Inilah Pinger Locator, Alat Kunci Temukan Black Box Sriwijaya Air! Bisa Tembus Kedalaman 6 Ribu Meter

0
Begini wujud Pinger Locator yang amat diandalkan mencari keberadaan black box pesawat. Foto: ABC

Saat sebuah pesawat mengalami kecelakaan, black box sudah hampir pasti akan dibicarakan oleh semua orang; tak terkecuali kecelakaan peswat Boeing 737-500 PK-CLC Sriwijaya Air. Sebab, misteri jatuhnya pesawat disebut ada di sana. Namun, sebelum black box atau kotak hitam berhasil mengungkap misteri kecelakaan, sudah pasti alat tersebut harus ditemukan terlebih dahulu.

Baca juga: Teknologi Baru CVR dan FDR Sukses Disertifikasi! Kini “Kotak Hitam” Bisa Rekam Hingga 70 Jam

Sayangnya, bukan perkara mudah menemukan alat yang terdiri dari Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR) itu. Dibutuhkan usaha dan alat khusus untuk menemukannya. Alat tersebut adalah Pinger Locator.

Dikutip dari BBC International, Pinger Locater adalah perangkat pengirim dan penangkap sinyal (ping) yang dikirimkan black box berbasis sonar. Cara kerja Pinger Locater mula-mula alat ini ditenggelamkan ke dalam lautan dengan menggunakan sebuah alat yang biasa disebut dengan ‘tow fish’.

Dengan Tow fish, berupa robot bawah laut atau remotely operated vehicle (ROV) yang dikendalikan dari kapal dengan kabel panjang, Pinger Locator dapat menjelajahi lautan dalam mencari keberadaan CVR dan FDR (black box).

Cara kerja Pinger Locator. Foto: Pinterest

Pinger Locator akan memulai kerjanya dengan mengirimkan sonar yang umumnya berjalan di frekuensi 37,5 kHz. Sonar yang dikirimkan ini akan ditangkap oleh suar milik black box dan dikembalikan lagi ke Pinger Locater dengan sebuah alat bernama sensitive listening equipment. Dengan begini, Pinger Locater dapat menentukan titik keberadaan black box dengan mudah.

Pinger Locater disebutkan dapat menembus kedalaman lautan 6.100 meter, setara dengan kemampuan casing black box yang mampu bertahan selama 1 tahun di kedalaman sekitar 6.100 meter.

Hanya saja, kerja Pinger Locater sangat bergantung pada black box. Meski sonar dari Pinger Locater bisa saja memantul saat mengenai black box, tetapi, akan lebih efektif bila Pinger Locator mendapat sinyal ping dari black box.

Komponen black box dan keterangannya. Foto: AFP

Celakanya, sinyal ping memancar berkat baterai memiliki usia yang sangat terbatas, sekitar lebih dari 30 hari. Jika daya habis, black box tidak dapat memancarkan sinyal ping sehingga semakin sulit mendeteksi keberadaannya. Sinyal ping black box tersebut berasal Emergency Locator Transmitter (ELT) yang menempel pada FDR dan CVR.

Jadi, di dalam black box ada CVR dan FDR. Di FDR dan CVR terdapat ELT. Nah, ELT itulah yang memancarkan sinyal ping. Adapun FDR menyimpan rekaman data penerbangan selama 25 jam (teknologi terkini bisa sampai 70 jam). Sedangkan CVR menyimpan rekaman suara di kokpit selama 30 menit sampai 2 jam (teknologi baru bisa mencapai 25 jam).

Baca juga: Mengenal ELT, Komponen Penting Pesawat yang Selalu Dicari Saat Kecelakaan

Hanya saja, di beberapa kondisi, ELT nyatanya tidak berfungsi dengan baik karena satu dan lain hal, seperti benturan keras saat kecelakaan terjadi ataupun kebakaran hebat dengan suhu di atas 1.100 derajat celcius.

Itu sebabnya, fungsi ELT juga didukung oleh Underwater Locator Beacon (ULB), alat pemancar sinyal (ping) darurat lain yang menempel di black box pesawat. AFP menyebut, ULB bisa bertahan hingga 90 hari sejak kecelakaan terjadi.

Leave a Reply