Kenapa Pintu Kokpit Harus dalam Keadaan Terkunci dan Anti Peluru? Berikut Ulasannya

0
Ilustrasi pintu kokpit harus dalam keadaan terkunci. Foto: Jalopnik

Suatu insiden telah mengubah segalanya. Sebelum peristiwa serangan 11 September 2001 atau lebih dikenal 9/11, produsen pesawat dunia telah berjuang membuat kokpit senyaman mungkin sebagai elemen pendukung kinerja kru. Namun, pasca serangan tersebut, perubahan drastis terjadi.

Baca juga: Kenapa Kokpit Pesawat Gelap? Ini Penjelasannya

Tak hanya harus dalam keadaan tertutup, pintu kokpit juga diwajibkan harus dalam keadaan terkunci. Hal itu sebagai salah satu cara untuk mencegah atau mungkin memperlambat tindak terorisme terhadap kru kokpit.

Selang beberapa bulan, komponen pintu kemudian diperkuat dengan tambahan logam. Logam dinilai mampu menahan pintu dari serangan. Namun, setahun setelahnya atau pada 2002, seorang penumpang masih bisa menembus pintu kokpit dan meneror kru, sebelum akhirnya ia tewas setelah kepalanya dikapak oleh pilot.

Sadar peluang tindak kejahatan masih mengintai kru kokpit, regulator penerbangan sipil Amerika Serikat (FAA) akhirnya mendorong penggunaan pintu kokpit anti peluru, sebagai pelengkap aturan kokpit harus selalu dalam keadaan terkunci.

Akan tetapi, Capt. Steve Luckey, ketua komite keamanan nasional Asosiasi Pilot Maskapai Penerbangan, menyebut aturan pintu kokpit harus dalam keadaan terkunci sulit diterapkan. Sebab, pilot mau tak mau harus membuka pintu, baik untuk mengecek keadaan sayap pesawat secara visual, ke toilet, atau bahkan berganti kru di udara saat dalam penerbangan jarak jauh (long range). “Itu penghalang saat ditutup, itu entri saat terbuka,” jelasnya, seperti dilaporkan cbsnews.com.

Dalam urusan safety terhadap kru kokpit, Israel bisa dibilang jawaranya. Maskapai nasional Negeri Yahudi, El Al, disebut memiliki dua pintu kokpit. Pilot diharuskan menutup satu pintu sebelum membuka pintu lainnya. Begitu kata Offer Einav, mantan direktur keamanan maskapai tersebut. Namun, tak dijelaskan dengan detail cara kerja pintu tersebut menahan tindak terorisme.

Hanya saja, pilot dan co-pilot flag carrier nasional Israel itu tidak sampai diizinkan memiliki pistol, seperti kru kokpit maskapai-maskapai Amerika Serikat (AS), sebagai elemen pengaman tambahan.

Tingkat keamanan pintu kokpit memang menjadi fokus utama penerbangan di AS. Bahkan, saking urgent-nya, kongres sampai mensubsidi maskapai dalam negeri sekitar $13 ribu dolar, meskipun biaya tersebut diklaim tak cukup untuk memenuhi kebutuhan standar baru pintu kokpit pesawat, sebagai syarat penerbangan. Maskapai asing juga diharuskan melengkapi kemampuan pintu kokpit pesawat mereka untuk bisa masuk ke AS.

Melihat langkah konkret AS, dunia pun mulai mengikuti pada beberapa bulan setelahnya. Melalui Organisasi Penerbangan Sipil Internasional dan badan penerbangan Perserikatan Bangsa-Bangsa, setiap pesawat di dunia diharuskan untuk memperbarui pintu kokpit mereka agar lebih kuat dan aman dari serangan sejak akhir tahun 2001. Seiring perkembangan, kokpit bahkan lebih ketat, bukan hanya untuk menghindari serangan, tapi juga kecelakaan, di bawah aturan sterile cokcpit rule.

Selama bertahun-tahun, kebijakan pintu kokpit harus dalam keadaan terkunci serta kemampuan yang ditingkatkan, seperti anti peluru dan mampu menahan serangan, diklaim berhasil menurunkan tindak terorisme atau pembajakan pesawat.

Namun, memasuki tahun 2015, kontroversi pintu kokpit harus selalu dalam keadaan terkunci serta berbahan anti peluru mulai muncul. Penyebabnya adalah kecelakaan tragis pesawat terbang yang menimpa maskapai Germanwings.

Disebut tragis, sebab, selain menewaskan seluruh kru dan penumpang, pesawat dengan nomor penerbangan 9525 yang jatuh di Pegunungan Alpen bukanlah murni kecelakaan, melainkan dengan sengaja ditabrakkan ke gunung oleh kopilotnya yang bernama Andreas Lubitz. Hal itu terkuak setelah penyelidik dari kejaksaan Marseille mempelajari posisi, arah, dan jatuhnya pesawat.

Baca juga: Kenapa Mikrofon Pilot Tidak Terdengar Jelas Dibanding Awak Kabin? Ini Dia Jawabannya

Berdasarkan rekaman percakapan yang diperoleh dari kotak hitam, Lubitz diketahui mengunci kokpit ketika kapten pilot meninggalkan ruang kemudi pesawat yang membawa 150 orang, termasuk kedua pilot.

Sang pilot sempat mengetok, menggedor, dan menghantam pintu kokpit dengan kapak saat Lubitz membawa pesawat menukik tajam ke arah pegunungan. Namun, usahanya sia-sia. Sebab, selain terkunci, pintu kokpit memang didesain tahan terhadap serangan, termasuk tipe serangan menggunakan senjata tajam seperti yang dilakukan pilot tersebut.

Leave a Reply