Kisah SS Voorwaarts, Kapal Uap Italia Bekas Pengangkut Jamaah Haji dan Orang Jawa ke Suriname

0
Kapal uap SS Voorwaarts. Foto: Wreck Site

Angkutan laut di masa lalu menjadi andalan Nusantara atau Hindia Belanda sebelum era pesawat terbang muncul. Berbagai interaksi dan mobilisasi massa antar negara serta benua banyak dilakukan melalui moda transportasi ini; termasuk mengantar jamaah haji tempo doeloe ke Tanah Suci Mekkah dan mengirimkan orang Jawa ke Suriname, menggunakan kapal uap SS Voorwaarts.

Baca juga: Perjalanan Haji Tahun 1888, 20 Hari Keliling Pulau Jawa Sebelum Menuju Mekkah!

Terkait SS Voorwaarts, dikutip dari wrecksite.eu, kapal uap ini dibuat oleh perusahaan Britania Raya, John Elder & Co., Glasgow, pada tahun 1874. Kapal uap yang digunakan untuk mengangkut penumpang dan barang ini kemudian dibeli oleh Stoomvaart Maatschappij Nederland (SMN), perusahaan kapal uap yang berbasis di Amsterdam, Belanda, usai selesai dibangun.

Kapal dengan muatan hingga 2801 ton itu selama beberapa tahun digunakan oleh perusahaan tersebut untuk berbagai kebutuhan Belanda dan koloni-koloninya, seperti Hindia Belanda, saat mengirim masyarakat Jawa ke Suriname.

Dilansir dari berbagai sumber, pada tanggal 16 Juni 1894, sebanyak 582 orang Jawa tiba di Suriname. Itu adalah pengiriman kedua setelah pengiriman pertama pada 9 Agustus 1890 berhasil dilakukan, membawa sekitar 94 orang Jawa, terdiri dari 61 orang pria, 31 orang wanita dan 2 orang anak dan ditempatkan di perkebunan tebu dan pabrik gula Marienburg.

Pada pengiriman kedua, 64 orang penumpang kapal tercatat meninggal dunia dan 85 orang harus dirawat di rumah sakit, setelah kapal uap SS Voorwaarts tiba di pelabuhan Paramaribo, ibu kota Suriname. Itu terjadi akibat penumpang berdesakan imbas kelebihan muatan.

Selain itu, kapal layar bertenaga uap dengan kecepatan rata-rata 22 km per jam ini juga pernah dikerahkan untuk mengangkut jamaah haji Hindia Belanda pada tahun 1888. Dari sebuah foto yang tak diketahui sumbernya, disebutkan, pada tahun tersebut, bertepatan dengan 1305 hijriah, keberangkatan kapal laut yang mengangkut ibadah haji terjadi pada tanggal 4 April, bertepatan dengan 22 Rajab.

Saat itu, perjalanan haji tempo dulu dimulai dari Cilacap (Tjilatjap), Jawa Tengah, berlanjut ke Banyuwangi, Besuki (Bezoeki, saat ini adalah nama sebuah kecamatan di Situbondo, Jawa Timur), Probolinggo, Surabaya, Semarang, Pekalongan, Tegal, Cirebon, Indramayu, Betawi, dan Padang, sebelum menuju Mekkah, Arab Saudi.

Setelah perjalanan jauh nan melelahkan ke Amerika Selatan, Samudera Hindia-Laut Arab-Laut Merah, an berbagai perjalanan lainnya, kapal uap dengan kekuatan mesin mencapai 315 tenaga kuda itu kemudian dijual ke perusahaan Italia, Lavarello Guiseppe, pada tahun 1898.

Baca juga: Mengenal “Gouverneur Generaal Loudon,” Kapal Penantang Tsunami Krakatau yang Kandas Ditelan Laut Flores

Sayangnya, kapal uap penuh dengan jejak sejarah, khususnya berkenaan dengan sejarah Nusantara ini harus kandas tak lama pasca dibeli perusahaan Italia. Disebutkan, pada tanggal 1 Januari 1899, usai berpindah tangan ke Lavarello Guiseppe, kapal uap SS Voorwaarts, yang kala itu berada di pelabuhan Cardiff, Wales, bergerak menuju Genoa, Italia.

Kapal yang mampu memuat 22 awak dan ratusan penumpang itu kemudian mengalami kebocoran akibat cuaca buruk di tengah perjalanan. Kapal akhirnya terbelah dua dan tenggelam di Teluk Bristol, tak jauh dari Pulau Lundy, Inggris.

Leave a Reply