Karoseri Laksana Hadirkan Bus Legacy SR2 Double Decker

(Legacy SR2 Double Decker Laksana)

Tak kenal maka tak sayang, ini merupakan peribahasa yang sering di ucap dan di dengar, bahkan mungkin peribahasa ini cocok untuk Karoseri Laksana yang berasal dari Ungaran, Jawa Tengah. Pasalnya karoseri yang satu ini sudah menjadi bagian dari ibu kota Jakarta karena dipercaya untuk membalut sasis bus Angkutan Perbatasan Terintegrasi Bus TransJakarta (APTB) dan TransJakarta.

Baca juga: Werkudara, Bus Tingkat di Solo Besutan Karoseri Indonesia

Meski begitu body bus produksi Laksana sendiri juga berada di trayek bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP). Saat ini, Laksana sudah berkespansi dan mampu memproduksi 1200 bus pertahun untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam dan luar negeri sejak 2017 lalu.

Sejak berdiri tahun 1967 silam, Laksana terus berevolusi dan berinovasi memberikan yang terbaik bagi konsumen. Bahkan kini telah menjadi karoseri bus modern yang dilengkapi dengan permesinan dan sistem canggih dengan standar tinggi serta berbasis komputer untuk memastikan tingginya kualitas dan tingkat kemanan setiap produk.

“Sejak dua tahun terakhir ini, kami Laksana terus berevolusi, meningkatkan standar kualitas produk kami dimulai dari desain orisinil karya asli bangsa Indonesia, tingginya standar keamanan yang kami terapkan pada setiap produk yang kami keluarkan serta penggunan mesin dan komputer canggih untuk menghasilkan produk dengan kualitas tinggi. Hal ini ditandai dengan telah diluncurkannya Legacy Sky SR2, Tourista, Discovery, Cityline 2 Low Entry yang digunakan pada Transjakarta dan Suroboyobus serta Cityline 2 Maxi.” ucap Bapak Stefan Arman Direktur Teknik Laksana Bus yang dikutip KabarPenumpang.com melalui keterangan tertulis, Senin (6/8/2018).

Laksana sendiri telah mengekspor unit ke Fiji dan tengah memproduksi bus untuk Bangladesh. Tak hanya itu, sebagai bukti keseriusan Laksana dalam menerapkan standar keamanan yang tinggi di setiap bus produksinya, pada Mei 2018 Laksana menerapkan uji guling bus pertama di Indonesia.

Selain itu Laksana juga terus melakukan optimalisasi dengan struktur bus sehingga berat bus dapat menjadi lebih ringan. Tidak hanya meluncurkan produk baru, Laksana juga melakukan update pada Legacy Sky SR2 HD dan XHD Prime. Kedua produk tersebut telah dilakukan beberapa peningkatan seperti diaplikasikannya Optimized Structure, kemudian diaplikasikannya improved design structure untuk uji guling dan juga penambahan fitur-fitur bus sehingga memberikan tampilan yang lebih elegan dari versi sebelumnya.

Pada 3 Agustus 2018 kemarin Laksana hadir di Gaikindo Indonesia International Auto Show 2018 (GIIAS 2018) dan memperkenalkan secara resmi produk terbaru yaitu Legacy SR2 Double Decker yang memiliki banyak keunggulan dibandingkan produk lain di kelasnya. Legacy SR2 Double Decker hadir dengan desain terbaik di kelasnya, baik eksterior maupun interior.

Desain eksterior dari bus ini masih menggunakan bahasa desain yang telah digunakan pada beberapa produk Laksana lainnya. Ditambahkan ornamen-ornamen dengan chrome Legacy SR2 Double Decker ini memiliki kesan elegan dan mewah pada tampilan depan.

Pada Legacy SR2 Double Dekernya juga ditambahkan ornament berbentuk L yang modern dan merupakan bentukan logo LAKSANA. Ornamen aluminium extrusi atas samping juga telah dilengkapi dengan lampu LED biru sehinga memberikan kesan yang modern baik dari dekat maupun dari jauh.

Baca juga: 50 Tahun Berdiri, PO Nusantara Rilis Bus Buatan Karoserinya Sendiri

Desain interior trap tangga yang menggunakan bahan komposit cetak sehingga terlihat rapi dan elegan dan juga yang merupakan pertama di Indonesia. Tidak hanya dibekali dengan design yang menarik, Legacy SR2 Double Decker juga dilengkapi dengan teknologi terbaru yaitu optimized structure design yang menggunakan bahan-bahan komposite yang ringan yang diletakan pada area-area yang tepat sehingga menurunkan titik gravitasi kendaraan yang membuat bus menjadi lebih stabil.

“Sejalan dengan perkembangan infrastruktur di Indonesia, diharapkan bus Legacy SR2 Double Decker ini dapat menjadi moda transportasi yang diandalkan.” Tutup Stefan.