Masih Punya Tabungan, Boeing Yakin Maskapai dan Lessor Segera Beli Pesawat Baru

0
Ilustrasi pengiriman pesawat baru maskapai. Sumber: Garuda Indonesia

Kendati industri penerbangan masih belum sepenuhnya pulih dan maskapai banyak yang sudah berdarah-darah, Boeing percaya bahwa mereka masih punya cukup uang. Itu nantinya mendorong maskapai untuk membeli pesawat baru pada kuartal berikutnya.

Baca juga: Maskapai Butuh 32 Ribu Unit Pesawat Baru di 2040, Airbus Tingkatkan Kapasitas Produksi A320

Selain maskapai, pemodal besar dan kecil di industri penerbangan juga dipercaya masih punya cukup uang untuk membeli pesawat baru. Terlebih, upaya melawan Covid-19 terus dilakukan dengan massifnya vaksinasi di berbagai belahan dunia.

“Pemodal dan investor memahami ketahanan industri dan fundamental jangka panjang yang menjadikan pesawat terbang sebagai kelas aset yang berharga. Terlepas dari dampak Covid-19 yang belum pernah terjadi sebelumnya pada industri kedirgantaraan global, secara umum likuiditas terus berlanjut di pasar bagi pelanggan kami, dan kami berharap itu akan meningkat lebih lanjut karena perjalanan mulai pulih,” ujar Tim Myers, presiden Boeing Capital Corporation.

“Dasar-dasar industri terus menunjukkan berbagai tingkat kekuatan di pasar yang berbeda tergantung pada tren regional pandemi global. Kami berharap modal akan terus dialihkan ke sektor ini oleh pemain mapan dan sebagai pendatang baru mencari peluang selama pemulihan industri,” lanjutnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Keyakinan tersebut tentu bukan tanpa dasar. Boeing mengacu pada angka-angka dari laporan Current Aircraft Finance Market Outlook (CAMFO) 2021. Secara keseluruhan, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa sektor pembiayaan pesawat tahun lalu berakhir dengan likuiditas yang cukup untuk mendanai pengiriman pesawat.

Disebutkan, Bank masih memainkan peranan penting bagi maskapai penerbangan untuk mengamankan pendanaan tahun lalu. Namun, hutang bank jangka panjang menjadi salah satu bentuk pendanaan yang jarang digunakan. Sementara itu, investor dan kreditur membantu secara signifikan karena beberapa pemodal menghentikan bantuan dan margin kredit jadi meluas.

Boeing menyimpulkan bahwa sumber pembiayaan yang paling umum untuk pengiriman pesawat adalah uang tunai, hutang bank, dan pasar modal. Penting untuk diperhatikan bahwa semua pengiriman pesawat untuk maskapai dan lessor dibiayai oleh pihak ketiga.

Secara keseluruhan, pasar modal untuk volume penerbangan 70 persen lebih besar daripada tingkat sebelum pandemi. Angka ini menyoroti jumlah dukungan finansial yang telah diterima sektor tersebut.

Meski demikian, masih ada kekhawatiran yang cukup besar karena banyak maskapai yang masih terseok-seok dan membutuhkan stimulus lebih dari pemerintah, terutama dari pemerintah yang masih memutuskan lockdown atau pembatasan perjalanan.

Baca juga: Terganjal Sanksi Nuklir, Korea Utara Kesulitan Membeli Pesawat Baru untuk Air Koryo

Sejak Oktober tahun lalu, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) sudah menyerukan ke pemerintah di seluruh dunia agar memberikan paket stimulus lanjutan ke maskapai penerbangan. Ketika itu, IATA menyebut, maskapai membutuhkan sekitar US$77 miliar atau sekitar Rp1.133 triliun (kurs 14.700) uang tunai untuk membiayai operasional.

Selain itu, IATA juga menyerukan agar pemerintah negara-negara di dunia tidak menerapkan kebijakan karantina ke wisatawan yang datang. Sebab, sebelum naik pesawat, mereka telah melewati serangkaian proses panjang untuk memastikan hanya penumpang sehat yang diizinkan bepergian dengan pesawat.

Leave a Reply