Jasa Kargo Jadi Kunci Maskapai Lanjutkan Penerbangan Penumpang

0
Kabin penumpang Boeing 777-200 milik Austrian Airlines disulap menjadi kargo untuk memaksimalkan kapasitas angkut dalam sekali jalan. Foto: Austrian Airlines

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) kemarin merilis statistik lalu lintas udara sepanjang bulan September. Hasilnya, sudah pasti, angkutan kargo jadi primadona sekalipun masih tak lebih besar dibanding bulan yang sama di tahun lalu.

Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

Namun, hal itu masih jauh lebih baik ketimbang statistik penerbangan penumpang. Karenanya, penerbangan kargo dinilai menjadi jembatan penghubung maskapai untuk bisa kembali meraup untung dari penerbangan penumpang pasca pandemi virus Corona berakhir. Selama pandem masih mengintai dan penerbangan penumpang masih anjlok, kargo menjadi satu-satunya andalan untuk bisa terus menyambung asa.

Dilansir Simple Flying, IATA merilis bahwa lalu lintas kargo September tahun ini masih berkisar 8 persen lebih sedikit dibanding 2019. Sebagaimana prediksi banyak pihak, angka tersebut jauh lebih baik dibanding penerbangan penumpang yang mencatat penurunan 73 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Sejak Covid-19 mewabah pada akhir tahun lalu dan mulai berdampak buruk bagi industri penerbangan pada Maret tahun ini, sejumlah maskapai penerbangan sudah mulai menjajaki penerbangan khusus kargo. Bahkan, saking tingginya permintaan, kabin utama yang kosong ditinggal penumpang pun juga dimanfaatkan operator guna memaksimalkan muatan kargo di setiap penerbangan. Tak ayal, penerbangan kargo persentase penurunannya relatif stabil sejak Maret lalu.

“Pesawat kargo sangat sibuk. Kapasitas kargo naik 20 persen, rata-rata jam terbang hampir 11 jam, yang luar biasa. Meskipun volume lalu lintas turun hanya 8 persen, jumlah kapasitas yang tersedia masih turun 25 persen. Jelas load factor sangat tinggi mencapai 57 persen persentase dibanding tahun lalu,” ujar kepala ekonom IATA, Brian Pearce.

Dengan persentase yang lebih besar, tentu ini menjadi modal berharga maskapai untuk tetap terus menerbangkan pesawat sekalipun masih ditinggal penumpang dalam waktu lama. Paling tidak sampai tahun depan. Lagi pula, terlepas dari penerbangan kargo atau penumpang, pergerakan pesawat secara keseluruhan sudah mulai kembali menggeliat.

Bulan Juli lalu, misalnya, FlightrRadar24 mencatat ada sekitar 110.361 penerbangan di tanggal 20 Mei. Capaian tersebut merupakan pertama kalinya sejak 22 Maret lalu dimana penerbangan per hari mencapai lebih dari 100 ribu flight. Meski demikian, tetap saja, persentasenya masih 48 persen di bawah persentase penerbangan di tanggal yang sama tahun lalu.

Baca juga: Kargo di Kabin Penumpang Bikin Pramugari Beralih Fungsi Jadi ‘Petugas’ Pemadam Kebakaran

Tanggal 30 Juli tahun lalu, ada sekitar 18,269 pesawat yang beredar di udara. Masih 33 persen di atas jumlah peredaran pesawat tahun ini, yang hanya mencapai 12,086 pergerakan di tanggal 28 Juli lalu.

“Lalu lintas komersial mulai kembali perlahan. Kita berbicara tentang beberapa poin persentase di sana-sini. Tapi pertumbuhan sebenarnya adalah lalu lintas non-komersial di mana orang mengambil keuntungan dari kesempatan untuk kembali bepergian. Tapi mereka tidak bisa pergi kemana-mana,” kata Ian Petchenik, Direktur Komunikasi FlightRadar24.com.

Leave a Reply