Maskapai Pacu Kemampuan WiFi dalam Penerbangan

0
www.thestar.com

Akses internet lewat jalur WiFi (Wireless Fidelity) kini telah menjadi ‘bahasa’ standar dalam layanan transportasi, terlebih di angkutan udara yang identik dengan pelayanan premium dengan kebutuhan penumpangnya yang serba ingin lebih.

Dilansir dari www.thestar.com, WiFi dalam sebuah pesawat bisa mengubah investasi sistem maskapai untuk meningkatkan konektivitas dalam mengikuti perkembangan teknologi yang dihubungkan melalui teknologi ground based dan satelit. Ini sama seperti menaik turunkan layar film pada pesawat di masa lalu, monitor layar sentuh di sandaran yang akhirnya masuk ke tempat sampah karena penumpang sudah menggunakan perangkat nirkabel pribadi atau tablet dari maskapi yang dikenakan biaya untuk mengakses hiburan dan internet di atas awan.

www.thestar.com
www.thestar.com

Memang ada beberapa hiburan dan informasi yang dibagikan secara gratis, tetapi bila menggunakan internet akan dikenakan biaya tergantung lama penggunaannya. Dalam akses internet di pesawat ada dua sistem yang digunaka,  yakni air to ground (ATG) yang mengakses dari menara selular dengan antena di sisi pesawat atau antena yang terletak di bawah pada penerbangan domestik. Kemudian sistem berikutnya melalui konektivitas satelit yang juga menggunakan antena, namun berada di atas badan pesawat pada penerbangan internasional.

“Adanya akses WiFi di dalam sebuah pesawat, bukanlah hal yang murah baik dalam pembiayaan maupun prosedurnya,” ujar Jason Rabinowitz, Direktur Riset Maskapai Routehappy. Hal ini menjadi alasan bagi maskapai carter yang menyewakan pesawat mereka tidak menghadirkan WiFi di dalamnya. Routehappy baru-baru ini merilis studi tentang keadaan layanan internet global saat ini dalam penerbangan.

Rabinowitz mengatakan, instalasi perangkat WiFi di pesawat tak bisa dibilang murah, butuh kocek di kisaran US$50 ribu sampai US$100 ribu atau lebih per pesawatnya, dan teknologinya masih terus berkembang hingga kini. Hal ini juga yang membuat banyak maskapai belum membuat keputusan yang tepat sebelum teknologi yang jelas benar-benar hadir. Seperti Air Canada dan WestJet yang tidak ingin terikat pada salah satu basis teknologi belum tentu pas untuk kebutuhan mereka.

“2Ku adalah satelit yang paling cepat bergulir di saat ini. Kami juga memiliki ViaSat sebagai solusi yang juga bisa ditemukan di Jetblue dan United, tetapi belum menyediakan cakupan di Kanada dan Inmarsat masih dalam uji coba serta belum digunakan untuk komersial,” tambahnya.

Rabinowitz mengatakan sedangkan Air Canada memiliki body pesawat yang lebih kecil dari jet, sudah dilengkapi dengan sistem ATG yang dikembangkan oleh Gogo. Maskapai ini pun telah berkomitmen untuk memasang satelit yang terhubung dengan sistem WiFi 2Ku serta perusahaan akan menggunakannya dalam waktu dekat di pesawat dengan body besar.

Gogo sendiri merupakan pemasok konektivitas dan sistem hiburan dalam penerbangan dan AirCanada menjadi bagian dari 17 maskapai di seluruh dunia yang bermitra dengan Gogo. “Sekarang mungkin ada kurang dari 150 pesawat di seluruh dunia dengan sistem 2Ku dan mereka (Gogo) mungkin menginstal secepat mereka bisa,” kata Rabinowitz.

Gogo menginstal sistem di 3.000 pesawat komersial dengan 130 satelit 2Ku terbaru yang juga sudah melengkapi 4200pesawat bisnis pada 8 maret lalu. Sedangkan WestJet Connect merupakan sistem hiburan nirkabel yang terhubung dengan setelit hasil pengembangan Panasonic. Ada 84 Boeing 737, empat Boeing 767s dan semua pesawat Boeing di masa depan akan menggunakan sistem yang sama. Peluncuran sistem baru dalam penerbangan WestJet ini dimulai sejak 2015 lalu dan diharapkan selesai tahun 2017.

“Kami memilih satelit untuk cakupan global. Ini penting, kami menawarkan pengalaman yang konsisten di jaringan yang membentang dari Inggris ke Hawaii dan juga cakupan di atas air,” ujar Lauren Stewart, Penasehat hubungan Media WestJet. Ia menambahkan, sekitar 45 persen pengguna yang terbang dengan WestJet menggunakan konetivitas dan umpan balik yang lebih memuaskan.

Leave a Reply