Letusan Gunung Eyjafjallajökull Jadi Tolok Ukur Penetapan Tingkat Toleransi Abu Vulkanik

Peristiwa meletusnya Gunung Agung di Bali pada Minggu (26/11/2017) menyita perhatian banyak pihak dan pembatalan serangkaian penerbangan dari  dan menuju Bali menjadi menarik untuk dibahas, mengingat betapa masifnya impact dari letusan salah satu gunung berapi di Pulau Dewata ini. Diketahui, pagi ini, Senin (27/11/2017) Bandara Internasional I Gusti NgurahRai menutup sementara operasionalnya, setelah Airnav Indonesia mengeluarkan a Notice to Airmen (NOTAM) dengan nomor A4242/17 yang menyatakan  bahwa langit Bali sedang tidak kondusif untuk melayani lalu lintas udara.

Baca Juga: Ditjen Perhubungan Udara Keluarkan NOTAM, Bandara Lombok Ditutup Sementara

Kejadian penutupan lalu lintas udara di Bali ini tentu mengingatkan kita dengan hal serupa yang pernah terjadi di Islandia beberapa tahun yang lalu, manakala Gunung Eyjafjallajökull memuntahkan material isi bumi pada tahun 2010 silam. Sejak saat itu, Civil Aviation Authority (CAA) Inggris mengatakan bahwa pihaknya telah menentukan berapa banyak jumlah aman material abu vulkanik yang diperbolehkan masuk ke dalam mesin jet pesawat.

Seperti yang diketahui sebelumnya, material abu vulkanik gunung berapi dapat membahayakan sebuah penerbangan jika abu tersebut terhisap ke dalam mesin jet pesawat dalam jumlah yang sangat banyak. Penumpukkan abu yang terhisap oleh mesin jet dikhawatirkan akan merusak sejumlah komponen yang dapat mengakibatkan gangguan pada mesin, dimana kemungkinan paling buruknya adalah pesawat mengalami kecelakaan.

CAA Inggris menerbitkan revisi peraturan tersebut tepat setelah salah satu media asing menyoroti kinerja sejumlah regulator dan perusahaan manufaktur mesin pesawat yang terkesan mengabaikan penetapan standar mengenai nilai aman jumlah abu vulkanik yang masuk ke dalam mesin tersebut. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newscientist.com, layanan cuaca Inggris, Met Office, mengatakan akan menafsirkan ulang hasil perhitungan dari perangkat lunak yang dapat memetakan penyebaran polutan seperti abu. Hal ini bertujuan untuk memperhitungkan kembali tingkat keamanan abu yang masuk ke dalam mesin jet.

“Prosedur internasional saat ini merekomendasikan untuk menghindari abu gunung berapi setiap saat,” ungkap pihak CAA.

CAA mengatakan bahwa pihaknya mengacu pada dua sumber untuk menetapkan standar baru ini. Pertama adalah temuan dari pesawat uji coba berbasis baling-baling milik UK National Environmental Research Council’s, dan yang kedua adalah penerbangan uji coba selama tiga jam yang dilakukan oleh Boeing 747 milik British Airways. Data kemudian diperoleh setelah kedua mesin dari pesawat uji coba tersebut dipreteli dan diidentifikasi bagian mana saja yang mengalami kerusakan.

Baca Juga: Penutupan Sementara Bandara Ngurah Rai, 445 Penerbangan Terdampak

“Produsen mesin General Electric, Pratt & Whitney, dan Roll-Royce terlibat dalam menyusun standar baru ini. Begitupun dengan Boeing, Airbus, dan Bombardier,” papar Jim McKenna, kepala kelaikan kelajuan CAA.

Dari situ, CAA menerbitkan sebuah peraturan baru yang menetapkan bahwa tingkat toleransi abu vulkanik adalah pada konsentrasi 0,002 gram per meter kubik pada ketinggian penerbangan normal. Setiap wilayah udara dengan  konsentrasi abu yang lebih besar akan dikategorikan ke dalam zona larangan terbang.