KA Kuda Putih, Menapaki Jejak Kereta Rel Diesel Pertama di Indonesia

0

Berkembangnya jalur kereta komuter dan kereta bandara (airport train), secara langsung mendongkrak kiprah KRD (Kereta Rel Diesel), pasalnya deployment KRD dinilai relatif lebih sederhana, terlebih infrasktur kereta listrik baru tersedia di wilayah Jakarta Bogor Tangerang, Depok, dan Bekasi. Wujud KRD saat ini yang paling baru telah hadir seperti di kereta Bandara Kualanamu – Medan. Begitu juga di beberapa daerah populasi KRD menjadi identitas transportasi massal yang tak terlepas dari ikon suatu kota. Dan bicara tentang sejarah KRD di Indonesia, tahukah Anda tahun berapa jenis kereta ini hadir di Indonesia?

Merujuk ke beberapa literatur, sosok KRD pertama kali hadir pada tahun 1963 dengan KA Kuda Putih. Disebut Kuda Putih lantaran ada lambing dua kuda putih pada hiasan berbentuk kupu-kupu di atas kaca kabin masinisnya. Jika KRD kini sudah mampu diproduksi di dalam negeri oleh PT INKA, maka KA Kuda Putih didatangkan secara CBU (Completely Built Up) dari Jerman. Resminya KA Kuda Putih adalah produksi Glossing und Schöler GmbH.

Kudac
Foto: Wikipedia.org

Kereta api ini diberi nomor seri MCDW 300 dan dibeli sebanyak tujuh rangkaian. Setiap satu rangkaian hanya terdiri atas dua unit kereta yang semuanya berkabin masinis. Karena hanya beroperasi dua kereta per setnya, sementara ada tujuh unit, maka satu unit sisanya dijadikan cadangan. Dari spesifikasi, KA Kuda Putih memiliki panjang 18.690 mm, berat 32 ton, daya mesin 215 hp, dan dapat melaju hingga 90 km per jam. Bodi kereta menggunakan bahan stainless steel. KRD ini mempergunakan transmisi hidraulik Voith Diwabus U+S dan mesin GM 8V71. Bentuk KRD ini diyakini juga mirip dengan bus, oleh karena itu, KRD Kuda Putih ini dapat disebut juga sebagai bus rel (rail bus).

Generasi Awal Prameks
KA Kuda Putih hadir sebagai komuter untuk rute Yogyakarta – Solo, dan bisa disebut sebagai ‘buyut’ dari KA Prameks (Prambanan Ekspres) yang kini esksiting melayani rute Yogyakarta – Solo. Pada masa jayanya, kereta api Kuda Putih ini menjadi primadona bagi masyarakat yang ingin “nglaju” Jogja-Solo pada waktu itu.

Pada dekade 1970-an, sejumlah unit KRD ini mulai rusak karena tidak ada suku cadang. Bahkan, agar tetap bisa melayani penumpang komuter yang pada masa itu terus bertambah, KRD ini ditarik lokomotif diesel. Akhirnya, KRD MCDW 300 telah berhenti beroperasi sejak sekitar 1980, dan perannya digantikan oleh KRD MCW 302. Sejak saat itu, KRD ini tersisa satu unit dan dikandangkan di Dipo Lokomotif Solo Balapan.

KA Kuda Putih setelah direstorasi menjadi monumen di Stasiun Lempuyangan. (Foto: Semboyan35.com)
KA Kuda Putih setelah direstorasi menjadi monumen di Stasiun Lempuyangan. (Foto: Semboyan35.com)

Pada tanggal 30 November 2011, Unit Pusat Pelestarian dan Benda Bersejarah PT Kereta Api Indonesia memindahkan satu unit KRD Kuda Putih yang tersisa ke Stasiun Lempuyangan untuk dijadikan sebagai monumen. Pada hari Kamis, 8 Desember 2011, KRD ini dipindahkan dari Dipo Solo Balapan ke Stasiun Lempuyangan dengan menggunakan kereta api luar biasa (KLB) bersama Crane Kirow. KRD ini dijadikan sebagai kereta pustaka sekaligus monumen eksistensi perkeretaapian, khususnya kereta komuter di Indonesia.

Leave a Reply