Sunday, January 18, 2026
HomeAnalisa AngkutanJapan Airlines Cemas: Tren Anak Muda Jepang Berhenti Lakukan Perjalanan Luar Negeri

Japan Airlines Cemas: Tren Anak Muda Jepang Berhenti Lakukan Perjalanan Luar Negeri

Maskapai nasional Japan Airlines (JAL) secara resmi menyatakan keprihatinannya terhadap tren penurunan minat perjalanan internasional di kalangan generasi muda Jepang. Fenomena yang disebut sebagai “pengunduran diri dari perjalanan” ini dianggap sebagai ancaman serius bagi pertumbuhan jangka panjang industri penerbangan dan pariwisata di Negeri Sakura.

Pihak manajemen JAL mencatat bahwa meskipun sektor perjalanan global mulai pulih sepenuhnya pasca-pandemi, anak muda Jepang (khususnya Gen Z dan milenial) justru menunjukkan kecenderungan untuk tetap berada di dalam negeri.

Berdasarkan laporan terbaru, ada beberapa faktor krusial yang membuat kaum muda Jepang enggan terbang ke luar negeri:

Pelemahan Nilai Tukar Yen
Nilai tukar Yen yang masih rendah terhadap Dolar AS dan Euro membuat biaya perjalanan internasional, mulai dari tiket pesawat hingga biaya hidup di luar negeri, menjadi sangat mahal bagi kantong pelajar dan pekerja muda.

Inflasi Global
Kenaikan harga barang dan jasa di destinasi populer seperti Amerika Serikat dan Eropa semakin menekan minat mereka untuk berlibur ke luar negeri.

Perubahan Gaya Hidup
Munculnya tren “Digital Nomad” di dalam negeri dan kemudahan akses hiburan digital membuat perjalanan fisik ke luar negeri dianggap bukan lagi prioritas utama untuk mencari pengalaman baru.

Ketidakstabilan Geopolitik
Kekhawatiran akan keamanan global juga menjadi salah satu faktor yang membuat anak muda Jepang merasa lebih aman melakukan domestic travel.

Menanggapi situasi ini, Japan Airlines tidak tinggal diam. Maskapai ini mulai menyusun berbagai program untuk “memancing” kembali minat generasi muda agar mau melihat dunia luar. Beberapa langkah yang diambil antara lain, JAL mempertimbangkan paket harga tiket yang lebih terjangkau bagi pemegang kartu pelajar untuk rute internasional tertentu, berkolaborasi dengan platform media sosial untuk menunjukkan nilai penting dari pengalaman lintas budaya yang tidak bisa didapatkan melalui layar smartphone, dan melalui anak usahanya di sektor Low-Cost Carrier (LCC), JAL berusaha menyediakan opsi perjalanan ke destinasi Asia yang lebih ekonomis.

Jika tren ini terus berlanjut, Jepang terancam kehilangan daya saing global dalam aspek pertukaran budaya dan pemahaman internasional. Selain itu, ketergantungan hanya pada pasar domestik atau wisatawan asing yang masuk (inbound) dianggap tidak cukup untuk menjaga stabilitas industri penerbangan Jepang dalam dekade mendatang.

Japan Airlines berharap adanya dukungan kebijakan dari pemerintah, seperti kemudahan administrasi paspor atau subsidi program pertukaran pelajar, untuk membantu membalikkan keadaan ini sebelum “budaya bepergian” benar-benar hilang dari DNA anak muda Jepang.

Garuda Indonesia dan Japan Airlines “Joint Business” Berupa Codeshare

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru