Wednesday, May 25, 2022
HomeBus AKAP"Irex", Bahan Bakar Andalan Pengemudi Bus Nakal

“Irex”, Bahan Bakar Andalan Pengemudi Bus Nakal

Banyak yang bilang, orang Indonesia juara pertama soal akal-akalan, termasuk mengakali biaya bahan bakar kendaraan supaya lebih irit. Untuk urusan ini, pengemudi bus boleh jadi sudah hafal di luar kepala.

Baca juga: Continental, Legenda Bus Malam Eksekutif dengan Segala Keunikannya

Teknik eco driving atau istilah lokalnya “menyekolahkan” kaki kanan nyatanya belum cukup bagi mereka. Agar uang yang dibawa pulang lebih banyak, mereka kerap mencampur solar dengan minyak lain yang bikin kita geleng-geleng kepala.

Tentu saja, hal itu tidak berlaku bagi pengemudi yang menjalankan sistem “solar cor” atau biaya bahan bakar ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan. Demikian halnya dengan perusahaan yang mengharuskan bus untuk mengisi bahan bakar di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) tertentu.

Hingga pertengahan dekade 2000-an, saat minyak tanah masih murah atau disubsidi harganya oleh pemerintah, tak sedikit pengemudi yang mencampurkan solar dengan bahan bakar kompor itu. Campuran tersebut disebut “irek” atau “irex”, singkatan dari “irit dan ekonomis”.

Entah siapa yang menemukan ide penggunaan minyak tanah untuk campuran solar. Namun yang jelas, praktik ini sudah berjalan sejak akhir 1990-an pascakrisis moneter 1998. Ditandai dengan munculnya warung-warung dengan jeriken besar berisi minyak di sepanjang Jalur Pantai Utara Jawa (Pantura).

Yoso, pengemudi truk ekspedisi yang sebelumnya sempat malang melintang di sejumlah perusahaan otobus (PO) mengaku sempat menjadi pengguna setia “irex”. Alasannya satu, supaya uang yang dibawa pulang bisa lebih banyak.

“Dulu saya bawa bis malam setoran. Pokoknyq juragan enggak mau tahu, balik garasi kudu setor segitu, enggak boleh kurang. Kalau di jalan penumpang sepi atau macet solar habis banyak juga sama. Diakali saja lah pakai “irex” itu,” ujarrnya.

Yoso tak ingat berapa selisih pasti harga antara solar murni dan “irex”. Tetapi yang jelas, berkat “irex” dia bisa menghemat nyaris separuh dari biaya bahan bakar normalnya.

Dia menjelaskan “irex” yang dijual di warung-warung sepanjang Jalur Pantura tidak hanya satu macam. Ada yang hanya dicampur minyak tanah, ada yang dicampur oli bekas, dan ada pula yang dicampur dengan minyak goreng.

“Minyak tanah dicampur solar, minyak tanah empat jeriken ukuran 25 liter tambah solar dua jeriken. Udah full sampai tujuan. Ada juga yang pakai oli bekas atau tambah minyak goreng. Cuma saya waktu itu jarang, takut bospom [pompa solar] mampet,” tuturnya.

Tentu saja, praktik nyeleneh itu ada konsekuensinya ke mesin kendaraan. Selain pompa solar berisiko mampet di tengah perjalanan, “irex” juga membuat mesin kendaraan cepat rusak lantaran suhu mesin bisa jauh lebih panas dari semestinya.

Pihak yang paling dirugikan sudah jelas adalah perusahaan atau pemilik kendaraan. Oleh karena itu, perusahaan memberikan sanksi keras, termasuk pemecatan bagi pengemudi yang ketahuan mengisi bahan bakar kendaraan menggunakan “irex”.

“Ketahuan biasanya dipecat, mobil kan jadi cepat rusak. Biasanya ketahuan pakai “irex” itu dari asapnya, apalagi yang ada campuran oli bekas. Asapnya ngebul putih, baunya enggak enak, pedih di mata. Suara mesin juga kasar biasanya,” ujar Yoso.

Seiring dengan pengalihan subsidi minyak tanah ke liquified petroleum gas (LPG)/elpiji 3 kg, “irex” menghilang. Sebagian penjual yang masih tersisa biasanya hanya menjajakan campuran solar dan minyak goreng.

Baca juga: Inilah Deretan Fasilitas Nyaman di Bus AKAP, Siap Memanjakan Bus Mania

“Kalau sekarang minyak [goreng] mahal ya enggak mungkin lah ada lagi. Solar udah paling murah harganya, goceng lebih sedikit ya diisinya solar. Biar mobil bisa lari ada juga sopir yang suka tambahin Pertamax atau Pertamax Plus 1-2 liter ke tangki setelah solar full,” ungkapnya. (Bisma Satria)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular