Jadi ‘Kebanggaan’ Maskapai di Masa Pandemi, HEPA Ternyata Tidak Membuat Kabin Pesawat Bebas Corona!

0
Ilustrasi pesawat Airbus A330-300 yang dilengkapi HEPA Cabin Air Filter. Foto: Bangkok Post

Prosedur The New Normal mulai dijalankan oleh berbagai maskapai di seluruh dunia. Selain menggunakan masker, face shield, dan alat pelindung diri (APD), maskapai pada umumnya juga mengklaim penerbangan aman salah satunya juga berkat fitur HEPA pada pesawat.

Baca juga: Ahli Sebut Kabin Pesawat Tak Aman Cegah Corona! Video Ini Jadi Salah Satu Buktinya

HEPA atau High Efficiency Particulate Arresting sendiri merupakan filter khusus yang dinilai mampu menyerap dan mengubah udara kotor (bahkan ukuran lebih kecil dari dari 0,2,5-0,3 mikrometer sekalipun) menjadi udara yang bisa diterima dengan baik oleh tubuh. HEPA juga diklaim mampu membunuh 99 persen bakteriologis yang terkandung di udara.

Cara kerja HEPA tak terlalu rumit. Agar lebih mudah, bayangkan saja sebuah saringan udara yang biasanya terdapat di berbagai tempat, mulai dari kendaraan bermotor hingga ventilasi. Hanya saja, filter tersebut berukuran jauh lebih kecil mencapai 0,2,5-0,3 mikrometer. Udara masuk melewati filter tersebut. Bila ukuran terlalu besar, maka partikel akan tertahan di filter. Begitu pula sebaliknya.

Adapun di pesawat, HEPA tak bekerja sendirian. Dilihat KabarPenumpang.com dari Instagram resmi Airbus, udara bersih dari luar pesawat mula-mula udara bersih masuk ke air conditioning pack, kemudian melewati mixing unit dan disalurkan ke HEPA. Dari situ, kemudian udara di suplai ke ruangan dengan model penyebaran membentuk ‘O’ dan berakhir di bawah kursi penumapang. Udara tersebut kemudian per 2-3 menit sebagiannya kembali ke jalur semula, melewati filter HEPA dan sebagian lainnya dibuang keluar.

Sayangnya, karena memiliki batasan, HEPA pada akhirnya tetap saja tak bisa dijadikan ‘barang dagangan’ oleh maskapai, demi membuat industri penerbangan kembali seperti sediakala. Singkatnya, bila terdapat patogen di bawah 2,5-3 mikrometer, sudah pasti HEPA tak mampu menahannya.

Dikutip dari molekule.science, HEPA diakui memang ampuh untuk menyaring berbagai partikel agak besar seperti tungau debu, bulu hewan, dan serbuk sari (pollen). Namun, tidak untuk partikel di bawah itu, semisal jamur, Volatile Organic Compounds (VOCs) sejenis bahan kimia yang terbawa melalui udara (biasanya terdapat di produk kosmetik), virus, bakteri, dan berbagai partikel lainnya di bawah 2,5-3 mikrometer.

Dengan data tersebut, tak heran bila Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat (FTC) sejak 2017 lalu sudah mengatur sekaligus mematahkan klaim bahwa produk-produk berbasis filter HEPA dapat membebaskan objek atau lingkungan dari virus atau patogen tak kasat mata.

Parahnya lagi, berbagai bakteri tertentu yang tersangkut di filter HEPA, justru disebut tidak mati dan malah berkembang biak dengan suplai patogen lainnya yang juga tersangkut di filter tersebut. Dengan asupan ‘gizi’ itu, sejumlah bakteri tertentu kemudian akan semakin kuat atau membesar dan bila tak dibersihkan akan kembali terlepas di udara dan terhirup manusia.

Baca juga: Ahli Virologi Ini Yakin Tertular Corona Lewat Mata dalam Penerbangan yang Penuh Sesak

Bagi bakteri tertentu, sebelum mati tersangkut di filter HEPA, mereka sebetulnya mempunyai ‘senjata’ untuk mempertahankan diri dan akan dikeluarkan secara alamiah saat sedang ‘sekarat’ berupa endotoksin ke dalam aliran udara. Studi telah menunjukkan bahwa endotoksin menyebabkan respons inflamasi (peradangan) dan atopik (peradangan kulit) pada sampel uji non-asma dan asma. Jika sudah demikian, tentu sangat kelilru dan menyesatkan bila maskapai mengklaim udara di dalam pesawat terbebas dari berbagai partikel; dalam hal ini virus corona atau Covid-19.

Sebagai informasi, HEPA sendiri mulai dikembangkan oleh ilmuan pada 1950. Kala itu, Komisi Energi Atom AS membutuhkan sesuatu untuk menghilangkan partikel radioaktif kecil, sehingga dikembangkanlah filter HEPA ini. Sejak itu, filtrasi HEPA telah digunakan dalam pembersih udara untuk membersihkan dalam ruangan di berbagai tempat, seperti ruang medis dan salon kecantikan. Teknologi HEPA juga merupakan bagian dari perawatan yang digunakan oleh dokter untuk membantu meringankan gejala alergi dan asma.

Leave a Reply