Ketika Rekor Balon Udara Keliling Dunia Harus Pupus Gegara Cina Tak Izinkan Melintasi Negaranya

0
Balon udara Breitling Orbiter II. Foto: bertrandpiccard.com

Pada hari ini, 23 tahun lalu, bertepatan dengan Jumat, 6 Februari 1998, upaya Bertrand Piccard, pilot dan navigator Belgia Wim Verstraeten dan insinyur penerbangan Inggris Andrew Elson, untuk mencetak rekor keliling dunia menggunakan balon udara harus pupus. Bukan karena masalah teknis pada balon udara Breitling Orbiter II yang ditumpanginya, melainkan tim tidak diizinkan melintasi ruang udara Cina.

Baca juga: Hari Ini, 237 Tahun Lalu, Paris Jadi Saksi Manusia Pertama yang Berhasil Terbang dengan Balon Udara

Dikutip dari bertrandpiccard.com, upaya pertama untuk memecahkan rekor dunia keliling dengan balon udara dimulai pada 12 Januari 1997. Saat itu, penerbangan ditargetkan mencapai 15 hari menggunakan balon udara Breitling Orbiter I. Sayang, akibat kebocoran bahan bakar membuat tim terpaksa mendarat darurat di Mediterania.

Setelah balon udara Breitling Orbiter II selesai dibuat oleh Cameron Balloons, dari Bristol, Inggris, tim, yang terdiri dari Bertrand Piccard, pilot dan navigator Belgia Wim Verstraeten, dan insinyur penerbangan Inggris Andrew Elson, kembali berangkat pada 6 Februari 1998.

Hanya saja, ketiganya memulai penerbangan balon udara dengan agak risau. Sebab, saat perjalanan memecahkan rekor keliling dunia menggunakan balon udara pertama dan terlama di dunia dimulai dari Swiss, otoritas Cina, yang negaranya masuk dalam rute Breitling Orbiter II, belum mengizinkan penerbangan tersebut. Padahal, negara-negara Eropa, khususnya Swiss, Inggris, dan Belgia sudah mendesak Negeri Panda untuk mengizinkannya.

Sambil menunggu pemerintah Cina berubah pikiran, balon udara terus melaju melewati Italia, Perancis, Monako, Spanyol, Maroko, Mauritania, Mali, Aljazair, Sudan, Arab Saudi, Yaman, Oman, India, Bangladesh, dan Myanmar di ketinggian rata-rata sekitar 11 ribu meter.

Balon udara Breitling Orbiter III usai berhasil mencetak tujuh rekor dunia, disimpan di Smithsonian National Museum of Natural History, AS. Foto: National Air and Space Museum | – Smithsonian Institution

Saat di Myanmar, tim belum juga mendapat izin dari pemerintah Cina. Laporan Associated Press, Cina berdalih bahwa mereka tidak ingin mengambil risiko. Sebab, wilayah yang akan dilewati Breitling Orbiter II tidak terpantau mutlak Beijing. Alhasil, bila terjadi apa-apa, mereka tidak bisa memberikan pertolongan.

“Seluruh wilayah barat daya adalah dataran tinggi, hampir tak berpenghuni. Tidak terjangkau oleh sistem radar kami. Dan jika kami mengeluarkan izin, itu adalah kewajiban kami untuk memastikan keselamatan mereka dan kami tidak dapat memberikan bantuan jika mereka jatuh di daerah tersebut, jadi pada dasarnya kami tidak dapat menawarkan jaminan apa pun,” kata Asosiasi Balon Udara Cina, mengutip keterangan Beijing.

Sebetulnya, ada opsi memutar, entah itu via Selatan atau Utara. Namun, Bertrand Piccard, Wim Verstraeten, dan Andrew Elson sepakat tidak melanjutkan perjalanan dan mendaratkan balon udara hidrogen itu di Myanmar. Target keliling dunia 14 hari menggunakan balon udara pun pupus dan hanya ditutup dengan penerbangan sejauh 437 kilometer melintasi Eropa, Timur Tengah, dan Asia selama sembilan hari dan 17 jam atau 233 jam dan 55 menit.

Akan tetapi, Itu tetap mengantarkan ketiganya dan Breitling Orbiter II mencetak rekor penerbangan non-stop terlama dan kendaraan yang terbang tanpa mengisi bahan bakar terlama.

Pada 1 Maret 1999, Bertrand Piccard, yang terobsesi dari kakeknya (Auguste Piccard, orang pertama yang berhasil mencapai stratosfer dengan balon udara) dan ayahnya (Jacques, orang pertama yang berhasil mencapai palung mariana), kembali menerbangkan Breitling Orbiter III bersama Brian Jones, asal Inggris.

Baca juga: Wow, Naik Balon Udara Sekarang Bisa Sampai Luar Angkasa, Tarifnya Cuma Rp1,7 Miliar

Keduanya pun berhasil mengukir tujuh rekor dunia, salah satunya penerbangan balon udara keliling dunia terlama mencapai total 19 hari, 21 jam, 47 menit (477 jam 47 menit), melintasi Swiss, Italia, Perancis, Monako, Spanyol, Maroko, Mauritania, Mali, Aljazair, Sudan, Arab Saudi, Yaman, Oman, India, Bangladesh, Myanmar, Cina, Taiwan, Jepang, Meksiko, Guatemala, Belize, Honduras, Jamaika, Haiti, Republik Dominika, Puerto Rico, Mauritania, Mali, Aljazair, Libia, dan mendarat di Dakhla, Mesir pada 21 Maret 1999.

Selama di dalam balon udara, baik itu Breitling Orbiter I, II, dan III, tim tetap bisa tidur, makan dan minum serta buang air kecil dan besar. Balon udara itu nyatanya menyediakan toilet canggih berukuran mini.

Leave a Reply