Inisiatif Respon Virus Corona Bersama Maskapai Lain, Dirut Garuda: Jangan-jangan Solusi Malah Memakan Salah Satu

1
Direktur Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra. Foto: Kabar Penumpang

Direktur Utama (Dirut) Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, menyebut inisiatif untuk melakukan perbicangan dengan maskapai lain dipandang belum tepat. Sebab, saat ini, masing-masing maskapai tengah mengalami persoalan masing-masing, sekalipun ia memang mengakui kekompakan maskapai-maskapai dalam negeri ketika menghadapi sebuah problem.

Baca juga: Dirut Garuda Indonesia: “Tidak Ada PHK Massal di Tengah ‘Badai’ Virus Corona”

“Sepanjang pengetahuan saya sih kita memang kompak, banyak asosiasi, banyak berinteraksi, kerjasama antar maskapai. Tapi ini kayanya sebuah situasi yang semua orang belum pernah mengalami. Jadi hari ini kalau saya ada rencana bertemu dengan beberapa CEO maskapai menurut saya sih hari ini mungkin ga terlalu tepat juga kita bicarakan karena mereka juga mempunyai masalahnya masing-masing yang berat sekali gitu kan,” katanya saat ditemui KabarPenumpang.com di kantor Garuda Indonesia Kebon Sirih, beberapa waktu lalu.

“Jadi kalau kita duduk terus mencoba mencari solusi dari masalah masing-masing, jangan-jangan solusi tuh malah memakan salah satu kan, bukan malah membantu. Kita ada beberapa ide, Cuma saya pikir timing-nya belum tepatlah untuk kita bicara,” tambahnya.

Dirut berpostur tinggi besar tersebut pun kemudian mengambil sebuah perumpamaan penerbangan ke Cina yang dalam hematnya hampir semua maskapai di Asia tidak dapat terbang ke sana. Menurunya, kondisi tersebut tentu saja membuat masing-masing maskapai mengalami penurunan pada utilisasi atau isi pesawat. Selain itu, ia juga mengambil perumpamaan terhadap dampak virus corona yang dalam amatannya telah membuat penerbangan terpukul keras karena sentimen yang meningkat hingga menyebabkan jumlah penumpang terus menurun.

“Kaya yang terbang misalnya dalam satu hari ke satu tempat, misalnya Jakarta-Singapura. Satu hari misalnya ada 20 ribu orang yang terbang. Sekarang tinggal 2 ribu, misalnya, atau tinggal 5 ribu. Sementara kan jumlah pesawat yang disiapkan oleh semua maskapai yang melayani Jakarta-Singapura itu kan cukup untuk 20 ribu. Tapi berlebih karena 5 ribu kan. Nah ketika masing-masing mencoba mengambil ceruk pasar 5 ribu ini, apakah penurunannya eksponensial?” paparnya.

“Misalnya saya 20 persen, kalau begitu saya dapat 1 ribu? Kan belum tentu begitu dan karena saya 20 persen dari 20 ribu itu 4 ribu, wah ini kesempatan ini jadi ngambil 5 ribu. Atau yang tadinya 50 persen ya mereka ingin mengambil yang 5 ribu tadi. Jadi semuanya mau ngambil yang 5 ribu sisa ini kan? Untuk dirinya sendiri,” jelasnya.

Baca juga: Tegas! Ini Tanggapan Dirut Garuda Indonesia Terkait Pengaruh Diskon Tiket Pada Demand Penumpang

Jika skema tersebut benar adanya, hal itu pun membuatnya khawatir bahwa maskapai akan perang tarif atau banting-bantingan harga. Jika hal itu terjadi, ia memandang penerbangan justru akan merugikan maskapai itu sendiri.

“Nah ini (disaat penerbangan sepi) yang akan terjadi adalah perang harga. Saya Cuma mau mengingatkan aja pada setiap orang, perang harga tidak akan membantu siapapun dan perang harga juga akan penerbangan itu sendiri pun merugi,” pungkasnya.

1 COMMENT

  1. Intinya yang saya tangkap adalah virus corona merupakan masalah yang begitu besar untuk permasalahan penerbangan yang pernah terjadi, sehingga mengakibatkan kecemasan yang begitu terhadap masyarakat maupun para maskapai tersebut. Sehingga sat ini merupakan masalah yang rumit bahkan menimbulkan kerugian bagi penerbangan saat ini. Dan bahkan untuk saat ini Direktur Utama dari Garuda Indonesia masih belum bisa mengatasi masalah tersebut dan lebih memilih untuk menunggu timing yang tepat dalam mendiskusikan masalah ini dengan para maskapai sehingga tidak menimbulkan masalah antar satu dengan yang lain. Terimakasih.

Leave a Reply