Lolos dari Maut dalam Peristiwa 9/11, Pramugara ini Dorong Troli Setara Jarak Jakarta-Pekalongan

0
Ilustrasi pramugara United Airlines yang selamat dari peristiwa 11 September 2001 mendorong troli makanan-minuman di pesawat dengan berjalan kaki dari Boston ke New York. Foto: ksat.com

Peristiwa 11 September tahun 2001 atau biasa juga disebut Tragedi 11 September meninggalkan banyak kisah. Salah satunya dari Paul Veneto, pramugara United Airlines. Ketika itu, Paulie, sapaan akrabnya, lolos dari insiden pesawat yang dibajak dan menabrakkan diri ke Twin Tower itu karena ia libur bertugas di hari kejadian.

Baca juga: Tragedi 11 September, Mengenang Momen Keberanian Penumpang Melawan Teroris di United Airlines Flight 93

Meski begitu, teman-temannya di maskapai banyak yang menjadi korban. Karenanya, untuk menghormati mereka setelah 20 tahun berlalu, ia akan mendorong troli makanan-minuman di pesawat (beverage cart) dari Boston ke New York City sejauh 350 km (setara Jakarta-Pekalongan) dengan berjalan kaki.

Padahal, saat ini usianya tak lagi muda, menginjak 62 tahun. Tetapi, sekali lagi, itu ia lakukan demi menghormati rekan-rekannya yang menjadi korban peristiwa 9/11.

Dilansir ksat.com, ketika itu, pagi hari pada 11 September 2001, pesawat Boeing 767-222 United Airlines dengan nomor penerbangan 175 memuat sembilan penumpang dan 56 penumpang, lima di antaranya disebut sebagai teroris.

Sebelum peristiwa 11 September 2001 terjadi, Veneto malam harinya masih berkomunikasi seperti biasa kepada rekan-rekannya sehabis ia bertugas. Karena itu, ia mendapat waktu libur di keesokan harinya (pagi hari).

“Saya akhirnya terbang pada (8 September) dan saya kembali (10 September) pukul 8 malam. Mereka pergi Selasa pagi, (11 September 2001),” jelasnya.

Saat pesawat Boeing 767-223ER American Airlines Flight 11 menabrak Menara Utara World Trade Center pada pukul 08.46 waktu setempat, Veneto sedang berada di rumah temannya, dan tak melihat langsung kejadian itu.

Barulah saat pesawat Boeing 767-222 United Airlines Flight 175 menabrak Menara Selatan World Trade Center, ia menyaksikannya secara langsung. “Sejak saat itu, hidup saya berubah selamanya. Itu sangat kacau,” tambahnya.

Setelah peristiwa 11 September 2001, hidupnya berubah signifikan. Ia bahkan sampai harus mengkonsumsi obat penenang Opioid sejenis morfin, untuk membuatnya rileks saat di pesawat sekaligus lupa akan peristiwa itu.

“Banyak orang (pramugara-pramugari) tidak kembali bekerja, dan saya tidak menyalahkan mereka, tetapi saya tidak menyerah. Saya berkata, ‘Saya tidak akan membiarkan mereka mengambil karier saya.’ Dan di situlah saya mulai kecanduan Opioid,” ujarnya.

“Saya mati rasa (sehabis mengkonsumsinya). Saya tidak merasakan efek sebenarnya dari apa yang sedang terjadi. Saya tidak mengetahuinya saat itu, tetapi setiap tahun perayaan tragedi 11 September 2001 datang, saya selalu mengkonsumsinya (Opioid),” lanjutnya.

Baca juga: Pasca Insiden 9/11, Temperatur Udara di Amerika Serikat Sempat Naik Dua Derajat 

Barulah setelah 15 tahun berlalu, ia tersadar bahwa mengkonsumsi Opioid agar lupa dengan peristiwa 11 September 2001 tidak baik dan ia mulai meninggalkannya. Seketika itu, ia juga bertekad untuk berjalan kaki mendorong troli makanan-minuman di pesawat dari Bandara Internasional Logan di Boston ke Ground Zero di New York.

Maka dari itu, di perayaan 20 tahun peristiwa 11 September 2001, ia bertekad untuk melancarkan aksinya. Paulie mendapat banyak dukungan moril maupun materil dari berbagai pihak atas rencananya tersebut.