Lebih Dekat dengan Kereta Bandara Kuala Namu

Foto: Sindonews.net

Salah satu standar penerapan airport city adalah ketersediaan moda transportasi kereta pengusung dari dan menuju bandara. Entah wujudnya kereta permukaan atau kereta bawah tanah, hadirnya moda yang disebut sebagai ‘kereta bandara’ menjadi kebutuhan mutlak, mengingat jalur transport lewat jalan raya yang dilayani bus memiliki sejumlah keterbatasan, terlebih karena tingkat kemacetan yang kian parah.

Di Indonesia, setidaknya sudah tiga proyek kereta bandara yang digadang. Di Bandara Kulon Progo Yogyakarta, kereta bandara kini tengah dilakukan survei untuk pembangunan tahap awal, rencananya kereta bandara ini akan diresmikan bersamaan dengan beroperasinya bandara Kulon Progo pada tahun 2019. Sementara di Bandara Seokarno Hatta, kini sudah masuk ke implementasi pengerjaan fisik berupa pembangunan stasiun dan rel. Nah, justru yang kereta bandara di Tanah Air yang telah beroperasi adalah di Bandara Internasional Kuala Namu, Sumatera Utara.

Sebagai pelopor eksistensi kereta bandara di Indonesia, kereta bandara ini menghubungkan dua stasiun yang melayani rute Medan – Kuala Namu, tepatnya City Railway Station (Stasiun Kereta Api Besar) di Pusat kota Medan dan tentunya Airport Railway Station di Bandara Kuala Namu. Durasi perjalanan dari Stasiun Medan menuju Stasiun Bandara Kuala Namu sekitar 35 menit. Sementara durasi perjanalan dari Stasiun Bandara Kuala Namu menuju Stasiun Medan sekitar 45 menit.

img_7815

Seperti halnya kereta bandara di negara-negara maju, para penumpang kereta ini dapat menikmati fasiltas eclining seat, akses WiFi, serta audio visual. Sementara di stasiun, kenyamanan juga terasa lebih dibanding stasiun kereta umum, tersedia toilet, musola, galeri ATM, resto-cafe serta ruang menyusui yang selalu dalam kondisi yang bersih dan nyaman, akses WiFi, dan juga ada fasilitas city check in.

Resminya kereta bandara ini mulai beroperasi 25 Juli 2013, bersamaan dengan diresmikannya Bandara Kuala Namu. Sebagai operatornya adalah PT Railink yang merupakan perusahaan patungan antara PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) dan PT Angkasa Pura II (Persero).

IMG_20150801_151218

Dengan kapasitas angkut 308 penumpang sekali jalan, setiap harinya kereta ini melayani frekuensi 20x perjalanan (pulang pergi). Bicara tentang wahana yang digunakan, kereta bandara ini awalnya menggunakan KRD (Kereta Rel Diesel) yang dibawa dari Pulau Jawa. Namun seiring modernisasi, kereta bandara Kuala Namu saat ini menggunakan empat set rangkaian kereta rel diesel yang didatangkan dari Korea Selatan.

Keretanya diproduksi oleh Woojin Industries yang punya pengalaman dalam pengembangan kereta cepat. Kelebihan kereta ini antaralain keberadaan mesin penggerak (traksi motor) di setiap kereta penumpang, atau ada 4 mesin penggerak dalam setiap rangkaian yang mendukungnya untuk melaju dengan kecepatan hingga 100 Km per jam. Dalam kondisi darurat, bila satu mesin atau bahkan tiga mesin mati, maka masih ada satu mesin yang siap beroperasi terus, melanjutkan kereta sampai tujuan, meski kecepatan laju pasti berkurang.

berita_ka_20130809_2310_1

Bicara soal kecepatan, meski digadang mampu dibawa ngebut hingga 100 km per jam, namun pihak operator memberi batasan kecepatan kereta di kisaran 60 – 70 km per jam untuk jarak tempuh 40 km dari Medan ke Kuala Namu. Untuk menggunakan jasa kereta bandara ini, Anda harus merogoh kocek Rp100.000. Sementara untuk informasi jadwal keberangkatan bisa dilihat langsung di situs railink.co.id.