Lockheed L-1011 TriStar, Pesawat dengan Kecanggihan Selangit yang Bikin Lockheed Nyaris Bangkrut

0
Lockheed L-1011 TriStar Air Atlanta dengan nomor registrasi TF-ABM saat tengah standby di salah satu bandara pada Agustus 1993. Foto: Ken Fielding via airlinereporter.com

Pesawat trijet pernah mengalami masa kejayaan di dunia penerbangan global berkat aturan Extended-range Twin-engine Operational Performance Standards (ETOPS) pada dekade 60-an. Berbagai pesawat trijet pun sempat mencicipi manisnya masa kejayaan, seperti Boeing 727, Hawker Siddeley HS-121 Trident, dan Douglas DC-10. Namun, di balik ketiga pemain besar itu, jangan dulu lupakan Lockheed L-1011 TriStar saat membicarakan pesawat trijet.

Baca juga: Mengenang DC-10: Pelopor Penerbangan Jarak Jauh Modern Sekaligus Berlabel Jebakan Maut

Dilansir aerotime.aero, Lockheed L-1011 TriStar sebetulnya bisa dibilang bintang dari pesawat trijet. Hal itu tercermin dari berbagai teknologi canggih yang disematkan, sebagai jurang pemisah dengan pesawat trijet lainnya, terutama Douglas DC-10. Saking canggihnya, bahkan, Lockheed L-1011 TriStar disebut terlalu canggih untuk digunakan di zaman itu.

Lockheed L-1011 TriStar pertama kali terbang perdana pada 16 November 1970. Pesawat dengan kecepatan maksimal mencapai 973 km per jam dan jarak tempuh sejauh 7.410 km ini bisa mengangkut lebih banyak penumpang, sekitar 400 penumpang (20 lebih banyak dari DC-10), namun jauh lebih efisien dari pesaing utamanya itu. Hal itu berkat fitur S-duct yang menyuplai udara lebih banyak ke mesin Rolls-Royce RB211.

Namun, mesin tersebut pada prosesnya mengalami berbagai kegagalan mesin dan mempengaruhi desain pesawat secara keseluruhan. Dengan begitu, Lockheed mau tak mau harus mengeluarkan dana berlebih untuk pengembangan mesin, mengingat, Rolls-Royce kala itu sempat dinyatakan bangkrut sebelum diselamatkan oleh Pemerintah Inggris.

Selain lebih efisien dan menampung penumpang lebih banyak, pesawat dengan panjang 54 meter ini juga memiliki sistem avionik canggih di zamannya. Kala itu, AFCS (Avionic Flight Control system) dari Lockheed L-1011 TriStar sudah mencakup autopilot, kontrol kecepatan, sistem kontrol penerbangan, sistem navigasi, sistem stabilitas, dan direct lift control system.

Yang paling spesial dari AFCS pesawat itu tentu sistem CAT-IIIB Autoland. Salah satu fitur penjualan utama Lockheed ini diklaim mampu mendaratkan pesawat secara otomatis, bahkan dalam kondisi cuaca buruk sekalipun. Cukup canggih, bukan?

Tak cukup sampai di situ, pada Mei 1972, Lockheed L-1011 TriStar juga dikabarkan berhasil menyelesaikan penerbangan yang sepenuhnya otomatis, teknologi yang bahkan masih cukup canggih bila diaplikasikan pada pesawat di zaman ini.

Akan tetapi, tetap saja, maskapai tak terlalu butuh semua itu, sekalipun sebetulnya berbagai keunggulan tersebut sangat menguntungkan maskapai. Namun, maskapai pada umumnya sudah kadung jatuh cinta dengan Douglas DC-10 yang notabene lahir setahun lebih dahulu, di samping harganya juga lebih murah.

Baca juga: Ternyata Boeing 777 Sempat Dirancang dengan Konsep “Trijet”

Pada akhirnya, dari target 500 penjualan, Lockheed L-1011 TriStar hanya mampu terjual sekitar setengahnya. Sedangkan kompetitor sejati mereka, DC-10, berhasil terjual sekitar 400 unit.

Nama besar Lockheed di produk-produk militer rupanya tak cukup mampu melambungkan L-1011 TriStar. Bahkan, layaknya pesawat sipil terdahulu mereka, L-188 Electra, L-1011 TriStar menyebabkan perusahaan mengalami kerugian besar akibat harga mahal pengembangan pesawat hanya dibalas dengan penjualan tak sampai 50 persen. Akibatnya, Lockheed diberitakan nyaris bangkrut karenanya, sebelum diselamatkan oleh pemerintah AS.

Leave a Reply