Lempuyangan, Sejarah Panjang Stasiun KA Ekonomi di Yogyakarta

Stasiun Lempuyangan tahun 1910.

Lempuyangan mengandung arti sebagai tanaman umbi-umbian untuk bumbu masakan, namun Lempuyangan sendiri sejak lama telah menjadi salah satu ikon transportasi di Yogyakarta. Peran stasiun ini terbilang strategis, pasalnya segala jenis kereta yang melintasi jalur Selatan menuju Jawa Timur pastinya akan melintasi stasiun ini. Dari aspek perkeretaapian, pamor Lempuyangan menjadi penguat keberadaan stasiun utama di Yogyakarta, yakni Stasiun Tugu, yang jika ditakar kedua stasiun ini hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer ke arah Timur.

Baca juga: Inilah Daftar Stasiun Tersibuk di Indonesia

Bila menikik tentang Stasiun Lempuyangan, pada papan plang stasiun tertera ‘+114 meter’ yang artinya posisi stasiun berada di ketinggian 114 meter diatas permukaan laut. Stasiun ini berada dalam pengelolaan Daerah Operasional (DaOp) VI Yogyakarta. Saat ini Lempuyangan memiliki sebelas jalur dengan jalur tiga dan empat sebagai sepur lurus.

Merujuk ke sejarah, stasiun Lempuyangan berawal dari perusahhan KA Swasta belanda, NV nederlandsch – indische spoorweg Maatschaappij atau NISM. Saat itu NISM telah membuka membangun jaringan rel sepanjang 26 kilometer untuk melayani rute Kemijen, Semarang – Tanggung dan Grobogan. Setelah beberapa waktu beroperasi, NISM terus merugi hingga akhir nya meminta pemerintah Hindia Belanda melanjutkan pembangunan rel sepanjang 166 kilometer menuju Yogyakarta. Nah, dalam pemabangunan jaringan rel inilah, Lempuyangan turut dibangun sebagai salah satu stasiun. Secara resmi stasiun ini mulai dioperasikan pada 2 Maret 1872 oleh pemerintah Hindia Belanda. Dan di era tersebut Stasiun Lempuyangan hanya melayani rute Yogyakarta – Semarang. Bersamaan dengan pengoperasian Lempuyangam, Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Undang-Undang Pembangunan jalan KA di Pulau jawa.

Lempuyangan saat ini.

Dari lokasi, dengan lintasan rel membujur dari Barat ke Timur maka stasiun ini berada di Kecamatan Danurejan. Yang terkenal dari Lempuyangan adalah stasiun ini melayani pemberhentian kereta api kelas ekonomi dan kereta lokal atau komuter seperti Prambanan Ekspres (Prameks), meski pada awalnya Awal berdirinya Lempuyangan hanya dikhususkan untuk kereta barang.

Kini Stasiun Lempuyangan kian berbenah menjadi lebih baik. Baru-baru ini, KabarPenumpang.com berkunjung ke Yogyakarta dan menggunakan kereta baik berangkat ataupun kembali, terlihat stasiun ini sudah memperbesar area tempat menunggu penumpang dan pengantarnya. Hal ini terlihat dari pintu masuk yag dipindah menggeser kearah timur dekat dengan tempat parkir kendaraan.Tapi sayangnya, untuk jalanan masih saja tetap padat karena jarak hall utama stasiun dengan jalan utama depan stasiun jaraknya terlalu sempit. Beruntung kesesakan dan kepadatan ini sedikit berkurang karena lahan parkir stasiun Lempuyangan diperbesar, sehingga tidak lagi terlalu banyak kendaraan yang parkir di pinggir jalan dan membuat lalu lintas sedikit lapang.

Melengkapi etalase stasiun kedua terbesar di Yogyakarta ini, pada halaman depan terdapat monumen KRD Kuda Putih, yakni KRD komuter yang pertama kali dioperasikan di Indonesia. Letaknya tak jauh dari parkiran kendaraan di Stasiun Lempuyangan. Untuk yang suka foto monumen ini juga cocok untuk dijadikan objek fotografi.

KA Kuda Putih setelah direstorasi menjadi monumen di Stasiun Lempuyangan. (Foto: Semboyan35.com)

Baca juga: KA Kuda Putih, Menapaki Jejak Kereta Rel Diesel Pertama di Indonesia

Bagi pengguna jasa yang sampai di Stasiun Lempuyangan dan kelaparaan, tenang saja di depan stasiun penuh dengan penjual makanan. Pilihan makanan pun beragam, seperti gudeg, ayam penyet hingga angkringan. Selain itu tak jauh dari stasiun Lempuyangan juga terdapat pasar dan banyak kuliner yang bisa dijumpai di pasar tersebut.

Untuk Anda yang ingin mencari tempat penyewaan motor pun tak perlu khawatir, saat keluar dari gerbang stasiun, langsung terlihat papan nama untuk tempat penyewaan motor. Sebagai pelancong yang mau menikmati kota Yogyakarta, dan lebih suka berkelana dengan jalan kaki atau angkutan umum bisa menggunkan ojek online untuk menuju pusat kota tetapi karena ada larangan menaikkan penumpang dari depan stasiun. Sehingga harus berjalan dari pintu keluar sekitar 200 meter untuk menaiki ojek atau taksi online ini.