Monday, July 15, 2024
HomeDaratKCI Langgar Aturan Terkait CCTV di KRL? Belajar dari Kasus Pemerkosaan Wanita...

KCI Langgar Aturan Terkait CCTV di KRL? Belajar dari Kasus Pemerkosaan Wanita di Kereta Komuter AS

Baru-baru ini, kasus pemerkosaan mengerikan terjadi di komuter di pinggiran Philadelphia, Amerika Serikat (AS). Disebut mengerikan, sebab, saat itu terjadi penumpang lain di dalam kereta hanya diam dan tidak melakukan pertolongan apapun semisal menghubungi 911 dan lainnya.

Baca juga: Pohon Tumbang di Stasiun Depok Ganggu Perjalanan KRL, Ada Aturan ‘Ruang Bebas’ yang Dilanggar?

Dalam rekaman video CCTV yang ada di rangkaian kereta, jelas terlihat penumpang lain yang berada di sekitar kejadian hanya diam saja. Bahkan, dalam dakwaan lain, bukannya membantu korban, penumpang justru merekam kejadian itu dengan kamera ponselnya.

Meski kejadian itu bisa dibilang hampir mustahil karena adanya petugas pengawal kereta api (Walka) di dalam rangkaian KRL (Kereta Rel Listrik) Commuter Line, tetapi, kebutuhan CCTV di rangkaian kereta sangat penting untuk dipastikan ada di setiap rangkaian.

Sayangnya, dari laporan masyarakat yang juga penumpang KRL, sering kali ditemukan rangkaian KRL tidak ditemukan CCTV di setiap kereta. Selain membuat penumpang jadi tidak aman, PT KCI atau KAI Commuter berpotensi melanggar Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 63 Tahun 2019 Tentang Standar Pelayanan Minimum Angkutan Orang Dengan Kereta Api.

Disebutkan, Standar Pelayanan Minimum (SPM) angkutan orang dengan kereta api di perjalanan, pada poin keamanan, KA Perkotaan, termasuk KRL, LRT, dan MRT, minimal menyediakan dua CCTV dalam satu rangkaian kereta. CCTV-nya juga ditekankan dengan resolusi yang jelas.

Ini diharapkan, ketika terjadi kasus pencurian atau kehilangan barang atau kasus pelecehan sekalipun bisa diungkap berkat petunjuk dari rekamanan CCTV di dalam rangkaian kereta tersebut.

Dari bunyi PM Nomor PM 63 Tahun 2019 tersebut, hasil pengamatan tim KabarPenumpang.com, memang minimal dua CCTV dalam setiap rangkaian kereta sepertinya sudah dijalankan KCI. Jadi, PT KCI tidak melanggar PM di atas.

Akan tetapi, minimal dua CCTV di setiap rangkaian kereta, yang biasanya terdiri dari 8, 10, dan 12 kereta, tak akan cukup bermanfaat saat terjadi sebuah insiden, semisal pelecehan dan kehilangan barang. Sebab, dua CCTV tersebut sudah pasti tidak akan bisa merekam kejadian di tiap-tiap kereta dalam satu rangkaian.

Bila PM tersebut dibuat sungguh-sungguh untuk membuat keamanan melalui fasilitas pendukung (CCTV) tadi, seharusnya itu bukan hanya dua CCTV per rangkaian, tetapi minimal dua CCTV per kereta dalam satu rangkaian. Bahkan, bila perlu, empat CCTV per kereta dalam satu rangkaian, sesuai dengan jumlah pintu yang ada di setiap kereta. Dengan begitu, seluruh sudut kereta bisa terpantau CCTV.

Terkait CCTV di dalam rangkaian kereta, pengamat transportasi, Djoko Setijowarno, menyebut saat ini CCTV di kereta sudah tersedia dan sesuai dengan SPM. Hanya saja, bilamana jumlahnya kurang, itu bukan akhir dan bisa saja direvisi.

Yang paling penting adalah masyarakat harus sadar bahwa adanya CCTV itu adalah bagian dari kewajiban pelayanan publik (PSO).

Baca juga: Inilah Jarak Antar Dua Stasiun KRL Jabodetabek yang Disebut ‘Terpendek dan Terpanjang’

“Laporkan pada PT KCI, sebutkan kereta nomor berapa. Karena itu bagian dari PSO yang akan dibayar, jika tidak memenuhi tidak dibayar,” katanya kepada KabarPenumpang.com.

Redaksi sudah coba menghubungi VP Corporate Secretary KAI Commuter, Anne Purba, terkait hal ini. Tetapi belum ada tanggapan. Sebelumnya, kami juga pernah menanyakan hal yang sama kepadanya, namun juga belum ada tanggapan.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru