Jadikan BRT Bogota Sebagai Benchmark, ‘Eksekusi’ TransJakarta Masih Jauh dari Harapan

Sumber: wikipedia.com

Mundur ke belakang, tepatnya pada tahun 2001 saat Gubernur DKI Jakarta kala itu, Sutiyoso memperkenalkan sistem Bus Rapid Transit (BRT) yang dinilai mampu untuk mengatasi masalah kemacetan dan polusi udara yang kian hari kian meradang tersebut. Adapun Bogota, Ibukota Kolombia ini dijadikan panutan Jakarta dalam menghadirkan sistem transportasi massal. Pada saat itu, Bogota menuai pujian dari berbagai penjuru dunia karena kesuksesannya menghadirkan sistem BRT, padahal sistem tersebut barulah seumur jagung.

Baca Juga: Scania K320IA: Bus TransJakarta Asal Swedia yang Canggih, Kokoh dan Nyaman

Mungkin beberapa dari Anda bertanya-tanya, mengapa Jakarta menjadikan Bogota sebagai benchmark sistem yang kini lebih dikenal sebagai TransJakarta ini. Satu poin inti yang melatarbelakangi hal tersebut adalah Gubernur Sutiyoso ingin mengatasi masalah kemacetan yang ada secara efektif dan efisien. Ketika masalah kemacetan sudah bisa diatasi, secara otomatis tingkat pencemaran udara pun akan senantiasa menurun.

Sayangnya, Jakarta kala itu belum bisa mencontoh Singapura atau negara-negara di Eropa yang sudah memiliki moda transportasi berbasis massal yang mengedepankan sistem otomatisasi. Maka dari itu, Gubernur yang akrab disapa Bang Yos ini menjadikan sistem BRT di Bogota sebagai benchmark mereka. Sistem BRT Bogota yang bernama TransMilenio ini pertama kali dikenalkan oleh walikota Bogota, Enrique Penalosa pada tahun 1998 yang akhirnya mulai dioperasikan pada Desember 2000. Penalosa mempunyai kemauan politik untuk menata transportasi massal sebagai bagian dari strategi pembangunan kota, dan bukan program yang parsial.

Secara keseluruhan, pengaplikasian TransMilenio dan TransJakarta bisa dibilang hampir serupa, tapi tak sama. Titik vital yang menjadi pembeda dari kedua sistem BRT ini adalah kualitas individu para pengguna jalan, yang secara langsung bersinggungan dengan bus berjalur mandiri ini. Sterilisasi jalur BRT di kedua kota berkembang ini bisa dibilang sangat jomplang. Ketika di Bogota semua orang sudah memiliki kesadaran sendiri untuk tidak masuk ke dalam jalur TransMilenio, berbeda dengan warga Jakarta yang malah memanfaatkan jalur TransJakarta sebagai akses bebas hambatan.

Ujung-ujungnya, TransJakarta yang digalang-galang sebagai solusi untuk masalah kemacetan di Ibukota tidak dapat memenuhi tugas awalnya sebagai bus yang berjalan di jalur steril. “TransJakarta masih jauh dari TransMilenio. TransMilenio dipersiapkan secara matang dan terintegrasi dengan tata kota secara keseluruhan,” tutur seorang pengamat ekonomi, Faisal Basri dikutip KabarPenumpang.com dari laman Kompas.com (3/10/2011).

Baca Juga: Bus TransJakarta Zhongtong Terbaru Diklaim Ramah Lingkungan

Alhasil, perbedaan kecil diantara dua sistem BRT beda negara tersebut menghasilkan perbandingan implentasi yang cukup signifikan. Pada tahun 2013, jumlah penumpang TransMilenio per harinya mencapai 1,7 juta orang, dan terbukti mengurangi niat warganya untuk menggunakan kendaraan pribadi yang secara otomatis mereduksi tingkat pencemaran udara di sana. Sedangkan TransJakarta masih berkutat dengan aturan pelarangan kendaraan pribadi masuk ke busway, padahal sistem ini sudah ada sejak 25 Januari 2004.