Kalau ke Jogja, Jangan Lupa Nikmati Perjalanan dan Ngopi di Coffee On The Bus

0
Coffee on The Bus (tribunnews.com)

Pandemi virus corona tak hanya membuat dunia penerbangan sempat terhenti, para pemilik perusahaan otobus atau PO pariwisata harus menghentikan operasinya. Bahkan bisa dikatakan sudah berbulan-bulan mati suri semenjak virus ini masuk ke Indonesia. Namun meski begitu apakah para pemilik PO bus berhenti untuk beroperasi semuanya? Ternyata tidak semuanya seperti itu, salah satunya adalah pemilik PO Rejeki Transport yang menjadikan busnya begitu bermanfaat meski tidak membawa rombongan pelancong untuk berlibur.

Baca juga: Mau Makan di Restoran dengan Sensasi Bandara dan Pesawat? Yuk ke Jogja Airport Resto

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, pemilik PO Rejeki Transport Wiwit Kurniawan memiliki cara tersendiri agar busnya beroperasi yakni dengan menghadirkan Coffee on The Bus. Coffee on The Bus ini sendiri mulai dioperasikan sejak 27 Juni 2020 kemarin dan memiliki beberapa pilihan jam keberangkatan yakni 09.00, 13.00, 16.00 dan 19.00 WIB.

Perjalanannya dilakukan selama satu jam dengan Jetbus Scania yang akan mengelilingi kota Yogyakarta dengan rute Kotabaru-Tugu-Kiai Mojo- Bugisan-Kotagede-JEC-Janti-Jalan Solo-Kotabaru. Di dalam bus, seluruh penumpang yang naik akan disajikan makanan ringan yang ditempatkan di tempat duduk masing-masing.

Tak hanya itu, barista yang ikut dalam perjalanan tersebut akan menyajikan secangkir kopi Merapi dengan metode manual brewing. Nah, karena tak semua penumpang bisa minum kopi, barista ini akan menyajikan sari kacang hijau ataupun teh tarik yang dibuat langsung di depan meja pelanggan.

“Kami bekerjasama dengan tenant ternama untuk pemilihan Snack. Soalnya kami juga mengutamakan kualitas. Kopi 100 persen asli didatangkan dari Gayo, Solok, Lampung Merapi dan lain-lain. Sebenarnya saya juga ingin memperkenalkan Kopi Merapi agar pariwisata di Yogyakarta bisa bangkit lagi,” kata Wiwit yang dikutip dari jogja.tribunnews.com (1/7/2020).

Wiwit mengatakan kehadiran Coffee on The Bus sendiri bertujuan agar sektor pariwisata Yogyakarta perlahan bisahidup kembali setelah empat bulan terhenti karena virus corona ini.

“Dengan adanya pandemi ini orang ketakutan ke luar tapi kita coba dengan refreshing, orang kan sekarang banyak yang hobi minum kopi sehingga kita ngopi di rumah bisa, ngopi di coffee shop bisa, ngopi di tenant-tenant ternama bisa, tapi kita coba ngopi di dalam bis dulu,” tambah Wiwit.

Dia menjelaskan, selain membangkitkan pariwisata, acara ini juga bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang kopi. Ini karena di dalam Coffee on The Bus ada brand Kopiku sebagai sister company acara tersebut yang memiliki beragam kopi dari seluruh nusantara yang dikenalkan kepada penumpang. Acara ini sebenarnya juga bertujuan untuk masyarakat yang berasal dari luar kota Yogyakarta agar lebih mengenal budaya Kota Gudeg ini.

Bahkan berhasil menarik pelancong dari Solo dan Magelang. Pertama beroperasi, Coffee on The Bus ini pada semua jam keberangkatan kursi terisi penuh dan begitu juga sebaliknya. Wiwit mengatakan, akan terus mengadakan acara ini tidak hanya di akhir pekan tetapi hari biasa.

“Terus bisa setiap hari, weekday kita coba sudah beberapa weekday coba kita jalankan tapi kita minimal 10 hingga 15 orang ada ya kita jalan,” ungkap Wiwit.

Penasaran bagaimana cara untuk menikmati Coffee on The Bus ini? Caranya cukup mudah, pelancong bisa melakukan reservasi tiketnya melalui Arta Barber and Chill dan mengocek kantong Rp50 ribu. Untuk seat dalam bus sendiri benar-benar dibatasi yakni hanya 28 dan nantinya akan memperpanjang rutenya hingga ke Yogyakarta Internasional Airport.

Baca juga: Restoran dengan Model Replika Airbus A320 Dibangun di Bengaluru

Tak hanya tarif yang murah, di masa pandemi untuk menikmati perjalanan ini, semua protokol kesehatan tetap dilakukan dimana sebelum naik suhu tubuh akan di cek, penumpang wajib menggunakan masker dan membersihkan tangan dengan handsanitizer. Untuk penumpang yang bepergian bukan dengan keluarga akan ada sekat sosial distancing, tetapi jika dengan keluarga sekat tidak digunakan.

Leave a Reply