Kompetisi Industri Dirgantara Inggris vs AS, Jadi Latar Belakang Lahirnya Boeing 707

0
Qantas pertama kali membawa lima mesin di sayap pesawat pada 1959 lewat armada Boeing 707. Foto: Qantas Roo Tales via Simple Flying

Beberapa tahun pasca Perang Dunia II, pesawat militer Boeing diakui memang tidak ada duanya. Sayangnya, hal serupa tak mampu dilakukan Boeing pada pangsa pasar pesawat sipil. Kala itu, ceruk pasar tersebut (untuk perusahaan aerospace Amerika Serikat) lebih dominan dikuasai McDonnell Douglas (lewat DC-3) dan Lockheed.

Baca juga: Inilah Alasan, Mengapa Boeing Menggunakan Angka 7 di Produk Jet Komersialnya

Boeing sebetulnya bukan tanpa perlawanan. Setelah perang dunia II usai, Boeing tancap gas dengan mengembangkan C-97 Stratofreighter, turunan militer B-29 Superfortress yang digunakan untuk mengangkut tentara.

Penerbangan pertama pesawat legendaris Stratocruiser terjadi pada 70 tahun lalu, tepatnya tanggal 8 Juli 1947. Adapaun secara komersial, penerbangan perdana terjadi dua tahun berikutnya bersama maskapai legendaris, Pan Am, yang kala itu mengoperasikan antara San Francisco dan Honolulu Amerika Serikat.

Hanya saja, sekalipun didaulat menjadi pesawat dengan kabin bertekanan pertama di dunia, Boeing 377 Stratocruiser rupanya belum cukup menarik perhatian maskapai. Terbukti, pesawat tersebut hanya laku sebanyak 46 pesawat dan Boeing pun mencatat kerugian sebesar US$13,5 juta (sekitar $144 juta pada tahun 2020).

Kala itu, kedigdayaan 377 Stratocruiser harus runtuh setelah hadirnya de Havilland Comet, sebuah pesawat jet komersial pertama di dunia keluaran Britania (Inggris) pada Juli 1949. Selain itu, saingan juga datang dari rekan senegara mereka, Douglas Aircraft Company atau McDonnell Douglas Aircraft, yang pada ‎30 Mei 1958 setelah berhasil menerbangkan Douglas DC-8. Kehadiran keduanya pun berhasil menarik perhatian maskapai global dan pada akhirnya benar-benar meninggalkan Boeing 377 Stratocruiser.

Akan tetapi, dikutip dari Simple Flying, Boeing tak lantas diam dan hanya menjadi penonton dalam persaingan menjadi yang terbaik di ceruk pasar pesawat sipil. Terlebih momentumnya juga tepat, yakni dengan serangkaian kecelakaan yang menimpa de Havilland Comet pada tahun 1954 dan membuatnya perlahan tersingkir dari peta persaingan. Setelah itu saingan asal Inggris itu musnah, pada tahun 1955 Boeing mulai memperkenalkan produk terbarunya berupa Dash 80 atau Boeing 707. Dua tahun berselang atau Desember 1957, Boeing 707 pun resmi terbang perdana.

Baca juga: Jejak Boeing 707 di Indonesia: Pernah Dioperasikan 4 Maskapai Hingga Jadi Pesawat Kepresidenan

Di awal kehadirannya, Boeing 707 rupanya masih belum menarik perhatian maskapai. Padahal, dengan kemampuan kecepatan maksimum hingga 550 mph saat di udara, Boeing 707 jelas tak bisa disaingi oleh pesawat sipil manapun. Namun, karena dimensi yang masih lebih kecil dibanding kompetitor senengaranya, Douglas DC-8, 707 akhirnya masih hanya gigit jari saja.

Barulah setelah Presiden Boeing Bill Allen menginstruksikan Tex Johnston, kepala uji coba Boeing, agar mengkonfigurasi ulang Boeing 707 menjadi beberapa lebih inci lebar dari DC-8, Boeing 707 mulai melejit. American Airlines yang berbasis di Texas kala itu dilaporkan langsung memesan 50 jet. Begitu juga maskapi lainnya. Pada akhirnya, setelah penjualan mulai melonjak drastis, bisa ditebak siapa pemenang sejatinya.

Leave a Reply