Lupakan Masker dan Sarung Tangan Karet! Ini Cara Hindari Virus Corona Versi Penasehat Medis Penerbangan Dunia

0
Hampir seluruh warga di Cina menggunakan masker sejak virus corona merebak. Padahal, sebagian ahli menilai hal tersebut tak cukup membantu untuk mencegah virus corona. Foto: News CN

Virus corona telah membuat permintaan masker melonjak tinggi. Bahkan, kondisi tersebut dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk menahan pasokan masker hingga barang menjadi langka dan diikuti harga yang melonjak drastis. Namun, sebetulnya, masker dan sarung tangan karet bukanlah cara terbaik untuk menghindari virus corona.

Baca juga: Ahli: Penggunaan Masker yang keliru Justru Dapat Sebarkan Virus Corona

Dilansir KabarPenumpang.com dari bloomberg.com, Jumat, (7/2), menurut penasihat medis untuk penerbangan dunia atau International Air Transport Association (IATA), David Powell, cara terbaik dalam menghindari virus corona, termasuk virus-virus berat atau ringan lainnya, dengan sering-sering mencuci tangan. Pendapat ini tentu saja sangat bertentangan dengan pengetahuan dan stigma masyarakat luas tentang penggunaan masker dan sarung tangan karet, yang notabene justru dapat melindungi mereka.

“Virus tidak dapat bertahan lama di kursi atau sandaran tangan, sehingga kontak fisik dengan orang lain memiliki risiko infeksi terbesar dalam penerbangan. Bahkan, masker dan sarung tangan melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam menyebarkan virus daripada menghentikannya,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menyoroti terkait kemungkinan terinfeksi virus corona ketika di pesawat. Hal ini tentu menjadi informasi penting bagi awak kabin juga pelanggan dalam menyikapi kekhawatiran terhadap virus corona. Menurutnya, risiko terkena infeksi virus corona di pesawat cenderung rendah. Pasokan udara ke pesawat modern sangat berbeda dari bioskop atau gedung perkantoran.

Hal itu dikarekan udara di dalam kabin cenderung lebih sehat akibat dari sistem sirkulasi udara yang jauh lebih baik dibanding bioskop atau gedung perkantoran tadi. Terlebih, komposisi udara yang dihirup adalah 50 persen udara segar dan 50 persen lagi resirkulasi. Di samping itu, sistem filterisasi udara di dalam kabin pesawat berkat teknologi High Efficiency Particulate Arresting (HEPA) Cabin Air Filter. Jadi, suplai udara dijamin 99,97 persen bebas dari virus corona dan partikel lain. Namun, sekalipun ada kasus pelanggan yang tertular virus corona saat di dalam pesawat, hal itu dikarenakan tertular oleh orang lain, bukan karena sistem sirkulasi udaranya.

Pasalnya, menurut David, virus dan mikroba lain cenderung lebih suka hidup di permukaan kulit. Oleh karenanya, berjabat tangan dengan seseorang akan jauh lebih berisiko daripada permukaan kering yang tidak memiliki bahan biologis. Kelangsungan hidup virus di permukaan kulit sangat tidak baik untuk kesehatan. Dengan begitu, upaya pembersihan normal serta pembersihan ekstra, jika seseorang ditemukan tertular, adalah prosedur yang tepat.

Singkatnya, kebersihan tangan adalah hal mutlak untuk menghindari virus corona. Sebab, cara penyebaran virus paling cepat ditularkan lewat tangan. Maka tidak bersentuhan atau kontak langsung adalah cara terbaik. Kemudian, jika sudah tidak bersentuhan (berjabat tangan) dengan siapapun, cuci tangan, dengan atau tanpa sabun atau keduanya, adalah langkah tepat.

Di samping itu, lengkapi juga dengan langkah-langkah pencegahan virus corona lainnya, seperti menghindari menyentuh wajah hingga menutup wajah dengan lengan atau pakaian (bukan dengan tangan) saat batuk atau bersin.

Maka dari itu, ia pun kembali menekankan terkait penggunaan masker bedah. Dalam catatannya, terdapat beberapa bukti yang menunjukkan kecilnya manfaat masker. Kalaupun ada, hal itu hanya saat situasi santai saja. Kemudian, masker juga bermanfaat bagi orang sakit untuk melindungi orang sehat agar tak terinfeksi. Tetapi, akan menjadi masalah ketika seseorang mengenakan masker sepanjang waktu. Hal itu tidak akan efektif.

Baca juga: Awak Kabin Tidak Direkomendasi Gunakan Masker Terkait Virus Corona, Ini Penjelasannya!

Kondisi tersebut justru akan memungkinkan virus untuk ditularkan di sekitarnya. Lebih buruk lagi, jika masker berubah menjadi lembab akibat terus menerus digunakan, hal itu justru akan mendorong pertumbuhan virus dan bakteri. Sarung tangan bahkan mungkin lebih buruk, karena orang memakai sarung tangan dan kemudian menyentuh semua yang akan mereka sentuh dengan tangan. Jadi, hal itu hanya menjadi cara lain untuk mentransfer mikroorganisme. Lagi pula, saat di dalam sarung tangan, tangan cenderung menjadi panas dan berkeringat, yang sangat memungkinkan untuk bakteri dan kuman berkembang biak.

Dengan berbagai pertimbangan dan fakta-fakta sebagaimana yang diungkapkan di atas, David Powell pun ikut menyayangkan sikap maskapai-maskapai di dunia yang menghentikan berbagai jadwal terbangnya ke seluruh dunia. Hal itu dinilai tidak perlu dan sangat merugikan pribadi serta tentu saja industri penerbangan.

Leave a Reply