KNKT: Ada 7 Tipe Black Box dengan Parameter Berbeda

ATSB

Black box banyak terdapat di pesawat komersial baik itu pesawat besar, kecil hingga helikopter. Setiap pesawat akan menggunakan beberapa tipe black box, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menjelaskan ada tujuh tipe black box yang digunakan dalam penerbangan. Black box yang digunakan pada setiap pesawat ataupun helikopter pastinya tidak akan sama satu dengan lainnya.

Di pesawat berbada besar seperti Airbus, Boeing ataupun helikopeter komersial dengan berat di atas 7000 kg biasanya menggunakan tipe IA dan memiliki 78 atau lebih parameter yang akan di ukur dan di cek saat data dari black box di ambil untuk pendataan oleh maskapai. Biasanya, penggunaan black box tipe IA ini mampu bertahan dan merekam data selama 25 jam terbang.

Untuk tipe I, parameter yang akan di cek sebanyak 32 parameter, tipe II sebanyak 15 parameter. Tipe I dan II ini juga sama dengan tipe IA yang memiliki waktu penyimpanan data 25 jam terbang. Untuk tipe IIA, biasanya hanya 15 parameter yang akan di cek dengan waktu catatan terbang selama 30 jam. Untuk tipe IV akan di cek 48 parameter, tipe IVA 30 parameter dan tipe V hanya 15 parameter. Biasanya tipe IV sampai dengan tipe V ini adalah pesawat perintis dengan berat kurang dari 5700 kg dan hanya mampu menyimpan data selama 10 jam penerbangan.

Investigator Udara KNKT Ony Soeryo Wibowo mengatakan, parameter ini digunakan untuk mengecek data pada black box. Dia mengatakan parameter basic yang biasanya di cek oleh setiap maskapai minimal ada lima yakni tanggal, kecepatan, ketinggian,akselerasi, arah dan lainnya.

“Pengecekan parameter ini ada yang jumlahnya sampai 200 dan tergantung dengan maskapainnya. Untuk tipenya sendiri ada dua jenis yakni Air Transport dan General Aviation. Makanya parameternya berbeda-beda setiap pengecekan,”ujar Ony saat ditemui usai FGD di gedung KNKT (21/3/2017).

Dia mengatakan, data ini bisa di ambil setiap hari tergantung keinginan maskapai. Namun pengecekan rutin adalah 1 bulan sekali, di sini data akan di pindahkan ke perangkat melalui USB, kabel data ataupun micro SD (Memory). Menurutnya, dengan pengecekan ini, akan memudahkan maskapai untuk mengontrol dan mngoreksi kinerja pilot dalam mengemudikan pesawat terbang.

Ony menambahkan, bila dalam waktu 25 jam, maskapai tidak mengambil data tersebut dari black box, maka data tersebut akan di timpa pada jam berikutnya.

“Seperti ini contohnya, kalau maskapai mau mengambil data setiap hari bisa. Kalau Cuma Jakarta – Surabaya paling 2 jam ya, itu data kan nggak hilang kalau langsung di ambil. Yang jauh gini, kalau penerbangan dalam seminggu Jakarta – Surabaya PP selama 7 hari berarti kan 28 jam. Nah, kalau cuma menampung 25 jam, nanti pada jam ke 26 data 0 jam hilang, lanjut jam ke 27 data 1 jam pertama hilang. Begitu seterusnya,” jelas Ony.

Hingga saat ini, black box hanya di gunakan pada penerbangan komersial saja, untuk penerbangan polisi atau militer tidak menggunakan. Sebab, dalam percakapan milik polisi atau militer biasanya bersifat rahasia dan tidak bisa di publikasi.