada Gerald Giam (Aljunied GRC) bahwa bus dibersihkan dan didesinfeksi setelah setiap perjalanan. Pengemudi bus dilatih untuk mengenakan peralatan pelindung, termasuk masker N95 dan gaun pelindung. Mereka telah divaksinasi lengkap dan menjalani tes Covid-19 secara teratur.

“Wisatawan tidak diperbolehkan duduk di dekat pengemudi, dan hanya menempati bagian belakang kendaraan. Jumlah penumpang yang diperbolehkan di setiap bus juga dibatasi kurang dari setengah kapasitas totalnya untuk memastikan jarak aman yang memadai antara pemudik,” kata Iswaran.

Baca juga: Lindungi Kesehatan Penumpang, Bandara Changi Kenalkan Sistem Zonasi Terbaru

Dia juga mengatakan, penumpang yang datang dari negara yang dianggap kurang berisiko dalam hal infeksi Covid-19 akan diizinkan untuk pulang menggunakan moda transportasi lain. Namun mereka tetap harus menjalani tes swab setibanya di Singapura.






















Sudah Tahu Perbedaan Qantas dan QantasLink? Simak Di Sini Jika Belum

Selain Qantas, Qantas Group juga membawahi maskapai Jetstar, Jetstar Asia Airways, Network Aviation, dan QantasLink. Dengan jaringan luas di pasar domestik dan internasional, Qantas memang tak sanggup melahap seluruh potensi pasar. Itulah mengapa maskapai-maskapai tersebut lahir. Khusus untuk QantasLink, sebetulnya apa perbedaannya dengan Qantas?

Baca juga: Baling-Baling Mati Sebelah, Penerbangan QantasLink Dash 8 Terpaksa “Return to Base”

Dilansir Quora, dari segi rute dan segmentasi pasar serta turunannya, Qantas dan QantasLink jauh berbeda. QantasLink fokus pada rute-rute regional Australia yang tak sanggup diambil oleh Qantas. Sedangkan Qantas fokus pada rute-rute internasional yang tak sanggup dijalani QantasLink.

Selain itu, Qantas juga mengoperasikan rute-rute gemuk domestik, seperti dari ibu kota negara, Canberra, ke beberapa bandara regional utama; Gold Coast, Alice Springs, Launceston, dan Cairns. Umumnya Qantas mengerahkan Boeing 737-800 atau Airbus A330 pada rute-rute tersebut.

QantasLink bisa dibilang menjalankan fungsi feeder bagi Qantas, menghubungkan banyak kota-kota kecil di Australia ke hub Qantas. Berbeda dengan maskapai induknya, QantasLink menggunakan pesawat-pesawat yang lebih kecil, seperti A320, Boeing 717, Fokker 100, Embraer E190, Bombardier Dash 8 (Q400), Q300, dan seri 200.

Lebih spesifik lagi, armada Airbus A320 dan Fokker 100 QantasLink juga diplot sebagai maskapai charter serta penerbangan jarak jauh ke luar Australia.

Saat on board atau dalam penerbangan, berbagai fitur yang ditawarkan Qantas dan QantasLink nyaris serupa; termasuk seragam, kru, katering, dan sebagainya. Maklum, keduanya merupakan satu grup. Tetapi, tentu Qantas memiliki beberapa fitur tambahan, seperti inflight WiFi dan kelas bisnis di semua armada pesawat.

Dari segi konektivitas di tataran regional, keduanya bisa dibilang saling melengkapi satu sama lain. Penerbangan dari Port Lincoln (PLO) ke Adelaide (ADL), misalnya, bisa tersambung dengan Melbourne (MEL) menggunakan Qantas dan berlanjut ke jaringan internasional maskapai, seperti Los Angeles (LAX) menggunakan Boeing 787 Dreamliner Qantas.

Pada skema ini, penumpang tak perlu khawatir dengan bagasi. Dimana penumpang ingin turun, di sanalah bagasi berada. Tak perlu takut bagasi tercecer di luar bandara tujuan penumpang.

Baca juga: Qantas Pinjamkan Replika First Class Lounge Boeing 747 Bekas Syuting ke Museum

Dari segi sejarah, QantasLink sebetulnya sangat berbeda dengan Qantas. Qantas merupakan sebuah entitas yang sejak awal didesain untuk menjadi maskapai seperti sekarang. Sedangkan QantasLink merupakan hasil akuisisi beberapa maskapai regional Australia oleh Qantas Group, seperti Sunstate Airlines, Australian Airlines, Eastern Australia Airlines, dan Alliance Airlines.

Kendati berdiri dari hasil gabungan empat maskapai yang diakuisisi, identitas dari keempatnya sudah dilebur menjadi satu kesatuan bingkai bisnis QantasLink, yang tentu saja mengekor pada Qantas.

Terbukti Mudahkan Penumpang, Paspor Kesehatan Digital IBM Kini Digunakan 450 Maskapai Lebih

Perjalanan udara selama pandemi Covid-19 amat merepotkan. Penumpang pesawat setidaknya diharuskan untuk hadir empat jam sebelum keberangkatan untuk memeriksa berbagai kredensial atau dokumen, seperti surat keterangan bebas Covid-19, surat keterangan perjalanan, sertifikat vaksin Covid-19, ditambah tiket penerbangan dan identitas diri.

Baca juga: ANA Uji Coba Aplikasi “CommonPass” Pertama Kali Pada Dua Orang Penumpang

Di beberapa negara seperti Indonesia, penumpang juga diminta mengisi kartu kewaspadaan kesehatan (Health Alert Card/HAC) dan formulir penyelidikan epidemiologi yang diberikan personel KKP.

Pada April lalu, di Inggris, tepatnya di Bandara Heathrow London, penumpang pesawat bahkan harus menunggu enam jam, semata untuk pengecekan berbagai dokumen sebagai syarat, sebelum diizinkan terbang. Proses itu bisa menjadi lama karena dokumen tersaji dalam berbagai bahasa sesuai negara asal penumpang serta sistem pengecekannya berbasis hardcopy atau berkas secara langsung.

Melihat hal itu, salah satu perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS), IBM, akhirnya meluncurkan paspor kesehatan digital yang dinamakan IBM Digital Health Pass. Dengan paspor kesehatan digital tersebut, penumpang cukup menscan kode QR yang dikirim ke email masing-masing saat di gate.

Penumpang kemudian mengunggah berbagai dokumen dan teknologi backend dari IBM akan mengotentikasi apakah dokumen yang diunggah sudah sesuai persyaratan atau belum. Karena aplikasi sudah disetting dalam berbagai bahasa dunia, proses otentikasinya pun jauh lebih cepat dibanding proses otentikasi secara manual oleh petugas.

Teknologi backend ini juga memudahkan kesesuaian berbagai syarat perjalanan dari masing-masing negara, mengingat mereka mempunyai persyaratan khusus yang khas selain persyaratan lain yang cenderung umum.

Data pribadi penumpang juga tetap aman dengan teknologi enkripsi blockchain, yang menghilangkan kebutuhan untuk mengumpulkan dan menyimpan data pribadi oleh petugas.

Saat ini, aplikasi paspor kesehatan digital IBM sudah digunakan oleh 474 maskapai penerbangan di seluruh dunia, termasuk Air Europa, Air Corsica, French Bee, Air Caraibes, Air Canada, dan Norwegian Air Shuttle, di bawah kontrol Amadeus sebagai penyedia jasa sistem reservasi.

Menurut Christian Warneck, oversees travel safety Amadeus, paspor kesehatan digital ini sangat membantu untuk mengurangi antrean dan memangkas waktu tunggu penumpang selama pengecekan.

“Ini menghindari pemeriksaan yang rumit dan memakan waktu saat bepergian, dan menambah jaminan lebih lanjut kepada maskapai dan penumpang mereka,” jelasnya.

Di tempat terpisah, Greg Land, pakar perjalanan dan transportasi IBM, paspor kesehatan digital akan mendorong digitalisasi seluruh dokumen yang ada, seperti paspor, kartu identitas, dan lain sebagainya, sesuatu yang langkah sebelum adanya pandemi virus Corona.

Baca juga: Keren, Denmark Luncurkan Paspor Digital Covid-19, Seperti Apa?

“Bahkan sebelum pandemi, kami mulai melihat antrean panjang di bandara dan tempat-tempat lain dan itu membuat kami berpikir bahwa kami hanya perlu menemukan cara untuk membawa transformasi digital itu ke tingkat berikutnya,” ujarnya, seperti dikutip dari qz.com.

“Sungguh menyedihkan bahwa dibutuhkan pandemi untuk mendapatkan kemajuan dalam membangun standar-standar ini seputar kredensial digital. Tapi saya pikir apa yang kita alami saat ini, terutama dengan maskapai penerbangan dan perusahaan perjalanan lainnya, membantu kita menyadari manfaat beralih ke ID digital seperti paspor atau SIM,” tutupnya.

Gerbong Tidur Baru Rajdhani Express yang Dilengkapi Fitur Cerdas

Meski pandemi masih melanda dunia dan India baru menghadapi tsunami Covid, tetapi kereta api terus menghadirkan hal baru. Bukan hanya rumah sakit dengan menggunakan gerbong kereta api, tetapi menghadirkan beberapa keunggulan terbaru untuk kenyamanan penumpang mereka.

Baca juga: Rajdhani Express Kembali Beroperasi, Indian Railways: Tidak Ada Selimut dan Makanan

Di mana era baru pengalaman perjalanan kereta api dengan kenyamanan yang ditingkatkan sedang diluncurkan oleh Western Railway. KabarPenumpang.com melansir laman sumber thestatesman.com (20/7/2021), yang mana West Railway memperkenalkan garu gerbong tidur Tejas yang baru ditingkatkan.

Ini terlihat dari adanya gerbong berwarna emas cerah yang dilengkapi dengan fitur cerdas yang sudah disempurnakan. Gerbong tersebut diperkenalkan untuk menjalankan kereta Mumbai Rajdhani Express yang bergengsi di Western Railway dan mengklaim menawarkan pengalaman perjalanan terbaik di kelasnya.

Gerbong baru ini melakukan peluncuran perdananya mulai Senin (19/7/2021). Sumit Thakur, Chief Public Relations Officer Western Railway mengatakan, garu Kereta No02951/52 Mumbai – New Delhi Rajdhani Special Express yang ada sedang diganti dengan gerbong jenis Tejas baru.

Dua  gerbong tidur tipe Tejas tersebut telah disiapkan untuk dijalankan sebagai Rajdhani Express. Dari dua garu ini, satu garu terdiri dari gerbong tidur Tejas Smart eksklusif, yang pertama kali diperkenalkan di Indian Railway.

Kereta baru akan memiliki fitur pintar khusus untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan penumpang. Kehadiran gerbong pintar bertujuan untuk memberikan fasilitas kelas dunia kepada penumpang dengan bantuan sistem berbasis sensor cerdas.

Dilengkapi dengan Passenger Information and Coach Computing Unit (PICCU) yang didukungi dengan konektivitas jaringan GSM untuk konektivitas jarak jauh ke server. PICCU akan merekam data WSP, rekaman CCTV, sensor bau toilet, sakelar panik dan item lainnya yang terintegrasi dengan sistem deteksi dan alarm kebakaran, sensor kualitas udara dan filter choke dan pengukur energi.

Baca juga: Tejas Express, Kereta Api India Pertama yang Akan Dioperasikan Swasta

Thakur menyatakan bahwa dengan penggunaan Tejas SMART Coach, Indian Railways bertujuan untuk beralih ke perawatan prediktif daripada perawatan preventif.

Flight Number Paling Prestisius di Dunia, Salah Satunya Ada di Asia Tenggara!

Sebuah rute terkesan prestisius, mewah, dan elegan saat menggunakan flight number atau nomor penerbangan istimewa. Itu bisa dilatarbelakangi momentum, sejarah, perkembangan teknologi, penerbangan sangat spesial, dan sebagainya.

Baca juga: Misteri Teror Hantu Pesawat Eastern Airlines dengan Nomor Penerbangan 401

Gelar flight number paling terkenal bisa dibilang dipegang oleh British Airways dan Air France saat memulai layanan penerbangan supersonik Concorde dari London dan Paris ke JFK; BA001 dan AF001.

Di dunia, flight number spesial banyak sekali. Agustus mendatang saja, sudah ada belasan daftar rencana penerbangan yang menggunakan flight number spesial, mulai dari Emirates EK1 dari Dubai ke London Heathrow dengan A380, Turkish Airlines dari Bandara Istanbul ke New York JFK, Aeromexicodari Meksiko City ke Madrid, El Al dari Tel Aviv ke New York JFK, sampai Delta Airlines dari New York JFK ke London Heathrow.

Kemudian, ada lagi rute LOT Polish dari Warsawa ke Chicago O’Hare, Finnair dari Helsinki ke Los Angeles, Etihad dari Abu Dhabi ke Frankfurt, ANA dari Washington Dulles ke Tokyo Narita, Japan Airlines dari San Francisco ke Tokyo Haneda, WestJet dari Calgary ke London Gatwick, Biman Bangladesh dari Dhaka ke London Heathrow, serta ZIPAIR dari Honolulu ke Tokyo Narita. Rata-rata dari mereka menggunakan flight number prestisius 001 (flight one).

Selain itu, seperti dikutip dari Simple Flying, ada nyaris 30 rute lain yang seluruhnya juga menggunakan nomor penerbangan 001 non-stop, seperti Cape Air dari White Plains-Provincetown, Sky Express dari Athena ke Kozani, Safarilink dari Nairobi Wilson ke Massai Mara, Ravn dari Dutch Harbor ke Anchorage, Lufttransport dari Bodø ke Værøy (helikopter), Auric Air dari Danau Manyara ke Grumeti (Tanzania), dan Nauru Airlines dari Nauru ke Brisbane.

Kendati umumnya penerbangan yang menggunakan flight number spesial 001 terjadi pada rute-rute jauh, pada rute-rute dekat antar-kota di sebuah negara juga demikian. Tengok saja penerbangan HA1 Hawaiian dari Los Angeles ke Honolulu.

Penerbangan tersebut menggunakan pesawat A330-200 berkapasitas 278 kursi, berangkat dari California pada pukul 07.00 waktu setempat dan tiba di Hawaii pada pukul 09:45 waktu setempat.

Masih di Amerika Serikat, Alaska Airlines juga menggunakan flight number spesial 001, yaitu AS1, pada rute Washington-Seattle. Tak begitu jelas mengapa maskapai menggunakan nomor penerbangan spesial pada rute ini. Tetapi, disebutkan, rute ini sebagai pengganti dari rute gemuk di masa lalu yang juga menggunakan flight number itu, Fairbanks-Anchorage-Seattle.

Baca juga: Mengenal Arti Kode “PK” di Badan Pesawat Penumpang

Keduanya (rute di atas) termasuk dalam daftar teratas 10 rute terpendek yang menggunakan flight number spesial 001. Adapun delapan lainnya meliputi Spirit dari Fort Lauderdale ke Chicago O’Hare, Nok Air dari Bangkok Don Mueang ke Chiang Mai (mewakili Asia Tenggara), Skymark dari Tokyo Haneda ke Fukuoka, dan Air Macau dari Beijing ke Makau.

Selanjutnya, ada flydubai dari Dubai ke Doha, SAS Airlines dari Luleå ke Stockholm Arlanda, Southwest dari Dallas Love ke Houston Hobby.

Diterpa Gelombang Panas, Dubai Buat Hujan Buatan dengan Drone

Pemanasan global berdampak pada musim yang terjadi di dunia seperti beberapa musim yang tak menentu hingga cuaca ekstrem yang menyebabkan berbagai hal. Seperti yang baru terjadi di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).

Baca juga: Pastikan Keamanan Penumpang, Drone 5G Patroli di Jalur Kereta Cepat Beijing-Shanghai

Saat ini Dubai tengah mengalami gelombang panas di musim panas. Bahkan di musim panas ini suhu mencapai 120 derajat Fahrenheit atau 49 derajat Celcius. Menurut Pusat Meteorologi Nasional UEA, karena gelombang panas ini, maka curah hujan ditingkatkan dengan operasi penyemaian awan di negara Teluk itu.

Karena hal ini, kemudian Pusat Meteorologi Nasional UEA melakukan operasi penyemaian awan. Hal tersebut merupakan misi berkelanjutan untuk menghasilkan curah hujan di negara Timur Tengah yang memiliki curah hujan rata-rata hanya empat inci.

KabarPenumpang.com mengutip dari Independent (22/7/2021), operasi penyemaian awan bekerja melalui pesawat berawak yang menembakkan bahan kimia, seperti perak iodida ke awan untuk menyebabkan peningkatan curah hujan. Hujan deras menyebabkan air terjun muncul di kota Al Ain dan membuat kondisi mengemudi berbahaya.

Uniknya salah satu sistem yang akan diuji coba di UEA adalah menggunakan drone dengan menembakkan muatan listrik ke awan untuk meningkatkan curah hujan. Proyek ini dipimpin oleh para peneliti di University of Reading di Inggris.

Profesor Maarten Ambaum, yang mengerjakan proyek tersebut, mengatakan pada Maret bahwa UEA memiliki awan yang cukup untuk menciptakan kondisi yang kondusif untuk hujan. Proyek ini mencoba membuat tetesan air berkumpul dan menempel ketika mereka menerima aliran listrik, “seperti rambut kering ke sisir”.

Baca juga: Inggris Mulai Uji Coba Drone Kargo ke Kepulauan Terpencil, Indonesia Kapan?

“Ketika tetesannya menyatu dan cukup besar, mereka akan jatuh sebagai hujan”, kata Prof Ambaum.

Menerapkan kejutan listrik ke awan lebih disukai karena tidak memerlukan penggunaan bahan kimia.






















Sederet Kasus Ini Bikin Ide Penerbangan Satu Pilot di Kokpit Jadi Horor

Seiring perkembangan teknologi, peran manusia di dunia penerbangan menjadi sangat terbatas. Dahulu, kokpit diisi oleh lima orang, termasuk pilot dan kopilot, radio operator, navigator, dan flight engineer. Tiga terakhir sudah lenyap digantikan teknologi. Kini, satu lainnya, yaitu kopilot/pilot, sudah diatur untuk disingkirkan di masa mendatang.

Baca juga: Airbus A350 Cathay Pacific Terbang dengan Satu Pilot Mulai 2025!

Belum lama ini, Cathay Pacific mengumumkan rencana menerbangkan armada Airbus A350 dengan satu pilot mulai tahun 2025 mendatang. Itu dilakoni di hampir seluruh penerbangan jarak jauh A350, dengan catatan proses sertifikasi berjalan lancar sesuai rencana. Dengan begitu, kebutuhan pilot maskapai Hong Kong itu bisa ditekan.

Saat ini, Cathay Pacific telah memulai mimpi berbalut Project Connect tersebut bersama Airbus untuk mengembangkan operasi penerbangan jarak jauh A350 dengan hanya satu pilot.

Kendati demikian, Cathay Pacific belum akan meluncurkan penerbangan A350 satu pilot usai mendapat sertifikasi dari regulator. Keamanan akan menjadi proritas utama maskapai dan masih mengkaji pendapat para penumpang terkait itu.

Sebelum kebijakan satu pilot ditarget Cathay Pacific dan Airbus, beberapa tahun ke depan kebutuhan pilot akan sangat tinggi.

Menurut studi terbaru oleh Geoff Murray dari Oliver Wyman, perusahaan konsultan manajemen terkemuka di Amerika Serikat (AS), sebelum mencapai 2024 pun, industri penerbangan, dalam hal ini maskapai, diprediksi sudah mulai kekurangan pilot mulai tahun 2023. Bila industri penerbangan bisa kembali pulih lebih cepat, itu artinya akhir tahun ini kebutuhan pilot maskapai sudah mulai melonjak.

Melesatnya jumlah penumpang pada 2030 mendatang dipercaya membutuhkan sekitar 60 ribu pilot di seluruh dunia. Terdekat, pada 2025 mendatang, dunia setidaknya butuh 34 ribu pilot. Angka itu bisa saja meleset menjadi sekitar 50 ribu pilot.

Andai kata Airbus dan Boeing sukses mengembangkan pesawat single cockpit atau satu pilot dan diaplikasikan oleh maskapai seperti Cathay Pacific, sudah pasti angka-angka di atas sirna.

Tetapi, bagi para taruna atau calon pilot atau mungkin pilot yang sudah aktif sekalipun, era satu pilot di kokpit masih jauh dari harapan. Prosesnya masih akan berlangsung dalam waktu lama untuk membuatnya jadi massif. Penyebabnya, apalagi kalau bukan tantangan untuk membuat penerbangan aman, khususnya saat terjadi insiden.

Catatan The Print, setidaknya ada tiga kasus kecelakaan di masa lalu yang harus bisa dicarikan solusinya andai itu terjadi pada penerbangan satu pilot atau single pilot di kokpit.

Kasus kecelakaan pesawat pertama ialah pecahnya kaca pesawat BAC 1-11 British Airways pada 10 Juni 1990 silam.

Ketika itu, pesawat berhasil mendarat dengan selamat tanpa ada korban jiwa. Padahal, pilot sedang berjuang melawan maut usai kepala dan lehernya sudah berada di jendela pesawat pasca pecahnya kaca. Beruntung masih ada kopilot yang berada di posisi sempurna untuk mendaratkan pesawat. Andai ketika itu hanya ada satu pilot, penerbangan akan berakhir seperti apa?

Kasus kedua yaitu penerbangan Delta Airlines pada Oktober 2009. Saat itu, pesawat mendarat di taxiway Bandara Atlanta, bukan di runway. Setelah penyelidikan, itu terjadi karena pilot dan kopilot kelelahan. Sedang dua pilot saja masih bisa terjadi seperti ini, apalagi satu pilot?

Baca juga: Siap-siap, Lowongan Kerja 60 Ribu Pilot Bakal Dibuka!

Adapun kasus kecelakaan ketiga yaitu pada penerbangan Air France flight 447 Juni 2009. Waktu itu, pesawat Airbus A330 rute Paris – Rio de Janeiro jatuh di Samudera Atlantik.

Hasil analisis penyidik, sejak masalah muncul sampai kecelakaan terjadi, pilot dan kopilot hanya punya waktu empat menit untuk menemukan masalah dan menanganinya. Sedang dua pilot di kokpit saja masih tak sanggup memecahkan masalah, bagaimana dengan satu pilot?

Pesawat Whitetail Airbus Habis, Pertanda Apa?

Keberadaan pesawat whitetail bisa dibilang menjadi alarm tanda bahaya. Bagaimana tidak, pesawat yang sudah diproduksi belum jelas siapa pemiliknya alias nganggur di pabrik (belum terjual). Semakin banyak pesawat whitetail, berarti semakin berat beban perusahaan. Cost produksi terus keluar namun sedikitpun pemasukan dari penjualan pesawat tidak ada.

Baca juga: Backlog A320neo Buat Airbus Selamat dari Krisis Imbas Wabah Corona

Tetapi, itu bisa saja sebaliknya. Andai manufaktur pesawat tidak mempunyai pesawat whitetail karena jumlah produksi menurun (apalagi sampai tidak memproduksi pesawat sama sekali), itu juga berarti alarm tanda bahaya bagi bisnis manufaktur tersebut.

Menurut Airlines.net, Airbus diketahui memang selalu memproduksi pesawat whitetail. Itu dilakukan untuk menjaga supply chain serta jalur perakitan agar tetap berjalan dan mengejar target produksi bulanan. Selain itu pesawat whitetail ada juga karena pembatalan dari pihak pembeli.

Dibanding Boeing, yang bisa dibilang hampir tak pernah memiliki pesawat whitetail, begitu juga dengan Douglas yang sepanjang berdirinya perusahaan hanya pernah memproduksi MD-80 dan MD-11 tanpa pesanan, Airbus sering atau bisa dibilang selalu memproduksi pesawat whitetail.

Sejak tipe pesawat pertama Airbus, A300B2/4, diproduksi, perusahaan diketahui sudah lazim memiliki pesawat whitetail. Bahkan Airbus pernah mempunyai pesawat whitetail A320, A330, dan A340 dalam jumlah besar, membuatnya menumpuk di pabrik.

Head of Region & Sales Europe Airbus, Wouter Van Wersch, dalam gelaran MAKS-2021 di Rusia, belum lama ini mengungkapkan, di puncak krisis beberapa bulan lalu, Airbus memiliki sederet pesawat whitetail. Saking banyaknya pesawat whitetai Airbus bahkan sampai mengurangi produksi. Itu diperparah dengan lemahnya permintaan serta penundaan pengiriman pesawat.

Meski begitu, Airbus berhasil mengirimkan 566 pesawat pada periode krisis tersebut. Tak jelas kapan yang dimaksud periode krisis tersebut. Tetapi, itu diperkirakan terjadi di kuartal 2-4 tahun lalu.

Bulan lalu, Airbus tercatat masih memiliki lima pesawat whitetail. Beruntung, Van Wersch sudah mengkonfirmasi bahwa kelima sudah mendapat calon pembeli. Itu berarti Airbus sudah tak lagi memiliki pesawat whitetail. Dengan begitu, beban Airbus setidaknya jauh berkurang setelah periode pahit selama satu setengah tahun terakhir.

“Dari perspektif Airbus, kami duduk dan mengambil keputusan untuk mengurangi tingkat produksi kami,” ujar Van Wersch kepada wartawan.

Baca juga: Airbus PHK 15 Ribu Karyawan, Perancis Layangkan Protes!

“Kami juga melihat backlog kami. Kami menjangkau pelanggan kami untuk membahas masa depan dan bagaimana kami akan menyelesaikan krisis,” tambahnya.

Sejak awal tahun sampai akhir Juni tahun ini, Airbus tercatat sudah melakukan 297 pengiriman pesawat ke 67 pelanggan di seluruh dunia. Angka tersebut tentu bukan yang terbaik, tetapi cukup memuaskan di tengah pandemi virus Corona yang masih terus berlangsung.

Banjir Kereta Bawah Tanah Cina, Penumpang Terjebak di Antara Ketinggian Air dan Oksigen yang Menipis

Hujan lebat yang melanda Cina mengejutkan semua orang, karena terjadi dalam waktu  singkat dan membanjiri provinsi tengah Henan dengan menewaskan sedikitnya 25 orang. Bahkan sekitar 100 ribu orang telah dievakuasi di Zhengzhou yang jalur kereta api dan jalur darat lainnya terganggu.

Baca juga: Mengerikan! Kereta Bawah Tanah di Cina Kebanjiran, 12 Orang Tewas

Karena banjir di kereta bawah tanah Zhengzhou, sebanyak 12 orang meninggal dunia. Menurut pengakuan penumpang yang selamat, terowongan dan kereta dipenuhi air yang masuk melalui jendela. Mereka semua terjebak selama sekitar dua jam di dalam kereta yang dipenuhi air banjir.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by CGTN Europe (@cgtneurope)


KabarPenumpang.com melansir smh.com.au (22/7/2021), seorang penumpang mengaku, air sudah sampai ke dada dan yang menakutkan bukanlah air tetapi pasokan udara yang berkurang di dalam kereta. Seorang warga bernama Guo mengatakan hujan menghentikan layanan bus di kota berpenduduk 12 juta orang sekitar 650 km barat daya Beijing. Hujan menghentikan layanan bus di kota berpenduduk 12 juta orang sekitar 650 km barat daya Beijing.

“Itulah sebabnya banyak orang naik kereta bawah tanah, dan tragedi itu terjadi,” kata Guo yang harus bermalam di kantornya.

Lebih banyak hujan diperkirakan di seluruh Henan selama tiga hari ke depan, dan Tentara Pembebasan Rakyat telah mengirim lebih dari 5700 tentara dan personel untuk membantu pencarian dan penyelamatan. Dari Sabtu hingga Selasa, 617,1 mm hujan turun di Zhengzhou, hampir setara dengan rata-rata tahunan 640,8 mm.

Dikatakan biro cuaca Zhengzhou, jumlah tiga hari hujan, menyamai tingkat yang hanya terlihat “sekali dalam seribu tahun”. Ini seperti gelombang panas baru-baru ini di Amerika Serikat dan Kanada dan banjir ekstrem yang terlihat di Eropa barat, curah hujan di China hampir pasti terkait dengan pemanasan global.

“Peristiwa cuaca ekstrem seperti itu kemungkinan akan menjadi lebih sering di masa depan, Yang dibutuhkan adalah pemerintah mengembangkan strategi untuk beradaptasi dengan perubahan seperti itu serta merujuk pada otoritas di tingkat kota, provinsi, dan nasional,” kata Johnny Chan, seorang profesor ilmu atmosfer di City University of Hong Kong.

Untuk diketahui saat ini banyak layanan kereta api ditangguhkan di Henan dengan jalan raya telah ditutup dan penerbangan ditunda atau dibatalkan. Banjir ini pun kini sudah membuat persediaan makanan dan air habis untuk penumpang yang terdampar di kereta yang berhenti teoat di luar batas kota Zhengzhou dua hari sebelumnya.

Jalan-jalan terendam banjir parah di belasan kota di provinsi itu. Puluhan waduk dan bendungan menembus tingkat bahaya. Pihak berwenang setempat mengatakan curah hujan telah menyebabkan jebolnya 20 meter di bendungan Yihetan di kota Luoyang barat Zhengzhou, dan bendungan itu bisa runtuh kapan saja.

Baca juga: Alami Masalah Kelistrikan, Kereta Cepat di Cina Terbakar Hebat!

Perusahaan Cina, asuransi dan bank yang didukung negara mengatakan mereka telah menawarkan sumbangan dan bantuan darurat kepada pemerintah daerah di Henan sebesar 1,935 miliar yuan ($400 juta). Saat ini sekolah dan rumah sakit terdampar dan orang-orang yang terjebak dalam banjir berbondong-bondong ke tempat perlindungan di perpustakaan, bioskop, dan museum.