Lima Poin ini Buktikan Penumpang MRT Singapura Tidak Akan ‘Diterima’ di Komuter Jepang!

0
Pasangan muda mudi duduk di kursi prioritas (The Independent)

Bagi warga Ibukota, MRT Jakarta masih menjadi satu moda transportasi yang cukup dinilai efektif dalam mengakomodasi penumpang – khususnya dari daerah Selatan Jakarta menuju Pusat. Kendati belum terbentuk pasarnya sendiri, namun tidak menutup kemungkinan jika di masa yang akan datang, MRT Jakarta akan digandrungi layaknya Commuter Line Jabodetabek yang selalu ‘disemuti’ penumpang kala peak hours.

Baca Juga: Media Jepang Ternyata Soroti ‘Perilaku’ Pengguna MRT Jakarta

Berbanding terbalik dengan Singapura yang jaringan MRT-nya sudah menyebar ke hampir seluruh pelosok wilayah. Meskipun begitu, bukan berarti penumpang MRT di Singapura akan bisa begitu saja diterima oleh benchmark perkeretaapian dunia, Jepang. Ya, ada perbedaan adab dan kebiasaan dari penumpang di kedua negara ini – mulai darimenggunakan ponsel ketika sedang mengular hingga bersolek di dalam kereta.

Wah, kira-kira apa saja ya poin dari penumpang MRT Singapura yang tidak bisa berterima di Jepang? Berikut KabarPenumpang.com sarikan lima poin tersebut, dilansir dari laman asiaone.com.

Anti Berlari Untuk Kejar Kereta
Jika di Singapura tradisi berlari untuk mengejar kereta merupakan suatu pemandangan yang lumrah dilihat, maka tidak dengan di Negeri Sakura sana. Mengingat jaringannya yang sama-sama luas, orang Jepang akan lebih santai menanggapi kejadian seperti ini. Mereka akan senantiasa menunggu kereta selanjutnya – ketimbang harus berlari-lari mengejar kereta.

Bersolek di Kereta
Jika Anda kaum Hawa membutuhkan waktu yang agak lama untuk bersolek sebelum berangkat ke kantor, pastikan Anda melakukannya di rumah, ya! Karena jika Anda bersolek di dalam jaringan MRT Jepang, maka siap-siap menjadi buah bibir penumpang yang ada di dalamnya.

Mendengarkan Musik Keras-Keras di Dalam Kereta
Mendengarkan musik memang merupakan aktifitas yang dapat dengan ampuh membunuh waktu, namun tidak dengan penumpang MRT di Jepang, dimana mereka akan lebih memilih untuk melakukan power-nap di dalam kereta ketimbang dengar musik. Hayo, siap-siap jadi pusat perhatian deh kalau Anda mendengarkan musik di dalam MRT Jepang!

Bertelepon Ria
Sebenarnya ini masih berhubungan dengan poin di atas, dimana para penumpang MRT Jepang amat menghargai kesunyian. Nah, masalahnya adalah, hal tersebut berbanding terbalik dengan apa yang ada di Singapura – dimana penumpang bisa dengan bebas membicarakan bisnis mereka walaupun tengah berada di dalam kereta.

Baca Juga: Ada Tujuh Tiket di Jaringan Perkeretaapian Jepang, Jangan Salah Pilih Ya!

Makan Tempat!
Budaya saling menghargai di Jepang sangatlah tinggi, bahkan sampai ke urusan tempat duduk. Mereka rela duduk berhimpit-himpitan agar bisa menampung lebih banyak penumpang, tidak seperti di Singapura, dimana penumpang yang duduk seolah tidak perduli dengan kenyamanan penumpang di sebelahnya.

Leave a Reply