Kata Konsultan Penerbangan: Sebagian Besar Maskapai Global Akan Bangkrut Akhir Mei!

0
Pesawat Korea Airlines (skift.com)

Seorang konsultan penerbangan dari Centre for Aviation atau CAPA, salah satu sumber informasi terkait bisnis yang paling terpercaya di dunia untuk industri penerbangan dan perjalanan, memperingatkan pada seluruh maskapai global untuk segera melakukan berbagai manuver untuk dapat terus bertahan di tengah wabah virus corona atau Covid-19. Bila tidak, konsultan yang tak ingin disebutkan namanya tersebut memprediksi bahwa sebagian besar maskapai akan bangkrut akhir Mei mendatang.

Baca juga: Gegara Corona, Maskapai El Al Gunakan Pesawat Penumpang Kosong untuk Keperluan Kargo

Dilansir Bloomberg, konsultan yang berbasis di Sydney, Australia tersebut memperkirakan, saat ini maskapai global, secara substansial, mungkin telah melanggar perjanjian utang. Pasalnya, saat ini, perputaran uang maskapai global tengah mandek akibat banyaknya pesawat yang grounded.

Di samping itu, bagi armada yang tetap terbang, lebih dari separuhnya kosong atau load factor rendah. Padahal, dalam sekali jalan, pada umumnya, maskapai hanya mengambil margin sekitar lima persen dengan load factor rata-rata di atas 70 persen. Tentu saja, terbang dengan load factor rendah hanya akan membuat reveneu atau pendapatan menurun. Ujungnya, bisa ditebak, bisa saja setiap penerbangan hanya membuat maskapai rugi.

Di saat yang bersamaan, maskapai tetap membutuhkan uang tunai untuk menghidupi kegiatan operasional harian mereka. Jika sudah begitu, maskapai memang tak mempunyai opsi lain kecuali berhutang semata untuk mendapatkan dana segar.

Hanya saja, konsultan dari CAPA tersebut mengambil pengecualian atas hipotesanya tersebut, bahwa maskapai mungkin saja dapat bertahan lebih lama (dari sekedar sampai akhir bulan Mei), bila pemerintah di masing-masing negara turun tangan untuk menyelamatkan maskapai penerbangan mereka.

“Tindakan pemerintah dan industri yang terkoordinasi diperlukan – sekarang – jika ingin menghindari bencana. Kalau tidak, keadaan dari krisis akan memasuki periode medan perang yang brutal dan penuh dengan korban,” katanya.

Sebagian besar operator terbesar di AS, Cina, dan Timur Tengah, lanjutnya, cenderung dapat bertahan atas dukungan pemerintah serta sokongan dana pribadi dari pemiliknya. Khusus untuk Cina, setidaknya hal itu (pernyataan bahwa maskapai di negara tersebut dapat bertahan) juga didukung oleh pernyataan dari Domhnal Slattery, salah satu bos leasing pesawat terbesar di dunia, Avolon Leases Aircraft.

Dikutip dari Financial Times, Domhnal Slattery mengaku saat ini pihaknya sudah dihubungi oleh banyak maskapai global. Tentu saja mereka dihubungi untuk menyiapkan skema pendaaan dalam waktu dekat guna menyelamatkan maskapai. Salah satu negara yang maskapainya masif melakukan kontak dengannya adalah maskapai-maskapai dari Cina.

Melihat dari masifnya pergerakan maskapai Cina untuk mendapatkan dana segar, ditambah sokongan dana serta berbagai bantuan non-material lainnya dari pemerintah mereka, ia pun sampai berujar kalau maskapai-maskapai besar asal negeri Tirai Bambu tersebut mustahil akan mengalami kebangkrutan. “Kebangkrutan dari maskapai besar Cina (di tengah wabah virus corona) tak mungkin. Sebab, pemerintah Cina akan turun tangan. Tidak diragukan lagi,” katanya.

Pernyataan tersebut ia keluarkan tak lama setelah maskapai regional terbesar di Eropa, Flybe dinyatakan bangkrut. Maskapai asal Inggris tersebut dinyatakan bangkrut usai tak mendapatkan suntikan dana segar dari pemerintah pusat serta dari owner mereka, konsorsium Connect Airways, perusahaan patungan milik Virgin Atlantic, Stobart Air, dan Cyrus Capital, senilai Rp3,6 triliun atau masing-masing Rp1,8 triliun.

Baca juga: Virus Corona, Petaka Buat Maskapai, Bisa Jadi Berkah Buat Perusahaan Leasing

Bangkrutnya Flybe juga menguatkan statement konsultan dari Centre for Aviation atau CAPA betapa pentingnya peran pemerintah, selain usaha dari maskapai itu sendiri, untuk menyelamatkan maskapai-maskapai di negara mereka. Bila tidak, akan ada korban lainnya yang menyusul Gemania (Jerman), Jet Airways (India), Condor, (Inggris), Hong Kong Airlines (HongKong), serta maskapai lainnya yang telah bangkrut lebih dahulu.

Virus corona belakangan memang sangat mengkhawatirkan, khususnya bagi industri penerbangan global. International Air Transport Association (IATA) atau Asosiasi Transportasi Udara Internasional sendiri memperkirakan, jika krisis virus corona sama dengan wabah SARS pada awal 2000-an silam hal itu sangat mungkin akan menyebabkan hilangnya pendapatan (profit loss) maskapai global tahun ini sebesar Rp417 triliun atau turun sekitar 4,7 persen sepanjang tahun 2020.

Leave a Reply