Kolombo, “Kota Keramat” Bagi Garuda Indonesia yang Terbang Menuju Tanah Suci

Airbus A330 Garuda Indonesia. Sumber: istimewa

Pesawat Airbus A330 Garuda Indonesia diwartakan telah melakukan pendaratan darurat di Bandar Udara Internasional Bandaranaike (BIA) atau dikenal dengan Bandara Kolombo, Sri Lanka pada Selasa (2/4/2019) sore kemarin. Adapun pesawat dengan nomer penerbangan GA972 tersebut tengah melakoni perjalanan dari Aceh menuju Jeddah, dan pilot melaporkan bahwa adanya asap dari dalam pesawat. Beruntung, pendaratan darurat ini tidak meninggalkan cidera terhadap 338 penumpang dan sejumlah kru penerbang dalam insiden tersebut.

Baca Juga: Untuk Direct Flight Umrah, Mei 2019 Airbus A330-900NEO Lion Air Tiba di Indonesia

Jika ditelisik lagi ke belakang, ini bukanlah kali pertamanya Garuda Indonesia melakukan pendaratan darurat ketika tengah terbang menuju Tanah Suci. Ya, masih di lokasi yang sama, di kota terbesar di Sri Lanka ini seolah memiliki sejarah kelam penerbangan Haji/Umrah Garuda Indonesia.

Mundur ke tanggal 4 Desember 1974, Garuda Indonesia yang kala itu menyewa pesawat DC-8 milik Martinair (maskapai asal Belanda) menabrak puncak Bukit Adam yang berjarak tidak terlalu jauh dari Bandar Udara Internasional Bandaranaike (sekira 15 menit penerbangan dari lokasi kejadian). Alhasil, sebanyak 182 jamaah Haji asal Indonesia dan 9 awak penerbang dalam perjalanan menuju Mekkah tersebut tewas.

KabarPenumpang.com mengutip dari sejumlah laman sumber, Federal Aviation Administration (FAA) yang didukung oleh pernyataan dari Otoritas Penerbangan Sipil Sri Lanka menyebutkan bahwa penyebab kecelakaan adalah kesalahan manusia (human error).

Kecelakaan ini berawal dari kesalahan pilot mengabarkan jarak pesawat dengan landasan. Pilot menyebutkan “FOURTEEN” untuk mengabarkan bahwa penanda jarak di panel kontrol kokpit menunjukkan pesawat berjarak 14 mil dari daratan. Namun, menara pemantau (ATC) menangkap ucapan tersebut sebagai “FORTY” yang berarti 40. Akibatnya, terjadi mispersepsi dan perbukitan yang berada di antara landasan dan jalur mendarat pesawat tidak terdeteksi.

Tidak berhenti sampai di situ saja, pada 15 November 1978, maskapai Garuda Indonesia kembali dipaksa menelan pil pahit ketika pesawat DC-8 yang disewanya dari maskapai asal Islandia, Icelandic Airlines harus kembali jatuh di Kolombo, Sri Lanka. Garuda Indonesia yang kala itu tengah memboyong jamaah Haji asal Kalimantan Selatan dari Jeddah menuju Surabaya, gagal mendarat di Bandara Kolombo.

Baca Juga: Douglas DC-8: Lambang Supremasi Penerbangan Jarak Jauh Garuda Indonesia di Era 60/70-an

Mulanya, penerbangan berjalan mulus hingga mendekati bandara Kolombo di Katunayake, Sri Lanka. Pada pukul 22.53 waktu setempat, pilot meminta izin untuk menggunakan landasan pacu 22. Persiapan mendarat pun dilakukan. Namun, 30 menit kemudian, pesawat nahas tersebut jatuh. Detail investigasi mengenai kecelakaan tersebut yang menggunakan rekaman suara dan data mengungkapkan bahwa pilot telah melakukan sejumlah kesalahan kecil, namun krusial. Pesawat dikabarkan turun terlalu terlalu cepat. Pada titik ini, altimeter pesawat seharusnya memberikan peringatan, namun terjadi kesalahan pengaturan sehingga ketika pilot menyadari bahwa burung besi itu turun terlalu cepat, sudah terlambat untuk membatalkan pendaratan.

Dari tiga kasus di atas, terlihat ada beberapa kesamaan. Pertama adalah ketiga insiden ini terjadi di Sri Lanka. Lalu kedua sama-sama tengah membawa jamaah Haji/Umrah, dan yang terakhir adalah sama-sama dilakoni oleh maskapai Garuda Indonesia.

Ada apa dengan Garuda Indonesia, jamaah Haji/Umrah, dan Kolombo?