Boeing 747-400 Korean Air Disulap Jadi Wahana Peluncur Roket Luar Angkasa

Sinergitas antara maskapai penerbangan dan angkatan udara telah terjalin erat, tidak hanya yang terjadi antara Garuda Indonesia dan TNI AU, dari Negeri Ginseng dikabarkan Korean Air bersama dengan Angkatan Udara Korea Selatan – Republic of Korea Air Force (RoKAF), telah memulai penelitian untuk menggunakan pesawat jumbo jet Boeing 747-400 sebagai wahana peluncuran roket luar angkasa.

Baca juga: Imbas Virus Corona, KLM Pensiunkan Boeing 747-400 Lebih Cepat, Salah Satunya “City of Jakarta”?

Dikutip dari Janes.com (20/7/2021), Korean Air mengumumkan pada 20 Juli lalu, bahwa maskapai plat merah itu telah mulai melakukan penelitian tentang kelayakan penggunaan pesawat komersial berbadan lebar (wide body) yang dimodifikasi untuk peluncuran roket ruang angkasa dan kendaraan orbital. Selain melibatkan RoKAF, proyek ini juga melibatkan Universitas Nasional Seoul yang ditugaskan oleh Kementerian Pertahanan.

Lebih detail,dalam sebuah pernyataan pihak Korean Air mengatakan bahwa mereka akan menganalisis kemampuan Boeing 747-400, teknologi utama yang akan diterapkan, biaya operasi tahunan, dan modifikasi pesawat yang diperlukan untuk peluncuran roket di udara. Proyek ini tentu ada dasarnya, yaitu setelah pada akhir Mei lalu terwujud perjanjian ‘Revised Missile Guidelines’ – yang membatasi jangkauan rudal balistik Korea Selatan hingga 800 km.

Otoritas pertahanan Korea Selatan menggambarkan proyek penelitian ini sebagai sesuatu yang sangat penting. Roket yang diluncurkan dari udara dapat diluncurkan ke berbagai arah dan di sepanjang rute yang berbeda, dan ini akan membantu Korea Selatan mengatasi keterbatasan geografisnya. Saat ini, Negara di Asia timur laut ini hanya dapat meluncurkan satelit ke selatan dari Pusat Antariksa Naro di Kabupaten Goheung Provinsi Jeolla Selatan.

Baca juga: Intip Teleskop Terbang Terbesar di Dunia Boeing 747 NASA

Boeing 747 bukan pertama kali diberi tugas untuk mengusung wahana luar angkasa. Persisnya pada tahun 1978, Boeing 747-100 milik American Airlines pernah digunakan oleh NASA, pesawat bermesin empat itu berperan sebagai shuttle carrier aircraft, dimana pesawat ulang alik Enterprise ‘digendong’ di atas fuselage, dan kemudian pesawat ulang alik dilepaskan dari udara. Tujuannya bukan untuk merilisnya ke ruang angkasa, melainkan untuk mendukung approach and landing test flights.






















Bus Kota di Australia Barat ‘Disulap’ Menjadi Laboratorium Uji Covid-19

Di masa pandemi virus corona yang belum juga berakhir ini, banyak moda transportasi yang beralih fungsi dari sebagai mana mestinya. Baik bus, kereta api hingga kapal ferry berubah menjadi bangsal rumah sakit, tempat pasien yang dilengkapi oksigen hingga laboratorium berjalan yang menyusuri pemukiman warga yang sulit dijangkau oleh tenaga kesehatan.

Baca juga: Mysuru Punya Bus Berisi Tabung Oksigen dan Mudahkan Pasien Covid-19 Menunggu

Bahkan baru-baru ini Departemen Kesehatan di Broome, Australia Barat mendapat penghargaan karena mengubah bus B.C. Transit menjadi laboratorium pengujian virus corona. Penghargaan Praktik Inovatif Emas 2021.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber wnbf.com (16/7/2021), B.C. Transit bus diketahui awal penggunaannya ketika pandemi virus corona mulai menyebar di bagian selatan pada bulan Maret tahun lalu. Karena hal ini, pejabat pengendalian masalah darurat, kesehatan dan pemerintah mengunci daerah untuk mengendalikan pandemi.

Hal tersebut dilakukan untuk mulai mengidentifikasi awal klaster dan dalam mengatasi virus corona dengan karantina lanjutan serta menangani kasusnya dengan pelacakan. Untuk itu, maka dilakukan lebih banyak pengujian di wilayah geografis tertentu.

Adanya bus kota ini membuat pejabat daerah datang dengan ide baru yakni mengubah bus angkutan umum menjadi sebuah laboratorium pengujian. Yang mana bus akan menjadi laboratorium bergerak di mana tes Covid-19 dilakukan di tempat sehingga prosesnya lebih cepat.

Baca juga: 20 Unit Bus SMRT Singapura Dikonversi Jadi Ambulans

Tak hanya itu, setelah hasil keluar di satu daerah, bus akan kembali berpindah ke daerah lainnya di mana tempat itu tidak memiliki tes cepat yang tersedia. Laboratorium bus berjalan tersebut diawasi dan dikelola melalui kemitraan pemangku kepentingan masyarakat serta personel dari beberapa departemen yang menyediakan 6.174 tes.






















Dua Terobosan Ini Bisa Pangkas Waktu Tempuh Penerbangan Jadi Setengahnya, Apa Saja?

Industri penerbangan jadi salah satu sektor transportasi yang paling cepat perubahannya. Setiap hari, selalu ada inovasi yang meliputi sektor ini. Baik itu berupa konsep dan gagasan, prototipe atau uji kelayakan, sampai inovasi nyata yang merubah cara manusia bepergian.

Baca juga: Tepat Janji, Prototipe Pesawat Supersonik Boom XB-1 Resmi Dipamerkan, 2021 Mulai Melesat

Belum lama ini, konglomerat asal Inggris yang juga pemilik maskapai Virgin Atlantic, Sir Richard Branson, berhasil mewujudkan ambisinya, menyediakan wisata antariksa sederhana yang bisa dijangkau siapapun yang memiliki uang, melalui proyek Virgin Galactic.

Seolah tak ingin kalah, orang terkaya di dunia, Jeff Bezos, melalui perusahaan wisata antariksanya, Blue Origin, juga berhasil menyusul Richard Branson, terbang ke luar angkasa di ketinggian sekitar 100 km, sebagian bagian dari penerbangan penumpang perdana Blue Origin berwisata ke luar angkasa.

Kendati demikian, baik proyek wisata ke luar angkasa Virgin Galactic maupun Blue Origin, sudah pasti tak akan berdampak banyak pada penerbangan komersial.

Sebab, itu bersifat komunal atau keinginan orang-orang yang tertarik untuk menjajal sensasi gravitasi 0 dan melayang di udara selama beberapa menit sambil melihat pemandangan luar angkasa. Tentu tak semua orang mau dan mampu membayar tarif selangit dari perjalanan wisata ke luar angkasa ini.

Tetapi, sebagaimana disebutkan di awal, industri penerbangan sangat cepat menyajikan perubahan. Selain Virgin Galactic dan Blue Origin, banyak perusahaan yang sedang atau sudah menawarkan konsep dan gagasan untuk mengubah cara penumpang atau masyarakat bepergian. Siapa saja?

Dilansir investorplace.com, Matthew McCall, former analis Wall Street, pusat bursa perdagangan saham dan bursa perdagangan lainnya di New York, Amerika Serikat (AS), belum lama ini menuangkan analisanya terkait industri penerbangan.

Dalam pengamatannya, pandemi Covid-19 memang membuat industri penerbangan hancur-hancuran. Ia juga tak yakin pasar penerbangan penumpang maupun private jet akan kembali pulih ke level seperti sebelum virus Corona mewabah.

Meski begitu, beberapa perusahaan tak berhenti berinovasi menciptakan masa depan perjalanan penumpang yang berbeda. Perusahaan pertama yang dimaksud adalah Jet Token, penyedia jasa private air travel asal AS.

Melalui aplikasi yang dikembangkan perusahaan, penumpang dimungkinkan memesan penerbangan komersial maupun private atau gabungan dari keduanya hanya dengan beberapa sentuhan di ponsel. Ini membuat perubahan pada penumpang berpergian di era penerbangan ultra-modern, membuatnya jadi lebih murah, cepat, dan tentu saja nyaman.

Perusahaan kedua yang dimaksud adalah United Airlines dalam kolaborasinya dengan Boom Supersonic. Salah satu maskapai terbesar di dunia asal AS tersebut belum lama ini mengumumkan pembelian 15 unit pesawat supersonik buatan Boom Supersonic seharga US$3 miliar atau sekitar Rp43 triliun (kurs 14.552) atau US$200 juta (Rp3 triliun) harga per unitnya.

Lewat penerbangan supersonik, United Airlines bisa memangkas penerbangan trans-atlantik dari New York ke London dan sebaliknya menjadi hanya 3,5 jam, dua kali lebih cepat dari pesawat komersial yang ada saat ini dikisaran 6,5 jam.

Baca juga: Di Dubai Airshow 2017, Boom Technology Siap Goda Emirates dan Qatar Airways

Tak hanya itu, penerbangan supersonik dari kolaborasi United Airlines dan Boom Supersonic ini juga menawarkan harga tiket jauh lebih murah dari Concorde, pesawat supersonik yang pertama kali terbang secara komersial pada 1976 dan berakhir pada 2003 silam.

United Airlines berencana hanya memasang tarif penerbangan supersonik sebesar US$2.500 atau Rp36 juta (kurs 14.552), 80 persen lebih murah atau berbanding jauh dengan penerbangan supersonik Concorde seharga US$12.000 atau sekitar Rp174 juta (kurs 14.552) per sekali terbang. Ini diyakini bisa mengubah cara penumpang bepergian di masa mendatang.

Mengerikan! Kereta Bawah Tanah di Cina Kebanjiran, 12 Orang Tewas

Dua belas orang meninggal dunia dan lima lainnya terluka setelah hujan lebat membanjiri kereta bawah tanah di kota Zhengzhou, Cina Tengah. Hal ini dikatakan oleh pihak berwenang saat gambar penumpang berjuang melawan air setinggi leher di dalam gerbong tersebar di media sosial.

Baca juga: Konstruksi LRT Ottawa Dilanda Banjir, Serikat Pekerja Khawatir Akan Keselamatan Pekerjanya

KabarPenumpang.com melansir dailymail.co.uk (21/7/2021), Zhengzhou mengalami serangkaian hujan badai yang jarang dan lebat. Hal ini kemudian menyebabkan air menumpuk di jalur metro Zhengzhou. Pejabat setempat mengatakan hujan turun antara pukul 16.00 dan 17.00 waktu setempat.

Menurut otoritas cuaca Zhengzhou, curah hujan ini adalah yang tertinggi yang tercatat sejak pencatatan dimulai 26 tahun lalu. Selain foto banjir di jalur dan di dalam kereta metro, video yang memperlihatkan penumpang terimbas banjir pun tersebar di media sosial.

Dalam video, penumpang kereta bawah tanah itu berpegangan saat air naik hingga setinggi bahu dan beberapa orang berdiri di kursi. Air terlihat memancar melalui platform bawah tanah yang kosong dalam rekaman CCTV penyiar negara.

Operator kereta bawah tanah kota mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa bahwa mereka akan menutup semua stasiun di semua jalurnya karena cuaca buruk. Di akun Weibo resminya, dinas pemadam kebakaran membagikan laporan bahwa penumpang diselamatkan dari kereta yang terdampak.

Salah satu akun penumpang mengatakan petugas pemadam kebakaran dan penyelamat telah membuka lubang di atap gerbongnya dan mengevakuasi penumpang satu per satu. Otoritas cuaca telah mengeluarkan tingkat peringatan tertinggi untuk provinsi Henan tengah ketika CCTV menunjukkan mobil yang terendam, toko-toko yang tutup dan penduduk berada di jalan-jalan yang banjir kemudian diselamatkan dengan rakit.

Karena banjir ini, ada lebih dari 10 ribu orang telah dievakuasi pada Selasa sore, kata pihak berwenang provinsi. Di mana juga diperingatkan bahwa 16 waduk telah memperlihatkan kenaikan air ke tingkat yang berbahaya karena hujan merusak ribuan hektar tanaman dan menyebabkan kerusakan sekitar $11 juta.

Bukan hanya kereta metro bawah tanah, banjir juga mengakibatkan sekitar 260 penerbangan telah dibatalkan. Banjir biasa terjadi selama musim hujan di Cina, yang menyebabkan kekacauan tahunan dan menghanyutkan jalan, tanaman, dan rumah.

Baca juga: Inilah Serangkaian Alasan Layanan Kereta di Jerman Sering ‘Banjir’ Keluhan

Tetapi ancaman itu telah memburuk selama beberapa dekade, sebagian karena pembangunan bendungan dan tanggul yang meluas yang telah memutuskan hubungan antara sungai dan danau yang berdekatan dan mengganggu dataran banjir yang telah membantu menyerap gelombang musim panas. Awal bulan ini ratusan penerbangan dibatalkan di ibu kota Beijing dan kota-kota terdekat lainnya dengan sekolah dan lokasi wisata ditutup karena hujan lebat dan angin kencang melanda wilayah tersebut.






















Ingin ‘Kuasai’ Bandara Kabul Afghanistan, Erdogan Minta Restu AS

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah meminta dukungan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden untuk menguasai Bandara Internasional Hamid Karzai atau biasa disebut Bandara Kabul. Ini dilakukan sebagai upaya Turki untuk menggantikan peran AS dan sekutu yang belum lama ini menarik pasukannya dari negara tersebut.

Baca juga: Setelah Tertunda 13 Tahun, Iran dan Afghanistan Akhirnya Terhubung dengan Jalur Kereta

Laporan Al Jazeera, Erdogan telah melakukan pembicaraan dengan Biden selama beberapa pekan. Keduanya juga sempat membahas terkait itu di sela-sela KTT NATO pada Juni lalu.

Disebutkan, Erdogan meminta dukungan AS terkait keuangan, logistik, dan diplomatik untuk misi Turki di Afghanistan. Tak disebutkan bagaimana kelanjutan dari permintaan ini. Yang jelas, saat ini, Erdogan tengah bersiap mengirim pasukannya dalam jumlah besar ke Bandara Kabul.

Dukungan dari AS penting bagi Turki untuk menggantikan kehadiran AS dan sekutu di Afghanistan. Sebab, AS mempunyai segalanya, mulai dari fasilitas logistik, aliran dana, serta hal-hal lainnya yang bersifat administratif.

“Jika kondisi ini (dukungan logistik, keuangan, dan diplomatik) bisa dipenuhi, kami sedang memikirkan untuk mengambil alih pengelolaan Bandara Kabul,” kata Erdogan dalam pidatonya.

“Akan ada kesulitan keuangan dan administrasi yang amat serius. (Amerika Serikat) akan memberikan dukungan yang diperlukan untuk Turki dalam hal ini juga,” tambah Erdogan, usai menjalani salat Subuh di hari raya Idul Adha.

Taliban, yang beberapa kali sudah melakukan pembicaraan dengan AS, sudah banyak mengambil alih wilayah di Afghanistan sejak NATO menarik diri. Karenanya, sudah pasti, organisasi yang pernah memimpin negara tersebut sejak 1996 hingga 2001 menolak rencana Turki mengambil alih Bandara Kabul.

Turki sendiri menurut laporan wartawan Al Jazeera, Resul Serdar, ingin mengambil alih operasional Bandara Kabul dikarenakan bandara tersebut merupakan satu-satunya pintu gerbang kedatangan internasional ke Afghanistan dan Erdogan ingin memastikan itu tetap terbuka untuk dunia internasional.

“Turki ingin membuatnya tetap internasional karena takut suatu hal buruk terjadi begitu komunitas internasional keluar dari negara itu, dan berkonfrontasi dengan Taliban,” jelas Erdogan.

Selain itu, Ankara juga ingin mengambil peran aktif sebagai negara yang konsisten membangun perdamaian di Afghanistan, di samping meningkatkan hubungan dengan AS dan Uni Eropa lewat jalan ini.

Baca juga: Cegah Deportasi Warga Afghanistan, Aktivis Muda Swedia Pasang Aksi ‘Berdiri’ di Kabin Pesawat

Kendati nantinya sudah mendapat restu AS, Erdogan tetap tak ingin jumawa. Ia berniat membangun komunikasi dengan Taliban secara langsung terkait Bandara Kabul.

“Erdogan juga mengatakan dia ingin melakukan pembicaraan langsung dengan Taliban mengenai Bandara Kabul, jadi dalam hal itu -jika dalam waktu dekat pembicaraan secara langsung dimulai- maka itu tidak akan mengejutkan dunia,” lapor Resul Serdar.

Siap Hadapi Perang, Stasiun MRT Singapura Punya Fungsi Ganda Sebagai Bunker Berkapasitas Besar

Dengan luas wilayah yang hanya sebesaran DKI Jakarta, Singapura tak pelak adalah negara pulau yang sangat rentan terhadap perang, terorisme, perang kimia hingga biologi. Apalagi Negeri Singa ini tidak memiliki daerah pedalaman untuk melarikan diri para penduduknya untuk evakuasi serta tempat perlindungan. Namun, Singapura memiliki stasiun MRT yang ternyata bisa menjadi tempat evakuasi serta lokasi berlindung (bunker).

Baca juga: Punya Bunker, Inilah Kisah Balai Besar Bandung yang Menjadi Kantor Pusat PT KAI

Mungkin ini dipikir hal yang mustahil, namun nyatanya ada dan cukup besar untuk menampung penduduk Singapura. Dirangkum KabarPenumpang.com dari thekopi.co, ada 49 stasiun MRT yang dibangun untuk fungsi ganda sebagai tempat perlindungan sipil. Inisiatif tersebut dimulai tahun 1983, di mana sembilan stasiun MRT bawah tanah di jalur Utara-Selatan dan Timur-Barat diperbaharui untuk memenuhi persyaratan tersebut. Ke 49 stasiun MRT ini, masing-masing dapat menampung sejumlah besar orang ketika diaktifkan sebagai tempat perlindungan.

Contohnya Stasiun Bishan yang mampu menampung 4000 orang saat dioperasikan sebagai bunker, sedangkan Stasiun Woodlands yang baru masuk dalam daftar pertahanan sipil bisa menampung hingga 9.000 orang. Beberapa stasiun bahkan memiliki kapasitas untuk menampung 19 ribu orang. Bahkan di tahun-tahun mendatang Pasukan Pertahanan Sipil Singapura (SCDF) telah mengumumkan bahwa bakal lebih banyak stasiun MRT yang dibangun di sepanjang Jalur Thompson-East Coast yang akan berfungsi sebagai tempat perlindungan sipil.

Masyarakat akan menggunakan tempat perlindungan pertahana supil ketika Sistem Peringatan Publik (PWS) diaktifkan untuk menghasilkan sinyal “Alarm”. Sinyal ini dibunyikan ketika serangan udara atau penembakan akan segera terjadi, yang dapat membahayakan nyawa dan harta benda. Guna menunjang ribuan orang di dalam bunker bawah tanah, stasiun pertahanan sipil MRT dilengkapi dengan fasilitas untuk memastikan lingkungan hidup yang aman dan nyaman selama keadaan darurat.

Dinding, lantai dan pelat atap dikeraskan dengan beton bertulang yang memungkinkan stasiun menahan ledakan tinggi dan efek fragmentasi yang disebabkan oleh ledakan bom di permukaan. Kemudian semua pintu pelindung ledakan dibangun dari bahan kokoh baik baja maupun beton. Secara kolektif, desain ini mengurangi jumlah kerusakan struktural pada stasiun.

Desain tersebut mencegah puing-puing terbang dan kaca pecah selama ledakan bom, yang secara signifikan akan mengurangi jumlah korban selama masa darurat. Stasiun juga dirancang dengan fasilitas dekontaminasi yang dapat digunakan untuk memfasilitasi prosedur dekontaminasi jika terjadi serangan bahan kimia. Penting untuk diketahui bahwa serangan terhadap Singapura dapat bersifat beragam, dan negara harus siap menghadapi semua skenario.

Dalam hal ini, individu akan diperiksa dan dirawat untuk setiap paparan bahan kimia yang biasanya dalam bentuk pancuran dekontaminasi, pakaian ganti baru dan pembilasan udara sebelum diizinkan masuk ke area penampungan utama.

Baca juga: Pasca Peniadaan Mudik, PT KAI Telah Operasikan 144 Kereta Api Jarak Jauh

Udara yang ada di stasiun bawah tanah juga bisa tersirkulasi karena terhubung ke sistem ventilasi yang menyediakan sumber udara segar yang andal dan stabil sehingga menciptakan lingkungan yang bernapas serta layak huni di bawah tanah. Sistem toilet kering juga dipasang di tengah platform untuk penggunaan umum dan beroperasi tanpa membutuhkan sumber air yang konstan untuk keperluan pembilasan.






















Bersiap Terbang Perdana, Enam Rute Super Air Jet Fokus Wilayah Indonesia Barat

Maskapai baru yang mengusung konsep ULCC (Maskapai Berbiaya Sangat Rendah), Super Air Jet, mengaku siap terbang perdana dalam waktu dekat. Maskapai -yang dalam laporan Debtwire mendapat suntikan dana dari Lion Air Group pimpinan Rusdi Kirana sebesar Rp518 miliar ini- akan membuka enam rute atau destinasi.

Baca juga: Wow, Harga Tiket Super Air Jet Lebih Murah dari Lion Air dan AirAsia! Ini Detailnya

Enam rute tersebut sepenuhnya fokus pada wilayah Indonesia bagian barat. Hal ini mengacu pada riset internal Super Air Jet dimana enam rute yang dipilih dalam penerbangan perdana tersebut merupakan rute-rute favorit kawula muda, baik pebisnis maupun traveler muda, yang memang menjadi target pasar maskapai.

Beberapa rute atau destinasi itu meliputi Jakarta melalui Bandara Soekarno-Hatta (CGK), Palembang melalui Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (PLM), Padang melalui Bandara Minangkabau (PDG), Batam melalui Bandara Hang Nadim (BTH). Lalu, Medan melalui Bandara Kualanamu (KNO) dan Pontianak melalui Bandara Supadio (PNK).

“Pemilihan destinasi super favorit di tahap perdana guna menjangkau wilayah Indonesia barat dengan pilihan jadwal keberangkatan yang tepat di rute-rute super populer,” kata Direktur Utama Super Air Jet, Ari Azhari, dalam keterangan resminya.

Lebih lanjut, fokus utama maskapai yang disebut Debtwire dimiliki oleh Farian dan Davin Kirana -putra dari Kusnan dan Rusdi Kirana- tersebut ialah menawarkan konsep berbiaya sangat rendah dengan penerbangan langsung antarkota secara point to point di pasar domestik, dan nantinya dapat merambah ke rute-rute internasional.

Selain itu, untuk menambah kenyamanan Super Air Jet akan menawarkan gratis bagasi 20 kg serta sistem hiburan yang didukung oleh aplikasi Tripper Trave besutan Airfi Indonesia yang bisa diunduh di Apps Store atau Google Play Store dari smartphone maupun gadget (Tab & Ipad).

Lewat sistem hiburan yang dinamakan Super Entertainment ini penumpang dimungkinkan untuk menikmati musik, film, dan hiburan lainnya tidak hanya ketika di udara (on board), melainkan juga ketika di darat (on ground), saat menunggu di bandara maupun dalam perjalanan ke bandara.

“Keuntungan atau nilai lebih terbang dengan Super Air Jet ialah Super Ekstra dengan gratis bagasi 20 kilogram (kg), yang semakin memanjakan dan mempermudah ketika melakukan penerbangan,” lanjutnya.

Dalam laman resminya, Super Air Jet diketahui menawarkan tiket penerbangan Jakarta-Palembang dengan tarif Rp252 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp367.200 dan AirAsia seharga Rp358.875), Jakarta-Pekanbaru mulai Rp 423 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket 555.300 dan AirAsia seharga Rp543.923).

Kemudian, ada lagi rute Jakarta-Medan Kualanamu yang ditawarkan maskapai baru Super Air Jet mulai Rp536 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp679.600 dan AirAsia seharga Rp665.149), rute Jakarta-Pontianak tarif mulai Rp385 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp513.500 dan AirAsia seharga Rp502.551).

Selanjutnya, Super Air Jet juga membuka rute Jakarta-Padang dengan tarif mulai Rp440 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp574.000 dan AirAsia seharga Rp561.561), dan Jakarta-Batam tarif mulai Rp 429 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp561. 900 dan Citilink seharga Rp594.900).

Baca juga: Untuk Tahap Awal, Super Air Jet Akan Melayani Rute Domestik dengan 3 Unit Airbus A320

Ada juga rute Jakarta-Lombok, tarif mulai dari Rp416 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp547.600 dan AirAsia seharga Rp535.904), Jakarta-Surabaya tarif mulai Rp348 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp472.800 dan AirAsia seharga Rp462.463).

Adapun tiket penerbangan Jakarta-Denpasar tarifnya dibanderol mulai Rp426 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp558.600 dan AirAsia seharga Rp547.129), dan Jakarta-Banjarmasin tarif mulai Rp437 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp570.700 dan Citilink seharga Rp624.820).

Pastikan Keamanan Penumpang, Drone 5G Patroli di Jalur Kereta Cepat Beijing-Shanghai

Tiga drone copter yang dilengkapi dengan sensor berpresisi tinggi berpatroli di sekitar jembatan kereta api untuk memeriksa struktur baja. Ketiganya berpatroli saat kereta berkecepatan tinggi dari Beijing menuju Shanghai melaju melintasi Jembatan Sungai Kuning Jinan, Provinsi Shandong, Cina Timur.

Baca juga: Ulang Tahun Ke-9, Inilah Cerita Kereta Api Berkecepatan Tinggi Beijing-Shanghai

KabarPenumpang.com melansir globaltimes.cn (24/6/2021), ini adalah pertama kali inspeksi jalur kereta api menggunakan drone otonom yang didukung oleh teknologi 5G dan Sistem Satelit Navigasi BeiDou (BDS). Sebagai jalur kereta api berkecepatan tinggi terbesar dan tersibuk di Cina, jalur kereta Beijing-Shanghai telah mengadopsi banyak langkah teknologi tinggi modern untuk memastikan keselamatan penumpang.

Yang Huaizhi, direktur departemen keamanan peralatan di Beijing-Shanghai High-Speed ​​Railway Co mengatakan, sistem itu terdiri dari platform pendaratan tetap atau bergerak, drone, berbagai instrumen deteksi khusus dan kontrol otomatis, serta sistem back end yang cerdas. Foto, video, dan data deteksi lainnya yang diambil oleh drone secara otomatis dan dikirim kembali ke pusat kendali.

Nantinya di pusat kendali, perangkat lunak akan bekerja menggunakan analisis cerdas untuk memeriksa perubahan pada foto, video, dan data lainnya dan akan mengidentifikasi perubahan abnormal. Selanjutnya secara otomatis sistem akan mengeluarkan peringatan risiko. Selama sepuluh tahun terakhir sejak dibuka, kereta api berkecepatan tinggi Beijing-Shanghai telah mengangkut lebih dari 1,35 miliar penumpang dengan aman.

Dengan total jarak tempuh lebih dari 1,58 miliar kilometer, setara dengan hampir 40 ribu kali mengelilingi khatulistiwa. Untuk kereta api berkecepatan tinggi dengan kepadatan operasi yang sangat tinggi, seperti kereta api berkecepatan tinggi Beijing-Shanghai, pekerja manusia hanya memiliki empat jam untuk inspeksi online dari pukul 00.30 hingga 04.30 pagi.

Ini karena waktu yang terbatas mengingat jumlah pekerjaan harus mereka lakukan. Sementara karena ketinggiannya, juga sulit untuk diselidiki dan dilakukan inspeksi skala besar. Tetapi sistem baru telah datang untuk menyelamatkan mereka. Sistem berteknologi tinggi yang baru, atas dasar keselamatan penerbangan, mencapai inspeksi 24 jam setelah hampir dua tahun pengembangan dan pengujian.

Baca juga: Cina Buat Jalur Uji Coba Kereta Maglev Berkecepatan 1.000 Km Per Jam

Drone ini dapat melayang untuk menyesuaikan sudut dan zoom untuk pemotretan posisi dan pemotretan ulang yang akurat, akurasinya dapat mencapai tingkat sentimeter atau bahkan milimeter. Huaizhi mengatakan, yang lainnya adalah drone sayap tetap, dan digunakan untuk berpatroli di area yang luas. Drone sayap tetap dapat terbang lebih tinggi, bergerak lebih cepat dan mencakup area yang luas.

Inilah Bréguet 763 Deux-Ponts, Airbus A380 Propeller dari Era 40-an

Airbus A380 memang tak ada duanya. Pesawat itu sampai saat ini masih menyandang status sebagai pesawat komersial terbesar di dunia dengan kapasitas 850 penumpang (satu konfigurasi). Sebelum sampai ke tangan A380, status tersebut pernah berada di tangan produsen pesawat asal Perancis lainnya, Bréguet Aviaition, melalui varian Bréguet 763 Deux-Ponts, sekalipun perlu penelitian lebih dalam soal ini.

Baca juga: Airbus Umumkan Produksi A380Ultra, Pesawat Mewah Tiga Lantai

Proyek pengembangan Bréguet 763 Deux-Ponts pertama kali dimulai sebelum era Perang Dunia II berakhir, sekitar bulan September 1945. Setelah melalui beberapa waktu, prototipe pesawat jarak menengah itu akhirnya berhasil terbang perdana pada 15 Februari 1949. Pesawat dengan triple vertical stabilizer (cantilever wing) ini didukung oleh empat mesin radial SNECMA 14R-24 1.580 tenaga kuda (hp).

Selain varian mesin itu, Bréguet Aviaition juga menyediakan tiga prototipe lainnya dengan dukungan mesin radial Pratt & Whitney R-2800-B31 2.020 hp. Uji coba ketiga pesawat tersebut berjalan mulus pada tahun 1951 dan 1952.

Tak lama setelah itu, produsen pesawat yang didirikan oleh pelopor penerbangan Louis Charles Breguet pada tahun 1911 ini mendapat dukungan kuat dari Pemerintah Perancis, melalui pembelian 12 unit Bréguet 763 Deux-Ponts.

Dilansir Simple Flying, dari jumlah tersebut, enam di antaranya dioperasikan oleh Air France dan enam lainnya digunakan pemerintah.

Bréguet 763 Deux-Ponts digadang merupakan titisan dari Airbus A380. Memang, dari kemampuan, keduanya berbeda, satu menggunakan mesin jet dan satu lainnya propeller. Dari segi kapasitas penumpang, Bréguet 763 juga tertinggal jauh dibanding pesawat superjumbo itu. Namun, secara hakikat, keduanya sama-sama menjadi yang terbesar di zamannya.

Dengan panjang 29 meter dan tinggi 10 meter, Bréguet 763 Deux-Ponts mampu menampung sebanyak 107 penumpang ditambah tiga orang kru. Bila dirinci, sekitar 59 diplot di dek atas dan sisanya, 48 penumpang berada di dek bawah. Sebetulnya, pesawat bisa saja memuat sekitar 135 penumpang jika konfigurasi kursinya di desain seperti sekarang.

Baca juga: Percaya atau Tidak, Rusia Pernah Membuat Helikopter Berkapasitas 196 Penumpang

Jumlah tersebut terbilang cukup besar untuk ukuran kala itu, dimana rata-rata pesawat yang beredar hanya mampu menampung puluhan hingga 100an penumpang; seperti pesawat dengan kabin bertekanan pertama di dunia, Boeing 377 Stratocruiser yang mampu memuat 100 penumpang dan de Havilland Comet dengan kapasitas 36-44 penumpang.

Di masa eksistensinya, Bréguet 763 Deux-Ponts diproduksi sebanyak 20 unit. Penggunaan terpopuler tentu oleh Air France. Bersama maskapai nasional Perancis itu, Bréguet 763 menjadi andalan menggarap rute-rute antar benua perusahaan, salah satunya rute Perancis-Aljazair. Selain itu, Air France juga mengerahkan pesawat ini di rute-rute gemuk Eropa, seperti London-Paris serta rute-rute potensial lainnya di tataran domestik.






















Pusing Kebanyakan Dikomplain Penumpang, Flair Airlines Tutup Line Telepon

Flair Airlines mengumumkan penutupan saluran atau line telepon perusahaan selama tiga hari, terhitung mulai tanggal 16-19 Juli. Itu dilakukan karena saking banyaknya telepon berupa keluhan dan saran dari penumpang plus meningkatnya traffic penerbangan.

Baca juga: Puluhan Ribu Kali Lakukan Panggilan ke Call Center, Pria Tua ini Diciduk Polisi

Maskapai berbiaya murah (LCC) asal Kanada tersebut berdalih, itu dilakukan justru untuk meningkatkan layanan, bukan malah lari dari tanggung jawab dalam melayani setiap keluhan penumpang. Bagaimana bisa?

Dilansir dari Simple Flying, Kanada diketahui mulai melonggarkan pembatasan perjalanan atau lockdown ketat di seantero negeri. Sudah begitu, di saat yang bersamaan, berbagai promo dari maskapai juga membuat minat terbang masyarakat, dalam hal ini calon penumpang, meningkat dan pada akhirnya membuat maskapai sibuk.

Tiba-tiba hectic tentu bukanlah sebuah kebanggan bila tidak dibarengi dengan kesiapan. Itulah yang saat ini dialami Flair Airlines. Usai dihantam pandemi habis-habisan dan perusahaan terpaksa melakukan efisiensi, praktis tim layanan yang ada saat ini jumlahnya tidak sebanding dengan kebutuhan pelanggan.

Berbagai keruwetan ini yang pada akhirnya membuat pelayanan tidak maksimal dan maskapai mau tak mau mengambil kebijakan kontroversial ini.

“Kami sangat menyayangkan hal ini. Pengalaman pelanggan kami saat ini bukanlah yang pantas Anda dapatkan, dan bukan yang kami perjuangkan,” kata Garth Lund, Chief Commercial Officer Flair Airlines.

Alasan untuk menutup layanan call center atau customer service oleh maskapai memang sangat masuk akal. Sebelum ditutup, rata-rata dari mereka mengaku menunggu bermenit-menit atau dalam jangka waktu cukup lama untuk mendapatkan respon dari petugas layanan. Ini pada akhirnya justru membuat penumpang atau calon penumpang geram.

Pun sebaliknya, petugas yang melayani juga ikut geram lantaran banyaknya waiting list keluhan ditambah tak semua keluhan urgent untuk ditangani.

Oleh karena itu, maskapai menutup line telepon dan menggantinya dengan berbagai platform keluhan lainnya, seperti web dan media sosial. Setiap pelanggan atau calon pelanggan yang ingin konsultasi ataupun komplain diwajibkan untuk mengisi form komplain terlebih dahulu.

Baca juga: Call Sign Aneh dan Kece Badai Maskapai Seluruh Dunia, Salah Satunya Cedar Jet

Dari sini, maskapai kemudian mengecek dan merespon hanya yang sangat urgent untuk direspon. Dengan begitu, layanan juga masksimal dan pelanggan pun tak tersulut emosi lantaran lama menunggu hingga pulsa habis sebelum menerima respon langsung dari maskapai.

Dengan begitu, cara ini, menurut banyak pihak, nampak terlihat seperti lari dari tanggung jawab. Tetapi di sisi lain, jika dilihat secara detail, langkah ini justru brilian. Sudah begitu, CCO maskapai juga mengaku sedang menambah tim dan mengelolanya untuk persiapan di tanggal 20 Juli besok ketika saluran telepon sudah kembali dibuka.