KRL Pakuan Ekspres – 39 Tahun Mengular Bogor-Jakarta Kini Digantikan Commuter Line

KRL Pakuan Ekspres (wikipedia)

Pecinta kereta api tak mungkin tak kenal dengan kereta rel listrik (KRL) Pakuan yang melayani relasi Bogor-Jakarta Kota dan Bogor-Tanah Abang. Kereta api Pakuan Ekspres diluncurkan tahun 2000 dan menggunakan KRL hibahan dari Jepang yakni Toei 6000.

Baca juga: KRD Cepu Ekspres – Pernah Jadi Idola Transportasi Warga Blora

Bisa dikatakan Pakuan Ekspres merupakan KRL ekspres pertama yang menggunakan pendingin udara (AC). Pakuan Ekspres tidak berhenti di setiap stasiun tetapi KRL ini sudah pasti berhenti di Stasiun Bogor, Juanda, Gambir dan Gondangdia.

Sedangkan beberapa rangkaian ada pula yang berhenti di Stasiun Cikini, Manggarai, Tebet, Bojonggede dan Cilebut. KabarPenumpang.om merangkum dari berbagai laman sumber, sedangkan Pakuan Ekspres yang menuju ke Stasiun Tanah Abang dari Bogor akan berhenti di Stasiun Cilebut, Bojonggede dan Sudirman.

KRL ini menempuh jarak dari Bogor ke Jakarta sepanjang 66 km dengan waktu tempuh 55-70 menit. Nama Pakuan sendiri diambil dari nama sebuah kerajaan di Bogor yakni Pakuan Padjajaran. Ternyata kereta Pakuan sudah beroperasi sejak tahun 1972 dan tahun 1980-an, KRL ini menggunakan KL-2 861xx dan KL-2 871xx yang merupakan KRL Rheostatik berbahan baja anti karat atau stainless steel.

Tahun 1994 silam, KRL AC Pakuan Utama diluncurkan sebagai brand Perumka dan awalnya KRL AC ini untuk KLB Presiden Soeharto untuk meresmikan jalan layang Jakarta Kota-Manggarai. Setahun berikutnya, KRL KL-2941xx (KRL BN-Holec) digunakan untuk KRL Pakuan bisnis hingga akhirnya tahun 2000 menggunakan KRL Toei 6000 itu.

Sayang, pada Juli 2011, KRL Pakuan mengakhiri ceritanya sebagai moda transportasi yang mengangkut masyarakat dari Bogor-Jakarta PP. Pengehentian operasi kereta ini karena peran KRL yang akan digantikan KRL Commuter Line yang akan dioperasikan PT Kereta Commuter Jakarta (KCJ) yang kini bernama PT Kereta Commuter Indonesia (KCI).

Baca juga: KRD Kelud Ekspres – Pamor Pudar Lantaran Harga Tiket Dianggap ‘Kemahalan’

Saat itu PT KCJ memutuskan untuk melakukan perubahan sistem operasi menjadi single operation. Ada dua perubahan penting dalam sistem operasi baru ini yakni yang pertama perampingan relasi perjalanan KRL dari 37 menjadi lima rute. Kedua tidak ada pengkelasan dalam lintasan trek yang artinya tidak ada kereta yang didahulukan dan semua kereta berjalan secara berurutan.