Jaringan 5G Untuk Sistem Transportasi, Dianggap Masih Terlalu Mahal

Masih sekitar dua tahun lagi hingga jaringan mobile broadband 5G diluncurkan secara komersial. Meski begitu serangkaian uji coba telah dilakukan oleh vendor jaringan dan operator seluler. Apa yang ditawarkan 5G memang terbilang super, kecepatan akses yang digelontorkan bisa mencapai 40 – 50 kali lebih cepat dari jaringan 4G yang kini telah menjadi keseharian.

Seperti halnya saat kemunculan 3G dan 4G, maka 5G pun digadang mampu membawa kontribusi pada dunia transportasi. Namun yang jadi pertanyaan, apakah 5G nantinya benar-benar ideal untuk menunjang sistem transportasi? Sebagai teknologi baru, jelas di awal implementasi 5G tidak akan murah. Dilansir KabarPenumpang.com dari eurotransportmagazine.com (24/7/2017), Direktur Pengelola GoMedia Roger Matthews mengatakan terkait prospek teknologi 5G dan bagaimana hal ini mungkin belum menjadi jawaban bagi para operator transportasi.

Baca juga: Tahun 2020, Dipercaya 14.419 Pesawat Komersial Gunakan Akses WiFi di Kabin

Alasannya untuk jaringan 4G yang kini sudah tersedia, faktanya masih banyak di bagian dunia lain yang belum terlayani 4G. Terlebih kini 5G pengembangannya masih sangat terbatas karena belum ada standar atau spesifikasi yang harus diterapkan. Jaringan 5G memiliki kecepatan yang jauh lebih cepat dibanding 4G dimana respon dan kemampuan untuk berjalan di miliaran mesin serta perangkat. Selain itu, jaringan 5G ini juga lebih hemat energi.

Sayangnya, ini pun masih dipertanyakan, apakah operator transportasi memusatkan perhatian pada penyedia infrastruktur WiFi yang bisa digunakan dalam kendaraan mereka? Sebenarnya jawabannya teknologi 5G akan jauh lebih baik di area urban daripada pedesaan. Tetapi jaringan ini tidak terlalu bagus bila sudah berada di luar dari kota. Tak seperti jaringan 4G yang masih bisa memberikan konektivitas baik walaupun masuk ke dalam terowongan atau bangunan tinggi mengelilinginya.

Sebenarnya ada keuntungan dimana kendaraan yang dilengkapi dengan on board WiFi dibanding yang tidak. Apalagi saat jaringan nirkabel tidak ada, penumpang masih bisa menikmati berbagai layanan menonton video, musik, berbelanja, mencari informasi hingga membaca bacaan digital.

Jaringan 5G menjadi teknologi yang lebih maju dan diperlukan peningkatan sinyal termasuk antena yang disempurnakan dan bandwidth gelombang radio. Sayangnya, jaringan 5G ini sangat mahal, bukan hanya dari sisi penyiapan infrastruktur, melainkan hingga pengguna akhir. Ini dikarenakan teknologinya yang masih dalam pengembangan dan tidak ada fakta atau angka konkret yang terkait dengan biaya. Masalah besar lainnya adalah 5G membutuhkan banyak pemancar agar bisa berjalan dengan baik.

Bisa dikatakan, saat ini pengguna individu akan enggan menggunakan jaringan 5G dan lebih menggunakan jaringan 4G untuk menghindari hilangnya data pribadi. Hal tersebut bisa membuat para operator transportasi menyadari kebutuhan penumpang untuk tetap terhubung dalam bus tanpa harus menghabiskan kuota mereka. Sebagian besar penumpang menggunakan perangkat tambahan serta smartphone, termasuk iPad, tablet dan laptop. Teknologi mobile saat ini tidak kompatibel dengan banyak perangkat ini. Kecuali 5G dapat beroperasi di beberapa perangkat dan mesin, ini merupakan batasan yang signifikan karena pengguna yang lebih sedikit dapat memanfaatkan teknologi ini.

Baca juga: Internet of Things Tunjang Transportasi Berbasis Bus

Bagi operator transportasi dengan layanan WiFi on board, penumpang yang menggunakan konektivitas 3G/LTE/5G daripada layanan on-board, mewakili dua masalah. Pertama, dibutuhkan bandwidth yang tidak sesuai yang digunakan oleh layanan WiFi unit transportasi backhaul. Kedua, mereka tidak berada dalam lingkungan digital operator transportasi sendiri dan karena itu merupakan kesempatan yang hilang untuk peluang pendapatan tambahan dan statistik kepuasan.