Lima Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil Pesawat di Masa Depan, Nomor Dua Aneh!

0
Etihad Airways berhasil terbang menggunakan Boeing 787 Greenliner yang menandakan sebagai penerbangan komersial pertama yang menggunakan SAF. Sumber: businesstraveller.com

Seiring berjalannya waktu, dunia penerbangan memang mulai bergerak maju. Mulai dari teknologi pendukung keselamatan penerbangan hingga teknologi terbarukan untuk mendukung kelangsungan bumi tempat kita berpijak.

Baca juga: Peduli Lingkungan dan Manfaatkan Energi Terbarukan, Bandara Oslo Jadi Yang “Terhijau” di Dunia

Dilansir dari laman edition.cnn.com, Kamis, (20/2), sebetulnya, di Bandara Zurich, Swiss, sudah ada bahan bakar terbarukan yang dapat menyuplai pesawat. Namun, kendala logistik, harganya yang mencapai 3-4 kali lipat dari bahan bakar konvensional, serta ekosistem bisnis pendukungnya yang belum tersedia, membuat maskapai belum bisa beralih sepenuhnya dari bahan bakar konvensional. Agar lebih lengkapnya, berikut lima alternatif pengganti bahan bakar fosil terbarukan untuk pesawat.

1. Listrik
Pesawat listrik saat sejak tahun 1970 sebetulnya sudah dikembangkan oleh banyak pabrikan di dunia. Namun demikian, lagi-lagi, ada konsekuensi yang harus dibayar. Bila menggunakan pesawat listrik, beban dan durasi penerbangan harus lebih kecil dari pesawat berbahan bakar cair atau fosil.

Paul McElroy, pimpinan tim komunikasi untuk Boeing 777 ecoDemonstrato, pernah mengatakan, dengan menggunakan SAF niscaya dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca bersih hingga 80%. Berbeda dengan bahan bakar fosil yang melepaskan karbon serta meningkatkan jumlah CO2 di atmosfer.

Saat ini, perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3% dari emisi karbon dunia, tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia. Di samping itu, penerbangan juga menopang 65 juta pekerjaan.

Dari sekian banyak pabrikan pesawat, Airbus adalah raksasa dirgantara pertama yang menerapkan SAF pada pengiriman pesawat ke para pelanggannya. Hal itu adalah bagian dari komitmen Airbus dalam program Initiative Towards sustAinable Kerosene for Aviation (ITAKA) yang bertujuan untuk mempercepat komersialisasi SAF di Eropa.

Airbus mengaplikasikan SAF tersebut dengan mengangkut komponen rakitan besar, seperti bagian sayap dan badan pesawat, menggunakan Super-Transporter Beluga. Pesawat tersebut sudah menggunakan bahan bakar pesawat berkelanjutan, berasal dari minyak goreng daur ulang. Diharapkan hal ini akan mengurangi emisi CO2 sekitar 120 metrik ton per bulan dari proses penyatuan perakitan, kira-kira setara dengan yang dikeluarkan sekitar 130 mobil.

2. Tembakau, sampah, dan gula
Elemen kunci dari pengembangan bahan bakar baru ini, kata McElroy, membuat bahan bakar tersebut “turun”. Dengan kata lain, ia harus memiliki komposisi kimia yang hampir identik sebagai bahan bakar berbasis minyak sehingga dapat diaplikasikan di pesawat terbang yang ada.

Sumber: istimewa

Saat ini, Boeing bekerja dengan produsen mesin dan maskapai penerbangan untuk mendapatkan sertifikasi berkenaan dengan metode produksi pertama bahan bakar berkelanjutan. Langkah itu adalah sebuah tindakan prasyarat sebelum regulator seperti FAA dapat mensertifikasi untuk digunakan pada penerbangan komersial.

Selain itu, Boeing juga mendukung mitra di enam benua untuk meneliti, mengembangkan, dan mengkomersialkan sumber-sumber SAF. Sumber-sumber ini termasuk tanaman yang tumbuh di padang pasir di Uni Emirat Arab dan tembakau bebas nikotin di Afrika Selatan, dan minyak yang dikonversi menjadi biofuel. Selain itu, limbah pertanian di Cina dan tebu yang ditanam khusus di Brasil adalah dua sumber lain yang Boeing bantu kembangkan untuk produksi SAF.

Tahun lalu, penerbangan komersial pertama menggunakan SAF yang diproduksi di UEA, yakni Etihad Airways dengan menggunakan Boeing 787, berhasil lepas landas dari Abu Dhabi dan mendarat di Amsterdam. Bahan bakar untuk penerbangan itu berasal dari minyak di pabrik Salicornia, yang ditanam di pertanian air laut seluas dua hektar di Kota Masdar, Abu Dhabi.

3. Nuklir
Nukllir sebagai alternatif pengganti fosil mungkin dahulu adalah saah satu cara terbaik. Namun, seiring berjalannya waktu, nuklir justru dinilai tidak cukup ramah lingkungan karena limbahnya yang sulit untuk diurai. Hal tersebut setidaknya bisa dilihat dari pabrik pengolahan limbah nuklir yang hanya ada tiga di dunia, yang menandakan bahwa limbah nuklir sulit diolah karena butuh waktu ratusan tahun untuk membuat kadar radioaktifnya menjadi ramah lingkungan.

4. Black bag waste
Dengan SAF saat ini digunakan pada kurang dari 1% dari penerbangan komersial, teknologi inovatif, dan berbagai jenis bahan baku (lokal) mulai muncul untuk membantu meningkatkan jumlah itu. November lalu misalnya, Shell Aviation mengumumkan bahwa mereka akan mendukung pengembangan pabrik produksi SAF yang disebut DSL-01, di Delfzijl, Belanda.

Proyek ini dipimpin oleh SkyNRG, pemasok SAF Belanda, dan diproyeksikan beroperasi pada tahun 2022, yang menjadikannya pasokan bahan bakar penerbangan alternatif berskala industri pertama di Eropa. Pabrik tersebut akan menghasilkan 100.000 metrik ton bahan bakar setiap tahun, yang berasal dari aliran limbah dan residu, seperti minyak goreng bekas yang bersumber dari industri regional. Pengurangan karbon juga dibantu oleh lokalisasi produksi SAF relatif di mana ia akan digunakan. Selain itu juga akan dikembangkan SAF dari limbah kantong plastik hitam atau black bag waste.

Baca juga: Mau Gusur Airbus dan Boeing, Perusahaan Amerika Bikin Pesawat Listrik untuk Kurangi Pemanasan Global

5. Limbah kayu
Teknologi ini, kata Velocys, akan mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 70% untuk setiap metrik ton bahan bakar jet berkelanjutan yang menggantikan satu metrik ton bahan bakar fosil konvensional – setara dengan mengambil hingga 40.000 mobil dari jalan setiap tahunnya.

“Proyek ini memiliki manfaat lingkungan tambahan karena mengurangi residu kayu di hutan, yang dapat meningkatkan potensi bahaya kebakaran dan menghambat pertumbuhan pohon di masa depan,” kata Graeme Burnett, senior VP of fuel management Delta Airlines.

Leave a Reply