Otentikasi Penumpang Negatif Covid-19, Bandara Changi Hadirkan Universal Verifier Affinidi

Menjadi negara yang bisa dikatakan paling melek teknologi, Singapura kembali menghadirkan solusi yang mempercepat pemeriksaan imigrasi. Nantinya solusi Universal Verifier Affinidi ini diterapkan untuk memungkinkan Bandara Internasional Changi di Singapura mengotentikasi secara digital para pelancong yang telah dites negatif Covid-19.

Baca juga: Lindungi Kesehatan Penumpang, Bandara Changi Kenalkan Sistem Zonasi Terbaru

Dilansir KabarPenumpang.com dari zdnet.com (14/7/2021), CEO Affinidi Glenn Gore mengatakan optimis bahwa sertifikat verifikasi digital akan memungkinkan perjalanan udara dilanjutkan dengan aman dan terjamin.  Ia mencatat bahwa solusi Universal Verifier Affinidi tengah digunakan bandara untuk mengotentikasi secara digital para pelancong yang tiba di Negeri Singa itu. Di mana hasil tes negatif Covid-19 mereka serta persyaratan kesehatan lainnya dapat dipenuhi.

“Solusi ini sudah live sekarang. Sebenarnya kalau ke Singapura dan melewati Changi Airport, kita akan melalui Affinidi’s Universal Verifier oleh pihak imigrasi. Kami mengenali 15 standar global yang berbeda hari ini, sehingga petugas imigrasi tidak peduli dari negara mana Anda berasal dan menyajikan informasi itu secara konsisten dengan cara yang aman untuk memungkinkan perjalanan yang aman,” ujarnya.

“Menggunakan kredensial yang dapat diverifikasi, pengalaman penumpang dimulai dari kami, memesan tiket secara online, seperti yang biasa dilakukan. Setelah menyelesaikan pembelian tiket itu, maskapai sebenarnya akan mengirimkan beberapa instruksi mengenai persyaratan baru ini di mana calon penumpang harus melakukannya dengan pergi dan kunjungi klinik, kemudian ambil tes swab Covid dan klinik itu akan mengeluarkan hasil tes Covid calon penumpang. Hasil tes itu akan menjadi kode QR yang bisa saya lihat, bersama dengan detail tercetak,” kata Glenn.

Dia menambahkan, saat tiba di bandara, pengalaman pertama yang akan didapat adalah berbicara dengan agen pemeriksa. Kemudian ke loket check in untuk mendapatkan kursi penerbangan dan meminta melihat kresedensial penumpang.

Baca juga: Singapore Airlines Hadirkan Layanan Verifikasi Digital Covid-19 yang Juga Bisa Jadi ‘Paspor Vaksin’

Selain menggunakannya untuk penerbangan, Glenn percaya sistem tersebut dapat digunakan untuk berbagai skenario domestik lainnya termasuk check in ke hotel, memasuki acara olahraga dan konser skala besar, dan “semua hal yang kami nikmati sebelum Covid”.

Malaysia Airlines Jual Enam Pesawat Airbus A380, Termurah Rp651 Miliar, Berminat?

Malaysia Airlines resmi menjual enam pesawat Airbus A380. Pengumuman itu dirilis melalui laman LinkedIn resmi maskapai. Bagi mereka yang berminat, proses tender masih dibuka dan diharapkan untuk segera mengirimkan proposal ke email aircraft.project@malaysiaairlines.com cc vendor@malaysiaairlines.com.

Baca juga: Akhirnya Malaysia Airlines Pensiunkan Armada Airbus A380

Menurut data ch-aviation.com, pesawat A380 Malaysia Airlines yang dijual usianya masih di bawah 10 tahun. Armada pesawat paling tua dengan nomor registrasi 9M-MNA diketahui berumur 9,74 tahun (dikirim pada 29 Mei 2012) dan telah menyelesaikan 28.386 jam terbang di 2.618 siklus penerbangan.

Adapun pesawat A380 termuda Malaysia Airlines, dengan nomor registrasi 9M-MNF, baru berusia 8,72 tahun (dikirim pada 28 Maret 2013). Pesawat ini diketahui paling jarang digunakan dengan catatan 23.819 jam terbang di 2.277 siklus penerbangan.

Menurut penilaian yang dibuat oleh Collateral Verifications LLC untuk ch-aviation.com, empat pesawat tertua masing-masing memiliki nilai pasar saat ini sebesar US$44,89 juta atau sekitar Rp651 miliar (kurs 15.000).

Sedangkan dua pesawat sisanya yang lebih muda bernilai US$46,89 juta atau sekitar Rp680 miliar (kurs 15.000). Bagi Anda yang berminat memborong keenamnya, itu bernilai sekitar US$273,34 juta atau Rp4 triliun (kurs 15.000).

Dijualnya enam armada A380 maskapai tentu menjadi jawaban atas teka-teki perusahaan. Sejak Mei lalu, Malaysia Airlines diketahui bimbang dalam mengambil keputusan antara menjual atau mengirim enam pesawat A380nya ke kuburan pesawat.

Bila opsi kedua yang diambil, tentu itu bukan pilihan terbaik mengingat maskapai butuh lebih banyak suntikan dana, bukan sekedar mengurangi cost maintenance pesawat saja dan sekarang terbukti bahwa itu bukanlah opsi yang diambil maskapai.

Sejak insiden kecelakaan MH370 pada 8 Maret 2014 silam, ditambah terjangan virus Corona yang menghancurkan industri penerbangan, bisnis Malaysia Airlines memang kian tak jelas.

Bahkan, sebelum pandemi Covid-19 mewabah di seluruh dunia, Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr. Mahathir Mohamad di sela acara KTT Asia Pasifik ke-33, sudah menyatakan keinginannya untuk menjual maskapai nasional Malaysia tersebut. Jadi, secara keuangan, Malaysia Airlines memang sudah tidak sehat sejak lama.

Baca juga: Dear Airbus Lovers, Kursi A380 Bekas Singapore Airlines Dijual Satuan Loh, Berminat?

Karenanya, tak heran bila maskapai akhirnya mempensiunkan pesawat tersebut. Jangankan Malaysia Airlines yang sudah terang keuangannya sedang tidak sehat, maskapai besar dan kaya raya sekalipun juga tak sanggup mengoperasikan A380 dengan pasar yang seperti ini.

“Kami menyadari tantangan untuk menjual pesawat ini, tetapi kami masih mencari cara dan sarana untuk membuang A380 armada kami. Saat ini, manajemen yakin bahwa A380 tidak sesuai dengan rencana masa depan,” kata Group Chief Executive Captain, Izham Ismail.

Penumpang Gigit Pramugari dan Coba Buka Pintu Pesawat di Udara, Mustahil!

Seorang penumpang American Airlines belum lama ini dlaporkan hilang kontrol, mengigit pramugari, dan coba membuka pintu pesawat saat di udara. Beruntung, aksi tersebut berhasil digagalkan pramugari lainnya. Kendati demikian, andaipun tak digagalkan, mustahil seseorang bisa membuka pintu pesawat saat di tengah penerbangan. Kok bisa?

Baca juga: Pernah Berpikir untuk Membuka Pintu Pesawat Saat di Udara? Mustahil!

Dilansir wfla.com, insiden itu terjadi beberapa hari yang lalu dalam penerbangan antara Dallas ke Charlotte, Amerika Serikat (AS). Ketika itu, penumpang wanita yang tak diungkap identitasnya ini secara tiba-tiba menyerang petugas dan coba membuka pintu pesawat saat di tengah penerbangan.

Awalnya petugas tak bermaksud berbuat lebih dan memilih mencoba untuk menenangkan penumpang yang bersangkutan. Tetapi, demi keselamatan dan keamanan penerbangan, petugas akhirnya bahu-bahu menangkap pelaku dan mengikatnya di kursi.

Petugas lain yang sudah standby di bandara tujuan kemudian menjemput dan membawanya ke rumah sakit untuk diperiksa kejiwaannya.

“Saat dalam penerbangan dari Dallas-Fort Worth (DFW) ke Charlotte (CLT) pada 6 Juli, awak pesawat American Airlines penerbangan 1774 melaporkan potensi masalah keamanan setelah seorang pelanggan berusaha membuka pintu boarding depan dan menyerang secara fisik, menggigit dan menyebabkan cedera pada pramugari,” kata juru bicara maskapai.

“Demi keselamatan dan keamanan pelanggan lain dan kru kami, penumpang tersebut ditahan hingga pesawat mendarat di CLT dan dijemput oleh penegak hukum dan emergency personnel,” lanjutnya.

Tetapi, terlepas dari aksi penumpang brutal tersebut menggit pramugari dan mencoba membuka penumpang saat di udara, sebetulnya bisakah pintu pesawat dibuka dari dalam saat pesawat mengudara? Jawabannya, mustahil!

Dalam sebuah tulisan businessinsider.com, sebuah pesawat saat mengudara, pada umumnya berada di ketinggian sekitar 3.600 – 10.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Banyak faktor yang mendasari mengapa pesawat berada di ketinggian tersebut, seperti menghindari kawanan burung (jenis tertentu bisa terbang maksimal di ketinggian 4.500 meter) hingga mengejar efisiensi bahan bakar. Pasalnya, semakin tinggi pesawat, semakin rendah tekanan udara di luar sehingga pesawat tak memerlukan tenaga ekstra untuk meluncur di airways.

Terkait konteks membuka pintu darurat atau pintu utama, pada ketinggian tersebut (3.600 – 10.000 mdpl), pesawat mendapatkan tekanan besar dari luar, sekitar 10,8 ton.

Baca juga: Duh, Penumpang Pukul Pramugari dan Coba Buka Pintu Pesawat Saat di Udara! Memangnya Bisa?

Sebaliknya, bila seseorang ingin membuka pintu pesawat saat di udara, baik secara sengaja maupun tidak, orang tersebut harus mempunyai kemampuan untuk mengangkat beban setara 10,8 ton tadi, barulah kemungkinan pintu pesawat dibuka saat di udara menjadi lebih besar.

Dengan begitu, kalaupun penumpang American Airlines yang coba membuka pintu pesawat saat mengudara dibiarkan, secara ilmiah, penumpang itu mustahil bisa melakoninya. Tentu, itu tergantung pada di ketinggian berapa pesawat berada. Bila itu dilakukan beberapa detik setelah pesawat lepas landas, tekanan dari luar mungkin tak terlalu besar sehingga memungkinkan oknum penumpang membukanya.

COMAC C919 Segera Beroperasi Komersial, Boeing-Airbus Ketar-ketir

Pesawat Made in China, China Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC) C919 paling lambat akhir tahun ini akan menjalani uji sertifikasi oleh regulator penerbangan sipil Cina. Bila tak ada aral melintang, tahun depan sudah bisa mendapat izin untuk beroperasi secara komersial.

Baca juga: Cina Pusing COMAC Masuk Daftar Hitam, Proyek Pesawat Komersial “Made in China 2025” Mangkrak

Kendati harus mendapat sertifikasi dari regulator penerbangan sipil AS (FAA) dan badan keselamatan penerbangan Eropa (EASA) untuk bisa bersaing secara global, dan tentu saja itu langkah yang tidak mudah, tetapi itu soal lain. Paling tidak kehadiran COMAC C919 di pasar domestik Cina saja sudah membuat Boeing dan Airbus gemetar.

Diakui atau tidak, Cina memang jadi salah satu pasar penerbangan terbesar di dunia. Kebutuhan industri penerbangan Cina terhadap pesawat di tahun 2030 juga semakin meningkat.

Catatan Boeing, tahun 2030 Cina setidaknya butuh sekitar hampir 7 ribu pesawat baru narrowbody single aisle, hampir 2 ribu pesawat widebody, hampir 1 ribu pesawat kargo, dan tidak lebih dari 500 pesawat regional.

Andai saja COMAC C919 sukses melewati uji sertifikasi oleh regulator Cina tahun depan, itu berarti di tahun-tahun mendatang maskapai-maskapai dalam negeri Cina sudah bisa beralih menggunakan pesawat tersebut dan meninggalkan pesawat-pesawat Boeing-Airbus.

Artinya, ada 7 ribu pesanan pesawat Boeing-Airbus yang hangus dari pasar Cina. Bayangkan, berapa triliun dolar yang dihasilkan dari pesanan pesawat sebanyak itu.

Pesawat COMAC C919 cuma namanya saja Made in China. Faktanya, mayoritas komponen pesawat Cina ini masih bergantung pada produk barat-AS. Foto: Financial Times

Sinyal untuk itu pun sudah muncul. Sejauh ini, sejak FAA dan EASA mengizinkan Boeing 737 MAX kembali terbang, sampai saat ini regulator Cina belum juga mengizinkannya.

Meski mereka berdalih masih proses meneliti kelaikan pesawat tersebut, tetapi, banyak pengamat yang menduga bahwa itu adalah sinyal agar maskapai Cina bisa meninggalkan pesawat narrowbody buatan luar dan beralih ke buatan dalam negeri.

“COMAC bukanlah ancaman bagi siapa pun di luar Cina. Tapi Cina adalah pasar ekspor terbesar di planet ini,” kata Richard Aboulafia, wakil presiden di konsultan kedirgantaraan Teal Group, seperti dikutip dari Financial Times.

Boeing sendiri juga sudah menangkap sinyal bahaya dari keberadaan COMAC C919 di pasar domestik Cina. “Saya membayar harga karena mereka adalah bagian terbesar dari pertumbuhan industri di dunia. Ini akan menciptakan masalah nyata bagi kami dalam beberapa tahun ke depan jika kami tidak dapat menemukan beberapa struktur perdagangan itu (pesawat Boeing tak lagi laku di sana),” kata CEO Boeing, Dave Calhoun.

Sementara itu, CEO Airbus, Guillaume Faury, menyebut, “Kita mungkin akan beralih dari duopoli ke triopoli, setidaknya di (pasar) single aisle (lorong tunggal), pada akhir dekade ini”.

Tetapi, walau bagaimanapun juga, COMAC C919 tak akan tumbuh secepat itu. Butuh puluhan tahun untuk memproduksinya secara massal. Airbus, misalnya, dengan segala pengalaman dan rantai pasokan bisnis yang mapan butuh 10 tahun untuk mencapai level produksi 30 jet A320 per bulan.

Baca juga: COMAC Serius Goyang Duopoli Airbus dan Boeing, Pesanan Nyaris 1.000 Unit Jadi Sinyal Kuat

Lagi pula, pesawat Made in China COMAC C919 tak seperti produk Made in China kebanyakan. Ini berbeda. Pesawat narrowbody COMAC C919 mayoritas masih mengandalkan produk-produk barat-AS, sebagaimana gambar di atas.

Andai rantai pasokan produksi tertahan karena satu dan lain hal, sudah pasti proses produksi akan tersendat. Jadi, kesuksesan program COMAC C919 memang masih ada di tangan barat, bukan di tangan Cina itu sendiri.

India Bangun Hotel Bintang Lima Pertama di Atas Stasiun

Sebuah hotel bintang lima berada tepat di atas sebuah stasiun kereta api? Untuk saat ini terdengar seperti cerita fiksi, namun faktanya Indian Railway Stations Redevelopment Corporation (IRSDC) tengah membangun hotel bintang lima pertama di India tepatnya di atas jalur kereta api di Gandhinagar Capital Railway Station.

Baca juga: Terkenal Angker, Stasiun Kaliwedi Meski Kecil Ternyata Peninggalan Belanda

Dilansir KabarPenumpang.com dari india.com (13/7/2021), Stasiun Gandhinagar saat ini sudah direnovasi dan dilengkapi dengan fasilitas modern untuk memberikan pengalaman kelas dunia kepada penumpang. Renovasi yang dilakukan membuat desain interior ditingkatkan dan dilengkapi dengan lukisan dinding yang menarik.

Selain itu ada karya seni di fasad dan di dalam stasiun yang menggambarkan warisan budaya di Gujarat yang kaya. Bukan hanya memberikan kesenangan visual, kehadiran hotel di atas stasiun tujuannya untuk meningkatkan pengalaman penumpang. Ini adalah yang pertama dari jenisnya dan proyek dimulai empat tahun lalu.

Saat itu Perdana Meneteri India Narendra Modi meletakkan batu pertama tahun 2017. Hotel ini memiliki lebih dari 318 kamar kategori bintang lima untuk pengalaman terbaik bagi penumpang yang lebih memilih untuk tinggal di sini. Terletak di dekat Pusat Konvensi dan Pameran Mahatma Mandir dan tersebar di lahan seluas 34 hektar.

Studi getaran dan akustik juga dilakukan guna memastikan penumpang di stasiun dan tamu di hotel bisa nyaman saat kereta melewati rel. Sebuah jembatan layang sepanjang 937 meter juga telah dibangun untuk mencapai hotel pada 22 meter dari permukaan tanah. Selanjutnya, tata letak kolom hotel berbeda dari tata letak kolom pada platform.

Program pembangunan kembali dimaksudkan untuk mengubah stasiun kereta api menjadi pusat perjalanan. Program pembangunan kembali stasiun kereta api diluncurkan oleh Pemerintah India untuk membangun kembali 400 stasiun kereta api di seluruh negeri dengan biaya Rs1 lakh crore melalui mode Kemitraan Pemerintah Swasta (PPP).

Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan fasilitas penumpang dengan memanfaatkan perkembangan infrastruktur negara. Hotel ini dipastikan mampu menarik wisatawan mendongkrak pariwisata di kota tersebut. Untuk meningkatkan pengalaman para tamu, hotel juga akan memiliki pengaturan pencahayaan berbasis tema khusus yang akan berubah setiap malam.

Selain itu, proyek pembangunan kembali juga akan membantu meningkatkan pendapatan stasiun. Lebih lanjut, proyek ini bertujuan untuk memanfaatkan lahan dan infrastruktur yang tersedia di negara ini secara efisien. Ini juga memberikan ruang untuk lebih banyak proyek pembangunan seperti itu yang akan diambil di negara ini.

“Ini adalah model hotel yang unik, desain telah dibuat sedemikian rupa sehingga tidak ada getaran atau kebisingan dari kereta di rel di bawah yang akan dirasakan oleh penghuninya,” kata Ketua Dewan Kereta Api VK Yadav.

Baca juga: Gerbong Kereta Tua Dikonversi Jadi Hotel Mewah di Pinggir Pantai Inggris

Hotel ini direncanakan akan selesai pada Desember 2020, tetapi karena pandemi virus corona, pekerjaan renovasi tertunda. Sesuai situs web hotel Leela Gandhinagar, hotel mewah itu akan “segera dibuka” di ibu kota Gujarat.






















Cina Kembangkan Jet Hipersonik: Lebih Besar dari Boeing 737-Sayap Mirip Concorde

Cina terus menempa diri terkait inovasi teknologi. Terbaru, Negeri Panda itu dikabarkan tengah mengembangkan pesawat hipersonik. Pesawat dikabarkan memiliki tinggi sekitar 45 meter, lebih panjang dari Boeing 737-700, dan sayap delta mirip Concorde, lengkap dengan dua air-breathing engines. Bedanya, pesawat hipersonik Cina dilengkapi dengan wingtip atau ujung sayap lipat.

Baca juga: Ngeri, Teknologi Terbaru Bisa Bikin Pesawat Ngebut 21 Ribu Km Per Jam!

Dilansir South China Morning Post, para peneliti yang terlibat dalam proyek ini mengaku menggunakan model aerodinamis terbaru yang telah terbukti efektif dalam misi luar angkasa Cina, dalam kaitannya dengan evaluasi kinerja pesawat di ketinggian dan saat menyentuh lima-enam kali kecepatan suara.

Para peniliti menemukan area di pesawat yang membutuhkan perlindungan atau penguatan ekstra, karena titik-titik ini kemungkinan besar akan mengalami lonjakan panas dan tekanan secara tiba-tiba saat pesawat mencapai Mach 6 (enam kali kecepatan suara – 7.344 km per jam). Temuan tersebut juga sudah dipublikasikan di jurnal Physics of Gases minggu lalu.

Bila tak ada aral melintang, pada tahun 2025, Cina berusaha menyelesaikan seluruh rangkaian eksperimennya untuk memverifikasi semua komponen kunci pada penerbangan hipersonik, termasuk generasi baru air-breathing engine yang dapat mendorong pesawat ke kecepatan roket.

10 tahun setelahnya atau pada 2035, dalam timeline yang sudah disusun para peneliti yang dipimpin Liu Rui, ilmuan terpenting dalam misi pendaratan Cina di Mars, armada pesawat hipersonik Cina ditargetkan sudah rampung dan mampu beroperasi secara komersial, mengangkut sekitar 10 penumpang, terbang kemanapun ke seluruh dunia hanya dalam tempo satu jam.

Barulah pada 10 tahun berikutnya atau pada tahun 2045, pesawat hipersonik Cina ditargetkan bisa mengangkut lebih banyak penumpang sampai 100 orang per penerbangan.

Karena menarik oksigen dari udara, pesawat hipersonik Cina operasionalnya cukup murah mencapai 100 kali lebih murah dari operasional roket. Selain itu, dalam kaitannya dengan misi luar angkasa Cina, pesawat hipersonik ini bisa digunakan untuk mengangkut sekitar 10 ribu ton kargo dan 10 ribu penumpang per tahun ke stasiun luar angkasa Cina di orbit dekat bumi atau bulan.

Saat ini Cina diketahui sudah memiliki satu jenis senjata hipersonik, yaitu rudal DF-17, yang pertama kali dipamerkan pada parade Hari Nasional 2019.

Baca juga: Australia Ikut Kembangkan Pesawat Supersonik, Terbang Mulai 2025

Meskipun negara-negara Barat memiliki keunggulan dalam pengembangan senjata hipersonik, tetapi Cina dan Rusia telah memimpin perlombaan ini dalam beberapa tahun terakhir.

Cina menjalankan terowongan angin hipersonik terkuat di dunia dan sedang membangun terowongan lain yang jauh lebih besar. Ini tentu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi barat mengingat pesawat atau rudal yang melaju dengan kecepatan hipersonik tidak dapat dihentikan oleh sistem pertahanan udara yang ada.

Lebih Jelas Tentang KN95, Masker Standar Cina yang Laris Manis

Semua orang yang keluar rumah saat ini direkomendasikan menggunakan masker dua lapis dengan masker medis dan kain atau menggunakan masker N95 atau KN95. Bahkan setiap penumpang angkutan massal yang tidak menggunakan masker dua lapis atau dua varian itu biasanya akan diingatkan untuk membeli masker tambahan.

Baca juga: Menggunakan Masker Terlalu Lama Bisa Sebabkan Bau Mulut? Cek Tips Ini

Rekomendasi penggunaan masker ini dikarenakan penyebaran virus corona yang lebih cepat. Namun tahukah Anda apa itu masker KN95 dan kenapa aman digunakan untuk pandemi saat ini dengan virus yang bermutasi? KN95 ternyata erat kaitannya dengan N95 dan menjadi yang terakhir disetujui untuk digunakan dalam pengaturan medis di Amerika Serikat.

Masker KN95 merupakan standar Cina dan N95 adalah standar dari Amerika Serikat. Meski begitu kedua varian masker ini dinilai dapat menyaringan 95 persen partikel yang sangat kecil. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, kehadiran KN95 karena adanya kekurangan alat pelindung diri atau APD di Amerika Serikat di awal pandemi.

Sehingga Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengizinkan penggunaan masker KN95 sebagai alternatif yang sesuai untuk masker N95. Dari bentuknya KN95 mirip dengan N95 tetapi bedanya masker ini memiliki jahitan dibagian tengah yang memungkinkan masker bisa dilipat dua.

Bisa dikatakan KN95 bentuknya mirip tenda sehingga ada sedikit kantong udara antara hidung dan masker. KN95 relatif lebih mudah untuk bernapas dan tidak terlalu menyesakkan saat digunakan. Ini tidak seperti N95 yang menutup semua bagian mulut dan hidung sehingga agak sedikit menyesakkan ketika digunakan.

Meski cara kerjanya mirip, tetapi KN95 diatur oleh organisasi yang berbeda dan menimbulkan beberapa pertanyaan tentang kemanjuran masker ini dalam medis. Dalam sebuah analisis, ditemukan bahwa hingga 70 persen masker wajah yang diimpor dari luas AS tidak memenuhi standar untuk efektivitasnya.

Baca juga: Canggih, Masker ini Bisa Deteksi Virus Corona Saat Pengguna Memakainya dalam Waktu 90 Menit

Namun, masker KN95 tetap lebih baik daripada masker bedah atau masker kain. Di luar penggunaan untuk tenaga kesehatan atau orang yang berisiko tinggi menghadapi Covid-19, masyarakat tetap bisa mengambil manfaat dari penggunaan masker ini. Bahkan, masker KN95 juga disebut lebih protektif dan praktis dibandingkan masker bedah biasa atau masker kain tiga lapis.

Inilah Travis Ludlow, Pilot Termuda yang Terbang Solo Keliling Dunia

Seorang pilot remaja berusia 18 tahun, Travis Ludlow, berhasil mencatatkan namanya di Guinness World Record sebagai pilot termuda yang terbang solo keliling dunia dengan pesawat single engine pada usia 18 tahun dan 150 hari, 13 hari lebih muda dari pemegang rekor sebelumnya.

Baca juga: Mengenal Wiley Post, Pilot Pertama yang Terbang Solo Keliling Dunia! Ada Peran Autopilot

Kepastian itu didapat setelah pilot berkebangsaan Inggris ini mendarat di Belanda usai menghabiskan 44 hari perjalanan sejauh 40.072 km.

Dilansir BBC International, Travis Ludlow mulai terbang pada usia 12 tahun dan menjadi pilot glider termuda di Inggris pada usia 14 tahun.

Penerbangannya memecahkan rekor pilot termudah yang terbang solo keliling dunia menggunakan pesawat Cessna 172R keluaran tahun 2001. Ia start dari Inggris, kemudian melintasi Eropa, Rusia, Amerika Serikat, Kanada, Greenland, Islandia, dan mendarat di Belanda.

Sepanjang perjalanan di sembilan negara itu, Travis melakukan sekitar 60 kali pemberhentian untuk mengisi bahan bakar dan hal lainnya.

Usai resmi memecahkan rekor dunia, Travis mengaku sangat lega dan mungkin bisa tidur dengan nyenyak. Sementara itu, Mason Andrews dari Louisiana, sang pemegang rekor sebelumnya sejak tahun 2018 silam, mengaku senang dengan Travis. Sebuah rekor tercipta untuk dipecahkan orang lain dan itu terjadi.

“Rekor dunia dibuat untuk dipecahkan. Saya memiliki rekor. Saya tidak mendapatkan apa-apa dengan terus memegang rekor sehingga saya lebih dari bersedia untuk meneruskan obor ke generasi berikutnya,” jelasnya.

Sebetulnya, bila merujuk jauh ke belakang, ada pilot solo lain yang jauh lebih muda, tetapi bukan terbang solo keliling dunia sebagaimana Travis dan Mason, melainkan hanya sekedar terbang solo saja.

38 tahun lalu, bertepatan dengan 24 Februari 1983, bocah sembilan tahun 316 hari atau nyaris berusia 10 tahun, Cody A. Locke, berhasil terbang solo menggunakan pesawat Cessna 150. Atas keberhasilannya itu, ia pun berhasil mencatatkan diri di Guinness Book of World Records sebagai pilot termuda yang terbang solo dalam sejarah penerbangan dunia.

Dilansir dari  Los Angeles Times, informasi terkait tahapan awal sampai pesawat mendarat dan Cody resmi berhasil mencatatkan rekor sangat terbatas. Bahkan, di situs Guinness Book of World Records sendiri, catatan rekor Cody A. Locke juga tidak ada, kecuali hanya sedikit saja, dimana bocah sembilan tahun itu melakukan penerbangan solo tersebut pada tahun 1983 di Mexicali, Meksiko.

Selebihnya, seperti berapa lama durasi terbang, bagaimana persiapan awal, ketika dalam penerbangan solo, jarak dan titik yang dituju, sampai akhirnya mendarat dengan selamat, tidak ada informasi terkait hal itu.

Informasi lengkap terkait pilot termuda yang berhasil terbang solo justru cukup banyak atas nama Tony Aliengena. Bocah yang duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar ini diketahui mencatat rekor tersebut pada usia 9 tahun 295 hari, berjarak sekitar 21 hari dari Cody A. Locke, pada 14 Maret 1988.

Baca juga: Hari Ini, Bocah SD Berusia 9 Tahun Jadi Pilot Termuda dalam Sejarah yang Terbang Solo

Menariknya, setelah mencatat rekor tersebut, Tony rupanya belum berpuas diri. Pada tanggal 22 Juli 1989 atau ketika berusia 11 tahun, Tony Aliengena berhasil mencatatkan diri sebagai pilot termuda yang berhasil terbang solo keliling dunia, setelah pesawat milik ayahnya, Cessna 210 Centurion, yang ditumpanginya berhasil kembali ke Bandara John Wayne di Orange County, California, AS, menempuh jarak sejauh 21.567 mil atau 34.708 km selama tujuh hari.

Bila rekor ini tercatat di Guinness World Record, seharusnya rekor pilot termuda yang terbang solo keliling dunia masih tercatat atas nama Tony Aliengena, bukan Mason Andrews dan Travis Ludlow.

Manipur Masuk dalam India Railway Map, Pejabat: Ini Momen Bersejarah

Sebuah momen sejarah bagi masyarakat Manipur saat negara bagian itu muncul di peta kereta api India atau Indian Railway Map. Munculnya Manipur dalam Indian Railway Map terlihat dari sebuah kereta penumpang Rajdhani Express yang berangkat dari Stasiun Silchar Assam dan tiba di Stasiun Vaingaichunpao.

Baca juga: Rajdhani Express Kembali Beroperasi, Indian Railways: Tidak Ada Selimut dan Makanan

Kereta ini melakukan uji coba pada 2 Juli 2021 kemarin menempuh jarak sebelas kilometer dengan mengangkut pejabat di dalamnya. Menteri Perkeretaapian Piyush Goyal mentweet, “Meningkatkan Konektivitas di Timur Laut: Uji coba kereta penumpang dari Silchar di Assam ke Vangaichungpao di distrik Tamenglong Manipur berhasil diselesaikan baru-baru ini. Ini akan memastikan konektivitas yang lebih baik antara Manipur & Assam dan menyediakan kemudahan perjalanan bagi penumpang.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman timesofindia.indiatimes.com (11/7/2021), ini juga diakui oleh Ketua Menteri Manipur N Biren Singh dan Menteri Persatuan Dr. Jitendra Singh menyebutnya sebagai ‘momen bersejarah‘ dalam tweet yang mereka bagikan. Biren Singh menambahkan bahwa masyarakat Manipur sangat berterima kasih kepada Perdana Menteri Narendra Modi.

Dari sebuah laporan mengatakan bila penduduk setempat menyambut petugas kereta api di Stasiun Jiribam tempat kereta berhenti. Di mana mereka juga mengibarkan bendera nasional serta menyanyikan lagi kebangsaan. Untuk diketahui penumpang yang naik dari Silchar dan tiba di Jiribam adalah petugas perkeretaapian termasuk senior perkeretaapian North-East Frontier (NF) PRO Nripen Bhattacharya, dan CDO Silchar Abdul Hakim.


Jitendra Singh juga membagikan klip kereta api dan mengungkapkan bahwa Manipur akhirnya memulai debutnya di peta Kereta Api India.

Saat ini, jalur kereta api Vaingaichunpao – Imphal sedang dibangun yang akan menghubungkan Ibukota Manipur dengan jaringan Kereta Api India. Diharapkan pekerjaan pada jalur kereta api yang penting ini akan selesai pada Maret 2022.

Baca juga: Pertama Kalinya dalam Sejarah, Layanan Kereta di India Mampu ‘On Time’ 100 Persen

Nantinya setelah selesai rute tersebut dibangun, maka jalur Vaingaichunpao dan Imphal akan menjadi terowongan kereta api terpanjang dekat Imphal yang adalah ibukota Manipur.

Filipina Larang Wisatawan Indonesia Masuk 16-31 Juli, Ini Data Kunjungan Kedua Negara

Filipina akhirnya resmi bergabung dengan tujuh negara lainnya untuk melarang wisatawan asal Indonesia masuk ke negara mereka. Demikian juga wisatawan Filipina yang hendak berkunjung ke Indonesia. Hal itu diungkap langsung juru bicara Kepresidenan Filipina, Harry Roque.

Baca juga: Corona RI Mengganas, Negara-negara Ini Kompak Stop Penerbangan dari dan ke Indonesia

Keputusan itu diambil untuk mencegah penyebaran virus Corona dalam hal ini varian Delta yang terbukti sangat membuat bebagai rumah sakit di Indonesia kewalahan.

“Presiden Rodrigo Duterte telah menyetujui pembatasan perjalanan untuk semua traveler yang datang dari Indonesia atau mereka yang memiliki riwayat perjalanan ke Indonesia dalam 14 hari terakhir sebelum kedatangan di Filipina,” katanya dalam sebuah pernyataan.

“Tindakan ini dilakukan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dan transmisi komunitas varian Covid-19 di Filipina,” tambahnya, seperti dikutip dari The Straits Times.

Selain Indonesia, wisatawan dari India, Pakistan, Nepal, Bangladesh, Sri Lanka, Oman, dan Uni Emirat Arab juga dilarang memasuki Filipina hingga 31 Juli.

Filipina sendiri saat ini memiliki 1.485.457 kasus Covid-19 yang dikonfirmasi (beberapa di antaranya varian Delta), termasuk 26.232 kematian.

Filipina diketahui menjadi negara kedelapan setelah Hong Kong, Taiwan, Uni Emirate Arab (UEA), Oman, Singapura, Arab Saudi, dan Jerman yang melarang kedatangan wisatawan asal Indonesia. Dilihat dari traffic data wisatawan negara-negara tersebut ke Indonesia, mungkin bisa dibilang sangat berpengaruh terhadap arus kedatangan wisatawan dari sana.

Tetapi, bagaimana dengan Filipina? Apakah antara Indonesia-Filipina punya penerbangan langsung? Berapa jumlah wisatawan Indonesia maupun Filipina yang berkunjung?

Dikutip dari ceicdata.com, pada Desember 2020, kunjungan wisatawan asal Filipina ke Indonesia dilaporkan sebesar 13,753 orang. Ini merupakan rekor tertinggi dibanding bulan November di tahun yang sama yang hanya kurang dari 10 ribu orang. Sejak tahun 1988 sampai 2020, rata-rata 177,854 wisatawan asal Filipina berkunjung ke Indonesia setiap bulannya.

Sedangkan untuk wisatawan Indonesia yang ke Filipina, pada tahun 2018 ada 76.651 wisatawan Indonesia yang mengunjungi Filipina. Jumlah tersebut naik dari tahun 2017 yang hanya 62.923 wisatawan Indonesia. Pada 2019, Filipina menargetkan 100 ribu wisatawan asal Indonesia yang berkunjung ke sana.

Baca juga: Corona RI Makin Gawat, Jepang Evakuasi Warganya dari Indonesia!

Dari segi akses penerbangan juga tergolong mudah. Banyak penerbangan dari Filipina ke Indonesia dan sebaliknya. Dari Filipina, ada penerbangan dari Jetstar, Asiana, Philippine Airlines-Singapore Airlines, dan Korean Air. Bukan hanya keberangkatan dari Manila, tetapi juga dari empat kota lainnya, meliputi Cebu, Davao, Butuan, dan Angeles.

Sedangkan dari Indonesia, tersedia penerbangan Garuda Indonesia, Philippine Airlines, Singapore Airlines untuk keberangkatan Jakarta, Denpasar, Manado, Surabaya, dan Banjarmasin.